Sains yang tumbuh dari, mengapresiasi, lalu memperkuat Budaya Bangsa

Posted April 1, 2013 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

BGruBjNCcAAd3IY.jpg large

Disampaikan di Talk Show Ambassador of Science 2013, Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA ITS, Surabaya, 31 Maret 2013.

Suatu ketika, misalnya kita menemukan sebuah tabung dari logam yang di dalamnya terdapat bentuk tabung dan kaca yang sudah retak di dalamnya di antara puing-puing reruntuhan sebuah benteng yang besar. Dari tulisan-tulisan yang berhasil kita kumpulkan, kita tahu bahwa reruntuhan adalah peninggalan seorang bangsawan yang sangat dihormati pada zaman dahulu kala. Apakah hari ini kita akan menziarahi “situs peninggalan” tersebut dengan membakar kemenyan, menaruh sesajen, dan berdo’a semedi di tempat tersebut? Apakah penghargaan terbaik kita ditunjukkan dengan, misalnya mengusap-usap dan mencium tabung logam tersebut dengan  harapan agar cita-cita dan harapan kita terkabul? Jawabannya tentu tidak dengan perasaan geli karena kita tahu, sangat mungkin tabung logam tersebut adalah sebuah “teropong”, dan penghargaan terbaik yang bisa kita berikan pada yang “mewariskan” peninggalan bersejarah tersebut adalah dengan mempelajari dengan seksama semua peninggalan di tempat tersebut dan mengambil hikmah sehingga suatu saat kelak kehidupan masa depan umat manusia menjadi cerah dengan inspirasi yang bisa kita ambil dari upaya mempelajarinya. Read the rest of this post »

Merintis TeknoBudaya Nusantara

Posted December 13, 2012 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

IMG_5482

Disampaikan pada Diskusi di Liga Budaya NasDem – Gayantara, Jakarta, 13 Desember 2012.

Bayangkan orang-orang gaek agak botak-botak dengan rambut tipis, janggut dan cambang beruban yang seolah tak terurus. Kebanyakan dari mereka pernah melancong beberapa minggu di daerah yang dianggap “barbar”, “tradisional”, manusia-manusia dunia ketiga yang disebut “orang-orang asli” (indigenous people) yang berusaha mereka “advokasi” melalui penggalian-penggalian “kecerdasan lokal” (local knowledge) hidup dalam adat, agama, dan tradisi turun-temurun, hirarkis, feodal, dan beberapa anak-anak mereka sedang belajar bagaimana “berdemokrasi”. Dengan berbagai deskripsi atas nama pengamatan ilmiah yang berdurasi cuma beberapa minggu, orang-orang gaek itu merangkum perilaku-perilaku sosial masyarakat tradisional yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Melalui narasi deskriptif dengan bumbu-bumbu berbagai istilah-istilah teoretis, dan kadang-kadang statistik, mereka seolah menemukan pola dari deskripsi hidup tradisional yang terkompres masa pengamatan mereka itu. Dengan teori-teori tentang bagaimana manusia-manusia primitif itu hidup dan bertahan hingga kekinian, mereka menyandang sederetan gelar panjang-panjang dan orang-orang menyebut mereka profesor-profesor di institut studi lanjut antropologi, sosiologi, dan dibayar mahal dan kemudian dikenang sebagai tokoh-tokoh ilmu pengetahuan yang merepresentasi modernitas manusia. Read the rest of this post »

Matematika Menelusuri Jejak Cara Ber-“matematika”: Membaca Borobudur

Posted November 5, 2012 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Disampaikan pada Workshop Ikatan Himpunan Mahasiswa Matematika (IKAHIMATIKA) Indonesia “Nothing without Maths”, Jakarta, 3 November 2012. Hand-out lengkap bisa diunduh di sini.

Matematika lahir dari evolusi kolektivitas kognitif beribu-ribu tahun. Ia merupakan bagian inheren dari kehidupan manusia dalam menghadapi tantangan alam dan sosialnya. Matematika lahir dari kemampuan manusia berartikulasi dengan simbol-simbol yang memodelkan konsep-konsep yang ia temui di alam. Artikulasi simbol-simbol tersebut kemudian digunakan sebagai perangkat kognitifnya dalam memahami berbagai proses di alam, terkadang tanpa harus “menyentuh” langsung proses yang di-abstraksikannya tersebut. Di luar kekaguman akan matematika modern itu sendiri, rupanya matematika modern memberi peluang untuk menelusuri (bahkan mencuri inspirasi) tentang bagaimana matematika telah diakuisisi oleh yang tak mengenal matematika modern! Read the rest of this post »

Social Media “Occupy” Capital Media?

Posted September 19, 2012 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Diskusi Indonesian Media Watch (IMW), Jakarta, 20 September 2012

Dalam pertarungan merebut popularitas rakyat, baik kubu demokratik Barrack Obama, maupun republikan Mitt Romney mengeluarkan sedemikian banyak dana untuk menguasai social media: jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya. Hal serupa, meski tak terlalu kentara, juga sangat mungkin terjadi dalam kancah politik nasional dan lokal, katakanlah misalnya perebutan kursi gubernur antara pasangan calon gubernur di DKI Jakarta Fauzi-Nara dan Jokowi-Basuki. Pelan-pelan social media yang tak punya sistem jurnalisme baku seolah mulai “merongrong” jatah pemberitaan konvensional melalui stasiun berita. Ketika informasi begitu membludak, kredibilitas informasi dari seseorang yang kita kenal terkadang jauh lebih bisa diterima, bahkan daripada pemberitaan konvensional yang sebenarnya secara ketat masih kukuh memegang prinsip-prinsip dank kode etik pemberitaan modern. Belakangan, baik di dalam maupun luar negeri, media konvensional sering tercurigai memiliki bias-bias pemberitaan, oleh pemimpin perusahaan (atau redaksi) yang didapati juga bermain di kancah politik: kancah yang justru ia beritakan dalam semangat netralitas pemberitaan… Read the rest of this post »

Etongan Maninga: Geometri Modern di Tapanuli

Posted August 28, 2012 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Di antara tumpukan arsip-arsip kuno tentang budaya nusantara untuk didokumentasikan ke www.budaya-indonesia.org, khususnya budaya tradisional di Tapanuli, Sumatera Utara, terungkap sebuah buku yang jelas bukan merupakan bagian tradisi nusantara, judulnya “Etongan Maninga”. Buku ini merupakan sebuah buku intrakurikuler sekolah tinggi yang menerjemahkan buku pelajaran matematika ke dalam Bahasa Batak. Hal yang menarik tentunya adalah ketika “Geometri” diterjemahkan sebagai kata “Maninga”. Kata ini sudah jarang digunakan bahkan oleh orang dari suku Batak. Bagaimana kita mengambil refleksi dari buku tua yang menarik ini? Telaah buku biasanya berisi ulasan atas sebuah buku yang baru terbit. Tapi kali ini, kita coba me-review sebuah buku yang justru telah lama sekali terbit, tahun 1896, pelajaran matematika modern berbahasa Batak di penghujung abad ke-19!

Read the rest of this post »

Kepemimpinan Di Era Kompleksitas

Posted July 11, 2012 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

disampaikan pada Diskusi “Politik dan Kepemimpinan” Populis Institute, Jakarta, 11 Juli 2012

Hampir tak ada persoalan sosial yang tak dikaitkan dengan kepemimpinan. Mitologi “ratu adil” ibarat  semacam ekivalensi “kedaulatan mutlak” yang melahirkan “kontrak sosial” dalam keadaan bellum omnium contra omnes (perang semua melawan semua) yang chaos, seperti diterawangkan Thomas Hobbes dalam Leviathan (1961). Persoalan-persoalan republik hari ini selalu menggoda kita untuk “mengganggu” tokoh-tokoh proklamator dan pemimpin yang kuat seperti Presiden Sukarno, Mohamad Hata, Sutan Sjahrir, dan sebagainya, dari alam peristirahatan. Kita cenderung berpikir akan adanya pemimpin di luar sana, padahal pemimpin itu jelas ada di antara kita sendiri – dan di saat yang sama, tokoh-tokoh yang memiliki karakteristik kepemimpinan sibuk “meniru-niru” demi mencitrakan diri sebagai pemimpin-pemimpin masyarakat di masa lampau tersebut. Keinsyafan kita akan kompleksitas sistem sosial mengajak kita untuk melakukan emanisipasi generasi, dengan kesadaran bahwa kepemimpinan itu lahir oleh sistem, ia tidak lahir begitu saja. Read the rest of this post »

Keinsyafan Mahasiswa Indonesia atas Sistem Sosial Kompleks

Posted June 23, 2012 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Imagedisampaikan pada Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Padang, 22 Juni 2012

Meski kurikulum pendidikan tinggi di negara maju dan negara berkembang seperti Indonesia punya beban akademis yang relatif tak terlalu berbeda, tapi sepertinya takdir menunjukkan bahwa mahasiswa di negara berkembang punya “tugas” yang lebih berat dari mahasiswa di negara maju. Mahasiswa mendapatkan label sebagai kaum pengubah, agent of change, sebagaimana hampir takada pergantian kepemimpinan nasional tanpa diwarnai gejolak demonstrasi mahasiswa di sepanjang sejarah republik. Jika memandang negara sebagai layaknya sebuah tubuh manusia mahasiswa dengan badge kebebasan mimbar akademik seolah menjadi salah satu indera. Mahasiswa diharapkan menyuarakan apa yang tak tersuarakan. Namun di pundak keluguan yang jujur dari mahasiswa sebenarnya tertumpuk beban kenyataan kehidupan sosial yang menuntut anak-anak zaman kini menginsyafi kompleksitas sosial. Bahwa dunia tak pernah sesederhana apa yang digambarkan ilmu-ilmu warisan abad pencerahan yang dicekoki pada mereka di bangku pendidikan modern. Tantangan menjadi mahasiswa di Indonesia menjadi semakin besar! Read the rest of this post »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.