Dunia Kita Membutuhkan Perspektif yang Sederhana atas Dunia yang Kompleks

Posted December 19, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

dipersiapkan sebagai pengantar dalam Pengayaan Mata Kuliah Teori-teori Sosial dan Kewarganegaraan, Universitas Pendidikan Indonesia, 19 Desember 2011

Pendidikan itu merupakan sebuah transmisi kebudayaan [7], dan apa yang tertransmisikan hari ini dalam lingkungan akademia modern adalah sesuatu yang terstrukturkan pertama sekali semenjak abad Pencerahan di abad ke-18 Eropa. Pada masa-masa awal kelahiran modernitas, ilmu pengetahuan menawarkan cara memandang kompleksitas dunia dengan berbagai moda-moda analitik atas elemen-elemen sistem yang di-observasi. Itulah sebabnya dunia pendidikan mengenal berbagai cabang disiplin ilmu. Ada sebuah harapan bahwa memahami secara mendalam elemen-elemen dari sistem (baik alam maupun sosial), maka kita akan dapat memahami sistem secara keseluruhan. Namun perkembangan ilmu pengetahuan berkembang sedemikian jauh, sedemikian sehingga kita makin menyadari bahwa kompleksitas sistem tak bisa didekati dengan cara mereduksi sistem dalam elemen-elemennya. Satu hal bukanlah penjumlahan linier atas elemen-elemen penyusun sistem tersebut. Karena itulah dikenal ilmu-ilmu kompleksitas. Read the rest of this post »

Inspirasi Kreatif Ada Di Sini, Bawa Ke Sana, demi Kesejahteraan Bangsa & Kemanusiaan!

Posted December 1, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Disampaikan pada Creative Session UI Untuk Bangsa
Universitas Indonesia, Depok, 30 Nopember 2011

Pengrajin perak belajar dengan motif khas Bali, bergenerasi-generasi, bertahun-tahun, dengan skill turun-temurun, harus didera hukuman saat berkeinginan untuk ekspor, oleh karena dianggap “membajak” paten desain motif yang serupa bentuknya. Belakangan diketahui bahwa yang mematenkan pernah membeli karya perak tersebut saat berada di Bali! Beberapa pengrajin reog khas Ponorogo difasilitasi untuk mengembangkan seni dan tradisi reog di Malaysia selama beberapa generasi, alhasil di sana lahir pola kultural reog yang “baru” dan unik yang menjadi satu dari sekian banyak hal yang bisa ditunjukkan sebagai wajah the truly asia! Pedas dan gurihnya Sambal Bajak khas Jawa Tengah, juga Sambal Nanas khas Riau dikabarkan merebut perhatian lidah banyak bangsa, setelah dipatenkan oleh oknum warga Belanda, untuk kemudian diproduksi massal di Australia bagi konsumsi dunia (termasuk Indonesia?). Identitas kultural menyimpan sejuta informasi yang terkodekan dalam motif, desain, ornamen, langgam lagu, tarian, aturan adat-istiadat, naskah-naskah kuno, arsitektur, dan sebagainya [2]. Ini semua adalah sumber inspirasi yang jadi tambang emas inovasi, oleh masa depan yang mensyaratkan kekuatan kreativitas! Read the rest of this post »

Let’s use contemporary science & math to enjoy the Indonesian traditional & ancient batik!

Posted November 24, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

delivered in International Math & Science Camp
Sari Ater, Lembang, November 24th 2011

Who doesn’t want the most playful toys, the kindest friends, the most caring and understanding teachers? It is human to look for ideal things. Things are expected to be simpler and life would be happier if we can reach out for the ideals. Even scientists, philosophers, and artists from the ancient time in northern hemisphere of our planet, creates some kind of “ideal things” while observing nature. Thus, we based our today science upon geometry. In classical geometry, we are taught to think about the perfect circle, rectangle, and a lot of excellences of geometrical shapes, upon which we put our methodological attention to nature. However, our civilization to day has forced us to accept a bad news: there is NO such “ideal things” in reality! Interestingly, we have seen this kind of point of view in some cultural heritages from ancient times in Indonesian archipelago, as well as other eastern culture rooted in ancient times!

Read the rest of this post »

Inovasi adalah Revolusi via Daur Ulang Gagasan Tradisional

Posted November 2, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

 

Disampaikan pada Forum Diskusi Nasional “Membangun Habitus Baru Pendidikan”, Auditorium Prasetya Mulya Business School, Jakarta, 3 November 2011

Gagasan dan cara pandang umum yang berkembang hari ini merupakan spektrum dari perkembangan tumpang tindih berbagai pemikiran di masa yang lalu. Mungkin karena itulah pemikiran modern, secara implementatif terasa makin hari makin kompleks. Dan hari ini kita mengetahui bahwa cara terbaik dalam melakukan sains adalah secara interdisipliner: berbagai pemikiran klasik (warisan abad pencerahan) atas domain yang berbeda-beda untuk menjawab satu tantangan faktual. Mungkin karena itu pulalah, kurikulum pendidikan sains dari jenjang persekolahan dasar hingga perguruan tinggi, misalnya, sebenarnya adalah bentuk kompresi substansi perjalanan sejarah sains mulai dari abad pertengahan hingga sekarang ini [4]. Demikianlah tren ilmu pengetahuan, ia bagaikan organisme hayati yang senantiasa tumbuh dengan berbagai karakteristik hidup: pengaturan diri sendiri (self-organizing), adaptasi, dan evolusi. Read the rest of this post »

Harmoni (bukan benturan) Tatanan Dunia Baru

Posted October 30, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Disampaikan pada Seminar “Mengembangkan Litbang di HKBP”, Jakarta, 29 Oktober 2011

Adalah fitrah manusia untuk melihat dan memahami kompleksitas semesta alam dan sosial secara sederhana. Jika ada dua atau lebih solusi yang berbeda untuk satu permasalahan, maka yang kita terima sebagai solusi yang “benar” tentunya adalah yang paling sederhana [7]. Tak terkecuali seorang ilmuwan politik seperti Samuel Huntington (1927-2008), dalam bukunya yang terkenal, “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order” [5]. Dalam bukunya tersebut, Huntington menggambarkan bahwa pasca perang dingin sumber dari konflik di dunia yang baru bukanlah bersumber pada perbedaan ideologis atau ekonomis, melainkan perbedaan kultural yang sangat senjang, oleh perbedaan peradaban. Ini merupakan tesis serius yang ingin dikritisi oleh diskusi lanjut berikut, dalam sebuah perspektif ke-Indonesia-an, budaya tradisional, dan perkembangan sains mutakhir. Read the rest of this post »

Menggambar Nexus Tiga Titik: Peluang Renesans Asia?

Posted October 21, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Diskusi seri ke-2 Kompleksitas, 19 Oktober 2011, yang diselenggarakan Freedom Institute dan Bandung Fe Institute, mengambil tema “Kompleksitas Budaya dan Renesans Indonesia”. Diskusi yang dipimpin oleh moderator Nirwan A. Arsuka dari Freedom Institute ini diawali dengan pemaparan bertajuk “Menjelaskan Kemajuan/Kekuatan Bangsa-bangsa” oleh I Gde Raka, seorang guru budaya dan manajemen inovasi dari Institut Teknologi Bandung, dilanjut dengan paparan berjudul “Dari Kompleksitas Budaya Tradisi Ke Renesans Indonesia” oleh Hokky Situngkir, Presiden Bandung Fe Institute. Read the rest of this post »

Passion, Kreativitas, dan Inovasi menuntut Komunikasi dalam Interaksi!

Posted October 2, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Disampaikan pada Diskusi dengan Calon Pengurus Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung (HME-ITB), 2 Oktober 2011.

Tiap perusahaan menginginkan calon karyawan/staf atau pelamar kerja yang:

  • Cerdas secara akademis, biasanya dengan standardisasi Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi.
  • Komunikatif.
  • Berinisiatif, Kreatif dan Inovatif serta mampu meng-akutalisasikan kreativitasnya dalam kerja nyata.
  • Berani menghadapi tantangan kerja.

Namun setelah bekerja, tiap perusahaan biasanya malah menginginkan agar karyawan/staf dalam perusahaannya bertolak belakang dari semua itu,

  • Tidak boleh text-book! Jadi, IPK yang tinggi sungguh tak menjamin keberhasilan di dunia kerja.
  • Jangan terlalu komunikatif, karena jika ia sangat cerdas berkomunikasi, interaksi sosialnya dengan karyawan/staf lain bisa mengancam perusahaan dengan entitas Serikat Pekerja yang sangat kuat dan bisa menekan administrasi perusahaan.
  • Tidak terlalu banyak inisiatif, dan tak boleh terlalu kreatif, karena banyak job description tak akan bisa terpenuhi.
  • Harus segan/takut terhadap atasan! Jangan terlalu berani menghadapi “tantangan”?! Read the rest of this post »

Menuju Wawasan Kompleksitas untuk Memahami Narasi Kompleksitas Negeri

Posted September 15, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

disampaikan pada Seri Diskusi I Kompleksitas di Freedom Institute, Jakarta, 14 September 2011. Versi cetak makalah dapat diunduh di: http://issuu.com/freedominstitute/docs/makalah-hokky-kompleksitas/1 dan video diskusi dapat diakses di: http://www.youtube.com/playlist?list=PL56B259EE8A6FEE21

I am convinced that the nations and people
who master the new sciences of complexity
will become the economic, cultural, and political superpowers
of the next century!”

Heinz Pagels

 Dan seorang fisikawan kondang dan populer Stephen Hawking pun berujar, “abad ke depan ini adalah abad-nya kompleksitas”, sebagaimana dikutip sekitar sebelas tahun lalu di San Jose Mercury News di tahun 2000 yang lalu. Demikianlah seolah-olah genderang kemunculan perspektif baru dalam memandang dunia, kehidupan, alam, dan masyarakat di tengah masyarakat ilmu pengetahuan: ilmu-ilmu kompleksitas. Dibandingkan dengan kata “simplicity”, kata “complexity” semakin sering diungkapkan dalam berbagai literatur, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1 [25]. Ilmu pengetahuan semakin cepat melaju, bahkan dengan percepatan yang luar biasa semenjak masa Renaissance, namun ternyata, peradaban kita merasakan kompleksitas sungguh merupakan sebuah karakteristik apapun yang kita amati, lihat, dan hidupi. Read the rest of this post »

Komunikasi demi memicu Kreativitas

Posted September 9, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Disampaikan pada UB’s Week 2011, Universitas Bakrie Jakarta, 9 September 2011

Life is like a game of cards.
The hand you are dealt is determinism;
the way you play it is free will.
-Jawaharlal Nehru

Sesederhana-sederhananya hidup di dunia kampus, tak kurang kompleks di bandingkan dengan kehidupan profesional dan kehidupan masyarakat luas. Entahlah, ini bisa dianggap sebagai berita buruk atau berita baik bagi para mahasiswa. Kehidupan itu kompleks, dan kadang-kadang menggoda pikiran untuk menganggap banyak fenomena di dalamnya sebagai sebuah kebetulan, ke-random­-an, bahkan keajaiban. Tiap manusia memiliki kehendak bebas (free will) untuk menentukan apa dan bagaimana ia menjalani hidup. Manusia membentuk masyarakat. Tiap masyarakat pun sebagaimana seorang manusia, juga memiliki kehendak bebas untuk menentukan bagaimana ia mengorganisasi diri, membentuk dan menentukan sistem nilai, norma, dan tradisi masyarakatnya. Masyarakat membentuk negara. Tiap negara juga, pada hakikatnya, memiliki kemerdekaan pula menentukan nasibnya sendiri. Negara, masyarakat, dan manusia, ketiganya tak lebih kompleks atau lebih sederhana satu sama lain! Read the rest of this post »

Adakah Kebudayaan Sumatera Utara itu?

Posted September 6, 2011 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

disampaikan pada Latihan Kepemimpinan & Organisasi Unit Kesenian Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, 6 September 2011

Pada mulanya ia bernama Gouvernement Van Sumatera, ibukotanya Medan. Setelah Republik Indonesia merdeka, ia jadi sub-provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli). Tahun 1948 ia menjadi satu provinsi Sumatera Utara dengan Aceh sebagai bagian wilayahnya. Tahun 1949, ia sempat jadi Provinsi Tapanuli, terpisah dari Aceh yang juga jadi provinsi. Tapi delapan bulan kemudian kembali jadi Provinsi Sumatera Utara lagi. Baru enam tahun kemudian (1956), ia jadi Provinsi Sumatera Utara seperti yang kita kenal sekarang [1]. Read the rest of this post »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.