Menuju Wawasan Kompleksitas untuk Memahami Narasi Kompleksitas Negeri

disampaikan pada Seri Diskusi I Kompleksitas di Freedom Institute, Jakarta, 14 September 2011. Versi cetak makalah dapat diunduh di: http://issuu.com/freedominstitute/docs/makalah-hokky-kompleksitas/1 dan video diskusi dapat diakses di: http://www.youtube.com/playlist?list=PL56B259EE8A6FEE21

I am convinced that the nations and people
who master the new sciences of complexity
will become the economic, cultural, and political superpowers
of the next century!”

Heinz Pagels

 Dan seorang fisikawan kondang dan populer Stephen Hawking pun berujar, “abad ke depan ini adalah abad-nya kompleksitas”, sebagaimana dikutip sekitar sebelas tahun lalu di San Jose Mercury News di tahun 2000 yang lalu. Demikianlah seolah-olah genderang kemunculan perspektif baru dalam memandang dunia, kehidupan, alam, dan masyarakat di tengah masyarakat ilmu pengetahuan: ilmu-ilmu kompleksitas. Dibandingkan dengan kata “simplicity”, kata “complexity” semakin sering diungkapkan dalam berbagai literatur, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1 [25]. Ilmu pengetahuan semakin cepat melaju, bahkan dengan percepatan yang luar biasa semenjak masa Renaissance, namun ternyata, peradaban kita merasakan kompleksitas sungguh merupakan sebuah karakteristik apapun yang kita amati, lihat, dan hidupi.

Kompleksitas dirasakan dengan pengukuran akan tingkat kesulitan menggambarkan sesuatu hal yang ada di semesta alam dan sosial (algorithmic information complexity) [3]. Lebih jauh, kompleksitas dinyatakan sebagai tingkat sulitnya melakukan sesuatu (computational complexity) [20]. Dan dengan penelaahan yang lebih dalam lagi, kita menyadari kompleksitas sebagai tingkat keteraturan dan pengorganisasian yang ada dalam sistem semesta sosial dan alam [10]. Sistem yang kita temui sehari-hari senantiasa memiliki karakteristik adaptabilitas dalam perjalanan evolusionernya. Kompleksitas tak lain merupakan bentuk seberapa sulit kita menggambarkan dan melakukan sesuatu terkait sifat keteraturan pola yang ada dalam sebuah sistem.

Studi kompleksitas merujuk pada sulitnya memahami semesta, dan bahkan pengukuran akan tingkat kompleksitas dari sistem yang diobservasi pun sepertinya adalah sebentuk kompleksitas pula [13]. Kesulitan terkait apa dan bagaimanakah sebenarnya hal yang disebut kompleks itu, telah pula menjadi sebuah bumerang awal, dalam perjalanan sejarah studi ilmu-ilmu kompleksitas, sebagaimana digambarkan dalam [9].

Ilmu-ilmu kompleksitas lahir dari sebuah kesadaran ilmu pengetahuan betapa sulitnya memahami semesta alam dan sosial; seolah tak ada satu cabang ilmu pun yang benar-benar bisa memberikan penjelasan yang terbaik akan suatu fenomena. Ada sesuatu yang keliru dengan cara disiplin ilmu memahami semesta. Bahkan penziarah pos-strukturalisme meng-elaborasi kompleksitas ini dengan membongkar fundamen dasar dari kebudayaan manusia, yakni bahasa. Bahasa dipandang sebagai konstruksi dunia hiper-real dalam struktur intertekstualitas [11]. Cara pandang ini merupakan jalan sebuah landas filosofi yang kemudian menjadi kenyataan posmodernis yang menantang segala hal yang berbentuk meta-narasi untuk kenyataan semesta alam dan sosial [14]. Pemikiran posmodernis, merupakan contoh dari sebuah bentuk pergolakan pemikiran yang sempat populer di tanah air dalam bentuk studi budaya [24].

Namun “kekeliruan” ilmu pengetahuan tersebut pada dasarnya ada pada cara kita menggunakan ilmu. Tradisi ilmu pengetahuan Cartessian yang mengkotak-kotakkan semesta yang diobservasi dalam kisi-kisi dan kotak-kotak kurikuler dalam cara kita melakukan observasi merupakan sumber kekeliruan tersebut. Fenomena maupun permasalahan yang ditemui seyogianya dilihat dengan melintasi peng-kotak-kotak-an sains. Ilmu-ilmu kompleksitas seyogianya merupakan “trans-ilmu”, yang melintas batas disiplin-disiplin konvensional [26]. Dalam jejak rekam evolusioner ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu kompleksitas menempatkan dunia sains (alam dan sosial) dalam kondisi kritikalnya, yang menantang kenormalan sains yang konvensional [12].

Mungkin demikian pulalah halnya dengan negeri kita yang memiliki banyak keunikan ini. Keunikan yang melahirkan kompleksitas dan menuntut perubahan wawasan kita atas kehidupan sosial yang ada di kepulauan Indonesia ini. Di sini, kita bermaksud mengakuisisi ilmu-ilmu kompleksitas dalam merangkai sebuah wawasan kompleksitas demi memahami narasi kompleksitas Indonesia.

Kompleksitas: from simple to chaos
Rasa ingin tahu adalah bahan bakar yang menggerakkan peradaban manusia. Kemunculan berbagai krisis dalam ilmu pengetahuan, khususnya semenjak akhir abad ke-19, telah memberikan sejumlah bahan refleksi lanjutan, untuk melihat lebih jauh ke depan. Upaya ini telah membawa manusia ke sebuah wawasan baru yang mengubah cara pandang kita dalam melihat hubungan antara kosmos (keteraturan di semesta) dan chaos (kekacau-balauan semesta). Wawasan baru ini bernama “teori chaos”. Apa arti penting teori chaos dalam melihat hubungan antara kosmos dan chaos? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja kita terlebih dahalu harus memaparkan ide dan semangat yang dibawa dalam teori chaos. Chaos memiliki keterkaitan erat dengan konsep keteraturan (harmoni) dan ketakteraturan [23, 8].

Pada matematika, keteraturan dianalogikan dengan sifat ekuilibrium dan periodik. Sebuah sistem dikatakan memiliki sifat ekuilibrium jika perilaku dan konfigurasi sistem tidak berubah dalam skala besar untuk rentang waktu yang lama. Sebagai contoh, jika kita memasukkan mie rebus panas ke dalam mangkuk maka mie rebus dan mangkuk akan mencapai suhu yang sama setelah beberapa waktu dan tidak lagi berubah. Suhu yang tak berubah ini dikatakan sebagai titik ekuilibrium sistem. Penarik tersebut dapat disebut sebagai titik atraktor. Pada contoh di atas, kita dapat melihat bahwa dalam kondisi ekuilibrium terdapat satu titik atraktor.

Sebuah sistem dikatakan periodik ketika sistem tersebut memiliki perilaku yang berubah namun memiliki pola yang berulang menurut waktu. Contoh sederhana adalah bandul atau pendulum yang diayun. Kondisi bandul dari waktu ke waktu senantiasa berubah. Namun, ia memiliki pola yang senantiasa berulang dari kiri ke kanan terus-menerus. Artinya, dalam kondisi periodik terdapat dua buah titik atraktor.

Sifat ketidakteraturan, yang identik dengan chaos atau kondisi tak hingga atraktor, adalah keadaan sistem yang bukan ekuilibrium dan bukan pula periodik. Salah satu karakter utama dari kondisi chaos adalah sensitif pada kondisi awal. Sifat sensitif pada kondisi awal ini menjadi faktor yang amat penting dalam menandai hadirnya chaos, sehingga keadaan ini menjadi salah satu syarat dari kondisi chaos. Hal ini berarti perbedaan kecil dalam nilai awal akan berdampak sangat besar terhadap hasil akhir. Fenomena tersebut, yang awalnya ditemukan oleh E. Lorenz di studi cuaca [21].

Dari gambar 2 kita dapat melihat bahwa perbedaan inisial yang begitu kecil (0.0001) dapat memberikan perbedaan hasil yang sangat besar. Visualisasi ini menunjukkan bahwa sifat sensitif pada kondisi awal dapat muncul dari sebuah model deterministik (dapat diketahui nilai output secara pasti berdasarkan nilai input) sederhana. Pada kasus peta logistik (nilai deterministik-nya terletak pada “jumlah populasi saat mendatang ditentukan oleh jumlah populasi saat sekarang dan parameter kontrolnya”) jika kita mengetahui jumlah populasi saat sekarang dan memiliki nilai parameter kontrol maka dengan mudah akan didapatkan jumlah populasi pada saat mendatang. Namun dengan hadirnya sifat sensitif pada kondisi awal, kemudahan dalam menentukan nilai keluaran menjadi sangat sulit atau bahkan mustahil.

Apakah chaos benar-benar dipenuhi oleh ketidakteraturan? Untuk menyelidiki pertanyaan tersebut, kita menggunakan sebuah koefisien buatan Aleksandr Lyapunov, yang menghitung seberapa besar perbedaan yang muncul akibat perbedaan kecil setelah melalui sejumlah iterasi tertentu. Secara formal, ia menghitung perbedaan awal setelah melalui tak-hingga iterasi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika koefisien Lyapunov lebih besar dari nol maka sistem memiliki sifat sensitif pada kondisi awal, yang artinya berada dalam kondisi chaos. Sebaliknya, jika koefisien Lyapunov kurang dari nol berarti tidak sensitif pada kondisi awal dan berada dalam kondisi teratur [21].

Lalu, apakah chaos benar-benar dipenuhi oleh ketidakteraturan? Jawabannya tidak! Pada fasa chaos, ada kondisi tertentu ketika sistem justru stabil atau koefisien Lypunov-nya negatif. Artinya, dalam sistem yang chaos sekalipun, terdapat sifat keteraturan. Kenyataan adanya keteraturan (kosmos) dalam chaos memberikan sejumlah harapan. Di tengah turbulensi yang kacau-balau, pada dasarnya terdapat beberapa hal yang memiliki pola-pola sederhana yang teratur bahkan stabil.

Teori chaos merupakan salah satu penemuan penting yang dapat menjadi faktor kunci dalam melihat hubungan antara kosmos dan chaos. Ia telah memberikan sebuah wawasan baru. Sebagaimana telah diulas di atas, teori ini telah menunjukan terjadinya keteraturan di dalam kondisi chaos. Artinya, kosmos (harmoni atau keteraturan) dan chaos bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Kosmos dapat dilahirkan dari dalam chaos.

Sebagai warisan abad pencerahan, cara ilmu modern menggunakan ilmu pengetahuan adalah melihat kosmos dan chaos sebagai dua konsep yang seolah-olah bertolak belakang satu sama lain. Kita mencari keteraturan berpola dalam sistem (kosmos) dan menghindari apa-apa yang tak teratur (chaos). Irasionalitas, carut-marut geometri dalam ruang non-Euclidean, paradoks logika, ketidaklengkapan dan ketidakkonsistenan pada formalisme matematika serta berbagai ketidakharmonian lainnya kemudian dipandang sebagai sebuah bentuk kekacauan.

Teori chaos telah menunjukkan sebuah jalan keluar baru. Kekacauan atau krisis tersebut semata-mata terjadi karena selama ini kita melihat kosmos dan chaos sebagai dua konsep yang bertolak belakang satu sama lain. Upaya ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena pada dasarnya, ia adalah sebuah kesatuan utuh.  Kehidupan yang kompleks berada di antara kondisi chaos dan kosmos.

Kompleksitas: Indahnya keberagaman
Sistem sosial terdiri terdiri atas individu-individu yang menyusun sistem sosial tersebut. Tiap-tiap individu tentulah sangat unik. Masing-masing manusia memiliki keinginan sendiri, sifat-sifat sendiri, dan memiliki cita-cita sendiri. Jika kita mencoba berandai-andai bahwa kita bisa mengetahui semua sifat dan hal-hal inheren dalam diri tiap manusia yang menyusun sebuah masyarakat, apakah kita akan bisa menebak seperti apa kira-kira sifat masyarakat tersebut? Inilah sebabnya mengapa sistem sosial harus dianggap sebagai sistem kompleks, karena terdapat hubungan makro-mikro dalam level-level hirarkis masyarakat tersebut.

Dalam sistem yang kompleks, kita telah melihat bahwa keteraturan hanya bisa diamati pada level lokal. Satu aktor sosial berinteraksi dengan aktor sosial lain sedemikian sehingga menghasilkan kondisi dengan banyak ekuilibria sebagaimana didiskusikan pada bagian sebelumnya. Dalam sistem yang kompleks ini, interaksi antar aktor/elemen sosial merupakan kunci dan menjadi sumber kompleksitas sosial. Kompleksitas senantiasa meningkat seiring dengan makin pentingnya interaksi dan saling berhubungannya antar elemen.

Dalam sistem sosial, komponen penyusunnya adalah individu-induvidu manusia. Dengan  kata lain kita tidak akan dapat mengetahui sifat sistem sosial hanya dengan pengetahuan yang lengkap tentang sifat-sifat dari tiap agen penyusun sistem sosial tersebut. Hal ini karena interaksi antara agen penyusun sistem sosial menghasilkan pola lain yang membrojol (emerged) dalam sistem. Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa faktor membrojol adalah efek dalam skala besar dari agen-agen yang berinteraksi secara lokal di dalam sistem [1]. Efek ini tak linier, dan tak bisa diduga dengan semata-mata pengamatan dan kesimpulan apriori. Dari sinilah kita bisa mengatakan bahwa sifat kolektif dari sebuah komunitas adalah sama dengan sifat individual agen Å bentuk interaksi di antara mereka. Jadi, meskipun sistem sosial merupakan sistem yang dibentuk oleh komponen sosial (individu), sistem sosial tidak bisa direduksi ke dalam sifat-sifat dan hukum-hukum yang berlaku secara lokal pada individu [18].

Gambar 4 menunjukkan bagaimana analisis pada level makro memiliki hubungan dengan analisis pada level mikro. Pada level makro, kita bisa mengatakan misalnya bahwa sebuah perilaku sosiologis S1x menyebabkan perilaku sosiologis S2x, dengan x adalah bentuk komunitas atau masyarakat yang terlokalisasi sedemikian rupa untuk memudahkan analisis. Baik S1x dan S2x harus diingat terjadi oleh interaksi yang acak oleh individu-individu yang menyusunnya (misalkan I1x, I2x, …Inx).

Koordinasi antara aktor-aktor sosial ini membentuk pola-pola sebagaimana yang dianalisis dalam perspektif sosiologis. Bagaimana aktor-aktor saling berinteraksi membentuk apa yang diukur secara makro, mulai dari besaran-besaran sederhana seperti berbagai variable ekonomi hingga berbagai hal yang kompleks seperti norma, nilai, hingga kebudayaan [2].

Pola-pola makro yang kompleks, seperti halnya sistem nilai, norma, dan kebudayaan ini menghasilkan apa yang dikenal dengan “kecerdasan kolektif”. Lanskap geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menunjukkan hal ini dengan begitu tingginya keberagaman etnografi yang ada di tanah air. Proses kreatif yang muncul secara kolektif lahir dari diversitas individu-individu yang beragam, yang menjadi elemen penyusun sistem sosial tersebut.

Keanekaragaman hayati dan perbedaan merupakan sebuah hal yang merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam proses evolusi makhluk hidup. Hal ini diperkuat dengan penemuan adanya gen sebagai pembawa sifat hereditas dalam satu variasi makhluk hidup, termasuk manusia. Satu persen perbedaan genetika antara simpanse dengan manusia telah memberi begitu banyak kemampuan dalam perkembangan hidup manusia dibandingkan dengan primata tersebut. Perbedaan kecil dalam struktur genetika tersebut telah memampukan manusia memiliki sebuah alat pertahanan yang paling hebat bagi manusia dalam mempertahankan diri dari berbagai predator di alam, mulai dari yang berukuran raksasa hingga yang berukuran bakteri bahkan virus. Manusia memiliki bahasa yang memungkinkan adanya komunikasi, pertukaran pikiran,

Secara evolusioner, manusia merupakan makhluk yang sangat lemah dibandingkan dengan predatornya. Rambutnya tidak selebat rambut simpanse. Namun meski tak semua orang bisa menjahit pakaiannya sendiri untuk menahan dingin dengan rambut yang tipis, interaksi dapat terjadi di antara manusia sehingga seorang petani dapat bertukar padi dengan baju melalui sistem ekonomi. Jika seorang manusia jatuh sakit, maka ia dapat mengkomunikasikan penyakitnya pada rekannya, ia dapat mengunjungi dokter yang dibantu oleh para suster untuk mengobati penyakitnya tersebut. Sistem bahasa melahirkan budaya yang akhirnya menempatkan simpanse di salah satu kandang di kebun binatang dan manusia dapat berkunjung ke sana untuk rekreasi. Bahasa, bahkan telah menjadikan fakta yang dikemukakan oleh Charles Darwin tentang perkembangan makhluk hidup di planet bumi, yakni proses evolusi, menjadi teori yang penuh dengan skandal [19] sebagaimana yang sering kita dengar [6].

Keanekaragaman, diversitas, perbedaan – tak cuma di level spesies, tapi juga variasi, bahkan perbedaan genetik antara dua saudara kembar sekalipun di antara satu spesies adalah fakta yang ditunjukkan melalui proses evolusi. Tantangan perkembangan teori tentang evolusi makhluk hidup, saat ini bahkan sedang berupaya untuk menerangkan bagaimana keanekaragaman handphone yang kita pakai sehari-hari sebagai bentuk proses evolusioner [23]. Perkembangan secara gradual dari level genetis bahkan hingga kultural,  dari keanekaragaman hayati, telah memberi kenyataan tentang berbagai makhluk hidup yang dapat kita saksikan saat ini dan bagaimana manusia sebagai pemimpin (khalifah dan mahkota makhluk/ciptaan) di planet ini.

Sebagaimana ditunjukkan dalam [16], perbedaan di antara individu-individu di dalam satu kelompok dapat menghasilkan sesuatu yang lebih daripada satu kelompok yang isinya homogen cara berfikir dan preferensinya. Sekumpulan orang dapat menjadi bijaksana/cerdas jika tersusun atas orang-orang yang individunya cerdas atau secara kolektif berbeda satu sama lain. Ini merupakan sebuah satu kenyataan yang menunjukkan bagaimana perbedaan di antara elemen-elemen penyusun sistem dapat menguatkan sebuah kelompok.

Kompleksitas: Memecah batas untuk emanisipasi sains
Dari diskusi kita pada di bagian sebelumnya, kita menyadari bahwa ilmu sosial berbasis kompleksitas merupakan bentuk emanisipasi kajian sosial dari berbagai ideologi yang seringkali memberikan bias dalam konstruksi teori sosial [4]. Tiap proposisi dari kajian sosial tak boleh bersandar pada keadaan ideal atas sesuatu. Proposisi perlu lahir dari ekstraksi informasi yang direfleksikan dari data. Namun sistem sosial tak seperti sistem di alam, yang mudah untuk melakukan berbagai eksperimentasi data.

Sebuah atom oksigen di London dengan sebuah atom oksigen di Balikpapan mungkin sama. Formalisme kimiawi dan kuantum di Tokyo sama saja dengan formalisme di Cimahi. Kita bisa membangun reaktor nuklir di Sendai sama saja dengan kita bisa membangun reaktor yang sama di Blitar. Tapi apakah jika kita bisa sudah pasti kita boleh dan mungkin membangunnya dengan situasi yang sama? Tentu tidak semudah itu, karena begitu kita berbicara soal kemungkinan dan keboleh-tidak-an, kita sudah bersentuhan dengan ilmu tentang manusia, soal humaniora.

Manusia menyusun sistem sosial dan masyarakat bukanlah atom-atom yang menyusun molekul-molekul. Manusia memiliki derajat kebebasan yang sama sekali lain dengan derajat kebebasan sebuah atom. Interaksi antar atom mungkin dapat kita formalisasikan, namun akan sangat jauh lebih sulit memformalkan interaksi antara manusia yang menghasilkan faktor-faktor makro seperti kemiskinan, pengangguran, lonjakan harga saham, norma sosial, dan sebagainya. Analisis statistika tradisional menghitung faktor-faktor yang muncul, sedemikian namun tanpa ada pemikiran dan asumsi bahwa manusia itu memiliki tingkat kecerdasan (zero intelligence). Fluktuasi elastisitas logam mungkin memiliki gambar grafik yang mirip dengan fluktuasi rupiah. Namun molekul-molekul  penyusun logam tidak berfikir, sebagaimana manusia berfikir dan memiliki kesadaran.

Atom di Amerika dengan atom di Indonesia mungkin sama, tapi manusia di Indonesia dengan manusia di Amerika sangat tidak sama. Secara fisiologis manusia di manapun memiliki rambut, kepala, dan struktur tubuh yang memiliki kemiripan, namun kemiripan fisiologis atau biologis tak menjamin kesamaan kultural, norma sosial, dan sistem nilai masyarakatnya. Dengan landasan inilah kita berpijak bahwa analisis sistem sosial yang berhasil dengan baik di Eropa, adalah naif jika langsung ditelan bulat-bulat oleh kalangan pencinta ilmu sosial di Indonesia.

Ilmu sosial harus bersifat lokal. Ini merupakan konsekuensi dari ketidakmungkinan manusia memperoleh penjelasan umum tentang ilmu sosial (metanarasi) sebagaimana diyakini oleh beberapa sosiolog kontemporer. Karena sistem sosial di berbagai tempat di dunia ini terjadi dengan kondisi awal (initial condition) yang tidak sama dan berbeda-beda secara geografis, klimatologis, dan sebagainya, sistem sosial yang hidup di berbagai tempat itu masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda pula. Inilah yang menyebabkan konstruksi ilmu sosial itu harus dibuat dari bawah ke atas (bottom-up) – harus dari agen-agen yang berinteraksi satu sama lain secara lokal, membentuk faktor sosial yang kemudian kita identifikasi secara makro.

Secara umum, kita melihat sistem sosial yang ada sebagai sistem yang teratur. Ada norma-norma dan moralitas yang berkembang dalam masyarakat luas yang mengatur hidup dan berkelanjutannya sistem sosial tersebut. Namun secara mikro, kita tentu akrab dengan perselisihan antar individu di dalam masyarakat. Kita mengenal dendam antara satu individu yang satu dengan yang lain. Kita terbiasa dengan kejahatan dan perbuatan kriminal antara satu orang dengan orang yang lain. Berbagai gejolak sering terjadi secara mikro, namun secara makro masyarakat terlihat begitu teratur. Contoh yang lebih riil mungkin adalah kondisi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa, Indonesia terdiri atas berbagai macam suku dan agama yang jelas tak sama. Ada heterogentitas yang inheren dalam struktur sosial masyarakat di Indonesia. Namun secara makro, jelas terlihat bahwa Indonesia adalah satu kesatuan yang memiliki keteraturan dalam kesatuan itu. Bagaimana kondisi heterogen dalam dunia mikro (inividual) bisa menghasilkan kondisi global makro yang teratur dalam masyarakat? [7]

Keteraturan dalam sistem sosial adalah hal yang kita lihat sebagai sebuah faktor yang dihasillkan dari interaksi antar indiviual di dalam sistem sosial tersebut. Sistem ini memiliki regularitas yang kita lihat sebagai pandangan makro. Jika ada 4 individu dalam sebuah masyarakat, katakanlah a,b,c,d di dalam sistem sosial X. Apakah karakter dari sistem sosial X adalah penjumlahan (kualitatif atau kuantitatif) dari tiap individualnya (a+b+c+d)? Tentu tidak. Jika a,b,c, dan d adalah pencuri, maka apakah anggota komunitas pencuri X, akan saling mencuri barang masing-masing? Apakah a akan mencuri milik b, dan b akan mencuri milik c, dan c akan mencuri milik a, sementara  mencuri milik b? Jawabannya tentu tidak sederhana, karena X haruslah merupakan faktor yang merupakan produk dari interaksi sosial, bukan sekadar penjumlahan yang sederhana. Itulah letak kompleksitas di dalam ilmu sosial. Inilah kerumitan yang harus diatasi bagi setiap ilmuwan sosial di manapun.

Antara anggota masyarakat X, yakni a,b,c, dan d, terdapat interaksi satu sama lain. Interaksi ini bisa merupakan pertemanan, persekongkolan, komunikasi biasa, atau apapun. Interaksi ini menjadi penghubung antar mereka satu sama lain. Interaksi inilah yang menghasilkan faktor sosial yang menjadi karakteristik masyarakat X.

Dari pemikiran ini, kita bisa melihat bahwa sosiologi memang harus dibangun dari bawah ke atas sedemikian sehingga kita bisa memberikan analisis yang integratif di dalam sosiologi tersebut. Mengutip Epstein & Axtell [7],

“…apa yang membentuk sebuah penjelasan terhadap penelitian sebuah fenomena sosial? Mungkin suatu saat sosiolog akan menerjemahkan pertanyaan, ‘dapatkah kamu menjelaskannya?’, dengan pertanyaan, ‘dapatkah kamu mensimulasikannya?’…”

Catatan Penutup
Masa depan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan saat ini menjadi jauh terkembang. Kompleksitas telah memperindah wajah ilmu sosial. Kita tentu tidak lagi berharap bagaimana ilmu ekonomi akan berkembang, atau sosiologi akan memperoleh inovasi, atau bahkan psikologi akan bergerak maju, dalam pengertian-pengertian klasik ilmu-ilmu tersebut. Dengan kata lain, dalam tataran ilmu, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan seterusnya tidak akan berkutat dalam batasan-batasan obyek penelitian mereka lagi, karena ilmu kompleksitas telah memberikan kesempatan untuk insaf, bahwa ilmu sosial membahas obyek yang kompleks yakni manusia dan lingkungan hidupnya. Manusia tidak boleh terkotak-kotak dalam sosiologi, psikologi, antropologi, ekonomi, dan seterusnya. Kompleksitas dalam ilmu sosial mengajak semua elemen ilmu sosial tradisional untuk merubah paraigmanya akan fenomena sosial yang selama ini dihadapi. Inilah yang disebut sebagai ruang inter-disipliner ilmu. Ruangan ini memang sangat interdisipliner, karena jika mungkin, ilmu sosial pun bersilaturahmi dengan ilmu-ilmu alam seperti biologi, fisika, kimia, dan seterusnya.

Ilmu tidak boleh terpisah dari obyek yang hendak diamatinya. Ilmu harus timbul sebagai solusi akan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Ilmu tidak boleh menciptakan permasalahan. Ilmu harus dapat menjawab pertanyaan dan permasalahan. Secara konsisten, ilmu sosial harus menjawab tantangan permasalahan sosial, bukan menjadi permasalahan sosial.

Dengan inilah kita memiliki wawasan ilmu yang baru dalam ilmu sosial kita, relatif terhadap pendekatan ilmiah warisan abad pencerahan. Sebuah pendekatan dari berbagai sudut pandang ilmu untuk mendekati fenomena-fenomena sosial harus dibuka selebar-lebarnya untuk menjawab berbagai kebuntuan sosiologis dan psikologis yang kita hadapi hari ini. Ruang inter-disipliner ini membuka peluang kepada survey dan observasi fenomena sosial sama besarnya dengan ruang laboratorium komputasional dan teknologi untuk melihat, menganalisis, dan mengkonstruksi solusi bagi berbagai permasalahan sosial. Dari sinilah kita akan mencoba mengeksploitasi wawasan kompleksitas untuk lebih jauh memahami narasi kompleksitas Indonesia…

Karya-karya yang Disebutkan:
[1] Axelrod, R. (1997). The Complexity of Cooperation: Agent-Based Models of Competition and Colaboration. Princeton UP.
[2] Axtell, R. Eipstein, J. M., Young, H. P. (2000). The Emergence of Classes in a Multi-Agent Bargaining Model. Center on Social and Economic Dynamics Working Paper No. 9.
[3] Chaitin, G.J. (1977). “Algorithmic information theory”. IBM Journal of Research and Development 21 (4):350-359.
[4] Craib, I. (1984). Modern Social Theory – from Parsons to Habermas, Harvester-Wheatsheaf.
[5] Darwin, C. (1860). On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life. John Murray.
[6] Dawkins, R. (1976). The Selfish Gene. Oxford UP.
[7] Epstein, J.M., & Axtell, R. (1996). Growing Artificial Societies: Social Science from the Bottom Up. The Brookings Institution Press & MIT Press.
[8] Gleick, J. (1988). Chaos: Making a New Science. Penguin.
[9] Horgan, J. (1997). The End Of Science: Facing The Limits Of Knowledge In The Twilight Of The Scientific Age. Broadway Books.
[10] Kolmogorov, A. N. (1965). “Three approaches to the quantitative definition of information”. Problems of Information Transmission 1(1): 1-11.
[11] Kristeva, J. (1980). Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art. Columbia University Press.
[12] Kuhn, T. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. University of Chicago Press.
[13] Lloyd, S. (2001). “Measures of Complexity: A Nonexhaustive List”. IEEE Control System Magazine 21 (4): 7-8.
[14] Lyotard, J.-F. (1984). The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Geoff Bennington & Brian Massumi (trans.). University of Minnesota Press.
[15] Mandlebrot, B. (1983). The fractal geometry of nature. W.H. Freeman.
[16] Page, S. E. (2007). The Difference: How the Power of Diversity Creates Better Groups, Firms, Schools, and Societies. Princeton UP.
[17] Sawyer, R. K. (2002). “Nonreductive Individualism: Part I – Supervenience and Wild Disjunction”, Philosophy of the Social Sciences 32 (4): 537-559, Sage Publications.
[18] Sawyer, R. K. (2003). Artificial Societies: Multiagent Systems and Micro-Macro Link in Sociological Theory, dalam Sociological Methods & Research, 31 (3). Sage Publications.
[19] Sagan, C. (2002). Cosmos. Random House.
[20] Sanjeev, A. & Barak, B. (2009). Computational Complexity: A Modern Approach. Cambridge UP.
[21] Schuster, H. G. (1995). Deterministic Chaos: An Introduction. Wiley-VCH.
[22] Situngkir, H. (2003). “Cultural Studies through Complexity Studies”. BFI Working Papers series WPM2003.
[23] Situngkir, H., Y. Surya. (2008). Solusi Untuk Indonesia: Prediksi Kompleksitas/ekonofisik. Kandel.
[24] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17
[25] Situngkir, H. (2011). Kisah Evolusi Budaya Manusia. Publikasi online di: http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/17/kisah-evolusi-budaya-manusia/
[26] Waldrop, M. (1992). Complexity: The Science at the Edge of Order and Chaos. Touchstone.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.