Passion, Kreativitas, dan Inovasi menuntut Komunikasi dalam Interaksi!

Disampaikan pada Diskusi dengan Calon Pengurus Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung (HME-ITB), 2 Oktober 2011.

Tiap perusahaan menginginkan calon karyawan/staf atau pelamar kerja yang:

  • Cerdas secara akademis, biasanya dengan standardisasi Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi.
  • Komunikatif.
  • Berinisiatif, Kreatif dan Inovatif serta mampu meng-akutalisasikan kreativitasnya dalam kerja nyata.
  • Berani menghadapi tantangan kerja.

Namun setelah bekerja, tiap perusahaan biasanya malah menginginkan agar karyawan/staf dalam perusahaannya bertolak belakang dari semua itu,

  • Tidak boleh text-book! Jadi, IPK yang tinggi sungguh tak menjamin keberhasilan di dunia kerja.
  • Jangan terlalu komunikatif, karena jika ia sangat cerdas berkomunikasi, interaksi sosialnya dengan karyawan/staf lain bisa mengancam perusahaan dengan entitas Serikat Pekerja yang sangat kuat dan bisa menekan administrasi perusahaan.
  • Tidak terlalu banyak inisiatif, dan tak boleh terlalu kreatif, karena banyak job description tak akan bisa terpenuhi.
  • Harus segan/takut terhadap atasan! Jangan terlalu berani menghadapi “tantangan”?!

Sungguh ini merupakan paradoks yang agak lucu, namun merupakan kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Semakin besar sebuah perusahaan, biasanya semakin demikian kaku akan paradoks ini, namun di sisi lain, semakin tinggi jabatan seseorang di dalam struktur organisasi perusahaan, paradoksnya biasanya makin berkurang: makin tinggi posisi dan jabatan seseorang, ia dituntut untuk makin kreatif, inovatif, komunikatif, cerdas, dan keputusannya harus jitu dalam menantang keadaan – demikian pula sebaliknya.

Namun bagaimanapun, kreativitas, inovasi, dan kemampuan mengolah tantangan merupakan kualitas-kualitas yang perlu dimiliki oleh seorang homo sapiens dalam kehidupan evolusionernya. Persoalannya adalah bagaimana ia mampu mengelola potensi kreativitasnya tersebut sesuai dengan peran dan posisinya dalam strata sosial di mana ia  hidup dan eksis.

Bayangkan sebuah perusahaan teknologi informasi yang ingin memasarkan inovasi produk high-tech-nya pada masyarakat luas yang menjadi calon konsumennya. Perusahaan tersebut bisa mengeluarkan produk-produk inovatif yang sangat berteknologi tinggi atau berteknologi standar. Namun apakah kemudian produknya tersebut laku di pasaran, tentu bergantung pada “kesiapan” pasar dalam menerima inovasi produknya tersebut. Jika masyarakat luas telah mengenal inovasi teknologi high-tech tersebut, maka produknya akan sangat laku di masyarakat, dan tentunya, masyarakat akan sangat menikmati produk-produk inovasi teknologi tinggi tersebut. Namun jika masyarakat ternyata belum siap menerima teknologi tersebut, maka produk inovasinya takkan mudah laku di pasaran.

Dalam teori permainan (game theory), keadaan ini biasanya dianalisis dengan menggambarkan matriks 2×2 yang menunjukkan ganjaran (pay off) sesuai dengan ganjarannya tersebut [1, 7].

Dalam tabel di atas, produk berteknologi tinggi yang disediakan si perusahaan harus bersesuaian dengan kesiapan masyarakat calon konsumen dengan teknologi tinggi tersebut (ditunjukkan dengan masing-masing mendapat point “10”). Jika tidak, perusahaan akan mendapatkan kerugian dengan kesiapan teknologi masyarakat yang  tak menyambut produk high tech mereka, yang ditunjukkan dengan point “0”. Pilihan lainnya, adalah si perusahaan ogah ber-inovasi dengan teknologi tinggi dan betah saja dengan produk berteknologi lama yang standar, dan masyarakat pun ternyata harus puas dengan teknologi yang tak maksimum tersebut (ditandai dengan point 5 untuk keduanya).

Permainan tersebut menuntut adanya “koordinasi” dari si perusahaan dan si masyarakat yang menjadi target pemasarannya.

Koordinasi pertama bisa jadi berupa fokus dengan passion masing-masing pemain akan teknologi high tech: masyarakatnya terdidik dengan sendirinya dengan menanti teknologi high tech untuk hadir di pasaran, dan perusahaan memproduksi secara independen sesuai hasil penelitan high tech terakhir, maka agar keduanya bisa mendapatkan ganjaran (payoff) maksimum. Masyarakat pencinta teknologi (para geek teknologi) justru menanti-nanti bahkan “berburu” produk baru high-tech yang muncul di pasaran, yang akan menyambut berbagai produk dari perusahaan yang hasilkan produk-produk teknologi canggih. Ada pasar, ada suplai!

Koordinasi kedua bisa jadi diperoleh melalui komunikasi di antara kedua pemain. Misalnya perusahaan teknologi sebelum memasarkan produknya menggembar-gemborkan dahulu berbagai fitur baru dari teknologi high tech yang mereka akan tawarkan melalui media massa, dan berbagai program-program edukatifnya, sehingga masyarakat menjadi aware (bahkan menunggu-nunggu) produk inovatif teknologi yang akan dikeluarkan tersebut. Ini biasanya dilakukan oleh banyak korporasi besar teknologi informasi belakangan ini. Jauh hari sebelum Windows 8 resmi dikeluarkan, maka berbagai review dan beta-release dari sekuel Windows ini dikeluarkan oleh Microsoft. Demikian pula dengan iPad 3 yang belum juga ada di pasaran, pembicaraan di forum-forum (baik online maupun offline) sudah bermunculan yang tak jarang disponsori oleh Apple Inc. sendiri.

Ada dua ekuilibrium dari cerita di atas:

Pertama, baik perusahaan maupun masyarakat luas sama-sama ogah untuk mengejar fitur high tech dalam teknologi yang ada di pasaran. Keduanya mendapatkan point “5”. Masyarakat tetap dengan teknologi yang “standar” dan perusahaan untung dengan mensuplai produk berteknologi “standar” ke pasaran.

Kedua, keduanya, baik perusahaan maupun masyarakat bersiap diri dengan teknologi high tech yang ada, seehingga keduanya mendapatkan point “10”. Masyarakat menikmati teknologi canggih dan perusahaan mendapat keuntungan maksimum dengan produk unggulan terbaru.

Dari Teori Permainan (game theory) ini kita mendapatkan pelajaran penting bahwa ide/gagasan kreatif hanya bisa bertahan hidup dengan adanya komunikasi [6]. Seseorang yang kreatif dan penuh passion bisa saja hidup dengan “ikut arus” dengan pola pandang dan tata cara yang konvensional. Itu juga adalah satu kondisi ekuilibrium. Tapi sejarah perkembangan teknologi memberi bukti pada kita bahwa orang-orang kreatif bisa mengubah keadaan dengan progresifitas yang mendobrak berbagai cara pandang konvensional [3]. Namun yang mesti diingat adalah orang-orang kreatif tersebut harus mampu mengkomunikasikan gagasan/ide kreatifnya tersebut, sehingga orang kreatif bersangkutan mendapat tempat di hati masyarakat tempat ia berada, dan masyarakatnya  pun mendapatkan berkah akan kehadiran orang kreatif tersebut di dalamnya [5].

Mungkin diperlukan orang-orang kreatif yang memiliki kemampuan komunikatif yang baik untuk “memecah” kebuntuan dan ke-jumud-an paradoks yang ditunjukkan pada bagian awal dari artikel ini. Orang-orang kreatif yang cerdas diperlukan, tapi masyarakat lebih memerlukan lagi orang-orang kreatif yang mampu mengkomunikasikan gagasan dan ide kreatifnya, sehingga mampu mendorong perubahan bagi masyarakat di mana ia berada, sehingga transformasi sosial terjadi, dan dunia bisa menjadi lebih baik!

Tak cukup hanya sekadar passion, kemampuan kreatif dan komunikasi yang intensif merupkan kunci dasar dalam kolaborasi untuk mencapai kehidupan yang progresif dan lebih baik.

Kerja Yang Disebut:
[1] Cooper, R. (1998). Coordination Games. Cambridge University Press.
[2] Luce, R.D. & Raiffa, H. (1957). Games and Decisions: An Introduction and Critical Survey. Wiley & Sons
[3] Khanafiah, D., & Situngkir, H. (2005). “Visualizing the Phylomemetic Tree: Innovation as Evolutionary Process”. Journal of Social Complexity 2(2).
[4] Schelling, T. (1978). Micromotives and Macrobehavior. Norton.
[5] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17
[6] Olson, G. M., Malone, T. W., Smith, J B. (2001). Coordination theory and collaboration technology. Routledge.
[7] Osborne, M. J. (2004). An Introduction to Game Theory. Oxford UP. pp. 23

Explore posts in the same categories: Uncategorized

2 Comments on “Passion, Kreativitas, dan Inovasi menuntut Komunikasi dalam Interaksi!”

  1. Nano Says:

    Very good…

  2. 4ndr0m3dh4 Says:

    tidak cukup being smart tapi juga harus gaul..
    gaul tidak cukup tapi juga harus punya mimpi yang jelas.. agar tak tertelan arus

    love this article ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.