Inovasi adalah Revolusi via Daur Ulang Gagasan Tradisional

 

Disampaikan pada Forum Diskusi Nasional “Membangun Habitus Baru Pendidikan”, Auditorium Prasetya Mulya Business School, Jakarta, 3 November 2011

Gagasan dan cara pandang umum yang berkembang hari ini merupakan spektrum dari perkembangan tumpang tindih berbagai pemikiran di masa yang lalu. Mungkin karena itulah pemikiran modern, secara implementatif terasa makin hari makin kompleks. Dan hari ini kita mengetahui bahwa cara terbaik dalam melakukan sains adalah secara interdisipliner: berbagai pemikiran klasik (warisan abad pencerahan) atas domain yang berbeda-beda untuk menjawab satu tantangan faktual. Mungkin karena itu pulalah, kurikulum pendidikan sains dari jenjang persekolahan dasar hingga perguruan tinggi, misalnya, sebenarnya adalah bentuk kompresi substansi perjalanan sejarah sains mulai dari abad pertengahan hingga sekarang ini [4]. Demikianlah tren ilmu pengetahuan, ia bagaikan organisme hayati yang senantiasa tumbuh dengan berbagai karakteristik hidup: pengaturan diri sendiri (self-organizing), adaptasi, dan evolusi.

Namun yang jelas, jantung dari perkembangan ilmu pengetahuan modern adalah inovasi dan kreativitas, dan perkembangan teknologi informasi saat ini merupakan momentum penting dalam perkembangannya. Perkembangan teknologi informasi, sedikit banyak telah memperluas peluang makin tingginya arus inovasi dan kreativitas dalam proses evolusi, pertumbuhan, dan siklus ekonomi dalam perspektif global [26]. Diskusi dalam makalah singkat ini berbicara tentang bagaimana kita melihat wawasan konvensional, bahkan tradisional, akan dunia dan bagaimana “daur ulang” hal yang klasik tersebut menjadi apa yang kita pahami sebagai inovasi dan kreativitas hari ini.

Kehidupan yang makin menghargai Inovasi/Kreativitas

Perkembangan ekonomi global belakangan ini telah melahirkan paradigma yang makin tajam akan pentingnya nilai informasi – beberapa jenis informasi bahkan memiliki nilai ekonomi yang perlu dilindungi “kepemilikannya” melalui berbagai piranti legal, seperti paten, HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual), dan sebagainya. Tatkala ke-simetri-an informasi terasa memiliki peran intrinsik yang semakin penting [1], perkembangan teknologi, seperti internet dan berbagai perangkat dan layanan telekomunikasi yang berperan kuat mengurangi asimetri informasi di kalangan masyarakat, mulai mencampuri kehidupan perekonomian, baik itu produksi, distribusi, dan konsumsi.

Membaca akuisisi kehidupan sosial atas teknologi informasi dalam sejarah perkembangan ekonomi global, kita mungkin  tergoda kita untuk melihat eksposisi kualitatif perkembangan perekonomian dalam langkah-langkah evolusionernya, mulai dari kehidupan perekonomian berbasis periindustrian dan manufaktur, ekonomi berbasis teknologi tinggi, dan di masa yang akan datang munculnya perekonomian yang sangat bersandar pada proses kreatif dan inovasi.

Letupan pertama tentu berasal dari kolaborasi apik antara kehidupan sosial dengan sains dan teknologi semenjak Revolusi Industri di Eropa pada abad kedelapanbelas yang lalu. Revolusi ini telah diawali dengan pembangunan industri secara masif yang berhutang pada kerja rekayasa John Smeaton dan James Watt atas mesin uap Newcomen [19]. Inovasi ini telah mengubah wajah perekonomian, di mana proses masif penambahan nilai pada suatu barang (dan jasa) terus berkembang mencari efisiensi paling maksimum, dan secara implementatif berpusat pada proses manufaktur.

Dinamika kehidupan industrial ini terus berkembang, hingga era teknologi tinggi (high tech) menjadi pusat perhatian dalam akuisisi sains dan teknologi dalam sejarah perekonomian. Demi efisiensi dan efektivitas maksimum, akuisisi berbagai instrumen berteknologi tinggi  pun menghiasi wajah perindustrian modern. Semua diperkuat dengan perkembangan yang pesat pada perkembangan komputasi, elektronika, dan instrumentasi (termasuk transportasi). Inilah yang seringkali dikenal sebagai bentuk revolusi industri babak kedua [14]. Secara kronologis, letupan ini terjadi melalui investasi yang besar di kawasan Eropa pasca Perang Dunia II, termasuk di dalamnya kebijakan Marshall Plan di tahun 1952.

Akuisisi sains dan teknologi dalam kehidupan sosial dan ekonomi berjalan terus. Sebagaimana seringkali diumbar para futuris, aspek elektronika Hukum Moore [20] pun mengubah bagaimana kita memperlakukan perangkat teknologi dalam hidup sehari-hari. Perkembangan eksponensial komponen elektronis dalam Integrated Circuit, meliputi ukuran, kecepatan pemrosesan komputasional, hingga resolusi pemrosesan, telah memungkinkan kreasi perangkat teknologi, yang seolah tak mungkin di era sebelumnya. Teknologi telah tak hanya membantu proses produksi dan distribusi, namun mengubah kultur dan cara konsumsi.

Gambar 1. Plot evolusioner akuisisi sains dan teknologi dalam kehidupan sosial.

Perspektif reduksional tentang apa yang disebut sebagai “inovasi” sebagai peningkatan efisiensi proses produksi harus bergeser karena apa yang tadinya menjadi bagian produksi, kini memiliki peran pula sebagai produk konsumsi. Sebagaimana dicatat oleh Schumpeter [24], inovasi adalah sumber dari siklus bisnis. Inovasi senantiasa terkait pada “kebaruan pengetahuan” dalam perekonomian. Pemahaman akan peran inovasi dalam siklus bisnis ini merujuk pada proses “penghancuran kreatif” di mana inovasi kewirausahaan yang baru harus memiliki daya penghancur atas modal industrial lama yang mengukuhkan eksistensi inovasinya [2]. Fokus pada ekonomi berbasis inovasi, tak pelak, merujuk pada dua hal,

Pertama, “pengetahuan”, dan hal ini menjadi salah satu titik tolak penting kehidupan sosial dan ekonomi kita di masa depan: ekonomisasi pengetahuan. Tak heran, berbagai proses ekonomi (baik produksi, distribusi, dan konsumsi) belakangan marak dalam ekonomisasi akumulasi pengetahuan ini. Konsep “belajar” sebagai suatu bentuk akumulasi pengetahuan menjadi masif dan memberikan arti pentingnya dalma proses perekonomian evolusioner yang panjang [3]

Kedua, “proses diversifikasi”, mengingat cara produk inovatif menghancurkan pasar produk-produk lama adalah melalui kontestasi di pasar. Diversifikasi merupakan langkah pertama yang kongkrit ketika ekonomi bersandar pada proses inovasi. Diversifikasi di sini tentu saja dapat dikaitkan pada variasi produk, maupun variasi pasar. Diversifikasi produk merupakan variabel yang terkait dengan inovasi dan kreativitas yang muncul pada elemen dan produk konsumsi. Di sisi lain, diversifikasi pasar terkait dengan teknik dan cara pemasaran sebuah jenis produk konsumsi tertentu. Diversifikasi pasar merupakan tulang punggung dari apa yang kita kenal sebagai bentuk teknik periklanan, dan berbagai cara demi merebut perhatian konsumen, atau sisi demand dalam grafika pasar.

Ketiga, “budaya”, karena industri berbasis kreativitas menekankan berbagai aspek terkait produk-produk berbasis informasi. Barang dan jasa yang diperdagangkan di era ekonomi berbasis kreativitas adalah obyek-obyek yang sedikit banyak mengubah tatanan hidup subyek sosial [17].

Terjadi de-teritorial-isasi kesenjangan industrial antara negara maju dan berkembang oleh dimungkinkannya komunikasi lalu-lintas informasi berkapasitas tinggi [31]. Globalisasi merupakan wajah budaya dunia yang akan datang. Pemikir sosial pun menjadi banyak yang tergoda untuk menyuarakan kecenderungan “homogenisasi” budaya global [13], terkait musik, pakaian, dan cara hidup.

Yang jelas, tak ada masa yang sangat menghargai kreativitas dan inovasi lebih besar dari masa sekarang dan masa yang akan datang. Kelak, di masa depan yang tak jauh, yang membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya bukanlah lagi keterampilan atau kepiawaiannya, namun kreativitas dan kapasitasnya dalam ber-inovasi menghadapi persoalan hidupnya sehari-hari.

Gambar 2. Simulated lanskap memetika (Data: [18])

Inovasi Sebagai Evolusi

Yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut tentunya adalah bagaimana sebenarnya proses inovasi tersebut berjalan? Kreativitas, sebagai induksi kognitif [30] (dalam level deskripsi mikro-sosial,  individual) dan sebagai inovasi (dalam level deskripsi makro-sosial, kolektif individu) dapat dilihat sebagai persoalan deretan simbolik dengan sumber stokastik yang tak diketahui. Akibatnya, upaya memahami proses kreatif dan inovatif dapat dipandang sebagai proses evolusioner sebagai bentuk pencarian kondisi optimum yang heuristik [12]. Inilah yang kemudian dipadukan dengan pendekatan sosio-biologi memetika [6] menjadi studi sosiologi komputasional untuk evolusi kebudayaan [25]. Perspektif evolusioner dalam studi inovasi mengajak kita untuk membayangkan eksistensi sebuah lanskap yang mencerminkan fitur-fitur dari produk ekonomi di mana kelayakannya (fitness) ditentukan oleh kuantitas dari adopsi produk tersebut oleh konsumen [16].

Gambar 3
Algoritma evolusioner dalam proses inovasi (diadaptasi dari [28])

Studi memetika merupakan studi genetika untuk memahami budaya; jika gen adalah unit informasi terkecil dari informasi genetika, maka meme adalah unit informasi terkecil dari informasi kultural. Meme-meme berkoeksistensi satu sama lain menjadi kumpulan sekuen-sekuen meme, disebut sebagai memepleks, yang merepresentasikan fitur kompleks dari sebuah produk ekonomi. Antar meme bisa ada saling kebergantungan yang secara non-linier terkait pada faktor keberterimaan (fitness) dari sebuah fitur dalam produk ekonomi di masyarakat (sifat epistatik). Secara sederhana, representasi dari lanskap keberterimaan memetik dapat digambarkan dalam sistem koordinat Cartessian 3-dimensional sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2. Melalui lanskap-lanskap yang mungkin dari berbagai kombinasi sekuen meme, inovasi dan proses kreatif “berkelana” mencari kondisi yang paling fit, paling optimum dan disukai oleh pasar [10]

Dari pemahaman ini kita mengetahui bahwa inovasi melulu merupakan adaptabilitas dari produk dalam adopsi konsumen. Di sini, sifat stokastik dan keacakan dari dari inovasi/kreativitas terletak pada kemunculan sekonyong-konyong perubahan atas produk ekonomi dari sebegitu banyak diversitas yang ada [cf. 5]. Penambahan satu fitur memepleks dalam lanskap evolusioner ini merupakan apa yang kita sebut sebagai kebaruan (novelty). Hal yang baru dikatakan baik jika dan hanya jika terdapat keberterimaan yang baik dari lingkungan evolusionernya, yaitu pasar. Jadi, dalam epos-epos evolusioner ekonomi, ketika ada tendensi dominasi pasar oleh sebuah produk tertentu (yang dipandang sebagai bentuk homogenisasi/uniformisasi kultural), justru terdapat pula tekanan pencarian kebaruan memetika melalui proses diversifikasi. Di sinilah letak pentingnya diversitas dan keberagaman di era globalisasi.

Tantangan Untuk Indonesia

Pasar ekonomi berbasis kreativitas, pendeknya menjadi “pasar informasi”. Setiap hari kita dicekoki dengan berbagai informasi melalui layar kaca, laptop LCD, ataupun pesawat telepon selular kita. Cepatnya pertukaran informasi sedikit banyak mengubah cara pandang kita akan apa yang kita sebut sebagai kreativitas di dalam pasar.

Adakah sebuah informasi memiliki nilai ekonomi atau tidak merupakan jantung dari “ekonomi baru”. Banyak pengamat menyebutnya sebagai “ekonomi kreatif”, sebuah tatanan ekonomika di mana kreativitas merupakan sumber dari tiap asimetri yang ada di pasar. Tak peduli sejelek apa sebuah produk, ia dapat memiliki tempat di pasar terkait dengan informasi yang dibawa oleh produk tersebut. Keberagaman dan heterogenitas dari produk akan sangat bergantung pada fitur-fitur yang menyertai sebuah produk. Inilah yang ditunjukkan pada tabel 1.

Diversifikasi, mulai dari level produk hingga level fitur yang meragamkan satu produk tertentu, merupakan proses yang menjadi sangat penting dalam paradigma ekonomi yang berlandaskan kreativitas dan inovasi. Diversifikasi ini dapat dilakukan dari sisi produk maupun dari sisi pemasaran atas produk. Dari gambar 4 kita dapat melihat konstelasi pola diversifikasi produk dan pasar atas beberapa negara di dunia terkait karya seni dan kerajinan di pasar global. Cina merupakan negara yang paling menikmati volume ekspor produk-produk kreatifnya, meski pola diversifkasi pasar yang mereka lakukan tak sebesar Indonesia. Di sisi lain, Perancis merupakan negara yang sumbangsih ekspor produk kreatif pada GDP-nya yang tak jauh berbeda dengan Indonesia, namun sangat tinggi diversifikasi produknya, relatif terhadap diversifikasi pasar yang dilakukan. Dari konstelasi tersebut pula terlihat jelas bahwa diversifikasi pasar yang dilakukan di Indonesia sangat tinggi, namun sangat rendah diversifikasi produknya. Hal ini tentu sangat kontras dengan kenyataan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keberagaman etnografis yang sedikit banyak bisa memberikan sumbangsih besar bagi diversifikasi produk-produk kreatif.

Gambar 4. Diversifikasi Pasar dan Produk negara-negara di dunia untuk pasar produk kreatif di mana ukuran dari bulatan menunjukkan proporsi ekspor dengan total ekspor negara bersangkutan (Data: [33])

Ini tentu memberikan rekomendasi bagi pengambil kebijakan ekonomi di tanah air untuk segera memikirkan diversifikasi produk, untuk menyeimbangkan diversifikasi pasar yang jauh melebihi banyak negara peng-ekspor produk kreatif di dunia.

 

Perjalanan Panjang dimulai Satu Langkah Pendek

Membaca semua telaahan ini, kita dapat melihat bahwa aspek terpenting dari proses inovasi dan kreativitas adalah perluasan dan pengayaan “basis data meme” yang akan menentukan dinamika lanskap inovasi  (lihat gambar 3). Semakin besar semesta probabilistik yang menjadi “perpustakaan meme” dari inovasi, maka semakin luas dan lapang peluang diversifikasi yang dapat menyertai perubahan fitur dan desain yang menyertai hadirnya sebuah produk ekonomi baru.

Salah satu sumber perluasan itu ialah diversitas elemen kebudayaan tradisional yang seiring perjalanan zaman, belum semuanya terkuak untuk dieksploitasi perikehidupan perekonomian modern kita hari ini. Lebih jauh lagi, peningkatan diversifikasi produk kreatif adalah impian kosong, tanpa upaya katalogisasi yang lengkap, integratif, dan komprehensif dari semua produk kreativitas yang ada, yang mengisi relung-relung fitur demi pengembangan produk ekonomi terkait seni dan hasil kriya kerajinan masyarakat.

Namun adalah sebuah refleksi bagi kita semua, bahwa lebih dari enam dekade menyatakan kemerdekaannya sebagai republik, administrasi negara dan masyarakat kita belum memiliki sebuah portal informasi yang dapat dijadikan sebagai “perpustakaan meme” ini. Hal ini sungguh kontras dengan kenyataan yang diterima luas bahwa Indonesia merupakan sebuah entitas negeri yang menyimpan segudang diversitas kecerdasan kolektif (collective intelligence) di planet bumi. Inisiatif untuk membangun sebuah “perpustakaan meme” ini yang kemudian melatarbelakangi penulis dan Indonesian Archipelago Cultural Initiatives untuk membangun portal sederhana berbasis platform kode-terbuka Mediawiki yang ingin mengajak tiap orang untuk bisa berpartisipasi dalam dokumentasi terpadu dan terbuka pencatatan data-data elemen kebudayaan di Indonesia melalui portal internet www.budaya-indonesia.org.

Melalui pendataan ini, diharapkan kita memiliki katalogisasi “perpustakaan meme” yang akan menjadi satu sumber kreativitas dan inovasi bagi mereka yang menggiatkan pembangunan ekonomi berdasarkan kreativitas. Penambahan satu fitur kecil saja dari produk ekonomi, dapat menjadi pendorong perubahan struktural, dan pada gilirannya kultural, bahkan secara revolusioner perilaku konsumen akan produk tertentu. Dari titik ini, kita jelas dapat melihat bagaimana sebaik-baik inovasi dapat kita nyatakan sebagai bentuk revolusioner daur ulang gagasan tradisional!

Kepustakaan:
[1] Akerlof, George A. (1970). “The Market for ‘Lemons’: Quality Uncertainty and the Market Mechanism”. Quarterly Journal of Economics 84 (3): 488–500. MIT Press.
[2] Aghion, P. and Howitt, P. (1992). “A Model of Growth Through Creative Destruction”. Econometrica 60 (2). Cambridge.  MIT Press.
[3] Auerswald, P., Kauffman, S., Lobo, J., & Shell, K. (2000). “The Production Recipes Approach to Modeling Technological Innovation: An Application to Learning by Doing”. Journal of Economic Dynamics and Control 24.
[4] Bellos, A. (2010). Here’s Looking at Euclid: A Surprising Excursion Through the Astonishing World of Math. Free Press.
[5] Curran, D., O’Riordan, C., & Sorensen, H. (2007). “Evolving Cultural Learning Parameters in an NK Fitness Landscape”. In Almeida e Costa, F. (ed.) Advances in Artificial Life. Springer-Verlag.
[6] Dawkins R. (1976, 1982). The selfish gene. Oxford UP.
[7] De Long, J. B. 2000. “The triumph of monetarism?”. Journal of Economic Perspectives 14 (1).
[8] Dimand, R. W. (2003). “Interwar Monetary and Business Cycle Theory: Macroeconomics before Keynes”. In Samuels, W. J., Biddle, J. E., Davis, J. B. (eds). A Companion to the History of Economic Thought. Blackwell.
[9] Dowling, B. F. (2005). Evolutionary Finance. Palgrave.
[10] Ettlie, J. E., Bridges, W. P., O’Keefe, R. D. (1984). “Organization Strategy and Structural Differences for Radical Versus Incremental Innovation”. Management Science 30 (6).
[11] Foster, J. & Hözl, W. (2004). Applied Evolutionary Economics and Complex Systems. Edward Elgar.
[12] Gen, M. & Cheng, R (1997). Genetic Algorithms & Engineering Design. Wiley Publication.
[13] Hannerz, U. (1991). “Scenarios for Peripheral Cultures”. In A. King (ed.). Culture, Globalization and the World-System. Binghamton. State University of New York.
[14] James, H. (2000). “The Fall and Rise of the European Economy in the Twentieth Century”. in Blanning, T. C. W. (eds.). The Oxford History of Modern Europe. Oxford UP. pp. 186-213.
[15] Johns, H. & Ormerod, P. (2007). Happiness, Economics, & Public Policy. The Institute of Economic Affairs.
[16] Kauffman, S., Lobo, J. & Macready, W. G. (2000). “Optimal Search on a Technology Landscape”. Journal of Economic Behavior & Organization 43.
[17] Kellner, D. (1995). Media Culture: Cultural Studies, Identity, and Politics Between the Modern and the Postmodern. Routledge.
[18] Khanafiah, D. & Situngkir, H. (2006). Innovation as Evolution. Paper presented in the 5th Computation and Intelligence in Economics and Finance Conference, Kaoh-Siung, Taiwan 2006.
[19] McClellan III, J. E. & Dorn, H. (2006). Science and Technology in World History: An Introduction 2nd ed. John Hopkins UP.
[20] Moore, G. E. (1965). “Cramming more components onto integrated circuits”. Electronics Magazine 4. URL: ftp://download.intel.com/museum/Moores_Law/Articles-Press_Releases/Gordon_Moore_1965_Article.pdf
[22] Reeves, C. R. (1999). “Fitness Landscapes and Evolutionary Algorithms”. Selected Papers from the 4th European Conference on Artificial Evolution. Lecture Notes In Computer Science 1829. Springer-Verlag.
[23] Roehner, B. M. (2002). Patterns of Speculation: A Study in Observational Econophysics. Cambridge UP.
[24] Schumpeter, J. A. (1939). Business Cycles, 2 vols. New York: McGraw-Hill.
[25] Situngkir, H. (2004). On Selfish Memes: Culture as Complex Adaptive System. Journal of Social Complexity 2(1).
[26] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17.
[27] Situngkir, H. & Dahlan, R. M. (2009). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.
[28] Situngkir, H. (2010). “Exploitation of Memetics for Melodic Sequences Generation”. BFI Working Paper Series WP-2-2010. Bandung Fe  Institute.
[29] Solé, R. V., Manrubia, S. C., Benton, M., Kauffman, S., Bak, P. (1999). Criticality and Scaling in Evolutionary Ecology. Tree 14 (4).
[30] Solomonoff, R. (1975). “Inductive Inference Theory – A Unified Approach to Problems in Pattern Recognition and Artificial Intelligence.” Proceedings of the Fourth International Joint Conference on Artificial Intelligence, Tbilisi, Georgia, U.S.S.R. pp. 274-280. URL: http://world.std.com/~rjs/tblisi75.pdf
[31] Tomlinson, J. (1999). Globalization and Culture. Polity.
[32] Towse, R. (2001). Creativity, Incentive and Reward: An Economic Analysis of Copyright and Culture in the Information Age. Edward Elgar.
[33] The United Nations (UN). (2008). Creative Economy Report 2008. UNDP & UNCTD.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.