Inspirasi Kreatif Ada Di Sini, Bawa Ke Sana, demi Kesejahteraan Bangsa & Kemanusiaan!
Disampaikan pada Creative Session UI Untuk Bangsa
Universitas Indonesia, Depok, 30 Nopember 2011
Pengrajin perak belajar dengan motif khas Bali, bergenerasi-generasi, bertahun-tahun, dengan skill turun-temurun, harus didera hukuman saat berkeinginan untuk ekspor, oleh karena dianggap “membajak” paten desain motif yang serupa bentuknya. Belakangan diketahui bahwa yang mematenkan pernah membeli karya perak tersebut saat berada di Bali! Beberapa pengrajin reog khas Ponorogo difasilitasi untuk mengembangkan seni dan tradisi reog di Malaysia selama beberapa generasi, alhasil di sana lahir pola kultural reog yang “baru” dan unik yang menjadi satu dari sekian banyak hal yang bisa ditunjukkan sebagai wajah the truly asia! Pedas dan gurihnya Sambal Bajak khas Jawa Tengah, juga Sambal Nanas khas Riau dikabarkan merebut perhatian lidah banyak bangsa, setelah dipatenkan oleh oknum warga Belanda, untuk kemudian diproduksi massal di Australia bagi konsumsi dunia (termasuk Indonesia?). Identitas kultural menyimpan sejuta informasi yang terkodekan dalam motif, desain, ornamen, langgam lagu, tarian, aturan adat-istiadat, naskah-naskah kuno, arsitektur, dan sebagainya [2]. Ini semua adalah sumber inspirasi yang jadi tambang emas inovasi, oleh masa depan yang mensyaratkan kekuatan kreativitas!
Anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak generasi kemarin ketika ditanya apa yang menjadi cita-cita mereka. Anak-anak generasi kemarin dengan lincah (dan latah) mengujarkan berbagai profesi yang terkait dengan keahlian teknis profesional semisal dokter, insinyur, dan sebagainya. Namun tak jarang kita dengar bagaimana anak-anak generasi kini dengan mudah menyebut berbagai profesi “alternative” yang agak berbeda dari generasi sebelumnya, misalnya menjadi penyanyi, musisi, aktor, pelukis, dan sebagainya. Profesi-profesi “alternatif” tersebut merupakan profesi yang terkait dengan produksi kreativitas secara industrial. Melihat tren perubahan pola perekonomian secara global yang mulai pelan meninggalkan gerak industrial manufaktur menjadi gerak industri dan produksi kreativitas kini, hal tersebut menjadi dapat dipermaklumkan.
Generasi masa depan senantiasa hidup dalam dunia di mana teknik menampilkan suatu gagasan menjadi sama penting dengan bagaimana produksi perlu dilakukan secara massal dan efisien. Inilah masa di mana persoalan Hak atas Kekayaan Intelektual makin terasa pentingnya. Ini pulalah masa ketika konsumen paling haus akan kreativitas produk yang mereka konsumsi. Singkatnya, salah satu kementerian negara kita pun untuk pertama kalinya diberi label “Kementerian Perdagangan dan Ekonomi Kreatif”!
Tapi ada dua berita buruk yang dapat kita respon dengan dua berita baik pula, ketika kita bertemu dengan gagasan kreativitas dan inovasi dalam perekonomian ini.
Dalam pengertian umum, kreativitas selalu berbicara tentang sumber inspirasi. Dan berita buruk pertama, adalah kenyataan bahwa sumber inspirasi untuk gagasan kreatif dan inovatif biasanya adalah hal yang langka dan sulit diperoleh. Namun kita tahu bahwa kreativitas bisa terjadi dari sebuah “hal baru yang sama sekali berbeda dari yang lama”, atau “aktualisasi yang baru atas berbagai hal lama”. Dan berita buruk itu direspon dengan kenyataan atas berita baik pertama, bahwa Indonesia merupakan tempat terunik di dunia karena begitu banyak implementasi kode-kode etnologis yang lahir dari proses evolusi kebudayaan. Kaya akan kode etnologis karena struktur geografisnya yang kepulauan, sehingga begitu banyak variasi kultural bersemayam di sini [6].
Coba bayangkan jika pengrajin batik di Garut dapat melihat scara umum semua motif-motif batik yang berkembang di seluruh penjuru nusantara. Atau coba kita bayangkan apa yang ada di benak seorang pengrajin ukir Jepara ketika melihat semua bentuk dan pola ukir yang muncul dari berbagai kawasan etnik di Indonesia, mulai dari dokrasi rumah adatnya, tongkat dan tombaknya, dan sebagainya. Kemampuan dan kapasitas produksi dekorasi tekstil, ukir, dan sebagainya, dalam kehidupan tradisional di Indonesia merupakan skill yang diperoleh secara turun-temurun sebagai bentuk kecerdasan kolektif perkampungan di tengah-tengah berbagai kelompok etnis di tanah air. Akibatnya, pola dan coraknya pun sebagaimana yang dipelajari secara turun-temurun pula. Namun sungguh merupakan sebuah hal yang bisa menjadi sebuah bahan yang memperkaya corak kriya kerajinan mereka, jika di hadapan mereka terbentang begitu beraneka ragamnya corak, ornamen, dan motif yang berasal dari berbagai kelompok etnik yang unik dari seluruh kepulauan Indonesia.
Sekarang coba kita bayangkan jika seluruh tari-tarian dari seluruh Indonesia tersebut terpampang di hadapan seorang koreografer (penata tari) modern. Atau bayangkan seorang komposer memiliki kesempatan untuk mendengarkan lagu-lagu yang berasal dari langgam lagu tradisional secara lengkap dari Merauke hingga Sabang. Telah sedemikian sering kita dengar bagaimana tari-tarian tradisional yang berpadu dengan musikologi modern (barat) menjadi sebuah tontonan yang memberi ketakjuban panggung entertainment yang berskala global. Panggung sandiwara modern seringkali terberitakan menjadi tontonan yang memukau dari sisi plot cerita ketika tampil sebagai interpretasi modern atas sendratari tradisional Indonesia [3].
Namun dari sini kita dihadapkan pada berita buruk kedua, yaitu bahwa ternyata setelah sekian tahun Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya, kita belum pernah punya satu basis data yang integral atas semua kekayaan budaya yang ada di kawasan kepulauan Indonesia ini. Dengan kata lain, potensi sumber inspirasi itu ternyata belum bisa di-eksploitasi, masih perlu eksplorasi demi portal yang bisa dinikmati semua orang, khususnya yang terkait dengan inovator. Padahal dengan adanya portal web budaya (pengumpulan data secara partisipatif) yang dimulai secara iindependen di http://www.budaya-indonesia.org beberapa tahun lalu, berbagai hasil inovasi telah terlihat [5].
Penelitian Fisika Batik [7], yaitu upaya meng-ekstrak informasi geometri batik hanya bisa dilakukan jika dan hanya jika data batik se-nusantara tersedia, yang saat ini telah terkumpul beberapa ribu jumlahnya via partisipasi online masyarakat dan sahabat-sahabat budaya di IACI (Indonesian Archipelago Cultural Initiatives). Demikian juga dengan berbagai pemetaan yang menyertainya. Bisa kita bayangkan bagaimana geometri fraktal yang baru lahir formal di penghujung abad ke-20 bertemu padu dengan geometri batik yang telah sedemikian lama hadir dalam khazanah kebudayaan di Indonesia [1]. Ada pertemuan yang mensyaratkan saling menginspirasi antara apa yang menjadi landasan hidup modern dan budaya tradisi adi luhung di kepulauan Indonesia!
Dengan kata lain, ketersediaan basis data berbagai elemen budaya tradisional Indonesia diharapkan dapat memberikan peluang munculnya tak hanya divesifikasi inovasi kreatif kriya masyarakat, tapi juga mendorong berbagai penelitian yang berupaya untuk melihat lebih jauh, akar budaya kebangsaan Indonesia [4]. Keberagaman budaya tradisi dan etnik di Indonesia, merupakan sebuah langkah dan kajian yang menarik dalam khazanah evolusi kebudayaan, sebagaimana keberagaman fauna di kepulauan Galapagos menjadi substrat lahirnya khazanah evolusi biologis sebagaimana yang kita kenal sekarang [cf. 3].
Tapi untunglah berita buruk kedua ini juga bisa langsung direspon dengan berita baik kedua, yaitu sebuah gerakan yang saat ini dibangun dan ingin dirintis: Gerakan Sejuta Data Budaya. Gerakan ini merupakan gerakan yang ingin memperluas partisipasi dalam pendataan elemen budaya dari publik dengan akuisisi semacam perpustakaan partisipatif budaya Indonesia seperti halnya Wikipedia. Gerakan ini diharapkan dapat memperbesar aktivitas publik untuk menambah dan melengkapi lagi data-data kebudayaan yang telah ada di situs tersebut, termasuk tentunya membuka peluang seluasnya bagi para innovator dan cerdik cendekia kreatif tanah air demi karya-karya baru dengan pampangan luas dokumentasi tradisi di seluruh penjuru nusantara. Berita baik ini juga tentunya bisa dikaitkan dengan berbagai acara, termasuk acara “UI untuk Bangsa 2011” yang kita rayakan saat ini di kampus Universitas Indonesia. Ini tentu menunjukkan adanya itikad yang merintis obsesi akademia dalam memandang kekayaan keberagaman budaya yang ada di tanah air…
Inspirasi kreatif ada di sini. Sebagaimana halnya dengan apa yang dicerminkan dalam aspek geometri batik yang berpadu pada dengan geometri kontemporer, akuisisi inovasi dan ilmu pengetahuan atas berbagai elemen data budaya tradisional kita akan memperlebar jalan demi inspirasi bagi kemanusiaan di planet kita ini
Mari mencintai Indonesia,
mari menginspirasi dunia!.
Kerja yang Disebutkan:
[1] Barnsley, M. F. (1993). Fractals everywhere 2nd ed. Morgan Kaufmann Pub.
[2] Jawa Pos National Network. Indonesia Miliki 1.128 Suku Bangsa. URL: http://www.jpnn.com/berita.detail-57455
[3] Khanafiah, D., & Situngkir, H. (2009). “Memetics of Ethno-Clustering Analysis”. Journal of Social Complexity 4(1): 18-25.
[4] Situngkir, H. (2004). “On Selfish Memes: Culture as Complex Adaptive System”. Journal of Social Complexity 2(1).
[5] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. BFI Working Paper Series WP-XII-2008. Bandung Fe Institute
[6] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17.
[7] Situngkir, H. & Dahlan, R. M. (2009). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.
[8] Surya, Y. & Situngkir, H. (2007). Solusi untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisika & Kompleksitas. Kandel.