<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>...Ancient Mover of Action in the Computational Age...</title>
	<atom:link href="http://qact.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qact.wordpress.com</link>
	<description>Just another Q weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 19:12:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='qact.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>...Ancient Mover of Action in the Computational Age...</title>
		<link>http://qact.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://qact.wordpress.com/osd.xml" title="...Ancient Mover of Action in the Computational Age..." />
	<atom:link rel='hub' href='http://qact.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dunia Kita Membutuhkan Perspektif yang Sederhana atas Dunia yang Kompleks</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/12/19/upi/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/12/19/upi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 08:40:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[dipersiapkan sebagai pengantar dalam Pengayaan Mata Kuliah Teori-teori Sosial dan Kewarganegaraan, Universitas Pendidikan Indonesia, 19 Desember 2011 Pendidikan itu merupakan sebuah transmisi kebudayaan [7], dan apa yang tertransmisikan hari ini dalam lingkungan akademia modern adalah sesuatu yang terstrukturkan pertama sekali semenjak abad Pencerahan di abad ke-18 Eropa. Pada masa-masa awal kelahiran modernitas, ilmu pengetahuan menawarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=490&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#888888;"><img class="size-medium wp-image-502 aligncenter" title="475899077" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/475899077.jpg?w=300&#038;h=118" alt="" width="300" height="118" />dipersiapkan sebagai pengantar dalam Pengayaan Mata Kuliah Teori-teori Sosial dan Kewarganegaraan, Universitas Pendidikan Indonesia, 19 Desember 2011</span></p>
<p><em>Pendidikan itu merupakan sebuah transmisi kebudayaan [7], dan apa yang tertransmisikan hari ini dalam lingkungan akademia modern adalah sesuatu yang terstrukturkan pertama sekali semenjak abad Pencerahan di abad ke-18 Eropa. Pada masa-masa awal kelahiran modernitas, ilmu pengetahuan menawarkan cara memandang kompleksitas dunia dengan berbagai moda-moda analitik atas elemen-elemen sistem yang di-observasi. Itulah sebabnya dunia pendidikan mengenal berbagai cabang disiplin ilmu. Ada sebuah harapan bahwa memahami secara mendalam elemen-elemen dari sistem (baik alam maupun sosial), maka kita akan dapat memahami sistem secara keseluruhan. Namun perkembangan ilmu pengetahuan berkembang sedemikian jauh, sedemikian sehingga kita makin menyadari bahwa kompleksitas sistem tak bisa didekati dengan cara mereduksi sistem dalam elemen-elemennya. Satu hal bukanlah penjumlahan linier atas elemen-elemen penyusun sistem tersebut. Karena itulah dikenal ilmu-ilmu kompleksitas. <span id="more-490"></span></em></p>
<p>Realitas kita adalah realitas kompleks. Dalam sistem yang sederhana, perilaku dan interaksi antar elemen-elemen dapat dianalisis secara mendetail dan perilaku dari sistem dapat diprediksi dengan presisi yang tinggi. Sebagai contoh, bayangkan sebuah meja biliar dan di atasnya diletakkan beberapa bola biliar. Gerak satu bola menabrak bola lain dapat dikalkulasi dengan mekanika Newtonian. Dalam sistem yang simpel itu, kita bisa melakukan presisi yang tinggi saat melakukan berbagai prediksi dan proyeksi yang hampir pasti atas gerak dan bagaimana satu bola menubruk bola yang lain. Kerumitan terjadi jika dan hanya jika banyak bola saling tubruk satu sama lain.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-491" style="border:1px solid black;" title="upi1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi1.jpg?w=150&#038;h=110" alt="" width="150" height="110" /></a></p>
<p>Berbeda dengan sistem yang simpel, sistem kompleks memiliki setidaknya dua karakteristik yang unik [5]. <em>Pertama, </em>sistem kompleks memungkinkan adanya proses adaptasi dari elemen-elemen penyusunnya. Sebagai contoh, bayangkan sebuah ruangan berisi beberapa orang. Dalam ruangan tersebut mereka saling berinteraksi satu sama lain, di mana individu berperilaku dan berinteraksi berdasarkan emosionalitas dan rasionalitasnya masing-masing, plus kemampuan untuk ber-adaptasi dalam interaksinya tersebut. Sistem kompleks tak dapat didekati dengan dinamika dalam mekanika Newtonian, ia hanya dapat didekati dengan perndekatan evolusioner Darwinian. Presisi hampir tak mungkin dilakukan demi “menebak” perilaku orang-orang di dalam ruangan tersebut dengan semata-mata mengetahui aspek personalitas dari oang-orang tersebut.</p>
<p><em>Kedua, </em>perilaku sistem kompleks tidak sama dengan penjumlahan perilaku-perilaku personal dari masing-masing individual dalam ruang kelas, sebagaimana ditunjukkan pada contoh sebelumnya. Dengan  kata lain kita tidak akan dapat mengetahui sifat sistem kompleks, dalam hal ini sistem sosial, hanya dengan pengetahuan yang lengkap tentang sifat-sifat dari tiap agen penyusun sistem sosial tersebut. Hal ini karena interaksi antara agen penyusun sistem sosial menghasilkan pola lain yang membrojol dalam sistem. Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa faktor membrojol adalah efek dalam skala besar dari agen-agen yang berinteraksi secara lokal di dalam sistem [1]. Dari sinilah kita bisa mengatakan bahwa sifat kolektif dari sebuah komunitas adalah sama dengan sifat individual agen Å bentuk interaksi di antara mereka. Jadi, meskipun sistem sosial merupakan sistem yang dibentuk oleh komponen sosial (individu), sistem sosial tidak bisa direduksi ke dalam sifat-sifat dan hukum-hukum yang berlaku secara lokal pada individu [8].<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi2.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-492" style="border:1px solid black;" title="upi2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi2.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Kedua karakteristik ini menunjukkan pada kita bagaimana sistem kompleks dan sistem simpel merupakan dua hal yang sangat berbeda. Sederhananya, ilmu-ilmu warisan abad pencerahan memandang sistem dalam terminologi mekanika Newtonian, namun kompeksitas justru melihat bagaimana ketakpastian merupakan bagian inheren dari sistem. Kita dapat memahami bahwa ilmu-ilmu kompleksitas bukanlah sebuah cabang ilmu baru. Ilmu-ilmu kompleksitas lebih didefinisikan atas  obyek dari apa yang di-observasi. Ia tak seperti ilmu-ilmu warisan abad pencerahan yang lebih menekankan moda investigasi atas fenomena (baik sosial maupun alam).</p>
<p><strong>Memahami Kompleksitas Sosial</strong></p>
<p>Apa yang diuraikan di atas sebagai definisi dari kebrojolan dalam sistem sosial pada dasarnya merupakan landasan epistemologis dari beberapa teoretisi ilmu sosial selama berabad-abad dengan kadar yang tentunya tak sama. Ada yang lebih terasa pendekatan makronya dan ada yang lebih kental dengan pendekatan mikro. Dari sini kita berharap bahwa ilmu kompleksitas yang memandang sistem sosial sebagai sistem yang kompleks dapat memberikan angin segar dengan konsep “kebrojolan” yang menjembatani kedua ketimpangan teori sosial ini sehingga kita dapat memiliki teori sosial yang lebih holistik.</p>
<p>Dari sini kita beranjak untuk melihat bagaimana kebrojolan merupakan jembatan antara pendekatan pada level mikro dan pendekatan pada level makro. Pada level makro, teoretisi sosial memberikan hukum-hukum yang mengatur bagaimana sistem sosial berperilaku, sedangkan pada level mikro teoretisi sosial mengobservasi bagaimana individu penyusun sistem sosial saling berinteraksi satu sama lain secara sembarangan.</p>
<p>Pembedaan dan pendefinisian yang jelas dan ketat atas level deskripsi sistem yang didekati: mikro, meso, dan makro, merupakan hal dasar yang menjadi isu utama dalam ilmu-ilmu kompleksitas. Elemen-elemen mikro saling berinteraksi di level meso menghasilkan berbagai indikator-indikator yang diukur secara kolektif (sosial) di level makro. Sebagai contoh sederhana, fenomena naiknya harga beras terjadi akibat adanya dinamika di level meso, yaitu bagaimana aktor sosial/ekonomi berinteraksi satu sama lain sedemikian, membentuk formasi <em>supply/demand </em>sedemikian yang tentunya terkait dengan bagaimana pola masing-masing individual aktor tersebut mengambil keputusannya. Dari sini kita melihat ada 3 unsur penting yang mesti dilihat dalam semua kajian kompleksitas sosial:<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi3.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-493" style="border:1px solid black;" title="upi3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi3.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<ol>
<li><strong>Aktor</strong>, yaitu pola elementer/mikro dari sistem yang didekati. Karakteristik aktor tentunya bersifat heterogen, karena semua orang memiliki keunikan dalam proses pengambilan keputusan, baik itu terkait dengan genetika, budaya, ekonomi, dan latar belakang personal.</li>
<li><strong>Interaksi</strong>, yaitu bagaimana secara terbatas, aktor mengambil keputusan (baik secara rasional maupun emosional) dalam lingkungan sosialnya (<em>social network</em>).</li>
<li><strong>Faktor</strong>, yaitu pola umum makro yang menggambarkan dinamika kolektiif dari sistem secara keseluruhan. Ini tentunya merupakan ikhwal hasil yang muncul dengan tak linier dari interaksi antar aktor. Faktor merupakan hal yang membrojol dari Aktor [<em>cf. </em>6].</li>
</ol>
<p>Pemetaan persoalan dan fenomena dengan baik merupakan langkah awal yang penting dalam pemecahan persoalan melalui ilmu pengetahuan. Sistem sosial adalah sistem yang kompleks, dan kompleksitasnya lahir dari interaksi antar agen yang mem-produksi atau reproduksi sistem sosial yang dilihat dalam pandangan makro (bdk. 3). Apa yang selama ini dilihat secara konvensional oleh sosiolog (dan ekonom) tradisional adalah apa yang kita sebut faktor yang muncul/membrojol itu. Akibatnya timbullah banyak ketidakpastian (<em>uncertainty</em>) dalam analisis mereka dan lahirlah sebuah ketakutan penggunaan metodologi yang bersifat kuantitatif pada mereka [9]. Ketimpangan untuk tidak menjadi terlalu makroskopik (terlalu takut dengan kuantifikasi dan ketidakpastian dalam penjelasan analitik) dan tidak terlalu mikroskopik (terlalu sering melakukan ekstrapolasi dalam penjelasan analitik) pada dasarnya dapat dijawab dengan analisis pemodelan komputasional yang menjadi perangkat yang paling penting dalam proses kelahiran ilmu-ilmu kompleksitas termutakhir.</p>
<p>Komputasi merupakan perangkat yang telah sangat membantu “kelahiran” ilmu-ilmu kompleksitas, karena melalui proses komputasi, berbagai metodologi teknis (baik matematis maupun algoritmis) yang tadinya membutuhkan proses kalkulasi dan detail hitung manual dapat diatasi sehingga kemampuan analitik peradaban modern kita terus terpojok ke batas optimumnya. Jika ilmu kognitif (<em>cognitive sciences</em>) dapat mengakuisisi kemajuan teknologi komputasi dengan berusaha “menumbuhkan” kecerdasan di semikonduktor via <em>artificial intelligence</em>, ilmu-ilmu sosial di awal milenium ini telah pula dikenalkan dengan upaya “menumbuhkan” struktur dan perilaku sosial di <em>silico </em>via <em>artificial society</em> [3]. Simulasi komputasional telah memberikan peluang bagi ilmuwan sosial untuk menggubah laboratorium tempat ia dapat menguji berbagai hipotesis demi pemahaman yang lebih lagi berbagai fenomena sosial [11].<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi4.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-494" style="border:1px solid black;" title="upi4" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi4.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Hal-hal serupa ini mencipta ruang baru ilmu pengetahuan sosial. Ilmu-ilmu kompleksitas tidak menciptakan satu cabang baru dari ilmu pengetahuan, namun menunjukkan ruang di mana perspektif interdisiplin dapat tercipta dan memberikan khazanah baru bagi penajaman pemahaman kita, yang pada gilirannya dapat menjadi modal akuisisi yang baik bagi penajaman kebijakan publik [10]. Kita memerlukan ilmu-ilmu kompleksitas demi memperoleh komprehensi yang sederhana atas kompleksitas semesta alam dan sosial.</p>
<p><strong>Karya Yang Disebutkan:</strong></p>
<ol>
<li>Axelrod, R. (1997). <em>The Complexity of Cooperation: Agent-Based Models of Competition and Colaboration</em>. Princeton UP.</li>
<li>Castellani, B. &amp; Hafferty, F. W. (2009). <em>Sociology &amp; Complexity Science: A New Field of Inquiry</em>. Springer.</li>
<li>Epstein, J. M. &amp; Axtell, R. (1996). <em>Growing Artificial Societies: Social Science from the Bottom Up</em>. The Brookings Institution Press dan MIT Press.</li>
<li>Giddens, A. (1984), <em>The Constitution of Society</em>. Polity Press.</li>
<li>Johnson, S. (2001). <em>Emergence: The connected lives of ants, brains, cities, and software</em>. Scribner.</li>
<li>Macy, M. W. &amp; Willer, R. (2002). &#8220;From Factors to Actors: Computational Sociology and Agent Based Modeling&#8221;. <em>Annual Reviews Sociology</em> (28): 143-166.</li>
<li>Martin, J. (2003). <em>The Education of John Dewey</em>. Columbia University Press</li>
<li>Sawyer, R. K. (2001). “Emergence in Sociology: Contemporary Philosophy ofMind and Some Implications for Sociological Theory”. <em>American Journal of Sociology </em> 107 (3):. 551-585.</li>
<li>Situngkir, H. (2003). “Emerging the Emergence Sociology: The Philosophical Framework of Agent-Based Social Studies”. <em>Journal of Social Complexity</em> 1 (2): 3-15.</li>
<li>Situngkir, H. (2003). <em>Jalan Panjang Menuju Sosiologi Komputasional</em>. Tutorial Online <a href="http://compsoc.bandungfe.net/intro/main.html">http://compsoc.bandungfe.net/intro/main.html</a></li>
<li>Situngkir, H. &amp; Surya, Y. (2007). <em>Solusi untuk Indonesia: Prediksi Kompleksitas/Ekonofisik</em>. Kandel.</li>
<li>Situngkir, H. (2010). <em>Piringan Kompleksitas Sosial. </em>Dept. Sosiologi Komputasional Bandung Fe Institute. <a href="http://compsoc.bandungfe.net/pks">http://compsoc.bandungfe.net/pks</a></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=490&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/12/19/upi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/475899077.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">475899077</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">upi1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">upi2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">upi3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/12/upi4.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">upi4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Kreatif Ada Di Sini, Bawa Ke Sana, demi Kesejahteraan Bangsa &amp; Kemanusiaan!</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/12/01/ui/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/12/01/ui/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 03:37:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Disampaikan pada Creative Session UI Untuk Bangsa Universitas Indonesia, Depok, 30 Nopember 2011 Pengrajin perak belajar dengan motif khas Bali, bergenerasi-generasi, bertahun-tahun, dengan skill turun-temurun, harus didera hukuman saat berkeinginan untuk ekspor, oleh karena dianggap “membajak” paten desain motif yang serupa bentuknya. Belakangan diketahui bahwa yang mematenkan pernah membeli karya perak tersebut saat berada di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=483&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#888888;"><em>Disampaikan pada Creative Session UI Untuk Bangsa</em></span><br />
<span style="color:#888888;"><em>Universitas Indonesia, Depok, 30 Nopember 2011</em></span></p>
<p><em>Pengrajin perak belajar dengan motif khas Bali, bergenerasi-generasi, bertahun-tahun, dengan skill turun-temurun, harus didera hukuman saat berkeinginan untuk ekspor, oleh karena dianggap “membajak” paten desain motif yang serupa bentuknya. Belakangan diketahui bahwa yang mematenkan pernah membeli karya perak tersebut saat berada di Bali! Beberapa pengrajin reog khas Ponorogo difasilitasi untuk mengembangkan seni dan tradisi reog di Malaysia selama beberapa generasi, alhasil di sana lahir pola kultural reog yang “baru” dan unik yang menjadi satu dari sekian banyak hal yang bisa ditunjukkan sebagai wajah the truly asia! Pedas dan gurihnya Sambal Bajak khas Jawa Tengah, juga Sambal Nanas khas Riau dikabarkan merebut perhatian lidah banyak bangsa, setelah dipatenkan oleh oknum warga Belanda, untuk kemudian diproduksi massal di Australia bagi konsumsi dunia (termasuk Indonesia?). Identitas kultural menyimpan sejuta informasi yang terkodekan dalam motif, desain, ornamen, langgam lagu, tarian, aturan adat-istiadat, naskah-naskah kuno, arsitektur, dan sebagainya [2]. Ini semua adalah sumber inspirasi yang jadi tambang emas inovasi, oleh masa depan yang mensyaratkan kekuatan kreativitas!<span id="more-483"></span></em></p>
<p>Anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak generasi kemarin ketika ditanya apa yang menjadi cita-cita mereka. Anak-anak generasi kemarin dengan lincah (dan latah) mengujarkan berbagai profesi yang terkait dengan keahlian teknis profesional semisal dokter, insinyur, dan sebagainya. Namun tak jarang kita dengar bagaimana anak-anak generasi kini dengan mudah menyebut berbagai profesi “alternative” yang agak berbeda dari generasi sebelumnya, misalnya menjadi penyanyi, musisi, aktor, pelukis, dan sebagainya. Profesi-profesi “alternatif” tersebut merupakan profesi yang terkait dengan produksi kreativitas secara industrial. Melihat tren perubahan pola perekonomian secara global yang mulai pelan meninggalkan gerak industrial manufaktur menjadi gerak industri dan produksi kreativitas kini, hal tersebut menjadi dapat dipermaklumkan.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-484" style="border:1px solid black;" title="cs1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs1.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Generasi masa depan senantiasa hidup dalam dunia di mana teknik menampilkan suatu gagasan menjadi sama penting dengan bagaimana produksi perlu dilakukan secara massal dan efisien. Inilah masa di mana persoalan Hak atas Kekayaan Intelektual makin terasa pentingnya. Ini pulalah masa ketika konsumen paling haus akan kreativitas produk yang mereka konsumsi. Singkatnya, salah satu kementerian negara kita pun untuk pertama kalinya diberi label “Kementerian Perdagangan dan Ekonomi Kreatif”!</p>
<p>Tapi ada dua berita buruk yang dapat kita respon dengan dua berita baik pula, ketika kita bertemu dengan gagasan kreativitas dan inovasi dalam perekonomian ini.</p>
<p>Dalam pengertian umum, kreativitas selalu berbicara tentang sumber inspirasi. Dan <em>berita buruk pertama</em>, adalah kenyataan bahwa sumber inspirasi untuk gagasan kreatif dan inovatif biasanya adalah hal yang langka dan sulit diperoleh. Namun kita tahu bahwa kreativitas bisa terjadi dari sebuah “hal baru yang sama sekali berbeda dari yang lama”, atau “aktualisasi yang baru atas berbagai hal lama”. Dan berita buruk itu direspon dengan kenyataan atas <em>berita baik pertama, </em>bahwa<em> </em>Indonesia merupakan tempat terunik di dunia karena begitu banyak implementasi kode-kode etnologis yang lahir dari proses evolusi kebudayaan. Kaya akan kode etnologis karena struktur geografisnya yang kepulauan, sehingga begitu banyak variasi kultural bersemayam di sini [6].</p>
<p>Coba bayangkan jika pengrajin batik di Garut dapat melihat scara umum semua motif-motif batik yang berkembang di seluruh penjuru nusantara. Atau coba kita bayangkan apa yang ada di benak seorang pengrajin ukir Jepara ketika melihat semua bentuk dan pola ukir yang muncul dari berbagai kawasan etnik di Indonesia, mulai dari dokrasi rumah adatnya, tongkat dan tombaknya, dan sebagainya. Kemampuan dan kapasitas produksi dekorasi tekstil, ukir, dan sebagainya, dalam kehidupan tradisional di Indonesia merupakan <em>skill</em> yang diperoleh secara turun-temurun sebagai bentuk kecerdasan kolektif perkampungan di tengah-tengah berbagai kelompok etnis di tanah air. Akibatnya, pola dan coraknya pun sebagaimana yang dipelajari secara turun-temurun pula. Namun sungguh merupakan sebuah hal yang bisa menjadi sebuah bahan yang memperkaya corak kriya kerajinan mereka, jika di hadapan mereka terbentang begitu beraneka ragamnya corak, ornamen, dan motif yang berasal dari berbagai kelompok etnik yang unik dari seluruh kepulauan Indonesia.</p>
<p>Sekarang coba kita bayangkan jika seluruh tari-tarian dari seluruh Indonesia tersebut terpampang di hadapan seorang koreografer (penata tari) modern. Atau bayangkan seorang komposer memiliki kesempatan untuk mendengarkan lagu-lagu yang berasal dari langgam lagu tradisional secara lengkap dari Merauke hingga Sabang. Telah sedemikian sering kita dengar bagaimana tari-tarian tradisional yang berpadu dengan musikologi modern (barat) menjadi sebuah tontonan yang memberi ketakjuban panggung entertainment yang berskala global. Panggung sandiwara modern seringkali terberitakan menjadi tontonan yang memukau dari sisi plot cerita ketika tampil sebagai interpretasi modern atas sendratari tradisional Indonesia [3].</p>
<p>Namun dari sini kita dihadapkan pada <em>berita buruk kedua</em>, yaitu bahwa ternyata setelah sekian tahun Republik Indonesia menyatakan kemerdekaannya, kita belum pernah punya satu basis data yang integral atas semua kekayaan budaya yang ada di kawasan kepulauan Indonesia ini. Dengan kata lain, potensi sumber inspirasi itu ternyata belum bisa di-eksploitasi, masih perlu eksplorasi demi portal yang bisa dinikmati semua orang, khususnya yang terkait dengan inovator. Padahal dengan adanya portal web budaya (pengumpulan data secara partisipatif) yang dimulai secara iindependen di www.budaya-indonesia.org beberapa tahun lalu, berbagai hasil inovasi telah terlihat [5].</p>
<p>Penelitian Fisika Batik [7], yaitu upaya meng-ekstrak informasi geometri batik hanya bisa dilakukan jika dan  hanya jika data batik se-nusantara tersedia, yang saat ini telah terkumpul beberapa ribu jumlahnya via partisipasi <em>online </em>masyarakat dan sahabat-sahabat budaya di IACI (Indonesian Archipelago Cultural Initiatives). Demikian juga dengan berbagai pemetaan  yang menyertainya. Bisa kita bayangkan bagaimana geometri fraktal yang baru lahir formal di penghujung abad ke-20 bertemu padu dengan geometri batik yang telah sedemikian lama hadir dalam khazanah kebudayaan di Indonesia [1]. Ada pertemuan yang mensyaratkan saling menginspirasi antara apa yang menjadi landasan hidup modern dan budaya tradisi adi luhung di kepulauan Indonesia!<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs2.jpg"><img class="alignright  wp-image-485" style="border:1px solid black;" title="cs2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs2.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Dengan kata lain, ketersediaan basis data berbagai elemen budaya tradisional Indonesia diharapkan dapat memberikan peluang munculnya tak  hanya divesifikasi inovasi kreatif kriya masyarakat, tapi juga mendorong berbagai penelitian yang berupaya untuk melihat lebih jauh, akar budaya kebangsaan Indonesia [4]. Keberagaman budaya tradisi dan etnik di Indonesia, merupakan sebuah langkah dan kajian yang menarik dalam khazanah evolusi kebudayaan, sebagaimana keberagaman fauna di kepulauan Galapagos menjadi substrat lahirnya khazanah evolusi biologis sebagaimana yang kita kenal sekarang [<em>cf. </em>3].</p>
<p>Tapi untunglah berita buruk kedua ini juga bisa langsung direspon dengan <em>berita baik kedua</em>, yaitu sebuah gerakan yang saat ini dibangun dan ingin dirintis: <strong>Gerakan Sejuta Data Budaya</strong>. Gerakan ini merupakan gerakan yang ingin memperluas partisipasi dalam pendataan elemen budaya dari publik dengan akuisisi semacam perpustakaan partisipatif budaya Indonesia seperti halnya Wikipedia. Gerakan ini diharapkan dapat memperbesar aktivitas publik untuk menambah dan melengkapi lagi data-data kebudayaan yang telah ada di situs tersebut, termasuk tentunya membuka peluang seluasnya bagi para innovator dan cerdik cendekia kreatif tanah air demi karya-karya baru dengan pampangan luas dokumentasi tradisi di seluruh penjuru nusantara. Berita baik ini juga tentunya bisa dikaitkan dengan berbagai acara, termasuk acara “<strong>UI untuk Bangsa 2011</strong>” yang kita rayakan saat ini di kampus Universitas Indonesia. Ini tentu menunjukkan adanya itikad yang merintis obsesi akademia dalam memandang kekayaan keberagaman budaya yang ada di tanah air…</p>
<p>Inspirasi kreatif ada di sini. Sebagaimana halnya dengan apa  yang dicerminkan dalam aspek geometri batik yang berpadu pada dengan geometri kontemporer, akuisisi inovasi dan ilmu pengetahuan atas berbagai elemen data budaya tradisional kita akan memperlebar jalan demi inspirasi bagi kemanusiaan di planet kita ini<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs3.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-486" style="border:1px solid black;" title="cs3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs3.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Mari mencintai Indonesia,<br />
mari menginspirasi dunia!.</p>
<p><strong>Kerja yang Disebutkan:</strong><br />
[1] Barnsley, M. F. (1993). <em>Fractals everywhere 2nd</em> <em>ed</em>. Morgan Kaufmann Pub.<br />
[2] Jawa Pos National Network. <em>Indonesia Miliki 1.128 Suku Bangsa.</em> URL:  http://www.jpnn.com/berita.detail-57455<br />
[3] Khanafiah, D., &amp; Situngkir, H. (2009). “Memetics of Ethno-Clustering Analysis”. <em>Journal of Social Complexity</em> 4(1): 18-25.<br />
[4] Situngkir, H. (2004). “On Selfish Memes: Culture as Complex Adaptive System”. <em>Journal of Social Complexity</em> 2(1).<br />
[5] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-XII-2008. Bandung Fe Institute<br />
[6] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. <em>The Icfai University Journal of Knowledge Management</em> 7(2):7-17.<br />
[7] Situngkir, H. &amp; Dahlan, R. M. (2009). <em>Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia</em>. Gramedia Pustaka Utama.<br />
[8] Surya, Y. &amp; Situngkir, H. (2007). <em>Solusi untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisika &amp; Kompleksitas</em>. Kandel.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=483&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/12/01/ui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">cs1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">cs2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/cs3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">cs3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Let’s use contemporary science &amp; math to enjoy  the Indonesian traditional &amp; ancient batik!</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/11/24/ethnomath/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/11/24/ethnomath/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 14:40:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[delivered in International Math &#38; Science Camp Sari Ater, Lembang, November 24th 2011 Who doesn’t want the most playful toys, the kindest friends, the most caring and understanding teachers? It is human to look for ideal things. Things are expected to be simpler and life would be happier if we can reach out for the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=463&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#999999;">delivered in International Math &amp; Science Camp</span><br />
<span style="color:#999999;">Sari Ater, Lembang, November 24th 2011</span></p>
<p><em>Who doesn’t want the most playful toys, the kindest friends, the most caring and understanding teachers? It is human to look for ideal things. Things are expected to be simpler and life would be happier if we can reach out for the ideals. Even scientists, philosophers, and artists from the ancient time in northern hemisphere of our planet, creates some kind of “ideal things” while observing nature. Thus, we based our today science upon geometry. In classical geometry, we are taught to think about the perfect circle, rectangle, and a lot of excellences of geometrical shapes, upon which we put our methodological attention to nature. However, our civilization to day has forced us to accept a bad news: there is NO such “ideal things” in reality! Interestingly, we have seen this kind of point of view in some cultural heritages from ancient times in Indonesian archipelago, as well as other eastern culture rooted in ancient times!</em></p>
<p><span id="more-463"></span> <a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csb.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-474" style="border:1px solid black;" title="csb" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csb.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a>No, there’s no such thing as perfect circle, squares, <em>et cetera</em>. The sciences at the end of the 20<sup>th</sup> century have witnessed that regularities are not there, in things we observe every day. We are not living in the fairy tale where things are perfect. This is a bad news for those who childishly see the reality as nightmare and keep dreaming in the world of excellences. However, this is a challenge for those who think that life is as what it is. For the beauty of our natural and social life is not within the regularities, but the irregularities, chaos, disorderliness, and how all things are kept in balancing harmony. Mathematically, it is stupid to think that the uniform, regular, normal, and order as the ideals. There is no ideals can be built, but from the reality as we perceive!</p>
<p>Take a look at the map of the Java Island here:</p>
<p><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-464" title="sc1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc1.jpg?w=300&#038;h=102" alt="" width="300" height="102" /></a></p>
<p>We know that the picture of an island is made of coastlines separating the land and the ocean. Now, imagine you measure it with a ruler of a meter long and then get a certain measurement.</p>
<p>What if on the next time, you measure it with a centimeter long ruler? Which measurement would give you a larger measurement? Since the coastline is jagged, you could get into the nooks and crannies better with the meter long ruler, so it would yield a greater measurement.</p>
<p>Now, imagine what if you measure the coastline with a millimeter long ruler? You could really get into the teeniest and tiniest of crannies there. Thus, the measurement would be surprisingly even bigger. You could measure it with shorter and shorter rulers, and the measurement would get longer and longer. You could even measure it with infinitesimally short rulers, and the coastline would be infinitely long! [2]<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csa.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-473" style="border:1px solid black;" title="csa" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csa.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>So that is the geometry of the nature. That&#8217;s fractal! The shape of parts of the coastlines cannot be reduced into such an “ideal” thing like “straight lines”. The “disorder” nooks and crannies are the shape of things we found on every aspect of natures: clouds are not spheres, mountains are not cones, nor does lightning travel in a straight line! [1] Unlike conventional geometry, fractal expresses the shape of things within its irregularities: the dimension is not 1, 2, 3, but it may be, for example, between 1 and 2 (between the shape of a line and a two dimensional space).</p>
<p>Yet, the ancient geometry has become the very foundation of our modern school of thought. It is interesting to discover that some aspects in the diverse cultural heritages in eastern parts of the world are not built based on the ideals, just like the geometry has built magnificent modern culture and civilization. For example, how do you think people at ancient times, lack of standard measurement tools, lack of complex mathematical abstractions, could built such a giant building like Borobudur Temple – a giant temple as magnificent as giant skyscrapers we see in town? Or how is it possible at all, ancient Javanese people created such a complex drawings in the traditional fabric of “batik” without such a sophisticated school of geometry – an attractive drawings that can be as mysterious as Michelangelo’s painting in the Sistine Chapel? [3]</p>
<p>By reading the contemporary geometry today, we can say that those people might have employed the “fractal designs” within their works. By observing thousands of the traditional “batik motif” from indigenous people in Indonesia, it is interesting to discover that they are not made based on a kind of geometrical plans and techniques that commonly used by most of us today.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csc.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-475" style="border:1px solid black;" title="csc" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csc.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Fractal is roughly the mathematics used in order to capture the dynamical aspects within nature. It is interesting to experience the fractal geometry to observe the traditional (and even the ancient) cultural heritages, of which the heterogeneity are mostly celebrated here in the archipelago of Indonesia.</p>
<p>When the ancient Javanese want to tell the moral story about the “self-determination on the goal of life”, they symbolized it with the bird flying, but they’re not drawing the birds as we commonly do now. They drew the flapped wing, by picturing wings, in which we could observe the smaller and transformed wings within.</p>
<p><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-465" title="sc2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc2.jpg?w=300&#038;h=205" alt="" width="300" height="205" /></a></p>
<p>When they want to tell the story about the rainy weather, which is good for farming, they symbolized it by drawing clouds. Yet, they draw the clouds, in which we can see smaller and transformed clouds within. The idea is just perfectly the same as we can see the jagged lines in the coastline that is formed by other similar (but smaller and transformed) jagged lines as we use smaller scale of measurement.</p>
<p><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-466" title="sc3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc3.jpg?w=300&#038;h=185" alt="" width="300" height="185" /></a></p>
<p>When the ancient people do not have such complex measurement scales and tools, they still could create a very complex and beautiful patterns as modern people like us frequently astonished for the awesomeness and beauty. Indonesian people wearing “batik” in social ceremonies and occasions are always a unique view for the attractiveness of the motifs and colors. Now we know that they use a kind of geometry that is not common today. They have compensated the lack of modern tools with their own “geometry” for creative designs, and today, mathematically we say that they have used the “fractal geometry”!<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csd.jpg"><img class="alignright  wp-image-476" style="border:1px solid black;" title="csd" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csd.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>The modern mathematical and scientific tools have demonstrated a new kind of appreciation to the traditional and ancient cultural heritage!</p>
<p><strong>Works Cited</strong><br />
[1] Mandelbrot, B. (1982). <em>Fractal Geometry of Nature</em>. W. H. Freeman.<br />
[2] Peitgen, H-O., Jürgens, H., Saupe, D. (1991). <em>Fractals for the Classroom, Part 1: Introduction to Fractals and Chaos</em>. Springer.<br />
[3] Situngkir, H. &amp; Dahlan, R. M. (2008). <em>Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia</em>. Gramedia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/463/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=463&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/11/24/ethnomath/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csb.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">csb</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sc1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csa.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">csa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csc.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">csc</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sc2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/sc3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sc3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/csd.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">csd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inovasi adalah  Revolusi via Daur Ulang Gagasan Tradisional</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/11/02/daur-ulang-tradisional/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/11/02/daur-ulang-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 16:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Disampaikan pada Forum Diskusi Nasional “Membangun Habitus Baru Pendidikan”, Auditorium Prasetya Mulya Business School, Jakarta, 3 November 2011 Gagasan dan cara pandang umum yang berkembang hari ini merupakan spektrum dari perkembangan tumpang tindih berbagai pemikiran di masa yang lalu. Mungkin karena itulah pemikiran modern, secara implementatif terasa makin hari makin kompleks. Dan hari ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=439&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#999999;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/pm.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-461" title="pm" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/pm.jpg?w=210&#038;h=153" alt="" width="210" height="153" /></a>Disampaikan pada<em> </em>Forum Diskusi Nasional “Membangun Habitus Baru Pendidikan”, Auditorium Prasetya Mulya <em>Business School</em>, Jakarta, 3 November 2011</span></p>
<p><em>Gagasan dan cara pandang umum yang berkembang hari ini merupakan spektrum dari perkembangan tumpang tindih berbagai pemikiran di masa yang lalu. Mungkin karena itulah pemikiran modern, secara implementatif terasa makin hari makin kompleks. Dan hari ini kita mengetahui bahwa cara terbaik dalam melakukan sains adalah secara interdisipliner: berbagai pemikiran klasik (warisan abad pencerahan) atas domain yang berbeda-beda untuk menjawab satu tantangan faktual. Mungkin karena itu pulalah, kurikulum pendidikan sains dari jenjang persekolahan dasar hingga perguruan tinggi, misalnya, sebenarnya adalah bentuk kompresi substansi perjalanan sejarah sains mulai dari abad pertengahan hingga sekarang ini [4]. Demikianlah tren ilmu pengetahuan, ia bagaikan organisme hayati yang senantiasa tumbuh dengan berbagai karakteristik hidup: pengaturan diri sendiri (self-organizing), adaptasi, dan evolusi.<span id="more-439"></span></em></p>
<p>Namun yang jelas, jantung dari perkembangan ilmu pengetahuan modern adalah inovasi dan kreativitas, dan perkembangan teknologi informasi saat ini merupakan momentum penting dalam perkembangannya. Perkembangan teknologi informasi, sedikit banyak telah memperluas peluang makin tingginya arus inovasi dan kreativitas dalam proses evolusi, pertumbuhan, dan siklus ekonomi dalam perspektif global [26]. Diskusi dalam makalah singkat ini berbicara tentang bagaimana kita melihat wawasan konvensional, bahkan tradisional, akan dunia dan bagaimana “daur ulang” hal yang klasik tersebut menjadi apa yang kita pahami sebagai inovasi dan kreativitas hari ini.</p>
<p><strong>Kehidupan yang makin menghargai Inovasi/Kreativitas<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm11.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-452" style="border:1px solid black;" title="pm1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm11.jpg?w=150&#038;h=82" alt="" width="150" height="82" /></a></strong></p>
<p>Perkembangan ekonomi global belakangan ini telah melahirkan paradigma yang makin tajam akan pentingnya nilai informasi – beberapa jenis informasi bahkan memiliki nilai ekonomi yang perlu dilindungi “kepemilikannya” melalui berbagai piranti legal, seperti paten, HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual), dan sebagainya. Tatkala ke-simetri-an informasi terasa memiliki peran intrinsik yang semakin penting [1], perkembangan teknologi, seperti internet dan berbagai perangkat dan layanan telekomunikasi yang berperan kuat mengurangi asimetri informasi di kalangan masyarakat, mulai mencampuri kehidupan perekonomian, baik itu produksi, distribusi, dan konsumsi.</p>
<p>Membaca akuisisi kehidupan sosial atas teknologi informasi dalam sejarah perkembangan ekonomi global, kita mungkin  tergoda kita untuk melihat eksposisi kualitatif perkembangan perekonomian dalam langkah-langkah evolusionernya, mulai dari kehidupan perekonomian berbasis periindustrian dan manufaktur, ekonomi berbasis teknologi tinggi, dan di masa yang akan datang munculnya perekonomian yang sangat bersandar pada proses kreatif dan inovasi.</p>
<p>Letupan pertama tentu berasal dari kolaborasi apik antara kehidupan sosial dengan sains dan teknologi semenjak Revolusi Industri di Eropa pada abad kedelapanbelas yang lalu. Revolusi ini telah diawali dengan pembangunan industri secara masif yang berhutang pada kerja rekayasa John Smeaton dan James Watt atas mesin uap Newcomen [19]. Inovasi ini telah mengubah wajah perekonomian, di mana proses masif penambahan nilai pada suatu barang (dan jasa) terus berkembang mencari efisiensi paling maksimum, dan secara implementatif berpusat pada proses manufaktur.</p>
<p>Dinamika kehidupan industrial ini terus berkembang, hingga era teknologi tinggi (<em>high tech</em>) menjadi pusat perhatian dalam akuisisi sains dan teknologi dalam sejarah perekonomian. Demi efisiensi dan efektivitas maksimum, akuisisi berbagai instrumen berteknologi tinggi  pun menghiasi wajah perindustrian modern. Semua diperkuat dengan perkembangan yang pesat pada perkembangan komputasi, elektronika, dan instrumentasi (termasuk transportasi). Inilah yang seringkali dikenal sebagai bentuk revolusi industri babak kedua [14]. Secara kronologis, letupan ini terjadi melalui investasi yang besar di kawasan Eropa pasca Perang Dunia II, termasuk di dalamnya kebijakan <em>Marshall Plan </em>di tahun 1952.</p>
<p>Akuisisi sains dan teknologi dalam kehidupan sosial dan ekonomi berjalan terus. Sebagaimana seringkali diumbar para futuris, aspek elektronika Hukum Moore [20] pun mengubah bagaimana kita memperlakukan perangkat teknologi dalam hidup sehari-hari. Perkembangan eksponensial komponen elektronis dalam <em>Integrated Circuit, </em>meliputi ukuran, kecepatan pemrosesan komputasional, hingga resolusi pemrosesan, telah memungkinkan kreasi perangkat teknologi, yang seolah tak mungkin di era sebelumnya. Teknologi telah tak hanya membantu proses produksi dan distribusi, namun mengubah kultur dan cara konsumsi.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-440" title="pm1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm1.jpg?w=300&#038;h=58" alt="" width="300" height="58" /></a><span style="color:#808080;">Gambar 1. Plot evolusioner akuisisi sains dan teknologi dalam kehidupan sosial.</span></p>
<p>Perspektif reduksional tentang apa yang disebut sebagai “inovasi” sebagai peningkatan efisiensi proses produksi harus bergeser karena apa yang tadinya menjadi bagian produksi, kini memiliki peran pula sebagai produk konsumsi. Sebagaimana dicatat oleh Schumpeter [24], inovasi adalah sumber dari siklus bisnis. Inovasi senantiasa terkait pada “kebaruan pengetahuan” dalam perekonomian. Pemahaman akan peran inovasi dalam siklus bisnis ini merujuk pada proses “penghancuran kreatif” di mana inovasi kewirausahaan yang baru harus memiliki daya penghancur atas modal industrial lama yang mengukuhkan eksistensi inovasinya [2]. Fokus pada ekonomi berbasis inovasi, tak pelak, merujuk pada dua hal,<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm21.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-453" style="border:1px solid black;" title="pm2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm21.jpg?w=150&#038;h=101" alt="" width="150" height="101" /></a></p>
<p><em>Pertama</em>, “pengetahuan”, dan hal ini menjadi salah satu titik tolak penting kehidupan sosial dan ekonomi kita di masa depan: ekonomisasi pengetahuan. Tak heran, berbagai proses ekonomi (baik produksi, distribusi, dan konsumsi) belakangan marak dalam ekonomisasi akumulasi pengetahuan ini. Konsep “belajar” sebagai suatu bentuk akumulasi pengetahuan menjadi masif dan memberikan arti pentingnya dalma proses perekonomian evolusioner yang panjang [3]</p>
<p><em>Kedua</em>, “proses diversifikasi”, mengingat cara produk inovatif menghancurkan pasar produk-produk lama adalah melalui kontestasi di pasar. Diversifikasi merupakan langkah pertama yang kongkrit ketika ekonomi bersandar pada proses inovasi. Diversifikasi di sini tentu saja dapat dikaitkan pada variasi produk, maupun variasi pasar. Diversifikasi produk merupakan variabel yang terkait dengan inovasi dan kreativitas yang muncul pada elemen dan produk konsumsi. Di sisi lain, diversifikasi pasar terkait dengan teknik dan cara pemasaran sebuah jenis produk konsumsi tertentu. Diversifikasi pasar merupakan tulang punggung dari apa yang kita kenal sebagai bentuk teknik periklanan, dan berbagai cara demi merebut perhatian konsumen, atau sisi <em>demand </em>dalam grafika pasar.</p>
<p><em>Ketiga</em>, “budaya”, karena industri berbasis kreativitas menekankan berbagai aspek terkait produk-produk berbasis informasi. Barang dan jasa yang diperdagangkan di era ekonomi berbasis kreativitas adalah obyek-obyek yang sedikit banyak mengubah tatanan hidup subyek sosial [17].</p>
<p>Terjadi de-teritorial-isasi kesenjangan industrial antara negara maju dan berkembang oleh dimungkinkannya komunikasi lalu-lintas informasi berkapasitas tinggi [31]. Globalisasi merupakan wajah budaya dunia yang akan datang. Pemikir sosial pun menjadi banyak yang tergoda untuk menyuarakan kecenderungan “homogenisasi” budaya global [13], terkait musik, pakaian, dan cara hidup.</p>
<p>Yang jelas, tak ada masa yang sangat menghargai kreativitas dan inovasi lebih besar dari masa sekarang dan masa yang akan datang. Kelak, di masa depan yang tak jauh, yang membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya bukanlah lagi keterampilan atau kepiawaiannya, namun kreativitas dan kapasitasnya dalam ber-inovasi menghadapi persoalan hidupnya sehari-hari.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-441" title="pm2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm2.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a><span style="color:#808080;">Gambar 2. Simulated lanskap memetika (Data: [18])</span></p>
<p><strong>Inovasi Sebagai Evolusi </strong></p>
<p>Yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut tentunya adalah bagaimana sebenarnya proses inovasi tersebut berjalan? Kreativitas, sebagai induksi kognitif [30] (dalam level deskripsi mikro-sosial,  individual) dan sebagai inovasi (dalam level deskripsi makro-sosial, kolektif individu) dapat dilihat sebagai persoalan deretan simbolik dengan sumber stokastik yang tak diketahui. Akibatnya, upaya memahami proses kreatif dan inovatif dapat dipandang sebagai proses evolusioner sebagai bentuk pencarian kondisi optimum yang heuristik [12]. Inilah yang kemudian dipadukan dengan pendekatan sosio-biologi memetika [6] menjadi studi sosiologi komputasional untuk evolusi kebudayaan [25]. Perspektif evolusioner dalam studi inovasi mengajak kita untuk membayangkan eksistensi sebuah lanskap yang mencerminkan fitur-fitur dari produk ekonomi di mana kelayakannya (<em>fitness</em>) ditentukan oleh kuantitas dari adopsi produk tersebut oleh konsumen [16].</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-442" title="pm3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm3.jpg?w=283&#038;h=300" alt="" width="283" height="300" /></a><span style="color:#808080;">Gambar 3</span><br />
<span style="color:#808080;">Algoritma evolusioner dalam proses inovasi (diadaptasi dari [28])</span></p>
<p>Studi memetika merupakan studi genetika untuk memahami budaya; jika gen adalah unit informasi terkecil dari informasi genetika, maka meme adalah unit informasi terkecil dari informasi kultural. Meme-meme berkoeksistensi satu sama lain menjadi kumpulan sekuen-sekuen meme, disebut sebagai memepleks, yang merepresentasikan fitur kompleks dari sebuah produk ekonomi. Antar meme bisa ada saling kebergantungan yang secara non-linier terkait pada faktor keberterimaan (<em>fitness</em>) dari sebuah fitur dalam produk ekonomi di masyarakat (sifat epistatik). Secara sederhana, representasi dari lanskap keberterimaan memetik dapat digambarkan dalam sistem koordinat Cartessian 3-dimensional sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2. Melalui lanskap-lanskap yang mungkin dari berbagai kombinasi sekuen meme, inovasi dan proses kreatif “berkelana” mencari kondisi yang paling fit, paling optimum dan disukai oleh pasar [10]</p>
<p>Dari pemahaman ini kita mengetahui bahwa inovasi melulu merupakan adaptabilitas dari produk dalam adopsi konsumen. Di sini, sifat stokastik dan keacakan dari dari inovasi/kreativitas terletak pada kemunculan sekonyong-konyong perubahan atas produk ekonomi dari sebegitu banyak diversitas yang ada [<em>cf. </em>5]. Penambahan satu fitur memepleks dalam lanskap evolusioner ini merupakan apa yang kita sebut sebagai kebaruan (<em>novelty</em>). Hal yang baru dikatakan baik jika dan hanya jika terdapat keberterimaan yang baik dari lingkungan evolusionernya, yaitu pasar. Jadi, dalam epos-epos evolusioner ekonomi, ketika ada tendensi dominasi pasar oleh sebuah produk tertentu (yang dipandang sebagai bentuk homogenisasi/uniformisasi kultural), justru terdapat pula tekanan pencarian kebaruan memetika melalui proses diversifikasi. Di sinilah letak pentingnya diversitas dan keberagaman di era globalisasi.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm41.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-454" style="border:1px solid black;" title="pm4" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm41.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p><strong>Tantangan Untuk Indonesia</strong></p>
<p style="text-align:left;">Pasar ekonomi berbasis kreativitas, pendeknya menjadi “pasar informasi”. Setiap hari kita dicekoki dengan berbagai informasi melalui layar kaca, laptop LCD, ataupun pesawat telepon selular kita. Cepatnya pertukaran informasi sedikit banyak mengubah cara pandang kita akan apa yang kita sebut sebagai kreativitas di dalam pasar.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-443" title="pm4" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm4.jpg?w=450" alt=""   /></a></p>
<p>Adakah sebuah informasi memiliki nilai ekonomi atau tidak merupakan jantung dari “ekonomi baru”. Banyak pengamat menyebutnya sebagai “ekonomi kreatif”, sebuah tatanan ekonomika di mana kreativitas merupakan sumber dari tiap asimetri yang ada di pasar. Tak peduli sejelek apa sebuah produk, ia dapat memiliki tempat di pasar terkait dengan informasi yang dibawa oleh produk tersebut. Keberagaman dan heterogenitas dari produk akan sangat bergantung pada fitur-fitur yang menyertai sebuah produk. Inilah yang ditunjukkan pada tabel 1.</p>
<p style="text-align:left;">Diversifikasi, mulai dari level produk hingga level fitur yang meragamkan satu produk tertentu, merupakan proses yang menjadi sangat penting dalam paradigma ekonomi yang berlandaskan kreativitas dan inovasi. Diversifikasi ini dapat dilakukan dari sisi produk maupun dari sisi pemasaran atas produk. Dari gambar 4 kita dapat melihat konstelasi pola diversifikasi produk dan pasar atas beberapa negara di dunia terkait karya seni dan kerajinan di pasar global. Cina merupakan negara yang paling menikmati volume ekspor produk-produk kreatifnya, meski pola diversifkasi pasar yang mereka lakukan tak sebesar Indonesia. Di sisi lain, Perancis merupakan negara yang sumbangsih ekspor produk kreatif pada GDP-nya yang tak jauh berbeda dengan Indonesia, namun sangat tinggi diversifikasi produknya, relatif terhadap diversifikasi pasar yang dilakukan. Dari konstelasi tersebut pula terlihat jelas bahwa diversifikasi pasar yang dilakukan di Indonesia sangat tinggi, namun sangat rendah diversifikasi produknya. Hal ini tentu sangat kontras dengan kenyataan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keberagaman etnografis yang sedikit banyak bisa memberikan sumbangsih besar bagi diversifikasi produk-produk kreatif.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-444" title="pm5" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm5.jpg?w=450" alt=""   /></a><span style="color:#808080;">Gambar 4. Diversifikasi Pasar dan Produk negara-negara di dunia untuk pasar produk kreatif di mana ukuran dari bulatan menunjukkan proporsi ekspor dengan total ekspor negara bersangkutan (Data: [33])</span></p>
<p>Ini tentu memberikan rekomendasi bagi pengambil kebijakan ekonomi di tanah air untuk segera memikirkan diversifikasi produk, untuk menyeimbangkan diversifikasi pasar yang jauh melebihi banyak negara peng-ekspor produk kreatif di dunia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Perjalanan Panjang dimulai Satu Langkah Pendek </strong></p>
<p style="text-align:left;">Membaca semua telaahan ini, kita dapat melihat bahwa aspek terpenting dari proses inovasi dan kreativitas adalah perluasan dan pengayaan “basis data meme” yang akan menentukan dinamika lanskap inovasi  (<em>lihat gambar 3</em>). Semakin besar semesta probabilistik yang menjadi “perpustakaan meme” dari inovasi, maka semakin luas dan lapang peluang diversifikasi yang dapat menyertai perubahan fitur dan desain yang menyertai hadirnya sebuah produk ekonomi baru.</p>
<p>Salah satu sumber perluasan itu ialah diversitas elemen kebudayaan tradisional yang seiring perjalanan zaman, belum semuanya terkuak untuk dieksploitasi perikehidupan perekonomian modern kita hari ini. Lebih jauh lagi, peningkatan diversifikasi produk kreatif adalah impian kosong, tanpa upaya katalogisasi yang lengkap, integratif, dan komprehensif dari semua produk kreativitas yang ada, yang mengisi relung-relung fitur demi pengembangan produk ekonomi terkait seni dan hasil kriya kerajinan masyarakat.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm31.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-455" style="border:1px solid black;" title="pm3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm31.jpg?w=150&#038;h=93" alt="" width="150" height="93" /></a></p>
<p>Namun adalah sebuah refleksi bagi kita semua, bahwa lebih dari enam dekade menyatakan kemerdekaannya sebagai republik, administrasi negara dan masyarakat kita belum memiliki sebuah portal informasi yang dapat dijadikan sebagai “perpustakaan meme” ini. Hal ini sungguh kontras dengan kenyataan yang diterima luas bahwa Indonesia merupakan sebuah entitas negeri yang menyimpan segudang diversitas kecerdasan kolektif (<em>collective intelligence</em>) di planet bumi. Inisiatif untuk membangun sebuah “perpustakaan meme” ini yang kemudian melatarbelakangi penulis dan <em>Indonesian Archipelago Cultural Initiatives </em>untuk membangun portal sederhana berbasis platform kode-terbuka Mediawiki yang ingin mengajak tiap orang untuk bisa berpartisipasi dalam dokumentasi terpadu dan terbuka pencatatan data-data elemen kebudayaan di Indonesia melalui portal internet <strong>www.budaya-indonesia.org.</strong></p>
<p><strong></strong>Melalui pendataan ini, diharapkan kita memiliki katalogisasi “perpustakaan meme” yang akan menjadi satu sumber kreativitas dan inovasi bagi mereka yang menggiatkan pembangunan ekonomi berdasarkan kreativitas. Penambahan satu fitur kecil saja dari produk ekonomi, dapat menjadi pendorong perubahan struktural, dan pada gilirannya kultural, bahkan secara revolusioner perilaku konsumen akan produk tertentu. Dari titik ini, kita jelas dapat melihat bagaimana sebaik-baik inovasi dapat kita nyatakan sebagai bentuk revolusioner daur ulang gagasan tradisional!</p>
<p><strong>Kepustakaan:</strong><br />
[1] Akerlof, George A. (1970). &#8220;The Market for &#8216;Lemons&#8217;: Quality Uncertainty and the Market Mechanism&#8221;. <em>Quarterly Journal of Economics</em> 84 (3): 488–500. MIT Press.<br />
[2] Aghion, P. and Howitt, P. (1992). “A Model of Growth Through Creative Destruction”. <em>Econometrica</em> 60 (2). Cambridge.  MIT Press.<br />
[3] Auerswald, P., Kauffman, S., Lobo, J., &amp; Shell, K. (2000). “The Production Recipes Approach to Modeling Technological Innovation: An Application to Learning by Doing”. <em>Journal of Economic Dynamics and Control</em> 24.<br />
[4] Bellos, A. (2010). <em>Here’s Looking at Euclid: A Surprising Excursion Through the Astonishing World of Math</em>. Free Press.<br />
[5] Curran, D., O&#8217;Riordan, C., &amp; Sorensen, H. (2007). &#8220;Evolving Cultural Learning Parameters in an NK Fitness Landscape&#8221;. In Almeida e Costa, F. (ed.) <em>Advances in Artificial Life.</em> Springer-Verlag.<br />
[6] Dawkins R. (1976, 1982). <em>The selfish gene</em>. Oxford UP.<br />
[7] De Long, J. B. 2000. “The triumph of monetarism?”. <em>Journal of Economic Perspectives</em> 14 (1).<br />
[8] Dimand, R. W. (2003). &#8220;Interwar Monetary and Business Cycle Theory: Macroeconomics before Keynes&#8221;. In Samuels, W. J., Biddle, J. E., Davis, J. B. (eds). <em>A Companion to the History of Economic Thought</em>. Blackwell.<br />
[9] Dowling, B. F. (2005). <em>Evolutionary Finance</em>. Palgrave.<br />
[10] Ettlie, J. E., Bridges, W. P., O&#8217;Keefe, R. D. (1984). &#8220;Organization Strategy and Structural Differences for Radical Versus Incremental Innovation&#8221;. <em>Management Science</em> 30 (6).<br />
[11] Foster, J. &amp; Hözl, W. (2004). <em>Applied Evolutionary Economics and Complex Systems</em>. Edward Elgar.<br />
[12] Gen, M. &amp; Cheng, R (1997). <em>Genetic Algorithms &amp; Engineering Design.</em> Wiley Publication.<br />
[13] Hannerz, U. (1991). &#8220;Scenarios for Peripheral Cultures&#8221;. In A. King (ed.). <em>Culture, Globalization and the World-System. Binghamton</em>. State University of New York.<br />
[14] James, H. (2000). &#8220;The Fall and Rise of the European Economy in the Twentieth Century&#8221;. in Blanning, T. C. W. (eds.). <em>The Oxford History of Modern Europe</em>. Oxford UP. pp. 186-213.<br />
[15] Johns, H. &amp; Ormerod, P. (2007). <em>Happiness, Economics, &amp; Public Policy</em>. The Institute of Economic Affairs.<br />
[16] Kauffman, S., Lobo, J. &amp; Macready, W. G. (2000). “Optimal Search on a Technology Landscape”. <em>Journal of Economic Behavior &amp; Organization</em> 43.<br />
[17] Kellner, D. (1995). <em>Media Culture: Cultural Studies, Identity, and Politics Between the Modern and the Postmodern</em>. Routledge.<br />
[18] Khanafiah, D. &amp; Situngkir, H. (2006). <em>Innovation as Evolution</em>. Paper presented in the 5th Computation and Intelligence in Economics and Finance Conference, Kaoh-Siung, Taiwan 2006.<br />
[19] McClellan III, J. E. &amp; Dorn, H. (2006).<em> Science and Technology in World History: An Introductio</em>n 2nd ed. John Hopkins UP.<br />
[20] Moore, G. E. (1965). &#8220;Cramming more components onto integrated circuits&#8221;. <em>Electronics Magazine</em> 4. URL: ftp://download.intel.com/museum/Moores_Law/Articles-Press_Releases/Gordon_Moore_1965_Article.pdf<br />
[22] Reeves, C. R. (1999). &#8220;Fitness Landscapes and Evolutionary Algorithms&#8221;. <em>Selected Papers from the 4th European Conference on Artificial Evolution</em>. Lecture Notes In Computer Science 1829. Springer-Verlag.<br />
[23] Roehner, B. M. (2002). <em>Patterns of Speculation: A Study in Observational Econophysics</em>. Cambridge UP.<br />
[24] Schumpeter, J. A. (1939). <em>Business Cycles</em>, 2 vols. New York: McGraw-Hill.<br />
[25] Situngkir, H. (2004). On Selfish Memes: Culture as Complex Adaptive System. <em>Journal of Social Complexity</em> 2(1).<br />
[26] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. <em>The Icfai University Journal of Knowledge Management</em> 7(2):7-17.<br />
[27] Situngkir, H. &amp; Dahlan, R. M. (2009). <em>Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia</em>. Gramedia Pustaka Utama.<br />
[28] Situngkir, H. (2010). “Exploitation of Memetics for Melodic Sequences Generation”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-2-2010. Bandung Fe  Institute.<br />
[29] Solé, R. V., Manrubia, S. C., Benton, M., Kauffman, S., Bak, P. (1999). <em>Criticality and Scaling in Evolutionary Ecology</em>. Tree 14 (4).<br />
[30] Solomonoff, R. (1975). &#8220;Inductive Inference Theory &#8211; A Unified Approach to Problems in Pattern Recognition and Artificial Intelligence.&#8221; <em>Proceedings of the Fourth International Joint Conference on Artificial Intelligence</em>, Tbilisi, Georgia, U.S.S.R. pp. 274-280. URL: http://world.std.com/~rjs/tblisi75.pdf<br />
[31] Tomlinson, J. (1999). <em>Globalization and Culture.</em> Polity.<br />
[32] Towse, R. (2001). <em>Creativity, Incentive and Reward: An Economic Analysis of Copyright and Culture in the Information Age</em>. Edward Elgar.<br />
[33] The United Nations (UN). (2008). <em>Creative Economy Report 2008</em>. UNDP &amp; UNCTD.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/439/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=439&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/11/02/daur-ulang-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/11/pm.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">pm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm11.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pm1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">pm1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm21.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pm2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">pm2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm3.jpg?w=283" medium="image">
			<media:title type="html">pm3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm41.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pm4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pm4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pm5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/pm31.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pm3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harmoni (bukan benturan) Tatanan Dunia Baru</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/10/30/bukan-benturan-dunia-baru/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/10/30/bukan-benturan-dunia-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 17:46:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Disampaikan pada Seminar “Mengembangkan Litbang di HKBP”, Jakarta, 29 Oktober 2011 Adalah fitrah manusia untuk melihat dan memahami kompleksitas semesta alam dan sosial secara sederhana. Jika ada dua atau lebih solusi yang berbeda untuk satu permasalahan, maka yang kita terima sebagai solusi yang “benar” tentunya adalah yang paling sederhana [7]. Tak terkecuali seorang ilmuwan politik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=429&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color:#999999;">Disampaikan pada Seminar “Mengembangkan Litbang di HKBP”, Jakarta, 29 Oktober 2011</span></em></p>
<p>Adalah fitrah manusia untuk melihat dan memahami kompleksitas semesta alam dan sosial secara sederhana. Jika ada dua atau lebih solusi yang berbeda untuk satu permasalahan, maka yang kita terima sebagai solusi yang “benar” tentunya adalah yang paling sederhana [7]. Tak terkecuali seorang ilmuwan politik seperti Samuel Huntington (1927-2008), dalam bukunya yang terkenal, “<em>The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order</em>” [5]. Dalam bukunya tersebut, Huntington menggambarkan bahwa pasca perang dingin sumber dari konflik di dunia yang baru bukanlah bersumber pada perbedaan ideologis atau ekonomis, melainkan perbedaan kultural yang sangat senjang, oleh perbedaan peradaban. Ini merupakan tesis serius yang ingin dikritisi oleh diskusi lanjut berikut, dalam sebuah perspektif ke-Indonesia-an, budaya tradisional, dan perkembangan sains mutakhir.<span id="more-429"></span></p>
<p>Perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, yang akhirnya reda oleh hancurnya tembok Berlin (1989) seringkali diyakini sebagai bentuk benturan antara dua ideologi besar berdasarkan kepahaman tentang perekonomian, yaitu kapitalisme dan komunisme [3]. Dengan runtuhnya blok Timur Sovyet maka terdapat keseolah-olahan bahwa ideologi yang “sukses” bertahan adalah ideologi yang terkait pada sikap moral Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi liberal dan ekonomi pasar bebas kapitalis [4]. Konstelasi politik global berubah dan tak lagi melulu benturan antara yang sosialisitik dan yang kapitalistik.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb3.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-432" style="border:1px solid black;" title="hb3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb3.jpg?w=150&#038;h=106" alt="" width="150" height="106" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kritis Pada Huntington</strong></p>
<p>Dalam perspektif teoretis yang dibangunnya, Huntington menggambarkan bahwa benturan antar ideologis telah berubah menjadi benturan antara peradaban, skema hidup yang tercermin dalam budaya dan pola hidup parsial masyarakat, di antaranya konflik yang terjadi antara yang barat dan yang timur, bahkan lebih sempit antara islam dan dunia barat yang dicap sekuler. Serangan terorisme dalam tragedi kolosal 9 September 2001, yang disertai berbagai sorotan media massa atas seruan perang terhadap Islam dan kampanye kehidupa demokratisasi oleh administrasi mantan presiden Amerika Serikat, George W. Bush, seolah menunjukkan “ramalan” Huntington benar adanya. Setelah komunisme, maka peradaban yang di mana kapitalisme pasar bebas tumbuh harus berhadap-hadapan dengan peradaban “lain”, yang direduksi sebagai “peradaban islam” [9]. Tiadakah cara lain memandang diversitas dan perbedaan “peradaban” yang ada di planet kita hari ini selain penantian akan benturan demi benturan? Di sini, sisi kemanusiaan kita menjadi tertantang, dan adalah sebuah hal yang menarik ketika sains mutakhir sedikit banyak bisa memberikan wawasan alternatif atas persoalan sosial ini.</p>
<p>Sebagaimana dikritik oleh pemikir sosial Edward Said [13], mungkin Huntington “tergoda” untuk memandang persoalan konflik sosial pada tataran global ini dengan bentuk pertentangan antara dua pihak yang berseteru: setelah komunisme, kemudian islam berhadapan dengan peradaban yang tumbuh dalam perspektif pasar bebas yang kapitalistik. Kehidupan sosial tidak pernah monolitik dan konflik sosial tak pernah melulu bisa direduksi sebagai bentuk dua hal yang berlawanan (oposisi biner). Justru, tiap peradaban besar sebenarnya dapat dilihat dalam pola yang muncul atas berbagai aspek kultural yang juga memiliki keunikan-keunikan sebagai peradaban di mana jumlah populasi yang lebih kecil muncul. Selalu ada sub-kultur dalam pola sosio-kultural [14].<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb4.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-433" style="border:1px solid black;" title="hb4" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb4.jpg?w=150&#038;h=116" alt="" width="150" height="116" /></a></p>
<p>Karakteristik sosial ini terjadi di semua sistem sosial dan peradaban, tak terkecuali peradaban barat yang secara mikro juga memiliki diversitas yang sangat tinggi. Di tengah populasi yang mayoritas Muslim, Indonesia merupakan tempat perkumpulan (gereja) kristen protestan terbesar di Pasifik dan terbesar keenam di dunia, yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dengan keanggotaan jemaat lebih dari 4 juta orang [11]. Konflik dan perbedaan rupanya tak mesti berakhir dengan “benturan”.</p>
<p>Demikian pulalah dengan fakta sebuah Indonesia. Berdasarkan sensus penduduk terakhir yang dilakukan, telah dilaporkan bahwa terdapat 1128 suku bangsa di Indonesia [6] dengan 300 kelompok etnik yang mempercakapkan lebih dari 10% dari bahasa yang ada di planet bumi ini [10]. Bentuk geografis Indonesia yang kepulauan telah menumbuhkan keberagaman tata hidup kemasyarakatan yang unik satu sama lain, yang tertuang dalam pandangan hidup, adat istiadat, seni tradisi, tata cara pengobatan, dan lain sebagainya. Bukanlah sebuah kemustahilan untuk menganggap bahwa konflik dalam bentuk benturan sosial mudah terjadi di sini. Tapi tantangan yang menarik adalah untuk melihat bagaimana justru kesatuan bisa terlihat hidup berbarengan di seluruh penjuru tanah air, dalam keanekaragaman yang justru dapat bertransformasi pada inspirasi pada dunia, di samping tentunya sumber kekuatan dalam perekonomian globa berbasis kreativitas dan inovasi di masa mendatang [17]</p>
<p><strong>Wawasan Ke-Indonesia-an yang Kompleks</strong></p>
<p>Kelompok etnik Batak hidup dalam sebuah fundamen dasar yang disebut “Dalihan Natolu”: tiga tungku yang menghidupi tata mikro-sosial individu dalam interaksinya dengan orang Batak lainnya. Keharusan untuk <em>Somba Marhula-hula</em> atau menghormati saudara pihak dan semarga dengan isteri (dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan), <em>Manat Mardongan Tubu</em> atau menjaga persaudaraan dengan saudara se-marga (dengan tujuan agar terhindar dari perseteruan), dan perilaku <em>Elek Marboru</em> atau mengasihi saudara dan semarga dengan pihak suami (dengan tujuan memperoleh berkah), merupakan <em>tria politika</em> tata kehidupan mikro bangsa Batak. Tiga aturan ini menjadi landas tata krama, sopan santun, hingga formalitas adat istiadat suku Batak, yang menerangkan bentuk kohesivitas yang awet dan bertahan lama di kalangan orang-orang Batak, bahkan ketika akulturasi dan asimilasi budaya terjadi dengan suku bangsa lain, termasuk pola hidup modern.</p>
<p>Melanggar salah satu dari <em>Dalihan Na Tolu </em>akan menjadikan tata laksana adat batak menjadi timpang, dan keseimbangan menjadi terganggu. Dan karena ketiga hal ini terkait dengan pernikahan orang batak, maka pernikahan merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam kehidupan sosial bangsa Batak. Kalaupun ada pernikahan dengan tidak sesame orang Batak, maka yang bersangkutan akan diberikan marga Batak (juga sesuai dengan aturan Dalihan Natolu) demi memelihara tatanan “trias politika” mikro-sosial ini.</p>
<p>Yang luar biasa adalah ketika tatanan mikro ini dilihat dalam <em>big picture</em>. Tatanan masyarakat adat batak yang diikuti sebagai bentuk kecerdasan kolektif orang Batak ini menunjukkan pola topologis dari jejaring genealogis orang batak (<em>tarombo</em>) [15]. Secara menakjubkan, ditunjukkan bahwa observasi investigatif pada karakteristik jejaring marga-marga batak [15] menunjukkan pola serupa dengan pola topologis dan statistik jejaring protein pada ragi [1] dan hubungan pertemanan komunitas sosial [12].</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb1.jpg"><img class="size-medium wp-image-430 aligncenter" title="hb1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb1.jpg?w=300&#038;h=255" alt="" width="300" height="255" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#808080;"><em><strong>Gambar 1</strong></em></span><br />
<span style="color:#808080;">Topologi jejaring interaksi protein dalam ragi yang krusial dalam kebertahanan hidup sel [1] (kiri atas), topologi jejaring hubungan saling kenal pertemanan di sebuah sekolah di Amerika Serikat [12] [(kanan atas), dan topologi jejaring marga-marga dalam genealogi batak [15] (bawah).</span></p>
<p>Struktur makro topologi marga-marga menunjukkan pola serupa dengan apa yang ditunjukkan pada struktur protein yang menjaminkan kehidupan sel-sel ragi. Jejaring hidup marga-marga batak menjadi semacam satu entitas organisma hidup yang bertahan semenjak ratusan tahun yang lalu. Lebih jauh, marga-marga tersebut seolah-olah menjadi satu entitas sosial masyarakat, di mana hubungan antara satu marga dengan marga batak lain seperti halnya hubungan pertemanan dalam sebuah komunitas sosial biasa!</p>
<p>Kohesivitas inilah yang mungkin membuat kehidupan orang batak tetap bisa mempertahankan dirinya dalam terjangan asimilasi di era informasi dan globalisasi. Dan adalah menarik untuk mencatat bahwa apa yang tergambar dari pola makro ini dimunculkan secara tak linier dari bagaimana satu orang batak saling menyapa (<em>martutur</em>), berperilaku, dan sebagainya satu sama lain, yakni <em>Dalihan Na Tolu</em>!</p>
<p>Tak ada yang mengajari orang batak untuk hidup secara mikro dalam <em>Dalihan Na Tolu</em>, karena ia lahir dari kecerdasan kolektif yang dipahami secara turun-temurun, demikian pula tak ada yang “mengajari” molekul-molekul protein yang saling berikatan satu sama lain sehingga menghasilkan struktur sel yang hidup, atau lebih lanjut, tak ada yang “menyuruh” satu anak dengan yang lain untuk saling berteman dan bergaul. Tapi sungguh luar biasa ketika ketiga topologi tersebut menunjukkan karakteristik makro yang sama, karakteristik suatu organisma hidup. Seolah-olah, melalui penamaan marga pada tiap individu batak tersebut, orang batak “berkomunikasi” dan membentuk struktur topologis masyarakat sebagaimana hidup sehari-hari masyarakat yang alamiah.</p>
<p>Lebih jauh, adalah menarik untuk mengetahui bahwa struktur topologis jejaring hidup tersebut [1<strong>, </strong>12] menunjukkan karakteristik kompleks yang relatif baru dalam perspektif ilmu pengetahuan modern. Kompleksitas jejaring protein dan jaring sosial merupakan hal yang baru terpecahkan sifat dan karakteristik statistikanya di penghujung abad ke-20 yang lalu. Sebelumnya, dunia ilmu pengetahuan “mengira” bahwa jejaring-jejaring kompleks hidup tersebut sederhananya merupakan bentuk jejaring acak (<em>random network</em>) biasa saja. Ini merupakan sebuah kenyataan empiris, bagaimana ilmu pengetahuan mutakhir mulai bisa menjelaskan pola hubungan kompleks yang ada dalam kehidupan tradisional dan kelumrahan-kelumrahan kehidupan etnik di Indonesia.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb5.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-434" style="border:1px solid black;" title="hb5" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb5.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Dalam banyak penelaahan akan budaya tradisional Indonesia, hal ini telah pula ditunjukkan pada banyak aspek budaya tradisi di kepulauan kita. Sifat geometri fraktal pada batik [18] merupakan sebuah contoh sederhana. Tanpa pemahaman kita akan geometri fraktal yang baru bisa populer diakuisisi ilmu pengetahuan mutakhir untuk menjelaskan berbagai karakteristik kompleks dari sistem di alam, apresiasi kita akan batik takkan lebih dari kurasi makna dan filosofi di balik keindahan batik. Penelitian menunjukkan bahwa “kecanggihan” batik bukan hanya pada narasi filosofis yang melatarbelakanginya, melainkan juga pada bagaimana geometri yang akurat untuk digunakan dalam menerangkan sistem-sistem di alam: awan, asap, pola pertumbuhan tumbuh-tumbuhan, bunga es, pigmentasi pada hewan-hewan, dan sebagainya [2].</p>
<p>Jiwa dari sebuah peradaban adalah seni dan sains. Ketika sains modern “Barat” (geometri fraktal, topologi jejaring sistem kompleks) telah bertemu dengan harmoni, dalam hubungan saling menjelaskan dan mengapresiasi, dengan berbagai aspek kehidupan tradisional (yang bahkan terbilang “kuno”) di kehidupan sosial orang-orang di kepulauan Indonesia yang “Timur”, maka kita menyadari bahwa ini bukanlah sebentuk “benturan” antar peradaban, namun sebuah harmoni yang saling meng-inspirasi satu sama lain. Sains dan seni dalam budaya tradisi Indonesia menunjukkan bubuhan tanda akan kesenjangan peradaban tak mesti berinteraksi sebagai bentuk “benturan antar peradaban”, melainkan juga harmoni yang saling memperkaya satu sama lain.</p>
<p><strong>Indonesia sebagai wajah luluhnya tendensi “Benturan Antar Peradaban”</strong></p>
<p>Secara politis, orang-orang Indonesia mungkin bisa dikatakan sebagai satu bangsa. Namun seara antropologis, tak pelak Indonesia merupakan suatu entitas politik yang terdiri dari begitu banyak bangsa [20]. Bukanlah hal yang aneh di kalangan berbagai kelompok etnik di Indonesia, penyebutan satu kata bisa berarti sesuatu yang sopan, tapi dalam bahasa daerah kelompok etnik lain memiliki pemaknaan kata yang tabu. Bahasa merupakan satu fundamen yang di atasnya kebudayaan dan peradaban masyarakat dibangun. Kenyataan bahwa terdapat 722 bahasa di kepulauan Indonesia ini [10], merupakan sebuah kenyataan yang menunjukkan ada begitu banyak peradaban yang saling berinteraksi di bawah payung politik bernama Republik Indonesia.</p>
<p>Di kalangan bangsa Batak saja, misalnya, keragaman bahasa telah terasa sedemikian tingginya. Penelitian kompleksitas bahasa-bahasa yang ada di kawasan Sumatera Utara menunjukkan [19] bagaimana variasi karakteristik penggunaan bahasa-bahasa daerah tersebut dalam terjemahan teks (alkitab) mencerminkan keragaman yang luar biasa. Sifat dan karakteristik kemiripan bahasa Pakpak, Simalungun, dan Toba memiliki corak yang sangat berbeda dengan karakteristik statistika bahasa Angkola dan Karo. Bahkan, sifat dan karakteristik kompleks bahasa Pakpak, Simalungun dan Toba lebih dekat dengan bahasa Sunda dan Jawa daripada dengan bahasa kelompok etnik tetangganya tersebut: Angkola dan Karo.</p>
<p style="text-align:left;">Keragaman ini merupakan sesuatu yang dalam perspektif Huntingonian berpotensi terakumulasi menjadi sebuah “benturan”, konflik! Namun di sisi lain, keragaman pada dasarnya dapat menjadi sebuah potensi yang justru dapat memberikan keuntungan yang positif bagi masyarakat bersangkutan, khususnya terkait dengan masa depan perekonomian negeri yang berbasis kreativitas dan inovasi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-431" title="hb2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb2.jpg?w=300&#038;h=148" alt="" width="300" height="148" /></a><span style="color:#808080;"><em>Gambar 2</em></span></strong><br />
<span style="color:#808080;"><em>Peta keragaman bahasa-bahasa daerah di kawasan Sumatera Utara berdasarkan sifat statistika dalam teks.</em></span></p>
<p>Coba bayangkan jika pengrajin songket di Sumatera Selatan dapat melihat scara umum semua motif-motif tenun ulos yang khas batak itu. Atau coba kita bayangkan apa yang ada di benak seorang pengrajin ukir Jepara ketika melihat semua bentuk dan pola ukir khas batak, mulai dari dokrasi rumah adatnya, tongkat <em>tunggal panaluan</em>-nya, dan sebagainya. Kemampuan dan kapasitas tenun, ukir, dan sebagainya, dalam kehidupan tradisional di Indonesia merupakan <em>skill </em>yang diperoleh secara turun-temurun sebagai bentuk kecerdasan kolektif perkampungan di tengah-tengah berbagai kelompok etnis di tanah air. Akibatnya, pola dan coraknya pun sebagaimana yang dipelajari secara turun-temurun pula. Namun sungguh merupakan sebuah hal yang bisa menjadi sebuah bahan yang memperkaya corak kriya kerajinan mereka, jika di hadapan mereka terbentang begitu beraneka ragamnya corak, ornamen, dan motif yang berasal dari berbagai kelompok etnik yang unik dari seluruh kepulauan Indonesia.</p>
<p>Sekarang coba kita bayangkan jika seluruh tari-tarian dari seluruh Indonesia tersebut terpampang di hadapan seorang koreografer (penata tari) modern. Atau bayangkan seorang komposer memiliki kesempatan untuk mendengarkan lagu-lagu yang berasal dari langgam lagu tradisional secara lengkap dari Merauke hingga Sabang. Telah sedemikian sering kita dengar bagaimana tari-tarian tradisional yang berpadu dengan musikologi modern (barat) menjadi sebuah tontonan yang memberi ketakjuban panggung <em>entertainment</em> yang berskala global. Panggung sandiwara modern seringkali terberitakan menjadi tontonan yang memukau dari sisi plot cerita ketika tampil sebagai interpretasi modern atas sendratari tradisional Indonesia.</p>
<p>Hal inilah yang dikonfirmasi dalam penelitian kompleksitas budaya yang dilaporkan [17] bahwa kekayaan dan variasi berbagai elemen kultural dapat menjadi sumber inspirasi berbagai aspek budaya modern. Adalah sebuah hal yang tak kunjung berhenti menarik hati membayangkan berbagai motif dan dekorasi tradisional menjadi penghias berbagai artefak modern, mulai dari <em>casing handphone</em>, corak batik dalam desain <em>fashion</em> modern, dan sebagainya.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb6.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-435" style="border:1px solid black;" title="hb6" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb6.jpg?w=150&#038;h=110" alt="" width="150" height="110" /></a></p>
<p>Keragaman peradaban di tengah-tengah bangsa Indonesia, justru dapat memberikan pengayaan yang luar biasa dari sisi implementasinya dalam kehidupan modern. Perbedaan justru tak hanya memberikan potensi “benturan peradaban”, namun justru dapat memberikan potensi ekonomi berlandaskan kreativitas dan inovasi modern.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Harmoni: Sains, Teknologi, Seni dan Masa Depan Kita</strong></p>
<p>Namun bagaimanakah agar sekiranya berbagai kebijaksanaan yang lahir dari kolektivitas sosial etnik tersebut dapat memberikan pengayaan yang nyata bagi kehidupan masyarakat modern kita dewasa ini? Seringkali justru kepedulian pada budaya tradisi yang dianggap kuno terjadi semata-mata karena:</p>
<ol>
<li>Ketidaktahuan arti penting makna dan filosofi mendalam yang terkandung dalam elemen budaya tradisional tersebut. Ketidaktahuan menyebabkan apa yang distrukturkan dan memiliki afinitas dengan budaya modern menjadi terlihat lebih baik, padahal sebenarnya pemaknaan yang sama (bahkan seringkali lebih mendalam) dapat diperoleh melalui penggalian wawasan makna elemen budaya tradisional dari mana kita berasal.</li>
<li>Kelumrahan budaya tradisional yang menjadi pemandangan sehari-hari menjadi lebih terkesan klise dibandingkan inovasi serba “wah” yang ditunjukkan di panggung-panggung media modern yang kapitalistik. Akibatnya, justru muncul berbagai pandangan bahwa apa-apa yang tradisional takkan memiliki daya saing (apalagi memberikan inspirasi) bagi proses kreatif dan inovasi modern.</li>
</ol>
<p>Kedua hal inilah yang seringkali menjadi batu sandungan ketika kita berhadapan dengan apa yang disebut sebagai budaya tradisional. Kedua hal ini pulalah yang sebenarnya menjadi biang keladi “benturan peradaban”, yang malangnya, lebih sering dimenangkan oleh apa yang kita sebut sebagai “peradaban modern”.</p>
<p>Namun uraian kita pada bagian sebelumnya artikel ini menunjukkan bahwa kedua hal tersebut pada dasarnya absurd. Justru apa-apa yang lumrah, tradisional, kuno, dan sebagainya itu perlu dilirik demi menghadapi dunia kapitalisme global yang semakin menuntut kreativitas dan inovasi.</p>
<p>Sungguh disayangkan bahwa 60 tahun lebih republik ini menyatakan kemerdekaannya, belum satupun sebuah portal terpusat di mana berbagai pemaknaan dan kekayaan variatif dari elemen etnik di Indonesia tertata dengan baik dan menjadi sumber referensi penelitian yang kuantitasnya layak sebagai bahan riset maupun implementasi inovasi. Sekian tahun kita merdeka, belum juga kita memiliki satu perpustakaan atau ensiklopedia yang berperan sebagai katalog lengkap kebudayaan Indonesia. Sementara itu, wkatu berjalan terus. Kita alpa melakukan dokumentasi sementara pemangku kebijaksanaan kolektif etnik tersebut pun telah berpulang satu demi satu, tanpa penerus. Ini yang memberikan potensi masa depan, bahwa kelak sangat mungkin negeri kita akan diisi oleh generasi-generasi muda yang lupa akan akar jati dirinya sendiri sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari bangsa-bangsa.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb7.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-436" style="border:1px solid black;" title="hb7" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb7.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Berpijak pada hal itu pulalah, kita diajak untuk turut serta berpartisipasi dalam program pendataan budaya tradisional kita, secara partisipatif menggunakan jejaring internet, di <strong>www.budaya-indonesia.org</strong> [16]. Website tersebut merupakan sebuah web di mana teknologi dapat kita akuisisi untuk menjaring kekayaan tradisional yang hampir terlupa, namun menyimpan segudang sumber inspirasi dan inovasi modern tersebut. Web partisipatif <em>a la </em>Wikipedia tersebut telah berjalan semenjak 2008, dan hingga saat ini, berbagai penelitian telah dapat dihasilkan dari dalamnya.</p>
<p>Melengkapi portal web www.budaya-indonesia.org tersebut merupakan sebuah inisiatif modern yang tak tradisional untuk menghimpun kekuatan hikmat, kebijaksanaan, dan pengetahuan yang terkodekan dalam berbagai elemen budaya tradisional kita. Alhasil, jika partisipasi tersebut dapat kita himpun dan terlaksana dengan baik, maka tak lama lagi kita jadi mungkin untuk melihat betapa kayanya negeri kita dalam struktur katalogisasi yang bersumber dari kebudayaan tradisional Indonesia. Melalui piranti modern ini kita berharap kedua sandungan restorasi budaya tradisional Indonesia dapat kita tepis, dan “benturan antar peradaban” kita transformasikan menjadi sebuah harmoni kehidupan masyarakat global yang berpijak pada lokalitasnya.</p>
<p>Mari mencintai Indonesia, mari menginspirasi dunia!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Kepustakaan:</strong><br />
[1] Barabási, A. L., Bonabeau, E. (2003). &#8220;Scale-Free Networks&#8221;. <em>Scientific American</em> 288 (5): 60–9<br />
[2] Barnsley, M. F. (1993). <em>Fractals everywhere</em> 2nd ed. Morgan Kaufmann Pub.<br />
[3] Dale, G. (2005). <em>Popular Protest in East Germany, 1945–1989: Judgements on the Street</em>. Routledge.<br />
[4] Fukuyama, F. (1992). <em>The End of History and the Last Man</em>. Free Press.<br />
[5] Huntington, S. P. (1996). <em>The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order</em>. Simon &amp; Schuster.<br />
[6] Jawa Pos National Network. <em>Indonesia Miliki 1.128 Suku Bangsa</em>. URL:  http://www.jpnn.com/berita.detail-57455<br />
[7] Katz, J. (1998). <em>Realistic Rationalism</em>. MIT Press.<br />
[8] Khanafiah, D., &amp; Situngkir, H. (2009). “Memetics of Ethno-Clustering Analysis”. <em>Journal of Social Complexity</em> 4(1): 18-25.<br />
[9] Kuppuswamy, C.S. (2005). <em>Terrorism in Indonesia : Role of the Religious Organisation</em>. South Asia Analysis Group.<br />
[10] Lewis, M. Paul (eds.). 2009. <em>Ethnologue: Languages of the World</em>, 16th edition. SIL International.<br />
[11] Lutheran World Federation. (2009). “The Lutheran World Federation 2009 Membership Figures”. <em>Lutheran World Information</em>. Lutheran World Federation.<br />
[12] Moody, J. (2001). “Race, School integration, and friendship segregation in America”. <em>American Journal of Sociology</em> 107, 679–716 (2001).<br />
[13] Said, E. W. (2004). <em>From Oslo to Iraq and the Road Map</em>. Pantheon.<br />
[14] Situngkir, H. (2004). “On Selfish Memes: Culture as Complex Adaptive System”. <em>Journal of Social Complexity</em> 2(1).<br />
[15] Situngkir, H. (2008). “How Close a Bataknese One Another?: Study of Indonesian Batak’s Family Tree”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-2-2008. Bandung Fe Institute.<br />
[16] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-XII-2008. Bandung Fe Institute<br />
[17] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. <em>The Icfai University Journal of Knowledge Management</em> 7(2):7-17.<br />
[18] Situngkir, H. &amp; Dahlan, R. M. (2009). <em>Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia</em>. Gramedia Pustaka Utama.<br />
[19] Surya, Y. &amp; Situngkir, H. (2007). <em>Solusi untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisika &amp; Kompleksitas</em>. Kandel.<br />
[20] Yatim, B. (1999). <em>Sejarah Peradaban Islam</em>. Raja Grafindo Persada.</p>
<p style="text-align:left;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/429/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=429&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/10/30/bukan-benturan-dunia-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hb3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb4.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hb4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hb1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb5.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hb5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hb2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb6.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hb6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hb7.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hb7</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggambar Nexus Tiga Titik: Peluang Renesans Asia?</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/10/21/menggambar-nexus-tiga-titik-peluag-renesans-asia/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/10/21/menggambar-nexus-tiga-titik-peluag-renesans-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 14:19:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi seri ke-2 Kompleksitas, 19 Oktober 2011, yang diselenggarakan Freedom Institute dan Bandung Fe Institute, mengambil tema “Kompleksitas Budaya dan Renesans Indonesia”. Diskusi yang dipimpin oleh moderator Nirwan A. Arsuka dari Freedom Institute ini diawali dengan pemaparan bertajuk “Menjelaskan Kemajuan/Kekuatan Bangsa-bangsa” oleh I Gde Raka, seorang guru budaya dan manajemen inovasi dari Institut Teknologi Bandung, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=420&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/db111019-05e.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-421" title="DB111019-05e" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/db111019-05e.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a>Diskusi seri ke-2 Kompleksitas, 19 Oktober 2011, yang diselenggarakan</em><em> Freedom Institute dan Bandung Fe Institute, mengambil tema “<a href="http://issuu.com/freedominstitute/docs/kompleksitas_budaya_dan_renesans_indonesia_/1"><strong>Kompleksitas Budaya dan Renesans Indonesia</strong></a>”. Diskusi yang dipimpin oleh moderator Nirwan A. Arsuka dari Freedom Institute ini diawali dengan pemaparan bertajuk “Menjelaskan Kemajuan/Kekuatan Bangsa-bangsa” oleh I Gde Raka, seorang guru budaya dan manajemen inovasi dari Institut Teknologi Bandung, dilanjut dengan paparan berjudul “Dari Kompleksitas Budaya Tradisi Ke Renesans Indonesia” oleh Hokky Situngkir, Presiden Bandung Fe Institute.<span id="more-420"></span></em></p>
<p>Dalam pemaparannya, I Gde Raka menyoroti perspektif yang sangat sederhana dari Jared Diamond (dari bukunya berjudul “<em>Guns, Germs, and Steel: The Fates of Human Societies</em>”  yang terbit tahun 1997), bagaimana bangsa-bangsa Eropa bisa maju dan menaklukkan Amerika dan Australia oleh dukungan (kebetulan, <em>accidental</em>) dari biogeografi yang cocok dengan pola domestikasi yang dilakukan, yang pada gilirannya memungkinkan perkembangan teknologi dan politiknya. Dalam buku itu, sebagaimana disoroti oleh I Gde Raka, Diamond menunjukkan bahwasanya “penaklukan” Eropa atas Amerika dan Australia semata-mata tak dikarenakan oleh dukungan gen mereka, namun juga oleh <em>germs </em>(kuman, penyakit) mereka (dalam hal ini cacar).<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-422" style="border:1px solid black;" title="FB1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb1.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Diskusi ini dikaitkan pula dengan pandangan Eduard Spranger tentang dimensi-dimensi nilai pada suatu masyarakat: dimensi teoretis (terkait pencarian nilai kebenaran), dimensi ekonomi (terkait nilai kegunaan), dimensi estetis (terkait nilai atas bentuk dan harmoni), dimensi sosial (terkait nilai berlandas kasih sayang pada orang lain), dimensi politik (terkait nilai kekuasaan), dan dimensi keagamaan (nilai totalitas spiritual). Menurut I Gde Raka, kita perlu melakukan “pemetaan “ keenam dimensi ini dalam melihat kehidupan masyarakat kita relatif dengan bangsa-bangsa lain, sebelum kita pada akhirnya bisa mencapai rumusan akan kebangkitan budaya bangsa, atau “renesans” sebagaimana dibawakan sebagai tajuk diskusi. Yang jelas, mengutip Lawrence E. Harrison, bagi I Gde Raka, “<em>underdevelopment is a state of mind</em>”.</p>
<p>Pemaparan ini disambut oleh Hokky Situngkir dengan menunjuk pada 3 titik yang mungkin seolah tak berhubungan, namun jika kita mampu menggambarkan sebuah bangun atas ketiga titik tersebut, maka renesans bukanlah hal yang mustahil.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb2.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-423" style="border:1px solid black;" title="fb2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb2.jpg?w=150&#038;h=107" alt="" width="150" height="107" /></a></p>
<p>Titik <em>pertama</em>, yang disoroti adalah keadaan <strong>krisis epistemologis</strong> dalam perjalanan kesejarahan kecendekiaan Eropa. Di sini ditunjukkan secara sekilas bagaimana peradaban Eropa yang mendominasi dunia ini sebenarnya berjalan “tertatih-tatih” dalam evolusinya. Ia beberapa kali tergelincir bahkan semenjak zaman Yunani Kuno (terkait geometri, aritmatika, aljabar, dan numerologi) yang di-<em>revive </em>pada masa Renesans di Eropa dan menjadi titik tolak kehidupan modernisme dunia, hingga berujung pada berbagai “krisis cendekia” akan kemunculan berbagai “pemberontakan” dalam kehidupan posmodernitas kekinian. Sorotan akan ketaklengkapan aritmatika (Kurt Godel, 1931), mekanika kuantum (Werner Heissenberg, 1927), hingga perspektif sosial (Lyotard, 1979) dan kemunculan era seni populer industrial (misalnya Andy Warhol, 1970-an), kesemuanya merupakan titik-titik yang terkait secara tak langsung sebagai tantangan terhadap modernitas yang berakar pada filsafat helenisme.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb3.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-424" style="border:1px solid black;" title="fb3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb3.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Titik <em>kedua, </em>adalah tendensi pergerakan ilmu-ilmu pengetahuan dari cara pandang mono-disipliner warisan abad pencerahan menjadi <strong>perspektif kompleks yang interdisiplin</strong>. Hokky Situngkir menyoroti perkembangan ilmu-ilmu yang mulai melihat tiap elemen observasi (baik alam maupun sosial) sebagai hal yang tak pernah sepenuhnya independen, sebagaimana di-“ideal”-kan oleh ilmu-ilmu warisan abad pencerahan. Kritik generalisasi gerak acak yang berpijak pada normalitas data “ditantang” dengan kenyataan bahwa parameter-parameter statistika normal  perlu ditinjau ulang terkait temuan empiris akan sebaran statistik data-data.</p>
<p>Titik <em>ketiga,</em>perkembangan antara matematika mutakhir, dalam hal ini geometri fraktal, sebagai bentuk apresiasi baru atas berbagai warisan kebudayaan Indonesia, misalnya batik, candi, dan sebagainya. Penemuan geometri fraktal pada desain batik tradisional Indonesia merupakan sebuah titik temu yang menarik antara “yang barat” dan “yang timur”, <strong>harmoni antara yang modern dengan yang tradisional</strong>, yang seringkali justru dipertentangkan satu sama lain. Hal ini ditambah pula dengan kenyataan faktual akan kekayaan kultural yang dimiliki orang –orang di kepulauan Indonesia sebagai salah satu negeri di mana kemajemukan budaya sebagai salah satu yang tertinggi di dunia.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb4.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-425" style="border:1px solid black;" title="fb4" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb4.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Dalam pemaparannya, Hokky Situngkir menunjukkan bahwa “menggambar tiga neksus” tersebut merupakan sebuah peluang akan kebangkitan budaya Indonesia, bahkan “Renesans Indonesia” atau “Renesans Asia” dengan menilik pada tahapan-tahapan umum yang biasanya dialami banyak negara maju. Tahapan-tahapan tersebut adalah revitalisasi budaya, restrukturisasi sistem pendidikan, bangkitnya budaya baru, revolusi sains, restrukturisasi politik, dan kemudian transformasi sosial dan ekonomi yang menyebabkan pada akhirnya, mereka dikenal sebagai “negara maju”. Pada kesempatan itu pula, Hokky menunjukkan inisiatif pengumpulan data budaya ala Wikipedia di situs partisipatif ensiklopedia terbuka Budaya Indonesia: http://www.budaya-indonesia.org/ yang dibangun dengan keprihatinan bahwa sekian tahun Indonesia merdeka, belum pernah ada pencatatan yang komprehensif dan menjadi portal terpusat data-data kebudayaan tradisional Indonesia. Ironis, mengingat kepulauan Indonesia menyimpan sejuta potensi budaya tradisi yang menjadi satu elemen yang memungkinkan terwujudnya “Renesans Indonesia”.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb5.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-426" style="border:1px solid black;" title="fb5" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb5.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Diskusi diakhiri dengan tanya jawab seputar pemaparan kedua narasumber. Kebanyakan peserta diskusi membenturkan kenyataan peluang besar kebangkitan Indonesia tersebut dengan kenyataan dan realitas sosial, baik kemasyarakatan maupun birokrasi politik yang menjadi tontonan sehari-hari, yang penuh kesemrawutan dan perlu pembenahan di sana-sini. Setidaknya, benturan-benturan impian akan kebangkitan budaya Indonesia dan Asia ini diharapkan dapat menjadi pemicu yang bermanfaat tatkala kita mulai lagi memperbaiki struktur dan kultural sosial kemasyarakatan kita, tahap demi tahap, pelan tapi pasti…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/420/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=420&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/10/21/menggambar-nexus-tiga-titik-peluag-renesans-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/db111019-05e.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DB111019-05e</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">FB1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">fb2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">fb3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb4.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">fb4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/fb5.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">fb5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Passion, Kreativitas, dan Inovasi  menuntut Komunikasi dalam Interaksi!</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/10/02/passion/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/10/02/passion/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 07:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Disampaikan pada Diskusi dengan Calon Pengurus Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung (HME-ITB), 2 Oktober 2011. Tiap perusahaan menginginkan calon karyawan/staf atau pelamar kerja yang: Cerdas secara akademis, biasanya dengan standardisasi Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi. Komunikatif. Berinisiatif, Kreatif dan Inovatif serta mampu meng-akutalisasikan kreativitasnya dalam kerja nyata. Berani menghadapi tantangan kerja. Namun setelah bekerja, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=409&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#888888;"><em>Disampaikan pada Diskusi dengan Calon Pengurus Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung (HME-ITB), 2 Oktober 2011.</em></span></p>
<p>Tiap perusahaan menginginkan calon karyawan/staf atau pelamar kerja yang:</p>
<ul>
<li>Cerdas secara akademis, biasanya dengan standardisasi Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi.</li>
<li>Komunikatif.</li>
<li>Berinisiatif, Kreatif dan Inovatif serta mampu meng-akutalisasikan kreativitasnya dalam kerja nyata.</li>
<li>Berani menghadapi tantangan kerja.</li>
</ul>
<p>Namun setelah bekerja, tiap perusahaan biasanya malah menginginkan agar karyawan/staf dalam perusahaannya bertolak belakang dari semua itu,</p>
<ul>
<li>Tidak boleh <em>text-book</em>! Jadi, IPK yang tinggi sungguh tak menjamin keberhasilan di dunia kerja.</li>
<li>Jangan terlalu komunikatif, karena jika ia sangat cerdas berkomunikasi, interaksi sosialnya dengan karyawan/staf lain bisa mengancam perusahaan dengan entitas Serikat Pekerja yang sangat kuat dan bisa menekan administrasi perusahaan.</li>
<li>Tidak terlalu banyak inisiatif, dan tak boleh terlalu kreatif, karena banyak <em>job description </em>tak akan bisa terpenuhi.</li>
<li>Harus segan/takut terhadap atasan! Jangan terlalu berani menghadapi “tantangan”?!<span id="more-409"></span></li>
</ul>
<p>Sungguh ini merupakan paradoks yang agak lucu, namun merupakan kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Semakin besar sebuah perusahaan, biasanya semakin demikian kaku akan paradoks ini, namun di sisi lain, semakin tinggi jabatan seseorang di dalam struktur organisasi perusahaan, paradoksnya biasanya makin berkurang: makin tinggi posisi dan jabatan seseorang, ia dituntut untuk makin kreatif, inovatif, komunikatif, cerdas, dan keputusannya harus jitu dalam menantang keadaan – demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Namun bagaimanapun, kreativitas, inovasi, dan kemampuan mengolah tantangan merupakan kualitas-kualitas yang perlu dimiliki oleh seorang homo sapiens dalam kehidupan evolusionernya. Persoalannya adalah bagaimana ia mampu mengelola potensi kreativitasnya tersebut sesuai dengan peran dan posisinya dalam strata sosial di mana ia  hidup dan eksis.</p>
<p>Bayangkan sebuah perusahaan teknologi informasi yang ingin memasarkan inovasi produk <em>high-tech</em>-nya pada masyarakat luas yang menjadi calon konsumennya. Perusahaan tersebut bisa mengeluarkan produk-produk inovatif yang sangat berteknologi tinggi atau berteknologi standar. Namun apakah kemudian produknya tersebut laku di pasaran, tentu bergantung pada “kesiapan” pasar dalam menerima inovasi produknya tersebut. Jika masyarakat luas telah mengenal inovasi teknologi <em>high-tech </em>tersebut, maka produknya akan sangat laku di masyarakat, dan tentunya, masyarakat akan sangat menikmati produk-produk inovasi teknologi tinggi tersebut. Namun jika masyarakat ternyata belum siap menerima teknologi tersebut, maka produk inovasinya takkan mudah laku di pasaran.</p>
<p>Dalam teori permainan (<em>game theory</em>), keadaan ini biasanya dianalisis dengan menggambarkan matriks 2&#215;2 yang menunjukkan ganjaran (<em>pay off</em>) sesuai dengan ganjarannya tersebut [1, 7].</p>
<p><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-410" title="hme1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme1.jpg?w=300&#038;h=133" alt="" width="300" height="133" /></a></p>
<p>Dalam tabel di atas, produk berteknologi tinggi yang disediakan si perusahaan harus bersesuaian dengan kesiapan masyarakat calon konsumen dengan teknologi tinggi tersebut (ditunjukkan dengan masing-masing mendapat <em>point </em>“10”). Jika tidak, perusahaan akan mendapatkan kerugian dengan kesiapan teknologi masyarakat yang  tak menyambut produk <em>high tech </em>mereka, yang ditunjukkan dengan <em>point </em>“0”. Pilihan lainnya, adalah si perusahaan ogah ber-inovasi dengan teknologi tinggi dan betah saja dengan produk berteknologi lama yang standar, dan masyarakat pun ternyata harus puas dengan teknologi yang tak maksimum tersebut (ditandai dengan <em>point </em>5 untuk keduanya).</p>
<p>Permainan tersebut menuntut adanya “<strong><em>koordinasi</em></strong>” dari si perusahaan dan si masyarakat yang menjadi target pemasarannya.</p>
<p>Koordinasi <strong><em>pertama</em></strong> bisa jadi berupa <strong><em>fokus </em></strong>dengan<strong><em> passion </em></strong>masing-masing pemain akan teknologi <em>high tech</em>: masyarakatnya terdidik dengan sendirinya dengan menanti teknologi <em>high tech </em>untuk hadir di pasaran, dan perusahaan memproduksi secara independen sesuai hasil penelitan <em>high tech </em>terakhir, maka agar keduanya bisa mendapatkan ganjaran (<em>payoff</em>) maksimum. Masyarakat pencinta teknologi (para <em>geek </em>teknologi) justru menanti-nanti bahkan “berburu” produk baru <em>high-tech</em> yang muncul di pasaran, yang akan menyambut berbagai produk dari perusahaan yang hasilkan produk-produk teknologi canggih. Ada pasar, ada suplai!<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme2.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-413" title="hme2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme2.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Koordinasi <strong><em>kedua </em></strong>bisa jadi diperoleh melalui <strong><em>komunikasi</em></strong><em> </em>di antara kedua pemain. Misalnya perusahaan teknologi sebelum memasarkan produknya menggembar-gemborkan dahulu berbagai fitur baru dari teknologi <em>high tech </em>yang mereka akan tawarkan melalui media massa, dan berbagai program-program edukatifnya, sehingga masyarakat menjadi <em>aware </em>(bahkan menunggu-nunggu) produk inovatif teknologi yang akan dikeluarkan tersebut. Ini biasanya dilakukan oleh banyak korporasi besar teknologi informasi belakangan ini. Jauh hari sebelum Windows 8 resmi dikeluarkan, maka berbagai <em>review </em>dan <em>beta-release </em>dari sekuel Windows ini dikeluarkan oleh Microsoft. Demikian pula dengan iPad 3 yang belum juga ada di pasaran, pembicaraan di forum-forum (baik <em>online </em>maupun <em>offline</em>) sudah bermunculan yang tak jarang disponsori oleh Apple Inc. sendiri.</p>
<p>Ada dua ekuilibrium dari cerita di atas:</p>
<p><em>Pertama, </em>baik perusahaan maupun masyarakat luas sama-sama ogah untuk mengejar fitur <em>high tech </em>dalam teknologi yang ada di pasaran. Keduanya mendapatkan <em>point </em>“5”. Masyarakat tetap dengan teknologi yang “standar” dan perusahaan untung dengan mensuplai produk berteknologi “standar” ke pasaran.</p>
<p><em>Kedua, </em>keduanya, baik perusahaan maupun masyarakat bersiap diri dengan teknologi <em>high tech </em>yang ada, seehingga keduanya mendapatkan <em>point </em>“10”. Masyarakat menikmati teknologi canggih dan perusahaan mendapat keuntungan maksimum dengan produk unggulan terbaru.</p>
<p>Dari Teori Permainan (<em>game theory</em>) ini kita mendapatkan pelajaran penting bahwa ide/gagasan <strong><em>kreatif</em></strong> hanya bisa bertahan hidup dengan adanya <strong><em>komunikasi </em></strong>[6]<strong>. </strong>Seseorang yang kreatif dan penuh <em>passion </em>bisa saja hidup dengan “ikut arus” dengan pola pandang dan tata cara yang konvensional. Itu juga adalah satu kondisi ekuilibrium. Tapi sejarah perkembangan teknologi memberi bukti pada kita bahwa orang-orang kreatif bisa mengubah keadaan dengan progresifitas yang mendobrak berbagai cara pandang konvensional [3]. Namun yang mesti diingat adalah orang-orang kreatif tersebut harus mampu mengkomunikasikan gagasan/ide kreatifnya tersebut, sehingga orang kreatif bersangkutan mendapat tempat di hati masyarakat tempat ia berada, dan masyarakatnya  pun mendapatkan berkah akan kehadiran orang kreatif tersebut di dalamnya [5].<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme3.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-414" title="hme3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme3.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Mungkin diperlukan orang-orang kreatif yang memiliki kemampuan komunikatif yang baik untuk “memecah” kebuntuan dan ke-jumud-an paradoks yang ditunjukkan pada bagian awal dari artikel ini. Orang-orang kreatif yang cerdas diperlukan, tapi masyarakat lebih memerlukan lagi orang-orang kreatif yang mampu mengkomunikasikan gagasan dan ide kreatifnya, sehingga mampu mendorong perubahan bagi masyarakat di mana ia berada, sehingga transformasi sosial terjadi, dan dunia bisa menjadi lebih baik!</p>
<p>Tak cukup hanya sekadar <em>passion</em>, kemampuan kreatif dan komunikasi yang intensif merupkan kunci dasar dalam kolaborasi untuk mencapai kehidupan yang progresif dan lebih baik.</p>
<p><strong>Kerja Yang Disebut:</strong><br />
[1] Cooper, R. (1998). <em>Coordination Games</em>. Cambridge University Press.<br />
[2] Luce, R.D. &amp; Raiffa, H. (1957). <em>Games and Decisions: An Introduction and Critical Survey</em>. Wiley &amp; Sons<br />
[3] Khanafiah, D., &amp; Situngkir, H. (2005). “Visualizing the Phylomemetic Tree: Innovation as Evolutionary Process”. <em>Journal of Social Complexity</em> 2(2).<br />
[4] Schelling, T. (1978). <em>Micromotives and Macrobehavior</em>. Norton.<br />
[5] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. <em>The Icfai University Journal of Knowledge Management</em> 7(2):7-17<br />
[6] Olson, G. M., Malone, T. W., Smith, J B. (2001). <em>Coordination theory and collaboration technology</em>. Routledge.<br />
[7] Osborne, M. J. (2004). <em>An Introduction to Game Theory</em>. Oxford UP. pp. 23</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/409/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=409&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/10/02/passion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hme1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hme2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/10/hme3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">hme3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menuju Wawasan Kompleksitas untuk Memahami Narasi Kompleksitas Negeri</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/09/15/wawasan-kompleksitas/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/09/15/wawasan-kompleksitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 05:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[disampaikan pada Seri Diskusi I Kompleksitas di Freedom Institute, Jakarta, 14 September 2011. Versi cetak makalah dapat diunduh di: http://issuu.com/freedominstitute/docs/makalah-hokky-kompleksitas/1 dan video diskusi dapat diakses di: http://www.youtube.com/playlist?list=PL56B259EE8A6FEE21 &#8220;I am convinced that the nations and people who master the new sciences of complexity will become the economic, cultural, and political superpowers of the next century!” Heinz [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=385&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#888888;"><a href="http://www.youtube.com/playlist?list=PL56B259EE8A6FEE21"><img class="aligncenter size-medium wp-image-402" title="freedom" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/freedom.jpg?w=210&#038;h=179" alt="" width="210" height="179" /></a>disampaikan pada Seri Diskusi I Kompleksitas di Freedom Institute, Jakarta, 14 September 2011. Versi cetak makalah dapat diunduh di: <a href="http://issuu.com/freedominstitute/docs/makalah-hokky-kompleksitas/1">http://issuu.com/freedominstitute/docs/makalah-hokky-kompleksitas/1</a> dan video diskusi dapat diakses di: <a href="http://www.youtube.com/playlist?list=PL56B259EE8A6FEE21">http://www.youtube.com/playlist?list=PL56B259EE8A6FEE21</a><br />
</span></p>
<p style="text-align:right;"><em>&#8220;</em><em>I am convinced that the nations and people<br />
who master the new sciences of complexity<br />
will become the economic, cultural, and political superpowers<br />
of the next century!”</em><br />
Heinz Pagels</p>
<p> Dan seorang fisikawan kondang dan populer Stephen Hawking pun berujar, “abad ke depan ini adalah abad-nya kompleksitas”, sebagaimana dikutip sekitar sebelas tahun lalu di <em>San Jose Mercury News</em> di tahun 2000 yang lalu. Demikianlah seolah-olah genderang kemunculan perspektif baru dalam memandang dunia, kehidupan, alam, dan masyarakat di tengah masyarakat ilmu pengetahuan: ilmu-ilmu kompleksitas. Dibandingkan dengan kata “<em>simplicity</em>”, kata “<em>complexity</em>” semakin sering diungkapkan dalam berbagai literatur, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1 [25]. Ilmu pengetahuan semakin cepat melaju, bahkan dengan percepatan yang luar biasa semenjak masa Renaissance, namun ternyata, peradaban kita merasakan kompleksitas sungguh merupakan sebuah karakteristik apapun yang kita amati, lihat, dan hidupi.<span id="more-385"></span></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin1.jpg"><img class="size-medium wp-image-386 aligncenter" title="fin1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin1.jpg?w=300&#038;h=137" alt="" width="300" height="137" /></a></p>
<p>Kompleksitas dirasakan dengan pengukuran akan tingkat kesulitan <em>menggambarkan sesuatu</em> hal yang ada di semesta alam dan sosial (<em>algorithmic information complexity</em>) [3]. Lebih jauh, kompleksitas dinyatakan sebagai tingkat sulitnya <em>melakukan sesuatu</em> (<em>computational complexity</em>) [20]. Dan dengan penelaahan yang lebih dalam lagi, kita menyadari kompleksitas sebagai tingkat keteraturan dan pengorganisasian yang ada dalam sistem semesta sosial dan alam [10]. Sistem yang kita temui sehari-hari senantiasa memiliki karakteristik adaptabilitas dalam perjalanan evolusionernya. Kompleksitas tak lain merupakan bentuk seberapa sulit kita menggambarkan dan melakukan sesuatu terkait sifat keteraturan pola yang ada dalam sebuah sistem.</p>
<p>Studi kompleksitas merujuk pada sulitnya memahami semesta, dan bahkan pengukuran akan tingkat kompleksitas dari sistem yang diobservasi pun sepertinya adalah sebentuk kompleksitas pula [13]. Kesulitan terkait apa dan bagaimanakah sebenarnya hal yang disebut kompleks itu, telah pula menjadi sebuah bumerang awal, dalam perjalanan sejarah studi ilmu-ilmu kompleksitas, sebagaimana digambarkan dalam [9].</p>
<p>Ilmu-ilmu kompleksitas lahir dari sebuah kesadaran ilmu pengetahuan betapa sulitnya memahami semesta alam dan sosial; seolah tak ada satu cabang ilmu pun yang benar-benar bisa memberikan penjelasan yang terbaik akan suatu fenomena. Ada sesuatu yang keliru dengan cara disiplin ilmu memahami semesta. Bahkan penziarah pos-strukturalisme meng-elaborasi kompleksitas ini dengan membongkar fundamen dasar dari kebudayaan manusia, yakni bahasa. Bahasa dipandang sebagai konstruksi dunia hiper-real dalam struktur intertekstualitas [11]. Cara pandang ini merupakan jalan sebuah landas filosofi yang kemudian menjadi kenyataan posmodernis yang menantang segala hal yang berbentuk meta-narasi untuk kenyataan semesta alam dan sosial [14]. Pemikiran posmodernis, merupakan contoh dari sebuah bentuk pergolakan pemikiran yang sempat populer di tanah air dalam bentuk studi budaya [24].</p>
<p>Namun “kekeliruan” ilmu pengetahuan tersebut pada dasarnya ada pada cara kita menggunakan ilmu. Tradisi ilmu pengetahuan Cartessian yang mengkotak-kotakkan semesta yang diobservasi dalam kisi-kisi dan kotak-kotak kurikuler dalam cara kita melakukan observasi merupakan sumber kekeliruan tersebut. Fenomena maupun permasalahan yang ditemui seyogianya dilihat dengan melintasi peng-kotak-kotak-an sains. Ilmu-ilmu kompleksitas seyogianya merupakan “trans-ilmu”, yang melintas batas disiplin-disiplin konvensional [26]. Dalam jejak rekam evolusioner ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu kompleksitas menempatkan dunia sains (alam dan sosial) dalam kondisi kritikalnya, yang menantang kenormalan sains yang konvensional [12].</p>
<p>Mungkin demikian pulalah halnya dengan negeri kita yang memiliki banyak keunikan ini. Keunikan yang melahirkan kompleksitas dan menuntut perubahan wawasan kita atas kehidupan sosial yang ada di kepulauan Indonesia ini. Di sini, kita bermaksud mengakuisisi ilmu-ilmu kompleksitas dalam merangkai sebuah wawasan kompleksitas demi memahami narasi kompleksitas Indonesia.</p>
<p><strong>Kompleksitas: <em>from simple to chaos</em></strong><br />
Rasa ingin tahu adalah bahan bakar yang menggerakkan peradaban manusia. Kemunculan berbagai krisis dalam ilmu pengetahuan, khususnya semenjak akhir abad ke-19, telah memberikan sejumlah bahan refleksi lanjutan, untuk melihat lebih jauh ke depan. Upaya ini telah membawa manusia ke sebuah wawasan baru yang mengubah cara pandang kita dalam melihat hubungan antara kosmos (keteraturan di semesta) dan chaos (kekacau-balauan semesta). Wawasan baru ini bernama “teori chaos”. Apa arti penting teori chaos dalam melihat hubungan antara kosmos dan chaos? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja kita terlebih dahalu harus memaparkan ide dan semangat yang dibawa dalam teori chaos. Chaos memiliki keterkaitan erat dengan konsep keteraturan (harmoni) dan ketakteraturan [23, 8].</p>
<p>Pada matematika, keteraturan dianalogikan dengan sifat ekuilibrium dan periodik. Sebuah sistem dikatakan memiliki sifat ekuilibrium jika perilaku dan konfigurasi sistem tidak berubah dalam skala besar untuk rentang waktu yang lama. Sebagai contoh, jika kita memasukkan mie rebus panas ke dalam mangkuk maka mie rebus dan mangkuk akan mencapai suhu yang sama setelah beberapa waktu dan tidak lagi berubah. Suhu yang tak berubah ini dikatakan sebagai titik ekuilibrium sistem. Penarik tersebut dapat disebut sebagai titik atraktor. Pada contoh di atas, kita dapat melihat bahwa dalam kondisi ekuilibrium terdapat satu titik atraktor.</p>
<p>Sebuah sistem dikatakan periodik ketika sistem tersebut memiliki perilaku yang berubah namun memiliki pola yang berulang menurut waktu. Contoh sederhana adalah bandul atau pendulum yang diayun. Kondisi bandul dari waktu ke waktu senantiasa berubah. Namun, ia memiliki pola yang senantiasa berulang dari kiri ke kanan terus-menerus. Artinya, dalam kondisi periodik terdapat dua buah titik atraktor.</p>
<p style="text-align:left;">Sifat ketidakteraturan, yang identik dengan chaos atau kondisi tak hingga atraktor, adalah keadaan sistem yang bukan ekuilibrium dan bukan pula periodik. Salah satu karakter utama dari kondisi chaos adalah sensitif pada kondisi awal. Sifat sensitif pada kondisi awal ini menjadi faktor yang amat penting dalam menandai hadirnya chaos, sehingga keadaan ini menjadi salah satu syarat dari kondisi chaos. Hal ini berarti perbedaan kecil dalam nilai awal akan berdampak sangat besar terhadap hasil akhir. Fenomena tersebut, yang awalnya ditemukan oleh E. Lorenz di studi cuaca [21].</p>
<p><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin21.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-389" title="fin2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin21.jpg?w=300&#038;h=135" alt="" width="300" height="135" /></a></p>
<p>Dari gambar 2 kita dapat melihat bahwa perbedaan inisial yang begitu kecil (0.0001) dapat memberikan perbedaan hasil yang sangat besar. Visualisasi ini menunjukkan bahwa sifat sensitif pada kondisi awal dapat muncul dari sebuah model deterministik (dapat diketahui nilai output secara pasti berdasarkan nilai input) sederhana. Pada kasus peta logistik (nilai deterministik-nya terletak pada “jumlah populasi saat mendatang ditentukan oleh jumlah populasi saat sekarang dan parameter kontrolnya”) jika kita mengetahui jumlah populasi saat sekarang dan memiliki nilai parameter kontrol maka dengan mudah akan didapatkan jumlah populasi pada saat mendatang. Namun dengan hadirnya sifat sensitif pada kondisi awal, kemudahan dalam menentukan nilai keluaran menjadi sangat sulit atau bahkan mustahil.</p>
<p style="text-align:left;">Apakah chaos benar-benar dipenuhi oleh ketidakteraturan? Untuk menyelidiki pertanyaan tersebut, kita menggunakan sebuah koefisien buatan Aleksandr Lyapunov, yang menghitung seberapa besar perbedaan yang muncul akibat perbedaan kecil setelah melalui sejumlah iterasi tertentu. Secara formal, ia menghitung perbedaan awal setelah melalui tak-hingga iterasi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika koefisien Lyapunov lebih besar dari nol maka sistem memiliki sifat sensitif pada kondisi awal, yang artinya berada dalam kondisi chaos. Sebaliknya, jika koefisien Lyapunov kurang dari nol berarti tidak sensitif pada kondisi awal dan berada dalam kondisi teratur [21].</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin31.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-390" title="fin3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin31.jpg?w=300&#038;h=231" alt="" width="300" height="231" /></a></p>
<p>Lalu, apakah chaos benar-benar dipenuhi oleh ketidakteraturan? Jawabannya tidak! Pada fasa chaos, ada kondisi tertentu ketika sistem justru stabil atau koefisien Lypunov-nya negatif. Artinya, dalam sistem yang chaos sekalipun, terdapat sifat keteraturan. Kenyataan adanya keteraturan (kosmos) dalam chaos memberikan sejumlah harapan. Di tengah turbulensi yang kacau-balau, pada dasarnya terdapat beberapa hal yang memiliki pola-pola sederhana yang teratur bahkan stabil.</p>
<p>Teori chaos merupakan salah satu penemuan penting yang dapat menjadi faktor kunci dalam melihat hubungan antara kosmos dan chaos. Ia telah memberikan sebuah wawasan baru. Sebagaimana telah diulas di atas, teori ini telah menunjukan terjadinya keteraturan di dalam kondisi chaos. Artinya, kosmos (harmoni atau keteraturan) dan chaos bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Kosmos dapat dilahirkan dari dalam chaos.</p>
<p>Sebagai warisan abad pencerahan, cara ilmu modern menggunakan ilmu pengetahuan adalah melihat kosmos dan chaos sebagai dua konsep yang seolah-olah bertolak belakang satu sama lain. Kita mencari keteraturan berpola dalam sistem (kosmos) dan menghindari apa-apa yang tak teratur (chaos). Irasionalitas, carut-marut geometri dalam ruang non-Euclidean, paradoks logika, ketidaklengkapan dan ketidakkonsistenan pada formalisme matematika serta berbagai ketidakharmonian lainnya kemudian dipandang sebagai sebuah bentuk kekacauan.</p>
<p>Teori chaos telah menunjukkan sebuah jalan keluar baru. Kekacauan atau krisis tersebut semata-mata terjadi karena selama ini kita melihat kosmos dan chaos sebagai dua konsep yang bertolak belakang satu sama lain. Upaya ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena pada dasarnya, ia adalah sebuah kesatuan utuh.  Kehidupan yang kompleks berada di antara kondisi chaos dan kosmos.</p>
<p><strong>Kompleksitas: Indahnya keberagaman</strong><br />
Sistem sosial terdiri terdiri atas individu-individu yang menyusun sistem sosial tersebut. Tiap-tiap individu tentulah sangat unik. Masing-masing manusia memiliki keinginan sendiri, sifat-sifat sendiri, dan memiliki cita-cita sendiri. Jika kita mencoba berandai-andai bahwa kita bisa mengetahui semua sifat dan hal-hal inheren dalam diri tiap manusia yang menyusun sebuah masyarakat, apakah kita akan bisa menebak seperti apa kira-kira sifat masyarakat tersebut? Inilah sebabnya mengapa sistem sosial harus dianggap sebagai sistem kompleks, karena terdapat hubungan makro-mikro dalam level-level hirarkis masyarakat tersebut.</p>
<p>Dalam sistem yang kompleks, kita telah melihat bahwa keteraturan hanya bisa diamati pada level lokal. Satu aktor sosial berinteraksi dengan aktor sosial lain sedemikian sehingga menghasilkan kondisi dengan banyak ekuilibria sebagaimana didiskusikan pada bagian sebelumnya. Dalam sistem yang kompleks ini, interaksi antar aktor/elemen sosial merupakan kunci dan menjadi sumber kompleksitas sosial. Kompleksitas senantiasa meningkat seiring dengan makin pentingnya interaksi dan saling berhubungannya antar elemen.</p>
<p>Dalam sistem sosial, komponen penyusunnya adalah individu-induvidu manusia. Dengan  kata lain kita tidak akan dapat mengetahui sifat sistem sosial hanya dengan pengetahuan yang lengkap tentang sifat-sifat dari tiap agen penyusun sistem sosial tersebut. Hal ini karena interaksi antara agen penyusun sistem sosial menghasilkan pola lain yang membrojol (<em>emerged</em>) dalam sistem. Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa faktor membrojol adalah efek dalam skala besar dari agen-agen yang berinteraksi secara lokal di dalam sistem [1]. Efek ini tak linier, dan tak bisa diduga dengan semata-mata pengamatan dan kesimpulan apriori. Dari sinilah kita bisa mengatakan bahwa sifat kolektif dari sebuah komunitas adalah sama dengan sifat individual agen Å bentuk interaksi di antara mereka. Jadi, meskipun sistem sosial merupakan sistem yang dibentuk oleh komponen sosial (individu), sistem sosial tidak bisa direduksi ke dalam sifat-sifat dan hukum-hukum yang berlaku secara lokal pada individu [18].</p>
<p style="text-align:left;">Gambar 4 menunjukkan bagaimana analisis pada level makro memiliki hubungan dengan analisis pada level mikro. Pada level makro, kita bisa mengatakan misalnya bahwa sebuah perilaku sosiologis S<sub>1</sub>x menyebabkan perilaku sosiologis S<sub>2</sub>x, dengan x adalah bentuk komunitas atau masyarakat yang terlokalisasi sedemikian rupa untuk memudahkan analisis. Baik S<sub>1</sub>x dan S<sub>2</sub>x harus diingat terjadi oleh interaksi yang acak oleh individu-individu yang menyusunnya (misalkan I<sub>1</sub>x, I<sub>2</sub>x, …I<sub>n</sub>x).</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-391" title="fin4" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin4.jpg?w=300&#038;h=81" alt="" width="300" height="81" /></a></p>
<p>Koordinasi antara aktor-aktor sosial ini membentuk pola-pola sebagaimana yang dianalisis dalam perspektif sosiologis. Bagaimana aktor-aktor saling berinteraksi membentuk apa yang diukur secara makro, mulai dari besaran-besaran sederhana seperti berbagai variable ekonomi hingga berbagai hal yang kompleks seperti norma, nilai, hingga kebudayaan [2].</p>
<p>Pola-pola makro yang kompleks, seperti halnya sistem nilai, norma, dan kebudayaan ini menghasilkan apa yang dikenal dengan “kecerdasan kolektif”. Lanskap geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menunjukkan hal ini dengan begitu tingginya keberagaman etnografi yang ada di tanah air. Proses kreatif yang muncul secara kolektif lahir dari diversitas individu-individu yang beragam, yang menjadi elemen penyusun sistem sosial tersebut.</p>
<p>Keanekaragaman hayati dan perbedaan merupakan sebuah hal yang merupakan sebuah hal yang sangat penting dalam proses evolusi makhluk hidup. Hal ini diperkuat dengan penemuan adanya gen sebagai pembawa sifat hereditas dalam satu variasi makhluk hidup, termasuk manusia. Satu persen perbedaan genetika antara simpanse dengan manusia telah memberi begitu banyak kemampuan dalam perkembangan hidup manusia dibandingkan dengan primata tersebut. Perbedaan kecil dalam struktur genetika tersebut telah memampukan manusia memiliki sebuah alat pertahanan yang paling hebat bagi manusia dalam mempertahankan diri dari berbagai predator di alam, mulai dari yang berukuran raksasa hingga yang berukuran bakteri bahkan virus. Manusia memiliki bahasa yang memungkinkan adanya komunikasi, pertukaran pikiran,</p>
<p>Secara evolusioner, manusia merupakan makhluk yang sangat lemah dibandingkan dengan predatornya. Rambutnya tidak selebat rambut simpanse. Namun meski tak semua orang bisa menjahit pakaiannya sendiri untuk menahan dingin dengan rambut yang tipis, interaksi dapat terjadi di antara manusia sehingga seorang petani dapat bertukar padi dengan baju melalui sistem ekonomi. Jika seorang manusia jatuh sakit, maka ia dapat mengkomunikasikan penyakitnya pada rekannya, ia dapat mengunjungi dokter yang dibantu oleh para suster untuk mengobati penyakitnya tersebut. Sistem bahasa melahirkan budaya yang akhirnya menempatkan simpanse di salah satu kandang di kebun binatang dan manusia dapat berkunjung ke sana untuk rekreasi. Bahasa, bahkan telah menjadikan fakta yang dikemukakan oleh Charles Darwin tentang perkembangan makhluk hidup di planet bumi, yakni proses evolusi, menjadi teori yang penuh dengan skandal [19] sebagaimana yang sering kita dengar [6].</p>
<p>Keanekaragaman, diversitas, perbedaan – tak cuma di level spesies, tapi juga variasi, bahkan perbedaan genetik antara dua saudara kembar sekalipun di antara satu spesies adalah fakta yang ditunjukkan melalui proses evolusi. Tantangan perkembangan teori tentang evolusi makhluk hidup, saat ini bahkan sedang berupaya untuk menerangkan bagaimana keanekaragaman handphone yang kita pakai sehari-hari sebagai bentuk proses evolusioner [23]. Perkembangan secara gradual dari level genetis bahkan hingga kultural,  dari keanekaragaman hayati, telah memberi kenyataan tentang berbagai makhluk hidup yang dapat kita saksikan saat ini dan bagaimana manusia sebagai pemimpin (khalifah dan mahkota makhluk/ciptaan) di planet ini.</p>
<p>Sebagaimana ditunjukkan dalam [16], perbedaan di antara individu-individu di dalam satu kelompok dapat menghasilkan sesuatu yang lebih daripada satu kelompok yang isinya homogen cara berfikir dan preferensinya. Sekumpulan orang dapat menjadi bijaksana/cerdas jika tersusun atas orang-orang yang individunya cerdas atau secara kolektif berbeda satu sama lain. Ini merupakan sebuah satu kenyataan yang menunjukkan bagaimana perbedaan di antara elemen-elemen penyusun sistem dapat menguatkan sebuah kelompok.</p>
<p><strong>Kompleksitas: Memecah batas untuk emanisipasi sains</strong><br />
Dari diskusi kita pada di bagian sebelumnya, kita menyadari bahwa ilmu sosial berbasis kompleksitas merupakan bentuk emanisipasi kajian sosial dari berbagai ideologi yang seringkali memberikan bias dalam konstruksi teori sosial [4]. Tiap proposisi dari kajian sosial tak boleh bersandar pada keadaan ideal atas sesuatu. Proposisi perlu lahir dari ekstraksi informasi yang direfleksikan dari data. Namun sistem sosial tak seperti sistem di alam, yang mudah untuk melakukan berbagai eksperimentasi data.</p>
<p>Sebuah atom oksigen di London dengan sebuah atom oksigen di Balikpapan mungkin sama. Formalisme kimiawi dan kuantum di Tokyo sama saja dengan formalisme di Cimahi. Kita <strong>bisa </strong>membangun reaktor nuklir di Sendai sama saja dengan kita <strong>bisa </strong>membangun reaktor yang sama di Blitar. Tapi apakah jika kita <strong>bisa </strong>sudah pasti kita <strong>boleh </strong>dan <strong>mungkin </strong>membangunnya dengan situasi yang sama? Tentu tidak semudah itu, karena begitu kita berbicara soal kemungkinan dan keboleh-tidak-an, kita sudah bersentuhan dengan ilmu tentang manusia, soal humaniora.</p>
<p>Manusia menyusun sistem sosial dan masyarakat bukanlah atom-atom yang menyusun molekul-molekul. Manusia memiliki derajat kebebasan yang sama sekali lain dengan derajat kebebasan sebuah atom. Interaksi antar atom mungkin dapat kita formalisasikan, namun akan sangat jauh lebih sulit memformalkan interaksi antara manusia yang menghasilkan faktor-faktor makro seperti kemiskinan, pengangguran, lonjakan harga saham, norma sosial, dan sebagainya. Analisis statistika tradisional menghitung faktor-faktor yang muncul, sedemikian namun tanpa ada pemikiran dan asumsi bahwa manusia itu memiliki tingkat kecerdasan (<em>zero intelligence</em>). Fluktuasi elastisitas logam mungkin memiliki gambar grafik yang mirip dengan fluktuasi rupiah. Namun molekul-molekul  penyusun logam tidak berfikir, sebagaimana manusia berfikir dan memiliki kesadaran.</p>
<p>Atom di Amerika dengan atom di Indonesia mungkin sama, tapi manusia di Indonesia dengan manusia di Amerika sangat tidak sama. Secara fisiologis manusia di manapun memiliki rambut, kepala, dan struktur tubuh yang memiliki kemiripan, namun kemiripan fisiologis atau biologis tak menjamin kesamaan kultural, norma sosial, dan sistem nilai masyarakatnya. Dengan landasan inilah kita berpijak bahwa analisis sistem sosial yang berhasil dengan baik di Eropa, adalah naif jika langsung ditelan bulat-bulat oleh kalangan pencinta ilmu sosial di Indonesia.</p>
<p>Ilmu sosial harus bersifat lokal. Ini merupakan konsekuensi dari ketidakmungkinan manusia memperoleh penjelasan umum tentang ilmu sosial (<em>metanarasi</em>) sebagaimana diyakini oleh beberapa sosiolog kontemporer. Karena sistem sosial di berbagai tempat di dunia ini terjadi dengan kondisi awal (<em>initial condition</em>) yang tidak sama dan berbeda-beda secara geografis, klimatologis, dan sebagainya, sistem sosial yang hidup di berbagai tempat itu masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda pula. Inilah yang menyebabkan konstruksi ilmu sosial itu harus dibuat dari bawah ke atas (<em>bottom-up</em>) – harus dari agen-agen yang berinteraksi satu sama lain secara lokal, membentuk faktor sosial yang kemudian kita identifikasi secara makro.</p>
<p>Secara umum, kita melihat sistem sosial yang ada sebagai sistem yang teratur. Ada norma-norma dan moralitas yang berkembang dalam masyarakat luas yang mengatur hidup dan berkelanjutannya sistem sosial tersebut. Namun secara mikro, kita tentu akrab dengan perselisihan antar individu di dalam masyarakat. Kita mengenal dendam antara satu individu yang satu dengan yang lain. Kita terbiasa dengan kejahatan dan perbuatan kriminal antara satu orang dengan orang yang lain. Berbagai gejolak sering terjadi secara mikro, namun secara makro masyarakat terlihat begitu teratur. Contoh yang lebih riil mungkin adalah kondisi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa, Indonesia terdiri atas berbagai macam suku dan agama yang jelas tak sama. Ada heterogentitas yang inheren dalam struktur sosial masyarakat di Indonesia. Namun secara makro, jelas terlihat bahwa Indonesia adalah satu kesatuan yang memiliki keteraturan dalam kesatuan itu. Bagaimana kondisi heterogen dalam dunia mikro (inividual) bisa menghasilkan kondisi global makro yang teratur dalam masyarakat? [7]</p>
<p>Keteraturan dalam sistem sosial adalah hal yang kita lihat sebagai sebuah faktor yang dihasillkan dari interaksi antar indiviual di dalam sistem sosial tersebut. Sistem ini memiliki regularitas yang kita lihat sebagai pandangan makro. Jika ada 4 individu dalam sebuah masyarakat, katakanlah a,b,c,d di dalam sistem sosial X. Apakah karakter dari sistem sosial X adalah penjumlahan (kualitatif atau kuantitatif) dari tiap individualnya (a+b+c+d)? Tentu tidak. Jika a,b,c, dan d adalah pencuri, maka apakah anggota komunitas pencuri X, akan saling mencuri barang masing-masing? Apakah a akan mencuri milik b, dan b akan mencuri milik c, dan c akan mencuri milik a, sementara  mencuri milik b? Jawabannya tentu tidak sederhana, karena X haruslah merupakan faktor yang merupakan produk dari interaksi sosial, bukan sekadar penjumlahan yang sederhana. Itulah letak kompleksitas di dalam ilmu sosial. Inilah kerumitan yang harus diatasi bagi setiap ilmuwan sosial di manapun.</p>
<p>Antara anggota masyarakat X, yakni a,b,c, dan d, terdapat interaksi satu sama lain. Interaksi ini bisa merupakan pertemanan, persekongkolan, komunikasi biasa, atau apapun. Interaksi ini menjadi penghubung antar mereka satu sama lain. Interaksi inilah yang menghasilkan faktor sosial yang menjadi karakteristik masyarakat X.</p>
<p>Dari pemikiran ini, kita bisa melihat bahwa sosiologi memang harus dibangun dari bawah ke atas sedemikian sehingga kita bisa memberikan analisis yang integratif di dalam sosiologi tersebut. Mengutip Epstein &amp; Axtell [7],</p>
<p style="text-align:center;">“…apa yang membentuk sebuah penjelasan terhadap penelitian sebuah fenomena sosial? Mungkin suatu saat sosiolog akan menerjemahkan pertanyaan, ‘dapatkah kamu menjelaskannya?’, dengan pertanyaan, ‘dapatkah kamu mensimulasikannya?’…”</p>
<p><strong>Catatan Penutup</strong><br />
Masa depan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan saat ini menjadi jauh terkembang. Kompleksitas telah memperindah wajah ilmu sosial. Kita tentu tidak lagi berharap bagaimana ilmu ekonomi akan berkembang, atau sosiologi akan memperoleh inovasi, atau bahkan psikologi akan bergerak maju, dalam pengertian-pengertian klasik ilmu-ilmu tersebut. Dengan kata lain, dalam tataran ilmu, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan seterusnya tidak akan berkutat dalam batasan-batasan obyek penelitian mereka lagi, karena ilmu kompleksitas telah memberikan kesempatan untuk insaf, bahwa ilmu sosial membahas obyek yang kompleks yakni manusia dan lingkungan hidupnya. Manusia tidak boleh terkotak-kotak dalam sosiologi, psikologi, antropologi, ekonomi, dan seterusnya. Kompleksitas dalam ilmu sosial mengajak semua elemen ilmu sosial tradisional untuk merubah paraigmanya akan fenomena sosial yang selama ini dihadapi. Inilah yang disebut sebagai ruang inter-disipliner ilmu. Ruangan ini memang sangat interdisipliner, karena jika mungkin, ilmu sosial pun bersilaturahmi dengan ilmu-ilmu alam seperti biologi, fisika, kimia, dan seterusnya.</p>
<p>Ilmu tidak boleh terpisah dari obyek yang hendak diamatinya. Ilmu harus timbul sebagai solusi akan permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Ilmu tidak boleh menciptakan permasalahan. Ilmu harus dapat menjawab pertanyaan dan permasalahan. Secara konsisten, ilmu sosial harus menjawab tantangan permasalahan sosial, bukan menjadi permasalahan sosial.</p>
<p>Dengan inilah kita memiliki wawasan ilmu yang baru dalam ilmu sosial kita, relatif terhadap pendekatan ilmiah warisan abad pencerahan. Sebuah pendekatan dari berbagai sudut pandang ilmu untuk mendekati fenomena-fenomena sosial harus dibuka selebar-lebarnya untuk menjawab berbagai kebuntuan sosiologis dan psikologis yang kita hadapi hari ini. Ruang inter-disipliner ini membuka peluang kepada survey dan observasi fenomena sosial sama besarnya dengan ruang laboratorium komputasional dan teknologi untuk melihat, menganalisis, dan mengkonstruksi solusi bagi berbagai permasalahan sosial. Dari sinilah kita akan mencoba mengeksploitasi wawasan kompleksitas untuk lebih jauh memahami narasi kompleksitas Indonesia…</p>
<p><strong>Karya-karya yang Disebutkan:</strong><br />
[1] Axelrod, R. (1997).<em> The Complexity of Cooperation: Agent-Based Models of Competition and Colaboration</em>. Princeton UP.<br />
[2] Axtell, R. Eipstein, J. M., Young, H. P. (2000). <em>The Emergence of Classes in a Multi-Agent Bargaining Model. Center on Social and Economic Dynamics</em> Working Paper No. 9.<br />
[3] Chaitin, G.J. (1977). “Algorithmic information theory”. <em>IBM Journal of Research and Development </em>21 (4):350-359.<br />
[4] Craib, I. (1984). <em>Modern Social Theory &#8211; from Parsons to Habermas</em>, Harvester-Wheatsheaf.<br />
[5] Darwin, C. (1860). <em>On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life</em>. John Murray.<br />
[6] Dawkins, R. (1976). <em>The Selfish Gene</em>. Oxford UP.<br />
[7] Epstein, J.M., &amp; Axtell, R. (1996). <em>Growing Artificial Societies: Social Science from the Bottom Up</em>. The Brookings Institution Press &amp; MIT Press.<br />
[8] Gleick, J. (1988). <em>Chaos: Making a New Science</em>. Penguin.<br />
[9] Horgan, J. (1997). <em>The End Of Science: Facing The Limits Of Knowledge In The Twilight Of The Scientific Age</em>. Broadway Books.<br />
[10] Kolmogorov, A. N. (1965). &#8220;Three approaches to the quantitative definition of information&#8221;. <em>Problems of Information Transmission</em> 1(1): 1-11.<br />
[11] Kristeva, J. (1980). <em>Desire in Language: A Semiotic Approach to Literature and Art</em>. Columbia University Press.<br />
[12] Kuhn, T. (1962). <em>The Structure of Scientific Revolutions</em>. University of Chicago Press.<br />
[13] Lloyd, S. (2001). &#8220;Measures of Complexity: A Nonexhaustive List&#8221;. <em>IEEE Control System Magazine</em> 21 (4): 7-8.<br />
[14] Lyotard, J.-F. (1984). <em>The Postmodern Condition: A Report on Knowledge</em>. Geoff Bennington &amp; Brian Massumi (trans.). University of Minnesota Press.<br />
[15] Mandlebrot, B. (1983). <em>The fractal geometry of nature</em>. W.H. Freeman.<br />
[16] Page, S. E. (2007). <em>The Difference: How the Power of Diversity Creates Better Groups, Firms, Schools, and Societies</em>. Princeton UP.<br />
[17] Sawyer, R. K. (2002). “Nonreductive Individualism: Part I – Supervenience and Wild Disjunction”, <em>Philosophy of the Social Sciences</em> 32 (4): 537-559, Sage Publications.<br />
[18] Sawyer, R. K. (2003). Artificial Societies: Multiagent Systems and Micro-Macro Link in Sociological Theory, dalam <em>Sociological Methods &amp; Research</em>, 31 (3). Sage Publications.<br />
[19] Sagan, C. (2002). <em>Cosmos</em>. Random House.<br />
[20] Sanjeev, A. &amp; Barak, B. (2009). <em>Computational Complexity: A Modern Approach</em>. Cambridge UP.<br />
[21] Schuster, H. G. (1995). <em>Deterministic Chaos: An Introduction</em>. Wiley-VCH.<br />
[22] Situngkir, H. (2003). &#8220;Cultural Studies through Complexity Studies&#8221;.<em> BFI Working Papers series</em> WPM2003.<br />
[23] Situngkir, H., Y. Surya. (2008). <em>Solusi Untuk Indonesia: Prediksi Kompleksitas/ekonofisik</em>. Kandel.<br />
[24] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. <em>The Icfai University Journal of Knowledge Management</em> 7(2):7-17<br />
[25] Situngkir, H. (2011). <em>Kisah Evolusi Budaya Manusia</em>. Publikasi online di: <a href="http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/17/kisah-evolusi-budaya-manusia/">http://kopisantan.wordpress.com/2010/12/17/kisah-evolusi-budaya-manusia/</a><br />
[26] Waldrop, M. (1992). <em>Complexity: The Science at the Edge of Order and Chaos</em>. Touchstone.</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://qact.wordpress.com/2011/09/15/wawasan-kompleksitas/"><img src="http://img.youtube.com/vi/Fp8VAUSPqYo/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=385&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/09/15/wawasan-kompleksitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/freedom.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">freedom</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fin1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fin2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin31.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fin3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/fin4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fin4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunikasi demi memicu Kreativitas</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/09/09/koordinasi/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/09/09/koordinasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 17:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[Disampaikan pada UB’s Week 2011, Universitas Bakrie Jakarta, 9 September 2011 Life is like a game of cards. The hand you are dealt is determinism; the way you play it is free will. -Jawaharlal Nehru Sesederhana-sederhananya hidup di dunia kampus, tak kurang kompleks di bandingkan dengan kehidupan profesional dan kehidupan masyarakat luas. Entahlah, ini bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=370&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="color:#888888;"><em><img class="size-thumbnail wp-image-382" title="ubsweek" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/ubsweek.jpg?w=150&#038;h=122" alt="" width="150" height="122" /></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#888888;"><em>Disampaikan pada UB’s Week 2011, Universitas Bakrie Jakarta, 9 September 2011</em></span></p>
<p style="text-align:right;"><em>Life is like a game of cards. </em><br />
<em>The hand you are dealt is determinism; </em><br />
<em>the way you play it is free will.</em><br />
<em>-Jawaharlal Nehru</em></p>
<p>Sesederhana-sederhananya hidup di dunia kampus, tak kurang kompleks di bandingkan dengan kehidupan profesional dan kehidupan masyarakat luas. <em>Entahlah</em>, ini bisa dianggap sebagai berita buruk atau berita baik bagi para mahasiswa. Kehidupan itu kompleks, dan kadang-kadang menggoda pikiran untuk menganggap banyak fenomena di dalamnya sebagai sebuah kebetulan, ke-<em>random­-</em>an, bahkan keajaiban. Tiap manusia memiliki kehendak bebas (<em>free will</em>) untuk menentukan apa dan bagaimana ia menjalani hidup. Manusia membentuk masyarakat. Tiap masyarakat pun sebagaimana seorang manusia, juga memiliki kehendak bebas untuk menentukan bagaimana ia mengorganisasi diri, membentuk dan menentukan sistem nilai, norma, dan tradisi masyarakatnya. Masyarakat membentuk negara. Tiap negara juga, pada hakikatnya, memiliki kemerdekaan pula menentukan nasibnya sendiri. Negara, masyarakat, dan manusia, ketiganya tak lebih kompleks atau lebih sederhana satu sama lain!<span id="more-370"></span></p>
<p>Salah satu perangkat yang sering digunakan dalam memahami bagaimana satu manusia yang kompleks itu mengambil keputusan dan berperilaku adalah “teori permainan” (<em>game theory</em>). Bagaimana manusia bertindak-tanduk dilihat sebagai “permainan”. Dengan menganggap dinamika perilaku manusia sebagai bentuk permainan diharapkan dapat memberikan kesederhanaan perspektif, sehingga ilmu pengetahuan dapat memberikan kontribusi nyata, bagaimana kita menjalani hidup yang demikian kompleks tersebut.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/11.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-372" title="1" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/11.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Melalui Teori Permainan ini, telah begitu banyak fenomena sosial dapat diterangkan, dan lebih jauh lagi, ia memberikan <em>insight </em>yang baik dan komprehensif tentang bagaimana kita menyikapi kompleksitas dalam hidup bermasyarakat, mulai dari fenomena terkait persaingan antar negara, proses pemilihan  dan voting, konflik dan dilema sosial, pasar modal, hingga interaksi dinamis antara dua orang kekasih. Salah satu hal terpenting yang bisa dipelajari dari gagasan Teori Permainan yang matematis ini adalah hal terkait koordinasi dalam kehidupan sosial.</p>
<p>Bayangkan sepasang kekasih yang masing-masing memiliki kesukaan yang berbeda. Suatu malam mereka berdua di hadapkan pada sebuah pilihan yang sulit: si lelaki ingin menonton pertandingan sepak bola yang telah lama ia tunggu-tunggu, sementara si perempuan ingin ikut <em>night sale</em> yang penuh diskon di mall, yang juga telah lama ia tunggu-tunggu. Yang jelas, keduanya saling mengharapkan kekasihnya ikut dan hadir bersamanya di kala ia menikmati hal yang disenanginya tersebut. Pertandingan sepak bola menjadi makin seru bagi si lelaki, jika kekasihnya ada di sebelahnya menonton bersama. Si perempuan juga akan sangat senang sekali jika kekasihnya menyertainya di acara <em>night sale </em>tersebut [1].</p>
<p>Kita tentu bertanya, siapa yang sebaiknya mengalah? Sudah jelas, bahwa baik si perempuan maupun si lelaki menginginkan kekasihnya ada di sampingnya tatkala menikmati hal yang disenanginya. Matematikawan John Nash, yang meraih hadiah Nobel Ekonomi 1994 menunjukkan bahwa dalam tiap pilihan-pilihan dalam interaksi (konflik) sosial, senantiasa dapat dicari kondisi ekuilibrium: yaitu kondisi ketika tiap pihak telah memilih satu strategi/pilihan, dan tak ada pihak yang mendapat perolehan lebih baik melalui perubahan strategi/pilihannya saat pihak lain tak mengubah strategi/pilihannya [7]. Dalam kasus sepasang kekasih tadi, kita mengetahui bahwa ekuilibrium Nash-nya ada dua, yaitu:</p>
<ul>
<li>Keduanya menonton sepak bola bersama</li>
<li>Keduanya pergi ke night sale bersama</li>
</ul>
<p>karena jika tidak, keduanya akan menjadi sendiri, dan hubungan mereka bisa jadi terancam.</p>
<p>Sungguh repot membayangkannya, jika keduanya mendiamkan saja atau memendam apa yang mereka inginkan, atau jika keduanya malah menghindari percakapan tentang apakah mereka mau menonton sepakbola atau ke <em>night sale</em> pada malam yang dinanti itu. Oleh para matematikawan disebut sebagai kondisi “permainan koordinasi” (<em>coordination game</em>). Ada dua kunci utama dalam menyelesaikan hal ini, yaitu:</p>
<p>1. Fokus pada bagaimana agar hubungan keduanya tetap langgeng.</p>
<p>Hal ini mirip seperti dua orang yang sedang janjian untuk bertemu di kota Bandung, sangat mungkin mereka bertemu di tempat yang keduanya saling tahu karena keterkenalan tempatnya, misalnya: di Bandung Indah Plaza. Dalam kasus ini, kedua kekasih tadi bisa jadi saling menekan keinginan akan hobi masing-masing. Si lelaki tak menonton bola, si perempuan tak jadi ke <em>night sale</em>, dan keduanya “berdamai” saja dengan menonton bioskop saja berdua.</p>
<p>2. Komunikasi dan resiprokalitas.</p>
<p>Jika keduanya berkomunikasi, maka keduanya akan saling terbuka dan jujur akan dua kesenangan yang berbeda itu. Mereka membicarakan dan saling menimang-nimang mana yang mereka pilih, apakah si perempuan yang mengalah atau si lelaki yang mengalah. Dengan komunikasi, maka diharapkan ada satu pihak yang mungkin bisa mengalah. Misalnya, si perempuan mengalah dengan syarat si lelaki mau ke <em>night sale </em>di waktu yang lain, atau bisa pula sebaliknya.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/21.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-373" title="2" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/21.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Sungguh menarik mengetahui bahwa ternyata, “permainan” serupa ini pada dasarnya merupakan abstraksi yang juga terjadi di banyak kasus dalam banyak hal yang “lebih serius”, misalnya keputusan manajerial pemasaran untuk menawarkan sebuah produk baru di tengah kompetisi dengan perusahaan lain yang juga memiliki kesamaan produk, pola investasi, hingga hubungan antar negara. Tentu saja tingkat kerumitan pemetaan permasalahannya berbeda-beda, namun yang jelas, tipologi “permainannya” adalah “Permainan Koordinasi” ini.</p>
<p>Inti dari cerita ini adalah bahwa ada 2 hal yang terpenting yang mesti kita pegang dalam menghadapi koordinasi sosial yang ada: fokus dan komunikasi. Fokus pada apa yang kita kerjakan dan pelajari merupakan satu hal. Yang seringkali alpa dalam banyak keputusan individual adalah komunikasi. Keengganan mengkomunikasikan apa yang kita inginkan bisa berakibat buruk pada interaksi sosial. Di antara dua pihak yang saling berkompetisi di mana konflik keduanyamenentukan koordinasi sosial, komunikasi adalah satu hal yang utama.</p>
<p>Komunikasi dan resiprokalitas dalam interaksi sosial bahkan bisa membantu menajamkan fokus akan interaksi sosial yang kita hadapi. Dan di masa kini dan di masa depan, teknologi telah sangat membantu umat manusia untuk lebih intensif dalam berkomunikasi dalam interaksi sosialnya. Teknologi web 2.0 <em>a la </em>wikipedia, Facebook, Twitter, telah sangat membantu fokus yang dilakukan oleh <em>Indonesian Archipelago Cultural Initiatives </em>(IACI) dalam mengumpulkan data-data kebudayaan Indonesia yang luar biasa banyaknya, di tengah lanskap kepulauan yang luar biasa luas bentangannya [5]. Sulit untuk membayangkan di tengah derasnya budaya global yang ada saat ini, kita bisa membentuk sistem basis data budaya Indonesia yang sedemikian banyaknya.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/31.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-374" title="3" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/31.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Untuk apakah sebenarnya basis data Budaya Indonesia itu? Basis data yang lengkap akan budaya Indonesia akan menjadi sebuah media “komunikasi” antar pekerja kreatif di Indonesia. Dengan basis data batik, misalnya, yang ada saat ini, riset Fisika Batik [4] telah menghasilkan berbagai <em>insight </em>penting, mulai dari pemetaan batik [2] hingga konstruksi motif batik modern kontemporer yang tidak menghilangkan nuansa tradisional dan esensial dari geometri batik tersebut. Lebih jauh, bayangkan saja misalnya seorang pekerja songket di Jambi yang <em>browsing </em>ribuan data batik Jawa, maka berbagai ide kreatif dan inovatif untuk menghasilkan songket baru akan dapat dilakukan. Bukan hanya itu saja, dari basis data yang ada tersebut, maka berbagai pekerja kreatif dan inovatif non tekstil, dapat ter-inspirasi dengan berbagai keindahan motif yang tersimpan dalam batik se-nusantara.</p>
<p>Masa kini bangsa-bangsa memperebutkan sumber daya alam, namun di masa depan, bangsa-bangsa akan saling memperebutkan sumber daya kreativitas manusia. Hari ini, makin sering kita dengar berbagai “keributan” tentang Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), yang menunjukkan bahwa kreativitas bahkan inovasi tradisional makin menunjukkan maknanya dalam kehidupan sosial ekonomi modern di masa yang akan datang [6].</p>
<p>Apa yang bisa kita pelajari melalui diskusi ini? Komunikasi merupakan unsur terpenting dalam segenap kehidupan modern manusia, dan makin menunjukkan arti pentingnya di masa yang akan datang dengan kehadiran berbagai teknologi <em>mobile </em>yang mendorong komunikasi. Di masa yang akan datang, tak ada kehidupan profesional yang akan  bisa diepaskan dari komunikasi. Karena terbukti, komunikasi bahkan bisa mendorong fokus kerja kita (satu unsur penting lain dalam “permainan” koordinasi sosial), bahkan lebih jauh memberikan peluang yang lebih jauh lagi bagi kreativitas dan inovasi kita. Masa depan adalah masanya kreativitas dan inovasi, dan teknologi komunikasi kita hari ini sedang mempersiapkan jalan untuk itu!<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/42.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-375" title="4" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/42.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p><strong>Kerja Yang Disebut:</strong><br />
[1] Luce, R.D. &amp; Raiffa, H. (1957). <em>Games and Decisions: An Introduction and Critical Survey</em>. Wiley &amp; Sons<br />
[2] Khanafiah, D., &amp; Situngkir, H. (2009). “Memetics of Ethno-Clustering Analysis”. <em>Journal of Social Complexity</em> 4(1): 18-25<br />
[3] Schelling, T. (1978). <em>Micromotives and Macrobehavior</em>. Norton.<br />
[4] Situngkir, H. &amp; Dahlan, R. M. (2009). <em>Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia</em>. Gramedia Pustaka Utama<br />
[5] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-XII-2008. Bandung Fe Institute<br />
[6] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. <em>The Icfai University Journal of Knowledge Management</em> 7(2):7-17<br />
[7] Osborne, M. J. (2004). <em>An Introduction to Game Theory</em>. Oxford UP. pp. 23</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/370/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=370&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/09/09/koordinasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/ubsweek.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ubsweek</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/11.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/21.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/31.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/42.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adakah Kebudayaan Sumatera Utara itu?</title>
		<link>http://qact.wordpress.com/2011/09/06/uksuitb/</link>
		<comments>http://qact.wordpress.com/2011/09/06/uksuitb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 16:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Quicchote Saavedra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qact.wordpress.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[disampaikan pada Latihan Kepemimpinan &#38; Organisasi Unit Kesenian Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, 6 September 2011 Pada mulanya ia bernama Gouvernement Van Sumatera, ibukotanya Medan. Setelah Republik Indonesia merdeka, ia jadi sub-provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli). Tahun 1948 ia menjadi satu provinsi Sumatera Utara dengan Aceh sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=356&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#888888;"><em>disampaikan pada Latihan Kepemimpinan &amp; Organisasi Unit Kesenian Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, 6 September 2011</em></span></p>
<p>Pada mulanya ia bernama <em>Gouvernement Van Sumatera,</em> ibukotanya Medan. Setelah Republik Indonesia merdeka, ia jadi sub-provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli). Tahun 1948 ia menjadi satu provinsi Sumatera Utara dengan Aceh sebagai bagian wilayahnya. Tahun 1949, ia sempat jadi Provinsi Tapanuli, terpisah dari Aceh yang juga jadi provinsi. Tapi delapan bulan kemudian kembali jadi Provinsi Sumatera Utara lagi. Baru enam tahun kemudian (1956), ia jadi Provinsi Sumatera Utara seperti yang kita kenal sekarang [1].<span id="more-356"></span></p>
<p>Peristiwa politiklah yang melahirkan sebuah kewilayahan yang kita sebut sebagai &#8220;Sumatera Utara&#8221;. Maka definisi &#8220;Sumatera Utara&#8221;, juga merupakan definisi politik. Lantas adakah budaya Sumatera Utara itu sebenarnya? Apa budaya Sumatera Utara? Tak ada kita pernah dengar &#8220;tradisi lompat batu Sumatera Utara&#8221;, yang ada &#8220;tradisi lompat batu Nias&#8221;. Tak pernah ada yang namanya &#8220;Tortor Sumatera Utara&#8221;, yang ada itu &#8220;Tortor Batak&#8221;. Bahkan, tak ada itu &#8220;Bahasa Sumatera Utara&#8221;, yang ada adalah &#8220;Bahasa Batak Karo&#8221;, &#8220;Bahasa Melayu&#8221;, &#8220;Bahasa Nias&#8221;, &#8220;Bahasa Pakpak&#8221;, dan sebagainya.</p>
<p>Pengertian konvensional tentang &#8220;provinsi&#8221; terlalu sempit untuk demografi bangsa-bangsa yang ada di Sumatera. Barangkali sama juga dengan kenyataan bahwa pengertian &#8220;negara&#8221; yang konvensional terlalu sempit untuk merepresentasikan bangsa-bangsa yang hidup di kepulauan Indonesia ini. Sebagaimana Indonesia bukanlah negara bangsa, melainkan negara bangsa-bangsa, maka Sumatera Utara pun bukanlah provinsi suku bangsa, melainkan provinsi bangsa-bangsa. Ada beberapa bangsa yang hidup di provinsi Sumatera Utara, dan ratusan bangsa di wilayah Republik Indonesia. Bayangkan saja, hampir 10% bahasa yang ada di planet bumi, adanya di wilayah kepulauan yang dikuasai Republik Indonesia ini [2].<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-357" title="Slide: Sejarah Sumatera Utara" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/1.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Kekuatan sosial-ekonomi-politiklah yang membuat kita jadi satu negara yang utuh, perasaan senasib-sepenanggungan akibat eksploitasi rakus VOC dan penjajahan Belanda. Dengan demikian, kita tersadarkan, bahwa jika definisi &#8220;Sumatera Utara&#8221; adalah definisi politik, maka &#8220;Unit Kesenian Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung&#8221; sama sekali tak mengandung definisi kebudayaan, antropologi, bahkan kesenian, melainkan mengandung makna dan definisi politik!</p>
<p>Jika kita adalah generasi muda yang tak menghormati generasi sebelumnya, maka kita akan merupakan cikal bakal generasi yang menginjak-injak keputusan generasi pendahulu kita yang kita anggap mengingangkari keberagaman etnis bangsa yang ada dengan menjadi bagian integral sebagai Sumatera Utara dan Indonesia. Jika kita adalah generasi yang tak menghargai waktu, 66 tahun hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain yang di kepulauan Indonesia ini, kita akan mencari-cari celah untuk melupakan sejarah, dan berharap membikin sejarah baru yang sesuai dengan keberagaman budaya yang kita pikir paling sejati. Jika kita adalah generasi yang kolot dan anti progresivitas, kita bermimpi akan Sumatera Utara dan Indonesia yang berjalan mundur, yang lebih mementingkan eksistensi suku dan etnik budaya daripada melanjutkan upaya untuk bikin kiata makmur bersama.</p>
<p>Apakah kita tak sadar, bahwa jika pun kita berada pada posisi generasi sebelum kita ini, kita mungkin jadi orang yang paling bersemangat untuk menyatukan Indonesia ini secara politik, mengingat tanpa itu, mungkin hari ini kita masih jadi negeri jajahan: batak jajahan, jawa jajahan, melayu jajahan, dan seterusnya. Jika kita ada ada dalam posisi generasi masa revolusi fisik melawan penjajahan, kita akan bersemangat untuk menyatukan kekuatan sosial dan politik bangsa-bangsa yang berbeda ini dengan  satu harapsn pasti: kelak, saat keadaan telah memungkinkan, di alam kemerdekaan, anak-anak cucu kita harus menggali kekerabatan dan mendefinisikan ulang kebudayaan bersama, sebagai Mandailing yang Indonesia, Sunda yang Indonesia, Toraja yang Indonesia, dan seterusnya [3]. Sekarang adalah masa di mana kita telah bisa merasa santai dan mengisi waktu dengan memaki keadaan atau bisa pula memperbaiki keadaan, tergantung dari tipe generasi muda macam apa kita ini.<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/2.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-358" title="Slide: Bahasa-bahasa di Sumatera Utara" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/2.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Sekarang adalah masa itu. Masa di mana kita telah dicukupkan dengan alam kemerdekaan di mana tiap orang boleh mengenyam pendidikan tanpa perlu menjadi penjilat bagi pemerintahan kolonial, kehidupan sosial yang relatif stabil untuk merenung, berfikir, dan dengan ilmu pengetahuan menggali definisi baru akan sebuah bangsa Indonesia dalam definisi budaya, yang di dalamnya tentu ada &#8220;Budaya Sumatera Utara&#8221;. Kemajuan teknologi yang telah kita akuisisi, merupakan sebuah modal besar yang dilarang kita miliki, seandainya kita masih ada dalam suasana penjajahan pemerintah kolonial!</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa dekade yang lalu, kehidupan ekonomi global menantikan masa di mana sains telah mampu melahirkan teknologi yang benar-benar bisa menjawab tantangan kehidupan modern seperti sekarang. Apa yang menjadi sains fiksi beberapa dekade lalu sudah menjadi kenyataan yang &#8220;biasa&#8221; hari ini. Kenyataan kehidupan global modern masa depan merupakan realitas yang berteknologi canggih, di mana yang membedakan satu orang dengan orang lain bukan lagi <em>skill </em>atau keterampilan, melainkan kreativitas. Ekonomi masa depan adalah ekonomi kreativitas dan inovasi. Negeri mana yang paling banyak menyimpan potensi-potensi kreatif adalah penguasa dunia [4].</p>
<p>Penelitian tentang evolusi ekonomi menunjukkan bahwa kreativitas dan inovasi memerlukan lanskap kreativitas yang diharapkan meng-induksi kehidupan modern sedemikian sehingga kemampuan produksinya tetap tinggi. Konsumsi harus mampu mengimbangi tendensi untuk berproduksi demi berputarnya laju ekonomi suatu bangsa, san seluruh dunia. Yang menjadi pertanyaan tentunya adalah, apakah sumber inovasi dan kreativitas tersebut?<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/3.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-359" title="Slide: Tren Perkembangan Teknologi Komputasi" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/3.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" width="150" height="112" /></a></p>
<p>Penelitian terkait studi evolusioner secara empiris menunjukkan bahwa kekayaan budaya adalah satu hal yang paling besar. Konsumsi akan jaket dan <em>t-shirt</em> bertambah seiring dengan produksi sandang kasual yang bermotif batik [5]. Ada begitu banyak tanam-tanaman herbal yang memiliki khasiat medis yang bisa menjadi sumber inspirasi atas munculnya obat-obatan baru. Ada berbagai ramuan rempah-rempah dan bumbu dapur yang selama ini dikenal secara lokal dan tradisional saja, menunggu tangan-tangan koki modern untuk dijadikan hidangsn kuliner dan tata boga yang baru. Ada berbagai teknik struktural arsitektur yang tahan bencana, kokoh, dan lebih bernuansa natural, yang selama ini hanya dikenal secara lokal dan tradisional, menunggu tangan-tangan yang piawai ber-manajemen rekayasa struktur untuk diakuisisi memperkaya teknologi rekayasa sipil dan arsitektural modern [6]. Ada berbagai tarian apik yang unik dan menanti untuk ditransformasi menjadi hiburan koreografi modern untuk memecah kebuntuan seni pertunjukan dan <em>entertainment </em>yang &#8220;itu-itu saja&#8221;. Ada berbagai aspek musikalitas yang selama ini hanya dikenal di kalangan masyarakat tradisia tertentu saja, menanti untuk memperkaya khazanah musikalitas modern [7]. Dan segudang hal-hal tradisional lain yang bisa menginspirasi kehidupan modern kita ini.</p>
<p>Hanya kreativitas dan dan inovasi yang bisa menembus kejenuhan modernitas yang ada saat ini. Dan salah satu sumber kreasi yang paling mudah dan menjanjikan ada pada kebudayaan dan tradisi. Yang lokal-lokal, jika di-<em>handle </em>dengan baik, apik, dan sentuhan modern, bisa menjadi satu produksi massal yang mengglobal, dan menguntungkan secara finansial!</p>
<p>Dan bukanlah satu kebetulan bahwa kepulauan Indonesia ini merupakan satu lokasi geografis di mana keberagaman budaya merupakan hal yang &#8220;biasa&#8221;. Visi ekonomi masa depan menyaksikan bahwa kekayaan sumber daya buatan manusia dalam bentuk elemen budaya, merupakan aspek kapitalisasi yang baru. Dalam rangka visi inilah, saat ini semua bangsa sibuk dengan keributan-keributan terkait <em>intellectual property rights,</em> paten, dan sebagainya, agar kreativitas dan inovasi itu hanya boleh di-eksploitasi oleh mereka yang sah. Sebagai sebuah ilustrasi kecil, di masa lalu orang meributkan surat kepemilikan tanah dalam bentuk akte tanah, maka di masa kini menjelang masa depan, orang mulai meributkan surat kepemilikan akan ide ekspresi dalam bentuk paten dan hak cipta!</p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke pertanyaan di awal tentang generasi apakah kita ini di Sumatera Utara, Indonesia. Bagaimana me-redefinisi kekuatan politik Sumatera Utara dan Indonesia menjadi satu keutuhan dan eksistensi kebudayaan?</p>
<p>Ditambah dengan tren faktual ekonomi global, bagaimana caranya kita meng-kapitalisasi kebudayaan tradisi kita sehingga kita benar-benar bisa nantinya menguasai ekonomi global masa depan?<a href="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/41.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-361" title="Slide: Lagu-lagu khas tradisional dari Sumatera Utara" src="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/41.jpg?w=150&#038;h=111" alt="" width="150" height="111" /></a></p>
<p>Dua pertanyaan itu memiliki satu jawaban yang sama: pencatatan dan pendataan elemen budaya tradisional! Pencatatan data dan dokumentasi budaya tradisional itu memberikan kita peluang untuk mencari kekerabatan budaya yang menunjukkan kesatuan kita sebagai entitas budaya [8]. Budaya Sumatera Utara adalah kompilasi segala bentuk elemen budaya yang ada di sana: ulos, lompat batu, <em>naniura</em>, <em>ombus-ombus</em>, pantun, <em>tortor</em>, dan sebagainya. Pencatatan data dan dokumentasi budaya tradisional itu memberikan peluang dan tantangan bagi kita dan generasi masa depan di Sumatera Utara dan Indonesia secara umum, untuk memadu-padankannya dengan kehidupan modern via sains dan teknologinya [9]. Padu padan yang selaras akan menjadikan negeri kita sebagai gudang kreativitas dan inovasi seni, sains, dan teknologi modern, yang bisa memberikan kita peluang besar untuk mencapai kemakmuran yang menjadikan Indonesia sebagai satu pemain penting dan strategis ekonomi global modern di masa ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi masa depan!</p>
<p>Upaya ini baru dimulai oleh <em>Indonesian Archipelago Cultural Initiatives (IACI)</em> melalui pencatatan dan dokumentasi budaya tradisional <em>ala </em>Wikipedia di <span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.budaya-indonesia.org/">http://www.budaya-indonesia.org</a></span>.</p>
<p>Jika kita bukan generasi cengeng dan terlalu sering mengeluh, maka adalah tugas kita semua untuk ikut berperan serta memajukan dan melengkapi data-data kebudayaan yang ada di sana. Unit Kesenian Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, perlu ambil peran strategis ini. Mengawali upaya kelengkapan data elemen budaya di web tersebut dengan data-data kebudayaan bangsa-bangsa yang ada di Sumatera Utara, dan kemudian aktif mengajak rekan-rekan mahasiswa di unit kegiatan kemahasiswaan lain untuk pula ikut berperan serta. Hanya dengan demikianlah, kita bisa akhirnya mengetahui jawaban dari pertanyaan judul artikel ini: “adakah kebudayaan Sumatera Utara itu?”</p>
<p>Demi Indonesia yang diwariskan generasi terdahulu pada kita. Demi Indonesia dengan masa depan yang lebih baik. Mari mencintai Indonesia, mari menginspirasi dunia!</p>
<p><strong>Kepustakaan:</strong><br />
[1] Website Resmi <em>Pemerintah Daerah Sumatera Utara</em>. URL: http://www.sumutprov.go.id<br />
[2] Lewis, M. Paul (ed.), 2009. <em>Ethnologue: Languages of the World</em>, 16th ed.SIL International.<br />
[3] Sjahrir, S. (1969). <em>Out of Exile</em>. Transl. C. Wolf. Greenwood Press.<br />
[4] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. <em>The Icfai University Journal of Knowledge Management</em> 7(2):7-17<br />
[5] Situngkir, H. &amp; Dahlan, R. M. (2009). <em>Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia</em>. Gramedia Pustaka Utama<br />
[6] Situngkir, H. (2008). “Constructing the Phylomemetic Tree: Indonesian Tradition-Inspired Buildings”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-III-2008. Bandung Fe Institute.<br />
[7] Situngkir, H. (2010). “Exploitation of Memetics for Melodic Sequences Generation”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-2-2010. Bandung Fe Institute.<br />
[8] Khanafiah, D., &amp; Situngkir, H. (2009). “Memetics of Ethno-Clustering Analysis”. <em>Journal of Social Complexity</em> 4(1): 18-25<br />
[9] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. <em>BFI Working Paper Series</em> WP-XII-2008. Bandung Fe Institute</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qact.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qact.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qact.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qact.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qact.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qact.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qact.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qact.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qact.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qact.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qact.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qact.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qact.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qact.wordpress.com/356/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qact.wordpress.com&amp;blog=2909558&amp;post=356&amp;subd=qact&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qact.wordpress.com/2011/09/06/uksuitb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a50e8446cdae9387c436b7adec09e1b5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Slide: Sejarah Sumatera Utara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Slide: Bahasa-bahasa di Sumatera Utara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/3.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Slide: Tren Perkembangan Teknologi Komputasi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qact.files.wordpress.com/2011/09/41.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Slide: Lagu-lagu khas tradisional dari Sumatera Utara</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
