Kaum Milenial untuk Warisan Tradisi Budaya

Posted December 2, 2018 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

DtYI0NNU4AAijbO.jpg large

Pengantar dalam diskusi di Seminar Peran Milenial dalam Mengembangkan Sains dan Teknologi, Univeritas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim,  Malang, 2 Desember  2018.

 

…pencapaian masa depan kita berbanding lurus dengan seberapa jauh kita menarik busur ke sejarah masa silam…

-Emha Ainun Najib

Benarkah generasi milenial yang dikenal sebagai geeky, high-tech, dan konsumen dunia digital era informasi itu tidak peduli pada warisan budaya tradisi? Bagaimana status budaya Indonesia di era teknologi informasi pada milenium ini dan di masa depan? Bagaimana tren sains dan teknologi masa depan terkait budaya tradisi Indonesia? Bagaimana nasib kekayaan warisan budaya tradisi Indonesia kelak di tangan kaum milenial hari ini?

Read the rest of this post »

Advertisements

Membaca Mikro-makro Konflik Sosial: Menuju Mitigasi Informatika “Risiko” Kekayaan Kebhinekaan Indonesia

Posted November 29, 2018 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

20181129-poster-unair-simposium-1

Ditulis sebagai pengantar dalam diskusi di Simposium Regional Decoding The Labyrinth of Conflict: Menggali Pembelajaran Resolusi Konflik Pasca Reformasi dari Gerakan Maiyah Nusantara, Kampus UNAIR Surabaya, 29 November 2018.

Kekayaan keberagaman Indonesia sungguh adalah diaspora hasil evolusi budaya manusia khatulistiwa yang menyimpan memori yang sangat besar tentang bagaimana umat manusia menyikapi tantangan alam dan semesta sosial ribuan tahun dalam pojokan-pojokan ribuan pulau di Nusantara. Memori itu mewujud menjadi keberagaman budaya,yang dikenal sebagai kelompok etnik. Dalam memori itu pula tersimpan kode-kode akulturasi dan asimilasi atas interpretasi spiritualitas yang lalu memperkaya keberagaman etnik tersebut dengan keberagaman umat beragama Indonesia. Memori-memori evolusioner tersebut menjadi sumber pengetahuan tak terkira, sistem etis, pengetahuan, dan tekno-budaya yang inspiratif, juga estetika yang menakjubkan [11]. Namun di sisi lain, memori kolektif tersebut telah pula mengkristal sebagai keberagaman identitas sosial. Di titik ini, kompleksitas sosial Indonesia menyeruak sebagai potensi ketegangan sosial, dan bukan tak mungkin konflik sosial yang mengancam keutuhan memori besar evolusioner itu…

Read the rest of this post »

Pengantar untuk Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan

Posted December 6, 2017 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Gantangan: Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan

Pengantar dalam buku  Prasetyo, Y. E. (2017). Gantangan: Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan. Penerbit Tigamaha. ISBN: 978-602-61131-0-8

Dulu semasa kecil, di pelosok Tapanuli, Sumatera Utara, hati sungguh senang menantikan ibu yang pulang dari kondangan. Bukan karena apa-apa, tapi karena menantikan lezatnya lampet[1], makanan tradisional Batak dari olahan beras dan gula merah dalam kemasan daun pisang, yang selalu ada di dalam tandok[2] ibu sepulang dari kondangan. Di kampung, ibu-ibu membawa tandok, tempat membawa beras tradisional Batak dari anyaman daun pandan, yang diisi dengan beras untuk diserahkan sebagai buah tangan bagi yang mengadakan hajatan kondangan. Setelah beras dikumpulkan oleh petugas yang ditunjuk oleh pelaksana hajatan, tandok dikembalikan dan di dalamnya biasanya diisi dengan lampet sebagai snack acara kondangan. Sekali acara hajatan, ratusan kilogram beras biasanya terkumpul, dan hati anak-anak kampung yang menantikan ibunda mereka di rumah merasa gembira mengunyah lampet. Read the rest of this post »

Meniti Landasan Keadilan Peradaban Manusia Indonesia

Posted November 15, 2017 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

gmki

Disampaikan dalam Seminar GMKI  bertema “Pemuda sebagai Penjaga Pancasila & Pembangunan Peradaban”, Jakarta, 30 Oktober 2017.

Betapa tak jarangnya pernikahan yang diawali dengan romantisme cinta, hangatnya rasa sayang yang penuh perhatian di masa pacaran dan awal pernikahan, justru berakhir di meja pengadilan perceraian. Tak jarang seorang pasangan mengatakan betapa ia seolah tak lagi mengenali pasangan yang dulu sangat dirasakan penuh cinta .Biduan populer Indonesia bahkan menyanyikan “…manisnya hanya di awal saja!”.  Benarkah cinta itu bisa memudar? Atau, apakah benar bahwa perasaan cinta itu murni hanya rasa emosional yang tak pernah bertahan lama? Sejati cinta bermanifestasi pada rasa ingin terus mengenali, mengetahui, memahami, agar selalu dapat menjadi dan memberi yang terbaik bagi sosok yang dicintai. Cinta itu bukanlah rasa senang atau sedih. Sebaik-baik cinta adalah upaya untuk mengetahui dan mengenali. “Tak kenal maka tak sayang,” katanya. Demikian pula halnya dengan mencintai negeri, ia bukan berasal dari rasa senang yang emosional, tapi adalah kristalisasi pengetahuan akan negeri itu. Lantas adakah kita sudah benar-benar mengenali Indonesia kita? Read the rest of this post »

Kita, ketika sains mengubah, dan lalu berubah hari ini

Posted November 12, 2017 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

qure

Disampaikan pada Workshop “Sains dan Pemikiran Kritis” Qureta, Bandung, 22 Setember 2017

Di seluruh Planet Bumi, hanya ada satu spesies yang memiliki keunikan yang sangat sederhana, namun menjadi sedemikian luar biasa, karena dapat menjadi “penguasa” atas berbagai spesies lainnya. “Kekuasaan” itu tak berasal dari kekuatan fisiknya atau kekebalannya dari penyakit. Bahkan spesies itu cenderung “lemah” dan cukup sering, justru takluk jika berhadap-hadapan head to head dengan sosok spesies lainnya di planit Bumi. Ia  bisa kalah jika berhadap-hadapan dengan banyak hewan, mulai dari yang besar tubuhnya lebih besar dari dirinya hingga yang jauh lebih kecil, ber-sel satu dan tak mampu dilihatnya. “Kekuasaan” itu berasal justru bukan dari kemampuan fisis dan biologisnya, namun dari kemampuannya mengabstraksikan dunia yang dipandangnya sebagai bahasa. Kemampuan ini menjadikannya mampu memproses hingga mengkomunikasikan informasi. Kemampuan inilah yang menyebabkannya mengambil berbagai keputusan secara kolektif demi keuntungan dan kelestarian spesiesnya, melawan predator dan apa atau siapapun yang mengganggu keberlangsungan hidup sesamanya. Kemampuan memproses dan mengkomunikasikan ini pula yang memberikan corak unik perannya di Planet Bumi, yang memungkinnya kemudian mempertanyakan apapun termasuk asal-muasal dirinya. Kemampuan yang membuatnya melahirkan sains, seni, dan teknologi, yang lalu menobatkannya menjadi khalifah dan membuatnya merasa sanat spesial atas makhluk-makhluk se-planet lain. Read the rest of this post »

Ekonofisika di Era Informasi ini

Posted April 15, 2017 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

33Pengantar dalam Diskusi pada Seminar Nasional “Kontribusi Ilmu Fisika dalam Dunia Ekonomi” di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas  Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta, 15 April 2017

Sejak akhir abad ke-20 silam, ilmu Ekonomi dan Fisika itu adalah dua domain tatanan pengetahuan modern yang terkesan terpisah sungguh jauh. Ilmu ekonomi telah berubah menjadi “kaisar” dalam ilmu-ilmu sosial, sarat variabel matematika di tengah kompleksitas kenyataan ekonomis modern hari ini yang sangat tinggi dan mengglobal [1]. Tak banyak diperbincangkan bahwa ilmu ekonomi modern saat ini sarat sumbangsih dari berbagai domain ilmu lain, khususnya ilmu fisika. Karena ekonomi terlalu penting untuk menjadi ilmu yang mono-disipliner, kompleksitas sosial mensyaratkan, ilmu ekonomi adalah ilimu yang seyogianya interdisipliner!  Read the rest of this post »

Refleksi tren Data Science dalam membaca Ekonomi Indonesia

Posted March 26, 2017 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

CapturePengantar dalam Diskusi pada Seminar “Menakar Masa Depan Negara Kesatuan Republik Indonesia” di GMKI Medan, Sumatera Utara, 25 Maret 2017.

Sejarah sosial, politik, dan ekonomi Indonesia sangat diwarnai oleh kiprah gerakan mahasiswa yang merespon berbagai situasi global, nasional, hingga regional. Mahasiswa yang melakukan demonstrasi, terkadang mereka seolah berjuang melawan penguasa yang lalim. Seringkali, tanpa sadar mereka sebenarnya tidak sedang menolak kebijakan penguasa semata-mata. Mereka sedang berhadapan dengan raksasa-raksasa yang abstrak. Yang sebenarnya mereka hadapi adalah kebijakan-kebijakan ekonomi yang bersandar pada buku-buku teks yang lebih ber-empati pada angka-angka dan cara memandang ekonomi yang berlindung di balik berbagai istilah-istilah dan rumus matematika yang tampiil seolah rumit dan sulit. Cara memandang ekonomi yang seolah menjadi doktrin yang mengaburkan apa yang sejatinya “adil”. Revolusi-revolusi dan reformasi ilmu pengetahuan yang mengubah cara pandang ekonomi tersebut tak banyak dibicarakan. “Data Science” barangkali adalah salah satu revolusi itu. Data Science yang lalu menguak kenyataan bahwa ekonomi terlalu kompleks dan terlalu penting untuk didelegasikan pemikirannya hanya untuk ilmu ekonomi semata-mata. Data Science yang berharap pada kepekaan intelektual para cendekia muda, bernama mahasiswa.

Read the rest of this post »