Warisan Budaya itu Harta Kekayaan

Posted May 31, 2016 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Disampaikan pada Diskusi “Dinamika Sosial Budaya” di Sekolah Tinggi Teknik Perusahaan Listrik Negara (STT PLN), Jakarta, 31 Mei 2016.

Awalnya adalah hamparan bumi yang luas dan kosong, terbagi atas perairan lautan yang ber-air asin dan sungai-sungai yang berair tawar, lalu daratan yang ber-tanah, pasir, debu. Oleh berbagai peristiwa kosmik dari level sub-atomik hingga selular berjuta-juta tahun, maka hari ini dunia ilmu pengetahuan modern pun kerap berdecak kekaguman atas kompleksitas yang luar biasa di semesta planet bumi. Pola-pola kompleks dan rumit tercipta di alam raya, seolah ia dibangun oleh seorang matematikawan (atau programmer) yang luar biasa. Decak kagum akan kenyataan kompleks selalu tak terelakkan, apalagi dengan melihat kesederhanaan dari yang mendasari pola-pola kompleks tersebut. Pigmentasi cangkang kerang, perilaku mengerumun burung-burung yang beterbangan, ilusi optik yang melindungi sekawanan zebra dari predator, adalah sebagian kecil fenomena-fenomena yang luar biasa itu. Decak kagum semakin tak tertahankan, ketika melihat negeri seperti Indonesia, dengan keanekaragaman budaya yang luar biasa. Warisan budaya yang diteruskan turun-temurun dari generasi ke generasi, yang oleh perspektif modern di-insyaf-i kompleksitas dan “kecerdasan” pewarisnya. Kompleksitas budaya yang lahir kesederhanaan cara berfikir masa lampau masih memiliki relevansi hingga hari ini. Bukan hanya itu, bahkan bisa menginspirasi dunia modern…

ragam1 Read the rest of this post »

Melihat Indonesia di Kaca Mata Sains Evolusioner: Banyak tapi Satu!

Posted March 13, 2016 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

diskusi disampaikan di Epikurian: Unbreakable Discussion Series, Kafe Unbreakable Coffee, 20 Februari 2016

Lihatlah Indonesia. Sepuluh persen bahasa manusia di planet bumi ada di kepulauan nusantara ini [1]. Dari kumpulan berkas yang dikumpulkan Perpustakan Digital Terbuka Budaya Indonesia http://www.budaya-indonesia .org [4], tercatat 33.045 berkas data budaya tradisionnal yang di dalamnya terkuak 5.849 motif kain tradisional, 1.070 nyanyian dan dendang tradisi turun-temurun, 1.458 resep hidangan khas tradisi. Kebanyakan dari itu semua telah menghidupi sekitar 961.831 unit usaha kriya rakyat kecil menengah se-antero negeri. Semua itu terkumpulkan secara gotong-royong oleh lebih dari 2000 anak-anak muda yang tergabung dalam Sobat Budaya Indonesia yang hingga hari ini terus melestarikan budaya tradisional Indonesia dengan cara yang tidak tradisional: interaksi online! Read the rest of this post »

Kedaulatan di Era Informasi (?)

Posted October 31, 2015 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

photo_2015-10-31_13-17-48

disampaikan pada di Seminar Nasional “Cultural Heritage, Intellectual Property, and Community Rights”, di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, 27 Oktober 2015

Ada sebuah “ruang” baru lahir ketika informasi menjadi sesuatu yang penting di era sekarang ini. “Ruang” baru itu merupakan tempat ekspresi inovasi yang ditentukan oleh kreativitas yang berasal dari abstraksi gagasan yang terdaftar sebagai relasi-relasi konsep dalam pikiran manusia. Kemajuan teknologi informasi telah menjadikan “ruang” baru tersebut memiliki nilai komparatif yang sedemikian kompleks, sehingga proses dan transaksi ekonomi dapat berlangsung di dalamnya. Register-register kognitif itu bahkan telah menjadi modal penting dalam ruang “industri baru” bertajuk ekonomi kreatif. Seperti halnya tanah dan sumber daya ekonomi lainnya, penguasaan atas hal yang ter-ekspresi dalam “ruang” tersebut menjadi tak hanya ekonomis, tapi juga dapat menjadi politis, dan bukan tak mungkin berkaitan pula dengan pertahanan dan keamanan. Kedaulatan tak hanya atas ruang geografis dengan segala sumberdaya di dalamnya, tapi juga atas bit-bit informasi yang menjadi penentu dasar ekspresi yang ada di dalamnya. Perubahan dalam cara kita memperlakukan  informasi rupanya telah memaksa kita untuk mengubah bagaimana kita memperlakukan ekspresi atas informasi, bahkan bukan tak mungkin, ekspresi atas apapun…

Read the rest of this post »

Ilmu Data: Konjektur Matematika di Jalan Era Informasi

Posted November 23, 2014 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Disampaikan pada Seminar Nasional Matematika ke-7 “Life Essence Bring It Up by Mathematics Language“, Sabtu, 22 November 2014, Auditorium Biologi Universitas Gadjah Mada.

 

Teknologi informasi belakangan telah menyebabkan keseharian manusia modern menyatu dengan proses menggenerasi data. Jam-jam makan dipenuhi dengan twit dan instagram makanan, gosip menyebar makin cepat dan makin luas lingkup geografinya, tiap warga adalah kontributor data. Matematika merupakan bahasa sains, yang membahasakan pola di dalam berbagai fenomena yang ditemui dalam kajian ilmiah. Matematika terapan modern, sebagai bahasa sains bertugas untuk menjadikan data menjadi makna dan informasi. Begitu banyak informasi, juga mengakibatkan begitu banyak ketakpastian. Hingga kemudian, matematika di era komputasi mendapat tuntutan, tak lagi menjadi “ilmu pasti”, tapi justru berfokus pada ketakpastian. Perkawinan Matematika  Terapan dengan Teknologi Informasi telah melahirkan “Ilmu Data”.

Read the rest of this post »

The Indonesian Traditional “Fractalist”

Posted September 23, 2014 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

IMG_6761

disampaikan pada International Symposium of Indonesian Philosophy, Jakarta, 18 September 2014

An information era has changed the way modern people living their life. When the manufacturing-centered industrial economy was introduced [6] with the electricity and electronics, the hi-tech social life was embraced by our ability to reproduce, replicate, and reshape knowledge. From there, information has become the center of social life. The digital era has made modern living flooded with information. Today is the time where people must handle the largest information ever there since the emergence of our species on the planet [3]. An anticipation of modern science has come to the term of “data science” then, for science not only needed data, but also, data itself has become needy for any scientific endeavors [11]. Read the rest of this post »

Mempertanyakan “demokrasi” adalah satu bentuk merayakan demokrasi

Posted December 8, 2013 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Capture

Disampaikan pada Simposium Gerakan Mahasiswa Jawa Barat, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Subang, 7 Desember 2013.

Belakangan ini, banyak beredar stiker-meme yang menyebar di dunia maya media-media sosial, yang kini bahkan jadi gambar tempel pula di dunia nyata. Isinya adalah foto diktator Orde Baru, Pak Harto, melambaikan tangan sambil tersenyum khas, dengan tulisan “…piye, enak zamanku tho?”.  Tulisan yang mungkin takkan terbayangkan muncul ketika semua gerakan yang ingin bersikap kritis di masa Orde Baru harus berada di bawah tanah dan ruang-ruang kajian yang gelap dan pengap, penuh orang berbisik-bisik dengan selebaran gelap tanpa identitas di tangannya, jika tak ingin diciduk, hilang ditelan kebisuan kolektif masyarakat. Pada masa itu, orang jenuh dengan “stabilitas ekonomi dan politik”, perubahan dinanti-nanti [12]. Adakah kini kita telah pula jenuh dengan “dinamika ekonomi dan politik” sehingga stabilitas pun dinanti-nanti? Read the rest of this post »

Berpakaian Trendi, Ilmiah, Canggih, Filosofis pula?!

Posted December 2, 2013 by Quicchote Saavedra
Categories: Uncategorized

Capture

Disampaikan pada Diskusi HKI, “Generasi Muda dalam Mengembangkan Industri Fashion bernilai HKI”, Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI), 1 Desember 2013.

Ada dua lukisan. Keduanya dilukis dalam kurun waktu yang berdekatan di abad ke-15, tapi yang satu ada di Eropa dan yang satu ada di pulau Bali. Keduanya dilukis dengan “pesan” filosofis terkait budaya setempat yang menghiasi bangunan yang erat kaitannya dengan spiritualitas, tapi yang satu dilukis oleh seorang maestro yang kemudian dikenal sebagai salah seorang yang berperan “mendirikan” peradaban modern, seniman, yang juga dikenal sebagai pembuat anatomi modern manusia pertama, arsitek, musisi, pun matematikawan, sementara peradaban hari ini tak begitu mengenal siapa pelukis yang kedua. Yang satu adalah lukisan berjudul “The Last Supper” dan yang satunya berjudul “Smaradhana”. Keduanya berbeda,  tapi memiliki kesetaraan. Read the rest of this post »