Archive for December 2009

Arsip Data Budaya itu Mutlak Arti Pentingnya!

December 10, 2009
disampaikan pada Workshop “Perancangan Sistem Arsip dan Akses Audio Visual Seni Budaya” pada Jakarta, 9-10 Desember 2009, Dirjen Dikti RI.

Sungguh disayangkan ketika hingga lebih dari setengah abad Indonesian mendeklarasikan kemerdekaannya kita belum dapat merayakan keberagaman budaya yang merupakan kekayaan luar biasa yang merupakan warisan yang luar biasa dan merupakan keunikan negeri dibandingkan negara-negara lain di planet bumi kita. Alih-alih merayakannya, beberapa kasus malah menunjukkan adanya fakta kemarahan warga republik ketika adanya fakta bahwa beberapa artifak khas etnik di Indonesia yang diklaim bahkan dipatenkan oleh oknum negara lain. Hanya satu kata kunci untuk bisa mengatasi hal ini – dan mudah-mudahan belum terlambat – yaitu: pengarsipan terpadu budaya Indonesia!

(more…)

Advertisements

Budaya Indonesia di Persimpangan Jalan: Antara Politika “Sekuritas Budaya Tradisional” dan “Keutuhan Nasional”

December 10, 2009
disampaikan di Seminar Nasional Rescuing Our Culture di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 8 Desember 2009

Tidak ada hal yang lebih penting daripada keutuhan kesatuan nasional bagi bangsa Indonesia – bahkan semenjak masa pemerintahan kolonial – karena kemerdekaan Indonesia hanya dapat direbut melalui persatuan dan rasa senasib sepenanggungan sebagai korban jajahan [1]. Sementara itu, sejarah mencatat bahwa perjuangan melawan pemerintahan kolonial secara separatis selalu akan mudah dipatahkan dengan politik imperialisme “divide et impera”.  Seiring dengan perkembangan zaman dan berbagai perubahan perspektif atas politika, ekonomika, dan sosial secara global, maka perspektif akan keutuhan kesatuan nasional juga perlu dipandang secara dinamis: tidak hanya terfokus pada aspek geopolitik saja, tetapi juga aspek-aspek informasi, abstraksi intelektual, kreativitas, dan inovasi. Sebagai metafora, pandangan bahwa “laut sebagai pemisah antar pulau di kepulauan Indonesia” perlu diperluas menjadi pandangan bahwa “perbedaan budaya (beserta seluruh artifak dan sistem nilainya) sebagai pemisah antar kelompok masyarakat”. Yang pertama telah dijawab melalui solusi Deklarasi Djuanda 1959 [2], dan yang kedua merupakan ikhwal yang mesti dijawab oleh kita dan generasi mendatang.

(more…)