Archive for December 2010

Inisiatif Non-Tradisional dalam Pengembangan Budaya Tradisional Indonesia

December 22, 2010

Disampaikan pada Focus Group Discussion Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Jakarta, 21 Desember 2010.

You don’t have to burn books to destroy a culture.
Just get people to stop reading them.
-Gandhi-

Kebudayaan itu kompleks. Kompleksitas budaya dapat terletak pada ke-tak-terpisah-an antara kelompok kolektif yang menghidupinya dengan obyek budaya, keterhubungan yang erat antara sebuah obyek budaya dengan narasi bijaksana yang tersimpan di dalamnya, antara obyek budaya yang berbentuk benda (tangible) dan yang tak berbentuk benda (intangible), hingga keterkaitan antara sosio-historio-eko-geografi tempat di mana ia tumbuh. Kompleksitas budaya inilah yang membuat mau tak mau, penanganan kebudayaan tak bisa hanya dikerjakan dalam satu lingkup domain saja.

Interpretasi Obyek dan Nilai Budaya Tradisi dalam Perspektif Kekinian

Semua obyek kultural merupakan hasil dari serangkaian proses kognitif kolektif lintas generasi inter-individual dalam lokalitas geografi dan jejaring sosial. Obyek budaya selalu lahir dari nilai budaya, dan bagaimana proses kultural meng-akuisisi obyek budaya memberikan sedikit banyak pengaruh pula atas dinamika eksistensial dari nilai dalam tata hidup bermasyarakat. (more…)

Advertisements

Evolusi Budaya Manusia

December 17, 2010

Dalam tubuh kita ini terdapat 500 trilyun sel yang masing-masing inti selnya menyimpan 5 milyar bit informasi. Jika kita ber-asumsi bahwa sebuah buku masing-masing terdiri dari 500 halaman, maka tubuh kita merupakan sebuah perpustakaan yang berisi sekitar satu juta jilid buku informasi genetika! Informasi-informasi ini bercerita tentang berbagai “pengetahuan” yang sebenarnya baru kita “ketahui” sekitar 2 atau 3 abad silam. Informasi dalam buku tersebut berisi pengetahuan tentang bagaimana kita mencerna makanan, bersin, tertawa, jatuh cinta, berahi, dalam bahasa biokimia. Menilik penelitian evolusi genetika, maka satu jilid buku tersebut sebenarnya bercerita tentang kehidupan organisme hidup sebelum kita selama jutaan tahun. Tubuh kita adalah perpustakaan sejarah makhluk hidup di planet bumi ini [1].

Saat teknologi modern “mempelajari” informasi yang terkandung dalam perpustakaan hidup tersebut, manusia modern juga ternyata meng-artikulasikan informasi. Gagasan, ide, pemikiran, filosofi, dan berbagai pengetahuan yang lahir dari kehidupan sosial juga terekam dalam apa yang kita ucapkan dan tulis dalam bahasa. Dan kehidupan modern menyimpan semua informasi ini dalam bentuk huruf dan tanda-tanda tekstual. Dalam dunia digital, informasi terkecil ini dipetakan dalam, misalnya, standar elementer 256 karakter ASCII (American Standard Code for Information Interchange). Hasilnya adalah milyaran buku yang ada di rak-rak buku di perpustakaan dan toko buku hingga dalam sel-sel silika hardisk kita sebagai e-book, web-page, dan berbagai format digital lain. (more…)

Hidup di Tepi Chaos

December 3, 2010

pengantar dalam Extension Course Filsafat (ECF) “Peran Khaos, Kejahatan dan Penderitaan bagi Peradaban”, Universitas Parahyangan, 3 Desember 2010.

Sains modern memiliki visi untuk memahami semesta alam dan sosial sedemikian sehingga ia dapat memberi kendali atas alam demi terhindar dari hal yang tak diinginkan. Jika tugas semua cendekia adalah untuk meyibak tabir ketidakadilan, maka ilmu pengetahuan merupakan elan vital demi mengelak dari bencana, kejahatan, dan penderitaan umat manusia. Historisitas peradaban homo sapiens di planet ini merupakan epos demi pencapaian asasi atas hal ini.

Namun perkembangan ilmu pengetahuan telah bercerita lain. Abad ke-21 merupakan era ketika ilmu pengetahuan, mulai dari level interaksi inter-partikel sub-atomik, evolusi organisme, dan dinamika sosial manusia, hingga interaksi inter-stelar, telah kehilangan konsep kepastian (certainty) dalam memandang dan memahami alam semesta. Ketidakpastian merupakan hal yang inheren dalam hidup manusia. Lantas bagaimanakah kehidupan sosial mesti berjalan dengan kesadaran bahwa ketidakpastian adalah hal yang tak ter-elak-kan dalam apapun upaya manusia untuk memahami semesta alam dan sosial? Bagaimanakah penderitaan dan kekacauan sebaiknya dipahami? Bagaimanakah kecamuk dan kemelut dalam dunia hari ini dapat menunjang evolusi peradaban manusia? (more…)