Archive for April 2011

Membaca “archipelagonomics”

April 29, 2011

diskusi di #forumwiken Jakarta, 30 April 2011

Ada banyak “nomics”-“nomics”, dan umumnya akan dikaitkan dengan prinsip-prinsip fundamental ekonomi politik yang ada. Ideologi merupakan sebuah cita-cita yang ingin diperjuangkan melalui koridor ekonomi politik yang ada. Jika berhaluan sosialistik, maka ada kecenderungan ekonomi politiknya lebih kritis terhadap pasar, sesuatu yang agak bertentangan dengan haluan liberal yang berasumsi bahwa kompetisi yang adil merupakan syarat mutlak kemajuan kehidupan perekonomian, sedemikian sehingga independensi pasar dari intervensi negara merupakan hal yang harus terus diperjuangkan. Dan ada begitu banyak aliran politik ekonomi lainnya, yang bersandar pada asumsi dan landasan pikir akan konsep kehidupan sosial ekonomi yang ideal. Mana yang lebih cocok buat Indonesia? Ini pertanyaan yang bisa tricky, pelik, dan tak sederhana. Namun perkembangan dan pengayaan ilmu ekonomi masa kini telah memungkinkan kita untuk meninggalkan pertanyaan tersebut bagi para politisi dan guru bangsa, dengan sekaligus membangun sistem perekonomian yang dijalankan dalam lanskap atas keadaan empiris dari kehidupan sosial ekonomi. (more…)

Advertisements

Dari Tata Mikro-sosial Ke Keteraturan Makro Orang Batak

April 25, 2011

Menelaah Kompleksitas Dalihan Natolu

Orang Batak hidup dalam sebuah fundamen dasar yang disebut “Dalihan Natolu”: tiga tungku yang menghidupi tata mikro-sosial individu dalam interaksinya dengan orang Batak lainnya.

  1. Keharusan untuk Somba Marhula-hula, atau menghormati saudara pihak dan semarga dengan isteri (dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan)
  2. Keharusan untuk Manat Mardongan Tubu, atau menjaga persaudaraan dengan saudara se-marga (dengan tujuan agar terhindar dari perseteruan)
  3. Keharusan untuk Elek Marboru, atau mengasihi saudara dan semarga dengan pihak suami (dengan tujuan memperoleh berkah).

Tiga aturan ini menjadi landas tata krama, sopan santun, hingga formalitas adat istiadat suku Batak. Karena pernikahan merupakan hal yang dialami oleh hampir semua orang, maka tiap individu batak pasti pernah mengalami posisi sebagai hula-hula (posisi tertinggi yang di-raja-kan dalam adat-istiadat), dongan tubu (posisi sejajar dalam adat dan tata krama sosial), dan posisi boru (posisi bawah dalam tata laksana kekeluargaan dan adat-istiadat). (more…)