Archive for September 2011

Menuju Wawasan Kompleksitas untuk Memahami Narasi Kompleksitas Negeri

September 15, 2011

disampaikan pada Seri Diskusi I Kompleksitas di Freedom Institute, Jakarta, 14 September 2011. Versi cetak makalah dapat diunduh di: http://issuu.com/freedominstitute/docs/makalah-hokky-kompleksitas/1 dan video diskusi dapat diakses di: http://www.youtube.com/playlist?list=PL56B259EE8A6FEE21

I am convinced that the nations and people
who master the new sciences of complexity
will become the economic, cultural, and political superpowers
of the next century!”

Heinz Pagels

 Dan seorang fisikawan kondang dan populer Stephen Hawking pun berujar, “abad ke depan ini adalah abad-nya kompleksitas”, sebagaimana dikutip sekitar sebelas tahun lalu di San Jose Mercury News di tahun 2000 yang lalu. Demikianlah seolah-olah genderang kemunculan perspektif baru dalam memandang dunia, kehidupan, alam, dan masyarakat di tengah masyarakat ilmu pengetahuan: ilmu-ilmu kompleksitas. Dibandingkan dengan kata “simplicity”, kata “complexity” semakin sering diungkapkan dalam berbagai literatur, sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1 [25]. Ilmu pengetahuan semakin cepat melaju, bahkan dengan percepatan yang luar biasa semenjak masa Renaissance, namun ternyata, peradaban kita merasakan kompleksitas sungguh merupakan sebuah karakteristik apapun yang kita amati, lihat, dan hidupi. (more…)

Advertisements

Komunikasi demi memicu Kreativitas

September 9, 2011

Disampaikan pada UB’s Week 2011, Universitas Bakrie Jakarta, 9 September 2011

Life is like a game of cards.
The hand you are dealt is determinism;
the way you play it is free will.
-Jawaharlal Nehru

Sesederhana-sederhananya hidup di dunia kampus, tak kurang kompleks di bandingkan dengan kehidupan profesional dan kehidupan masyarakat luas. Entahlah, ini bisa dianggap sebagai berita buruk atau berita baik bagi para mahasiswa. Kehidupan itu kompleks, dan kadang-kadang menggoda pikiran untuk menganggap banyak fenomena di dalamnya sebagai sebuah kebetulan, ke-random­-an, bahkan keajaiban. Tiap manusia memiliki kehendak bebas (free will) untuk menentukan apa dan bagaimana ia menjalani hidup. Manusia membentuk masyarakat. Tiap masyarakat pun sebagaimana seorang manusia, juga memiliki kehendak bebas untuk menentukan bagaimana ia mengorganisasi diri, membentuk dan menentukan sistem nilai, norma, dan tradisi masyarakatnya. Masyarakat membentuk negara. Tiap negara juga, pada hakikatnya, memiliki kemerdekaan pula menentukan nasibnya sendiri. Negara, masyarakat, dan manusia, ketiganya tak lebih kompleks atau lebih sederhana satu sama lain! (more…)

Adakah Kebudayaan Sumatera Utara itu?

September 6, 2011

disampaikan pada Latihan Kepemimpinan & Organisasi Unit Kesenian Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, 6 September 2011

Pada mulanya ia bernama Gouvernement Van Sumatera, ibukotanya Medan. Setelah Republik Indonesia merdeka, ia jadi sub-provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli). Tahun 1948 ia menjadi satu provinsi Sumatera Utara dengan Aceh sebagai bagian wilayahnya. Tahun 1949, ia sempat jadi Provinsi Tapanuli, terpisah dari Aceh yang juga jadi provinsi. Tapi delapan bulan kemudian kembali jadi Provinsi Sumatera Utara lagi. Baru enam tahun kemudian (1956), ia jadi Provinsi Sumatera Utara seperti yang kita kenal sekarang [1]. (more…)