Archive for October 2011

Harmoni (bukan benturan) Tatanan Dunia Baru

October 30, 2011

Disampaikan pada Seminar “Mengembangkan Litbang di HKBP”, Jakarta, 29 Oktober 2011

Adalah fitrah manusia untuk melihat dan memahami kompleksitas semesta alam dan sosial secara sederhana. Jika ada dua atau lebih solusi yang berbeda untuk satu permasalahan, maka yang kita terima sebagai solusi yang “benar” tentunya adalah yang paling sederhana [7]. Tak terkecuali seorang ilmuwan politik seperti Samuel Huntington (1927-2008), dalam bukunya yang terkenal, “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order” [5]. Dalam bukunya tersebut, Huntington menggambarkan bahwa pasca perang dingin sumber dari konflik di dunia yang baru bukanlah bersumber pada perbedaan ideologis atau ekonomis, melainkan perbedaan kultural yang sangat senjang, oleh perbedaan peradaban. Ini merupakan tesis serius yang ingin dikritisi oleh diskusi lanjut berikut, dalam sebuah perspektif ke-Indonesia-an, budaya tradisional, dan perkembangan sains mutakhir. (more…)

Advertisements

Menggambar Nexus Tiga Titik: Peluang Renesans Asia?

October 21, 2011

Diskusi seri ke-2 Kompleksitas, 19 Oktober 2011, yang diselenggarakan Freedom Institute dan Bandung Fe Institute, mengambil tema “Kompleksitas Budaya dan Renesans Indonesia”. Diskusi yang dipimpin oleh moderator Nirwan A. Arsuka dari Freedom Institute ini diawali dengan pemaparan bertajuk “Menjelaskan Kemajuan/Kekuatan Bangsa-bangsa” oleh I Gde Raka, seorang guru budaya dan manajemen inovasi dari Institut Teknologi Bandung, dilanjut dengan paparan berjudul “Dari Kompleksitas Budaya Tradisi Ke Renesans Indonesia” oleh Hokky Situngkir, Presiden Bandung Fe Institute. (more…)

Passion, Kreativitas, dan Inovasi menuntut Komunikasi dalam Interaksi!

October 2, 2011

Disampaikan pada Diskusi dengan Calon Pengurus Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung (HME-ITB), 2 Oktober 2011.

Tiap perusahaan menginginkan calon karyawan/staf atau pelamar kerja yang:

  • Cerdas secara akademis, biasanya dengan standardisasi Indeks Prestasi Kumulatif yang tinggi.
  • Komunikatif.
  • Berinisiatif, Kreatif dan Inovatif serta mampu meng-akutalisasikan kreativitasnya dalam kerja nyata.
  • Berani menghadapi tantangan kerja.

Namun setelah bekerja, tiap perusahaan biasanya malah menginginkan agar karyawan/staf dalam perusahaannya bertolak belakang dari semua itu,

  • Tidak boleh text-book! Jadi, IPK yang tinggi sungguh tak menjamin keberhasilan di dunia kerja.
  • Jangan terlalu komunikatif, karena jika ia sangat cerdas berkomunikasi, interaksi sosialnya dengan karyawan/staf lain bisa mengancam perusahaan dengan entitas Serikat Pekerja yang sangat kuat dan bisa menekan administrasi perusahaan.
  • Tidak terlalu banyak inisiatif, dan tak boleh terlalu kreatif, karena banyak job description tak akan bisa terpenuhi.
  • Harus segan/takut terhadap atasan! Jangan terlalu berani menghadapi “tantangan”?! (more…)