Keinsyafan Mahasiswa Indonesia atas Sistem Sosial Kompleks

Imagedisampaikan pada Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Padang, 22 Juni 2012

Meski kurikulum pendidikan tinggi di negara maju dan negara berkembang seperti Indonesia punya beban akademis yang relatif tak terlalu berbeda, tapi sepertinya takdir menunjukkan bahwa mahasiswa di negara berkembang punya “tugas” yang lebih berat dari mahasiswa di negara maju. Mahasiswa mendapatkan label sebagai kaum pengubah, agent of change, sebagaimana hampir takada pergantian kepemimpinan nasional tanpa diwarnai gejolak demonstrasi mahasiswa di sepanjang sejarah republik. Jika memandang negara sebagai layaknya sebuah tubuh manusia mahasiswa dengan badge kebebasan mimbar akademik seolah menjadi salah satu indera. Mahasiswa diharapkan menyuarakan apa yang tak tersuarakan. Namun di pundak keluguan yang jujur dari mahasiswa sebenarnya tertumpuk beban kenyataan kehidupan sosial yang menuntut anak-anak zaman kini menginsyafi kompleksitas sosial. Bahwa dunia tak pernah sesederhana apa yang digambarkan ilmu-ilmu warisan abad pencerahan yang dicekoki pada mereka di bangku pendidikan modern. Tantangan menjadi mahasiswa di Indonesia menjadi semakin besar!

Beberapa waktu yang lalu (dan gelombangnya masih terasa hingga sekarang), ribuan orang meneriakkan “Occupy Wallstreet” di Amerika Serikat dan lalu diikuti banyak demonstrasi di banyak negara lain, dengan berbagai varian gerakan dan slogannya. Beberapa waktu yang lalu, di tanah air, mahasiswa di banyak tempat di serempak berdemonstrasi yang dikabarkan merupakan reaksi atas rencana kenaikan harga bahan bakar minyak. Mahasiswa berdemonstrasi dan terkadang rezim pemerintahan bisa pula berubah karenanya. Namun adakah keadaan berubah? Kepada mahasiswa yang jadi indera itu pun diharapkan “solusi”. Padahal, jika lidah merasa pahit, tentunya bukan lidah, melainkan tanganlah yang harus di-“koreksi” agar tak lagi menyuapkan makanan pahit ke dalam mulut?!

Ekonom kritis, Steve Keen [5], menyebutkan, bahwa sesungguhnya, mereka yang mendemonstrasi IMF dan World Bank, entah di Seattle, Washington, Davos, Melbourne, dan Praha itu, pada dasarnya bukanlah mendemonstrasi IMF, tapi mereka berdemonstrasi melawan proposisi bahwa dunia ini harus dijalankan sesuai dengan teori-teori ekonomi konvensional. Lebih jauh lagi, demonstrasi-demonstrasi, termasuk yang digalang oleh kelompok mahasiswa, pada dasarnya memiliki benang merah yang sama. Mereka, pada dasarnya sedang berhadap-hadapan dengan raksasa yang sangat abstrak, yaitu pemikiran yang mewarisi tatanan pengetahuan umat manusia  warisan pencerahan di Eropa yang membentuk apa yang kita sebut sebagai tatanan dunia modern saat ini.

Warisan pemikiran ini telah berkembang sedemikian jauh, kuat, dan bersimbiosis dengan kapitalisme, dan menjadi nafas modernitas yang oleh kajian ilmu pengetahuan modern dalam satu dua dekade belakangan ditantang untuk insyaf. Dunia yang kita hidupi ini (terlebih dunia dan realm sosial kita) rupanya tak bias dipandang secara monodisipliner. Tak ada masalah yang murni masalah ekonomi, sosiologi, hukum, psikologi, antropologi, dan sebagainya. Semua hal bertali-talian secara kompleks sehingga menuntut cara berfikir yang tak boleh lagi berpaku pada satu disiplin ilmu. Kompleksitas sosial menuntut diperlakukan secara kompleks dan tak mau diperlakukan secara simplistik. Kita justru harus berfikir kompleks agar mampu memahami secara sederhana sistem alam dan sistem sosial kita [2].

Melihat persoalan sosial hanya dengan satu kaca mata tatanan pengetahuan adalah pengkhianatan terhadap kenyataan kompleks dari masyarakat. Sistem kompleks harus dilihat secara komprehensif. Persoalan bahan bakar minyak bukanlah persoalan ekonomi energy semata-mata, tetapi juga adalah persoalan sosiologis, antropologis, hukum, bahkan psikologi sosial. Di dalam pasar, tak hanya satu barang atau jasa yang diperdagangkan, tapi banyak barang, dan dalam satu barang/jasa pun terdapat perubahan-perubahan inovatif dalam pola industrial. Perekonomian suatu negara tak bisa direduksi dengan “representasi” dinamika di bursa efek dan dunia perbankan. Pertumbuhan ekonomi tak bisa disimpulkan semata-semata sebagai dinamika apa-apa yang diproduksi di dalam suatu negara, karena pergerakan elemen-elemen produksi (termasuk investasi) di suatu negara tak semata-mata berasal dari negara yang bersangkutan. Pengembangan seni dan budaya tak bisa direduksi semata-mata sebagai persoalan “ekonomi kreatif”, dan hukum-hukum kepemilikan tak bias diterapkan sama, antara apa yang diproduksi oleh proses modern, dengan apa yang di-“produksi” melalui proses sosial yang tradisional.

Secara parsial dalam perkembangannya, domain-domain ilmu sosial sebenarnya sudah “merasakan” adanya ketidakberesan dalam cara pandang monodisipliner yang ada. Namun ilmu-ilmu sosial kemudian “tercemari” oleh apa yang disebut sebagai ideologi. Ideologi menutup ruang-ruang ketakcocokan apa yang ditemui secara empiris dengan konsepsi-konsepsi ideal. Ilmu-ilmu sosial menjadi sarat ideologi. Cara pandang ilmu (ekonomi, sosiologi, hukum, antropologi, dan lain-lain) sosialitik, kapitalistik, neo-klasik, dan banyak aliran-aliran yang berujung pada perdebatan tautologis yang berujung pada ketidaktahuan kita, bagaimana menyikapi kompleksitas sosial yang ada.  Ideologi dan cara berfikir text-book menjadi sandaran banyak kebijakan dan akhirnya teriakan yang berubah menjadi aksi massa pun tak terbendung [9].

Tantangan kritisisme dan perkembangan ilmu-ilmu kompleksitas sosial pada dasarnya adalah upaya untuk meng-emanisipasi ilmu dan kajian sosial atas ideology yang  mengungkung cara pandang ilmu pengetahuan selama ini. Tatanan pengetahuan sosial harus terbebaskan dulu dari kungkungan ideologis, sehingga ia dapat melihat persoalan dengan lebih jernih. Setelah itu, barulah perspektif atas persoalan dan fenomena sosial tak meninggalkan cara pandang yang terkungkung atas domain-domain tertentu yang dianggap berkaitan semata-mata. Permasalahan perlu dilihat dalam entitas sistemik permasalahan itu sendiri, secara empiris. Langkah terpenting memandang persoalan sosial kompleks adalah menentukan dan mendefinisikan persoalan yang dihadapi terkait berbagai variabel, interaksi, dan elemen di dalam sistem yang di-observasi [5, 10].

Keberagaman elemen-elemen sistem sosial, individu, merupakan hal yang perlu menjadi fokus perhatian atas sistem kompleks. Tiap agen-agen sosial memiliki keunikan atas keinginan, sifat dan cita-cita. Persoalannya kemudian adalah ketika kita dengan mudah menemukan adanya keteraturan yang empirik di level makro sosial, yang membentuk apa yang dikenal sebagai variabel-variabel seperti harga, keterpilihan, popularitas, dan sebagainya.

Perspektif kompleksitas menstrukturkan kerumitan persoalan ke dalam dua level deskripsi yang berbeda, mikro dan makro, namun saling terkait satu sama lain secara tak linier. Level mikro yang tersusun agen-agen sosial yang beragam, saling berinteraksi dan memunculkan  fenomena makro yang teramati. Persoalannya bahwa ketidaklinearan hubungan mikro dan makro membuat kita tidak bisa semena-mena mereduksi fenomena sosial sebagai agregasi fenomena individual [7]. Karakteristik sekumpulan orang tak sama dengan “penjumlahan” karakteristik individu-individu di dalamnya. Seperti layaknya atom Hidrogen dan Oksigen yang berbentuk gas, ketika bersenyawa membentuk molekul air bentuknya adalah cairan – suatu karakteristik yang jauh berbeda dengan karakteristik elemen penyusunnya, yaitu gas. Dengan kata lain bahwa fenomena sosial harus dipandang utuh sebagai karakteristik kolektif yang membrojol dari interaksi elemen-elemen penyusun sistem [3].  Lebih jauh, ada kontingensi dari setiap fenomena baik di level makro maupun mikro dari sistem.

Hal-hal inilah yang harus mengilhami keinsyafan kita melihat persoalan secara kompleks [8]. Dan adalah tantangan generasi mahasiswa saat ini untuk menggunakan cara pandangan yang relatif baru ini dalam mempertajam sensitivitasnya demi menyuarakan aspirasi masyarakat yang sangat penuh harapan padanya. Di sinilah tantangan menjadi mahasiswa Indonesia di era kompleksitas.

Kerja Yang Disebut:

  1. Castellani, B. & Hafferty, F. W. (2009). Sociology & Complexity Science: A New Field of Inquiry. Springer.
  2. Chesters, G. & Welsh, I. (2006). Complexity and Social Movements: Multitudes at the Edge of Chaos. Routledge.
  3. Johnson, S. (2001). Emergence: The connected lives of ants, brains, cities, and software. Scribner.
  4. Keen, S. (2007). Debunking Economics: The Naked Emperor of the Social Sciences. Pluto Press.
  5. Macy, M. W. & Willer, R. (2002). “From Factors to Actors: Computational Sociology and Agent Based Modeling”. Annual Reviews Sociology (28): 143-166.
  6. Sawyer, R. K. (2001). “Emergence in Sociology: Contemporary Philosophy ofMind and Some Implications for Sociological Theory”. American Journal of Sociology  107 (3):. 551-585.
  7. Situngkir, H. (2003). “Emerging the Emergence Sociology: The Philosophical Framework of Agent-Based Social Studies”. Journal of Social Complexity 1 (2): 3-15.
  8. Situngkir, H. (2003). Jalan Panjang Menuju Sosiologi Komputasional. Tutorial Online http://compsoc.bandungfe.net/intro/main.html
  9. Situngkir, H. & Surya, Y. (2007). Solusi untuk Indonesia: Prediksi Kompleksitas/Ekonofisik. Kandel.
  10. Situngkir, H. (2010). Piringan Kompleksitas Sosial. Dept. Sosiologi Komputasional Bandung Fe Institute. http://compsoc.bandungfe.net/pks
Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: