Kepemimpinan Di Era Kompleksitas

disampaikan pada Diskusi “Politik dan Kepemimpinan” Populis Institute, Jakarta, 11 Juli 2012

Hampir tak ada persoalan sosial yang tak dikaitkan dengan kepemimpinan. Mitologi “ratu adil” ibarat  semacam ekivalensi “kedaulatan mutlak” yang melahirkan “kontrak sosial” dalam keadaan bellum omnium contra omnes (perang semua melawan semua) yang chaos, seperti diterawangkan Thomas Hobbes dalam Leviathan (1961). Persoalan-persoalan republik hari ini selalu menggoda kita untuk “mengganggu” tokoh-tokoh proklamator dan pemimpin yang kuat seperti Presiden Sukarno, Mohamad Hata, Sutan Sjahrir, dan sebagainya, dari alam peristirahatan. Kita cenderung berpikir akan adanya pemimpin di luar sana, padahal pemimpin itu jelas ada di antara kita sendiri – dan di saat yang sama, tokoh-tokoh yang memiliki karakteristik kepemimpinan sibuk “meniru-niru” demi mencitrakan diri sebagai pemimpin-pemimpin masyarakat di masa lampau tersebut. Keinsyafan kita akan kompleksitas sistem sosial mengajak kita untuk melakukan emanisipasi generasi, dengan kesadaran bahwa kepemimpinan itu lahir oleh sistem, ia tidak lahir begitu saja.

Gambar 1
Formasi V migrasi bangau kanada (kiri) dan upaya sekelompok semut memindahkan sumber makanan (kanan): siapakah pemimpinnya?

Kerjasama intraspesies selalu menarik dan mengagumkan. Semut-semut yang bekerja sama dalam memindahkan butiran gula yang bobot dan volume yang jauh lebih besar dari tubuhnya, bekerja bersama tanpa perlu ada satu semut yang menjadi pemimpinnya. Burung-burung yang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain bergerak dan membentuk pola-pola tertentu tanpa ada yang menkomandoi. Secara sepintas, mungkin pikiran kita akan tergoda untuk menganggap bahwa burung yang terbang paling depan dalam kawanan burung tersebut adalah “pemimpin” dari rombongan burung tersebut. Tapi justru tidak. Posisi individu-individu burung yang terbang dalam berbagai formasi yang terbentuk pada dasarnya tak selalu ditentukan senioritas (usia), atau peran sosial apapun. Berbagai formasi dan bentuk itu merupakan pola yang terbentuk dalam kecerdasan kolektif mereka (collective intelligence), sebuah kecerdasan ketika mengerumun (swarm intelligence).

Percobaan komputasi yang dilakukan Craig Reynolds [4] menunjukkan bagaimana berbagai formasi unik dari berbagai kawanan burung yang terbang tercipta tanpa perlu adanya komando dan pimpinan dalam pengertian konvensional. Burung-burung tersebut terbang dengan kendali yang terdesentralisasi, akuisisi informasi yang lokal (bukan global), dan anonimitas, artinya tiap individu tak memiliki prejudice terhadap siapa burung di dekatnya. Tiga karakteristik terbang berkelompok tersebut kemudian menjadi tempat mereka mengikuti tiga aturan utama dalam navigasi terbang, yaitu:

–          Keterpisahan: terbang dengan arah menghindari tabrakan dengan kerumunan burung lain.

–          Kesesuaian: terbang ke arah sejajar arah sebagian besar burung lain di dalam kelompok.

–          Kohesi: terbang ke arah rata-rata posisi burung yang ada di dekatnya.

Tiga aturan terbang inilah yang lalu membuat mereka terus saja terbang dengan membentuk pola-pola yang membikin makhluk dengan volume otak berlipat-lipat kali volumenya terkagum-kagum. Tiga aturan dasar yang pada dasarnya merupakan aturan primer dalam kebertahanan sebuah sistem sosial manusia. Jika tiap anggota-anggota masyarakat hidup dengan berupaya meredam konflik secara lokal, berusaha melakukan kesesuaian dalam kelompok dengan arah yang sama, dan masing-masing berupaya menjaga kohesi masing-masing, maka tiap individu merupakan pemimpin – kecerdasan kolektif kita merupakan pemimpin bagi kita. Ini merupakan konsep kepemimpinan yang organis, pemimpin muncul dari mereka-mereka yang memiliki visi kepemimpinan.

Pemimpin bukanlah “ratu adil” dalam konsep kepemimpinan yang meng-insyaf-i kompleksitas sosial.  Kedudukan dan posisi pemimpin merupakan satu peran saja dalam kolektivitas sosial yang kompleks, dan nasib sistem sosial tak semata-mata bergantung pada apa dan siapa pemimpinnya, melainkan bergantung pada sinergi elemen-elemen sosial yang justru memiliki konsep kepemimpinan yang lebih luas. Inilah yang kita pelajari dari konsep kepemimpinan semut, burung-burung, dan berbagai kolektivitas sosial non-primata. Suatu konsep yang menunjukkan bahwa kecerdasan tak hanya muncul secara individual, namun juga secara sosial. Kebersamaan melahirkan kecerdasan organik yang bahkan bisa melebihi “kecerdasan” individu genius penyusun kolektivitas sosial yang ada [3].

Gambar 2
Siapakah yang sesungguhnya memiliki kuasa? [2]

Indonesia itu negeri seribu raja. Ada ribuan kerajaan yang pernah berdiri di kepulauan Nusantara dengan yang mana masing-masing memiliki model sistem pemerintahan yang unik [2].Konsep kepemimpinan kompleks tumbuh organis jauh lebih dulu matang, bahkan daripada pertumbuhan organisasi negara Indonesia sendiri. Sebagai intitusi politik yang muncul secara organis, keragaman model sistem pemerintahan kerajaan merefleksikan keragaman konsepsi kekuasaan yang ada dalam masyarakat saat itu.  Sederhananya, masyarakat dengan nilai politik yang demokratis tentu tidak mengharapkan pengaturan organisasi pemerintahan yang sentralistik tanpa adanya lembaga representatif.  Sangat menarik ketika ketika konsepsi kekuasaan tersebut direfleksikan dalam tata birokrasi pemerintahan tradisional di banyak konsepsi pemerintahan tradisional Indonesia. Kita menemukan bahwa Raja tidak selalu menempati posisi yang sentral dalam urusan pemerintahan sehari-hari, sementara  lembaga dewan adat yang fungsinya setara dengan lembaga perwakilan dalam system politik modern juga selalu ada hadir dalam organisasi pemerintahan. Pusat kepemimpinan tak melulu adalah pemangku keluasaan eksekutif, atau raja. Suatu kontra-indikasi dengan kehidupan pemerintahan modern kita hari ini, ketika pusat kepemimpinan dikira berada di tangan presiden atau kepala daerah di tingkat lokal (?).

Gambar 3
Pola kemiripan struktural jejaring birokrasi di beberapa pemerintahan tradisional dan kuna di Indonesia

Lebih jauh, ketika graf relasi otoritas antar berbagai elemen birokrasi kerajaan tersebut dijajarkan, kita kemudian dapat mengkonstruksi pohon kekerabatan antar kerajaan-kerajaan Nusantara tersebut (gambar  3).  Adalah sebuah fakta empiris yang menarik ketika kita melihat bahwa, Majapahit, sebagai salah satu birokrasi nasional yang benerapa ratus tahun lebih dulu dari Indonesia justru seolah menunjukkan “sentralitas”-nya atas birokrasi-birokrasi tradisional yang lain, yang pernah ada di level geografis yang lebih kecil. Ini menunjukkan pertumbuhan organis dari birokrasi tradisional yang jelas merupakan pelajaran berharga bagi konsepsi kepemimpinan indonesia modern hari ini.

Apa moral cerita manajemen kepemimpinan organisasional kompleks ini? Kita menyadari kini bahwa manajemen sistem kompleks sosial pada hakikatnya lahir dari stabilitas sosial yang ada. Kepemimpinan yang baik lebih dipandang sebagai upaya memutar roda dinamika kehidupan sosial secara umum. Kepemimpinan di era kompleksitas bukanlah kepemimpinan yang penuh kendali sistem dan dan tumpuan stabilisator sistem yang meredam berbagai potensi dinamika elemen-elemen sistem. Kepemimpinan di era kompleks merupakan kepemimpinan di “tepi chaos”, sebagaimana digambarkan dalam gambar 5.

Gambar 4
Konsepsi kepemimpinan kompleks: (A) A sistem tanpa adanya pemimpin (B) Sistem tanpa sinergi global yang berjalan organis melalui sinergi inisiatif elemen-elemennya, (C) kepemimpinan yang muncul dari sistem dalam konsepsi aktualisasi dan sinkronisasi, (D) kepemimpinan yang muncul melalui umpan balik aktif dari proses bottom-up [5]. Yang terakhir merupakan konsepsi kepemimpinan yang kita harapkan hadir dalam sistem kompleks sosial kita.

Adalah keliru menanggap bahwa fungsi kepemimpinan merupakan fungsi stabilisator dari sistem. Adalah juga keliru menganggap bahwa kepemimpinan yang baik merupakan pengendali sistem secara keseluruhan. Terdapat risiko matinya kreativitas dan inisiatif lokal jika kepemimpinan di level global menjadi penentu kontrol sosial secara umum. Pemimpin dengan keinsyafan sistem kompleks sosial tidak mengendalikan sistem, tapi lebih berupa “mengemudikan” sistem [1]. Perannya bukanlah menjadi stabilisator melainkan menjadikan sistem tetap berada di tapal batas antara keadaan yang stabil dan tak stabil secara dinamis: di tepi ketakstabilan, di tepi chaos. Kepemimpinan di era kompleksitas sosial merupakan fungsi optimisasi dari elemen-elemen sistem.

Gambar 5
Optimisasi adalah fungsi kepemimpinan kompleks

Keberagaman kehidupan sosial di Indonesia merupakan salah satu yang paling kompleks di dunia. Lanskap kepulauan dan kenyataan historis masih mudanya demokrasi yang ada di Indonesia merupakan tantangan kompleks yang mesti dihadapi oleh masyarakat Indonesia hari ini, baik di sektor bisnis & ekonomi, politik, dan sosial budaya [6]. Ini merupakan tantangan kepemimpinan yang harus kita hadapi hari ini, sebuah tantangan untuk merumuskan secara implementatif kepemimpinan di era dan berlandaskan keinsyafan akan kompleksitas sosial.

Kerja yang disebut
[1] Axelrod, R. & Cohen, M. D. (2000). Harnessing Complexity: Organizational Implications of a Scientific Frontier. Free Press.
[2] Maulana, A & Situngkir, H  .(2009). “Study to Ancient Royal Bureaucracies in Indonesian Archipelago”. BFI Working Paper Series WP-4-2009. Bandung Fe Institute.
[3] Page, S. E. (2007). The Difference: How the Power of Diversity Creates Better Groups, Firms, Schools, and Societies. Princeton UP.
[4] Reynolds, C. W. (1987). “Flocks, Herds, and Schools: A Distributed Behavioral Model”. Computer Graphics 21 (4). SIGGRAPH ’87 Conference Proceedings.
[5] Seel, R. (2000). “New Insights on Organizational Change.s” Organizations & People 7(2): 2-9.
[6] Situngkir, H., et. al. (2007). Solusi untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisika dan Kompleksitas. Kandel.

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

One Comment on “Kepemimpinan Di Era Kompleksitas”

  1. 4ndr0m3dh4 Says:

    Reblogged this on justclickado and commented:
    Chaos , Diversity , and Leadership


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: