Etongan Maninga: Geometri Modern di Tapanuli

Di antara tumpukan arsip-arsip kuno tentang budaya nusantara untuk didokumentasikan ke www.budaya-indonesia.org, khususnya budaya tradisional di Tapanuli, Sumatera Utara, terungkap sebuah buku yang jelas bukan merupakan bagian tradisi nusantara, judulnya “Etongan Maninga”. Buku ini merupakan sebuah buku intrakurikuler sekolah tinggi yang menerjemahkan buku pelajaran matematika ke dalam Bahasa Batak. Hal yang menarik tentunya adalah ketika “Geometri” diterjemahkan sebagai kata “Maninga”. Kata ini sudah jarang digunakan bahkan oleh orang dari suku Batak. Bagaimana kita mengambil refleksi dari buku tua yang menarik ini? Telaah buku biasanya berisi ulasan atas sebuah buku yang baru terbit. Tapi kali ini, kita coba me-review sebuah buku yang justru telah lama sekali terbit, tahun 1896, pelajaran matematika modern berbahasa Batak di penghujung abad ke-19!

Buku Etongan Maninga ini merupakan buku yang ditulis oleh H. Raadersma, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa batak oleh J.H. Meerwaldt. Bukunya sendiri diterbitkan oleh penerbit Bielefeld pada tahun 1896, hampir setengah abad sebelum Kongres Bahasa Indonesia I, di Solo (1938), yang kemudian memberikan tonggak dasar-dasar bahasa Indonesia mulai aspek sastra hingga bahasa formal pendidikan. Buku ini tersimpan sebagai salah satu mikrofilm di National Library of Australia dan kopinya bisa di-download di sini.

Isi buku ini merupakan pelajaran ilmu ukur atau geometri, dan menarik untuk memperhatikan judulnya “Etongan Maninga”, yang mungkin bisa diterjemahkan, “etongan” yang berarti “hitungan”, dan “maninga” yang sudah agak jarang digunakan dalam bahasa batak kini, yang bisa berarti “geometri” atau “ilmu ukur”, “ilmu tentang benda dan ruang” dalam kajian matematika modern [6]. Kata “maninga” sering dikaitkan dalam kajian arsitektur tradisional rumah ada batak [3]. Ada sebuah bagian yang disebut sebagai “paningaan”, yaitu bagian depan di sisi kiri dan kanan rumah adat Batak yang di atasnya ditorehkan ukir-ukiran khas Batak, yaitu “gorga” [3], entah itu ornamen yang disebut “gorga dais”, atau gambar sejenis “cecak” yang disebut “boraspati”. Menjadi menarik adalah jika “maninga” merupakan kata berimbuhan “ma-” dalam bahasa Batak, maka kata dasarnya bisa saja “singa” atau “tinga”. Jika ia berkata dasar “singa”, maka sepertinya bagi masyarakat Batak kuno, “singa” bukanlah singa yang mamalia  sebagaimana kita kenal dalam bahasa Melayu. “Singa” menjadi sebuah kata dasar untuk kata kerja “menyusun”, atau “menentukan”. Tapi bisa juga kata dasarnya adalah “tinga”, yang juga merupakan penyebutan untuk hewan sejenis belalang yang biasa ditemukan di persawahan [6], yang sering pula muncul dalam ukiran rumah adat Batak terukir di papan paningaan. Apapun itu, yang jelas, buku dengan judul “Etongan Maninga” menunjukkan bahwa “maninga” mungkin adalah padanan yang pas untuk “geometri”, di mana “paningaan” tempat mereka kemudian berpraktik (ukir) geometris. Penggunaan kata yang memiliki kemiripan bunyi dengan beberapa istilah dalam arsitektur tradisional Batak, bisa jadi merupakan bentuk penerapannya. Tak bisa disangkal bahwa begitu banyak makna-makna yang terkodekan dalam ukir-ukiran dalam arsitektur tradisional Batak, yang mungkin hampir tak ada atau sangat sedikit yang dapat memahaminya oleh karena miskinnya dokumentasi budaya. Sesuatu yang lazim juga di bangsa-bangsa lain di kepulauan Indonesia, yang sangat didominasi transmisi budaya secara lisan, dan bukan tulisan.

Penggambaran “singa” atau “tinga” (?) bagian dekoratif arsitektur tradisional Batak.

Hal lain yang juga menarik untuk diperhatikan adalah bahwa buku ini terbit beberapa tahun sebelum penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia van Ophuijsen diakui oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa itu. Penggunaan huruf “oe” untuk bunyi “u” tak ditemukan pada buku tersebut, yang menulis dengan lugas huruf “u” untuk bunyi bahasa batak “u”. Jauh hari sebelum Ejaan Yang Disempurnakan tahun 1972 dengan penggunaan huruf “c” menggantikan “tj”, buku itu telah menggunakan huruf “c”; misalnya untuk kata “cirkel” untuk menyebut “lingkaran” dalam bahasa Batak. Namun tak demikian dengan penggunaan tanda huruf “dj” yang digunakan dalam buku tersebut. Ini menunjukkan bahwa penerjemah dan pengajar maupun pelajar buku tersebut benar-benar menggunakan tata tulis melayu yang terlepas dari dinamika politik perbahasaan tulis yang belum marak pada masa tersebut.

Terlepas dari semua hal terkait bentuk penulisan yang ada di buku tersebut, dengan membaca buku “Etongan Maninga” ini kita menemukan sebuah proses primitif yang awal sekali untuk meng-injeksi metafora yang kemudian menjadi badan (embodiment) yang membangun geometri (dan matematika pada umumnya) sejak zaman Yunani dan kemudian berkembang pesat pasca masa Pencerahan Eropa [1], ke dalam metafora-metafora orang Batak dalam representasi pemilihan kata-kata, misalnya, untuk “luas bidang” disebut “halalambas”, “lingkaran” disebut dalam serapan “cirkel”, “bujur sangkar” sebagai “kuadrat”, “teorema” disebut sebagai “poda”, konsep “garis” disebut “gurat”, “sudut” sebagai “suhisuhi”, “diameter” disebut dalam frasa “gurat panorusi”,  dan banyak lagi.

Kecuali kata-kata yang bersifat serapan, representasi kata-kata tersebut dalam tata bahasa Batak sering digunakan dalam banyak aspek kehidupan batak, tentu tanpa maksud geometris. “Poda”, misalnya, merupakan “nasehat” yang kuat. Banyak peribahasa dan pepatah-petitih Batak disebut sebagai bentuk “poda”. Tentu menarik untuk memperhatikan bagaimana penerjemah buku tersebut menyebut kata “poda” sebagai padan kata “teorema”, misalnya. Atau kata “halalambas” sebagai “luas bidang dua dimensi”; mengingat kata “lambas” merupakan kata yang kerap diguanakan untuk menggambarkan “kelapangan”, misalnya dalam frasa Batak “lambas ni roha” yang berarti “kelapangan dan kemurahan hati”. Demikian juga penggunaan kata “gurat” untuk padanan konsep “garis”; mengingat “gurat” lebih berarti sebagai bentuk “goresan”, “bekas jejak goresan”.

Pendeknya, memadankan kata-kata untuk metafora matematika yang lahir dan luas berkembang di Eropa ke dalam bahasa (dan tentunya metafora) Batak memberi cerminan yang menarik untuk menggambarkan bagaimana matematika lahir dan tumbuh di masyarakat yang tak turut menyaksikan lahirnya matematika sebagaimana manusia Eropa melahirkan dan mengembangkannya sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri.

Kajian-kajian tentang “geometri batik” [5], misalnya, telah menunjukkan bahwa pada dasarnya nenek moyang kita, orang-orang yang tinggal di kepulauan nusantara ini pada dasarnya telah memiliki “ilmu ukur” dan “ilmu hitung” sendiri. Mereka telah memiliki geometri dan cara bermatematika yang memiliki karakteristik apresiatif atas konsep-konsep matematika yang berbeda dengan saudara-saudaranya yang ada di belahan bumi bagian utara [4]. Ini menjanjikan kajian yang menarik di masa yang akan datang, demi pemahaman kita akan “apa itu matematika”, dan “mengapa budaya manusia memiliki matematika” dalam khazanah dan telaah ilmu-ilmu kognitif manusia. Saat diterbitkan dan dibaca pertama kali, buku “Etongan Maninga” ini mungkin memang digunakan untuk mempelajari konsep-konsep matematis. Tapi kini ia bisa menjadi sebuah pintu reflektif keilmuan mutakhir bagi kita, untuk membuka cakrawala ilmiah tentang bagaimana kemampuan kita bermetafora, pada akhirnya melahirkan sebuah ilmu yang justru menjadi tumpuan budaya modern termutakhir saat ini, yaitu matematika!

Karya Yang Disebut:

  1. Lakoff, G. & Nunez, R. E. (2000). Where Mathematics Comes From. Basic Books.
  2. Marbun, M. A., Hutapea, I. M. T. (1987). Kamus Budaya Batak Toba. Balai Pustaka.
  3. Sibeth, A. & Carpenter, B. W. (2007). Batak Sculpture. Didier Millet.
  4. Situngkir, H., Dahlan, R. (2007). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.
  5. Situngkir, H., Dahlan, R. (2011). “Rekomendasi untuk Renesans Indonesia”. BFI Working Paper Series WP-3-2011. URL: http://www.bandungfe.net/?go=xpj&&crp=4df22617
  6. Voorhoeve, P. (1975). Catalogue of Indonesian Manuscripts. The Royal Library Copenhagen.
  7. Warneck J. (1977). Toba-Batak – Deutsches Worterbuch. Martinus Nijhoff.
Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

5 Comments on “Etongan Maninga: Geometri Modern di Tapanuli”

  1. J.Sianturi Says:

    tarimakasi mada Ipar !

  2. rinaldi Says:

    Thanks Very Much Bang

  3. Bang Juntak Says:

    Akhirnya dapat buku tersebut dibahas juga dalam blog ini.
    Mauliate godang lae… jadi nambah ilmu

  4. robin panjaitan Says:

    Manigor juga barangkali bermakna garis lurus ya bang.atau vektor kali ya.mudah mudahan kita bisa terus gali kekayaab budaya kita.karakter kuat …batakkk


  5. Las roha manjaha ulasan mu na on, lae. Lumobi dibahen hamu angka pustaha na gabe ojahanna. Mauliate.
    Nunga ro hape tu tano batak sinondang ni hapistaran sian mula-mulana ditingki so adong dope Indonesia on. Mauliate ma tu parbarita na uli i.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: