Social Media “Occupy” Capital Media?

Diskusi Indonesian Media Watch (IMW), Jakarta, 20 September 2012

Dalam pertarungan merebut popularitas rakyat, baik kubu demokratik Barrack Obama, maupun republikan Mitt Romney mengeluarkan sedemikian banyak dana untuk menguasai social media: jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya. Hal serupa, meski tak terlalu kentara, juga sangat mungkin terjadi dalam kancah politik nasional dan lokal, katakanlah misalnya perebutan kursi gubernur antara pasangan calon gubernur di DKI Jakarta Fauzi-Nara dan Jokowi-Basuki. Pelan-pelan social media yang tak punya sistem jurnalisme baku seolah mulai “merongrong” jatah pemberitaan konvensional melalui stasiun berita. Ketika informasi begitu membludak, kredibilitas informasi dari seseorang yang kita kenal terkadang jauh lebih bisa diterima, bahkan daripada pemberitaan konvensional yang sebenarnya secara ketat masih kukuh memegang prinsip-prinsip dank kode etik pemberitaan modern. Belakangan, baik di dalam maupun luar negeri, media konvensional sering tercurigai memiliki bias-bias pemberitaan, oleh pemimpin perusahaan (atau redaksi) yang didapati juga bermain di kancah politik: kancah yang justru ia beritakan dalam semangat netralitas pemberitaan…

Semangat jurnalisme modern adalah memberitakan kebenaran dan tidak boleh menjadi penentu kebenaran [1]. Bahkan jurnalisme tidak boleh terjebak pada demand pasar atas pemberitaan tertentu. Karena itulah redaksi stasiun berita harus merupakan pihak yang terpisah dari perusahaan stasiun berita, agar dua pihak yang memiliki constraint yang berbeda itu berada dalam koridor masing-masing: redaksi berbicara soal content berita, sementara perusahaan berbicara soal sustainabilitas finansial dari stasiun berita. Trade off atas “konflik” kedua elemen perusahaan stasiun berita itu diharapkan memberikan ekuilibria akan kejujuran dalam pemberitaan, baik secara porsi maupun perspektif pemberitaan.

Namun persoalan netralitas tentunya bersifat multi-dimensi, bahkan kompleks, karena berbicara ikhwal kepentingan atas isi dari apa yang diberitakan. Obyektivitas merupakan hal yang tak mudah atau jika tak mungkin, ditangkap. Ada “realisme naif” yang berkembang dan seperti diistilahkan para psikolog, “bias blind spot”, yaitu bahwa meski kita sadar, tapi kita sering lupa dan tak menyadari bahwa interpretasi kita atas sebuah berita senantiasa akan selalu dibentuk oleh bias kita sendiri dalam memandang berita [7]. Bias ini terjadi, baik saat penulisan sebuah reportase dan terjadi lagi saat massa mengkonsumsi berita tersebut. Seorang aktivis lembaga kemahasiswaan berbasis keagamaan cenderung lebih mudah menerima berita palsu bahwa Calon Gubernur DKI Jokowi, beragama katolik dan ibunya pun beragama katolik, daripada seorang aktivis dari lembaga kemahasiswaan yang lebih sekuler, misalnya. Seorang republikan di Amerika Serikat lebih bisa percaya berita palsu bahwa George Bush berencana melarang semua percobaan sel inti daripada seorang demokrat liberal. Nilai moral politik kita menentukan bagaimana kita meng-interpretasi sebuah pemberitaan. Kita cenderung mendengar dan melihat apa yang kita mau dengar dan lihat?!

Kenyataan inilah yang turut mengurangi kredibilitas media massa konvensional di kalangan mereka yang memiliki bias blind spot yang besar seiring dengan tingginya intensitas dalam jejaring sosial, apalagi jika jejaring sosial tersebut cenderung homogen moral politiknya. Ini dilaporkan sebuah survey longitudinal yang dilakukan di Amerika Serikat yang pekan lalu diberitakan di majalah sains popular NewScientist menunjukkan menurun drastisnya tingkat kredibilitas pemberitaan melalui media massa konvensional.

Survey tren penurunan kredibilitas media massa di Amerika Serikat [3]

Dilaporkan bahwa dalam lebih dari 15 tahun terakhir, masyarakat cenderung sering “melihat” tidak kredibelnya content pemberitaan media massa. Tren yang semakin memburuk dibarengi dengan semakin pesatnya teknologi informasi dan telekomunikasi. Ketika taipan media massa konvensional makin kerap terlihat bias politiknya, dan intensitas social networking yang seolah kerap menunjukkan tidak layak dipercayanya sebuah pemberitaan, media massa, banyak anggota masyarakat terlihat mulai mengandalkan fasilitas online seperti Twitter dan Facebook sebagai sumber informasi alternatif. Jika beberapa waktu lalu popular istilah Occupy Walstreet [2], di mana orang-orang dalam semangat yang agak sosialistik, adakah ini sebuah tanda-tanda Social Media akan meng-occupy Capital Media?

Konon, persoalan dari social media adalah bahwa berita bohong justru sangat mudah terjadi [5]. Namun adalah keliru menganggap bahwa social media tak mungkin menggantikan capital media konvensional dengan alasan rebaknya anonimitas, kesimpang-siuran, dan tak terjaminnya validitas sumber berita. Karakteristik social media sangat berbeda dengan karakteristik media konvensional [8]. Interaksi yang sangat tinggi di social media menjadikan apresiasi atas sebuah “isu hangat” menjadi viral, namun jelek/baiknya kredibilitas sebuah sumber berita juga bersifat viral.

Di Indonesia, belakangan terdengar maraknya akun-akun anonim yang menyebarkan berbagai informasi politis atas sesuatu hal. Namun tak jarang pula kita dengar di kemudian hari bahwa afinitas dan keberpihakan politik dari akun-akun anonim ber-follower ratusan ribu sebenarnya dapat ter-ekspos dengan jelas. Jika anda seorang yang memiliki afinitas dengan pandangan politik A, maka anda akan cenderung percaya pada twit yang dikirim akun anonim yang juga berpandangan politik A. Dan meskipun follower akun anonim tersebut ratusan ribu, tak ada jaminan bahwa follower akun tersebut benar-benar mereka yang punya afinitas politik yang sama. Ada efek sosial, ketika sebuah akun ber-follower banyak dan dikenal suka menyiarkan berita sensasional (biasanya berita bersentiman negatif atas sesuatu) akan di-follow oleh lebih banyak orang yang justru mungkin berlawanan sikap politiknya dengan A – demi sekadar untuk mengikuti sejauh mana “kebohongan” siaran akun anonim tersebut [10]. Kekuatiran akan persebaran rumor palsu dengan tingkat anonimitas yang tinggi di social media atau web 2.0 pada dasarnya tak terbukti mampu menunjukkan rendahnya kredibilitas social media atau web 2.0 tersebut secara global.

Hal inilah yang disebut sebagai unsupervised learning dalam kolektivitas masyarakat. Sistem-sistem organik, mulai dari organ-organ tubuh makhluk hidup, ekosistem, termasuk sistem sosial secara keseluruhan, merupakan sistem kompleks yang memiliki kemampuan unsupervised learning ini. Sebuah kekuaatiran akan validitas Wikipedia, karena dapat diedit oleh semua orang belakangan lambat-laun berkurang, dan kini ribuan artikel Wikipedia justru lebih lengkap, komprehensif, dan valid, setara dengan ensiklopedia konvensional yang ditulis oleh ratusan pakar dan ahli di bidang masing-masing [11]. Interaksi antar pengguna web 2.0 akan saling menguatkan jika memang benar, dan akan melemahkan jika dapat tertunjukkan keliru. Ini juga terjadi pada social media seperti Twitter dan Facebook, bahwa editor pemberitaan tak lagi pada satu orang yang memang handal, tapi oleh ribuan bahkan jutaan orang dengan berbagai latar belakang, namun memiliki concern yang sama akan suatu topik. Penelitian [6] mengkonfirmasi hal ini. Social Media dan Web 2.0 memang adalah sebuah ruangan yang penuh dengan berita dan isu bohong, namun ia memberikan proses heuristik yang ampuh (bahkan bisa melebihi editor konvensional) dalam menjustifikasi kebohongan dan kebenaran dengan cara baru.

Lantas muncullah pertanyaan, akan datangkah saat di mana “Social Media Occupies Capital Media”, dan akankah social media akan menggantikan capital media? Menarik untuk menyadari bahwa jawabannya adalah tidak sama sekali! Setidaknya hal ini bisa dilihat dari dua sisi.

Pertama, setidak-netral-nya sebuah perusahaan berita, upaya untuk tampil netral bagaimanapun tetap ada. Justru inilah tugas redaksi stasiun berita, menjaga agar prinsip dan etika jurnalisme tetap (setidaknya tercitrakan) bisa dipertahankan. Sekarang, di tiap pemberitaan media massa, khususnya media massa yang memiliki portal on-line, selalu disediakan tempat bagi pembaca untuk meletakkan komentar atau opini atas berita. Berita yang dinilai bohong akan diberi komentar negatif, bahkan terkadang sarkas, sementara berita yang dinilai baik, diberikan komentar positif, atau sering pula tak dikomentari sama sekali. Tren pendapat langsung publik ini ditambah pula dengan tren media massa konvensional yang juga menyediakan layanan pemberitaan melalui social media, melalui RSS Feed ke situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Pembaca dapat dengan mudah mengetahui dan kemudian menilai kredibilitas sebuah berita melalui komentar/opini yang selalu muncul (di bagian bawah) menyertai tayangan berita online. Cara mengecek kredibilitas sebuah video klip di layanan Youtube, misalnya, adalah dengan melihat komentar-komentar yang selalu muncul tiap kali video tersebut ditayangkan. Hal serupa juga berlaku pada berita-berita teks dan infografika. Social Media takkan menggantikan media konvensional karena justru, media konvensional cenderung akan mengubah perspektifnya tentang bagaimana menampilkan berita. Media massa konvensional tak lagi jadi media transmisi satu arah, namun bertransformasi menjadi kolam interaksi sosial: interaksi antar pembaca yang pada gilirannya membantu pembaca lain menilai seberapa kredibel/tidaknya isi pemberitaan. Jika ingin tetap dipandang kredibel, maka media massa justru harus mampu meng-eksploitasi interaksi pembaca beritanya di banyak media, termasuk social media seperti Twitter dan Facebook. Social Media sendiri akan semakin besar dan berkembang, tapi ia tak membuat media konvensional sama sekali punah – hanya saja berkurang kredibilitas umumnya, dan kredibilitasnya akan dinilai seorang pembaca melalui tanggapan pembaca lain melalui social media.

Kedua. Adalah menarik mencermati kenyataan bahwa pemiliki modal modern justru “dijaminkan” oleh kapitalisme itu sendiri untuk mengambil keuntungan dari apapun, bahkan dari paham yang menentang kapitalisme sekalipun. Kapitalisme bisa hidup dari upaya pemusatan modal lewat perdagangan pernak-pernik dan perangkat-perangkat budaya dari paham-paham yang content-nya berseberangan dengannya. Hal ini juga sangat mungkin terjadi pada “perseteruan” social media dan capital media dalam hal pembentukan opini publik. Jual-beli akun twitter & facebook, sistem dan pola periklanan yang diakumulasi per update status, pola pemberitaan atas tweet tokoh selebritis, dan banyak lagi adalah noktah-noktah budaya informatika yang menunjukkan arah kecenderungan social media akan memberi bentuk baru akumulasi modal via masyarakat berbagi (shared communities) online. Social Media akan menjadi niche baru bagi akumulasi modal yang bisa berkaitan atau tak berhubungan sama sekali dengan capital media konvensional.

Social Media menunjukkan karakteristik yang menjadikan detak informasi sebagai sebuah virus yang menyebar dengan kecepatan eksponensial antara satu orang dengan kenalan dan teman-temannya, antara satu orang dengan follower-nya, dan seterusnya. Dalam Social Media, sekali sebuah informasi keluar, sulit menebak arah viral dari sebuah informasi. Ini merupakan karakteristik kultural masyarakat manusia masa depan yang akan menjadi lahan subur baru bagi proses yang menjadi roh lahirnya capital media konvensional ketika ia pertama kali muncul dulu.

Social Media merupakan bentuk media komunitas yang muncul dari moda telekomunikasi baru, ia tak mesti antagonistik dengan media konvensional yang telah muncul lebih dulu melalui moda telekomunikasi lama!

Kerja Yang Disebut:
[1] de Burgh, H. (2000). Investigative Journalism 2nd Ed. Routledge.
[2] Gitlin, T. (2012). Occupy Nation: The Roots, the Spirit, and the Promise of Occupy Wall Street. It Books.
[3] Giles, J. (2012). “Truth Goggles”. New Scientist Magazine 2882 15-21 September 2012.
[4] Khanafiah, D. & Situngkir, H. (2006). “Innovation as Evolutionary Process”. Proceedings of 9th International COnference on Computation, Intelligence, Economics, and Finance. Atlantic Press.
[5] Maulana, Ardian & Situngkir, Hokky, 2010. “Some Inquiries to Spontaneous Opinions: A case with Twitter in Indonesia”. BFI Working Paper Series WP-10-2010. Bandung Fe Institute.
[6] Page, S. E. (2007). The Difference: How the Power of Diversity Creates Better Groups, Firms, Schools, and Societies. Princeton UP.
[7] Pronin, E., Kugler, M. B. (2007). “Valuing thoughts, ignoring behavior: The introspection illusion as a source of the bias blind spot”. Journal of Experimental Social Psychology 43(4): 565–78. Elsevier.
[8] Situngkir, H. (2012). The Science of Twitter. Artikel di Blog KopiSantan. URL: http://tinyurl.com/sains-twitter
[9] Situngkir, H. (2007). “Model Jaringan dalam Analisis Media : Peluang Eksploitasi Studi Kultural Pada Sifat Skala Topografi Tekstual”. BFI Working Paper Series WPQ2007. Bandung Fe Institute.
[10] Sousa, A. O., Yu-Song, T., & Ausloos, M. (2008). “Effects of agents’ mobility on opinion spreading in Sznajd model”. European Physical Journal B 66: 115-24.
[11]    Williams, A. D. & Tapscott, D. (2008). Wikinomics: How Mass Collaboration Changes Everything. Portfolio.

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: