Merintis TeknoBudaya Nusantara

IMG_5482

Disampaikan pada Diskusi di Liga Budaya NasDem – Gayantara, Jakarta, 13 Desember 2012.

Bayangkan orang-orang gaek agak botak-botak dengan rambut tipis, janggut dan cambang beruban yang seolah tak terurus. Kebanyakan dari mereka pernah melancong beberapa minggu di daerah yang dianggap “barbar”, “tradisional”, manusia-manusia dunia ketiga yang disebut “orang-orang asli” (indigenous people) yang berusaha mereka “advokasi” melalui penggalian-penggalian “kecerdasan lokal” (local knowledge) hidup dalam adat, agama, dan tradisi turun-temurun, hirarkis, feodal, dan beberapa anak-anak mereka sedang belajar bagaimana “berdemokrasi”. Dengan berbagai deskripsi atas nama pengamatan ilmiah yang berdurasi cuma beberapa minggu, orang-orang gaek itu merangkum perilaku-perilaku sosial masyarakat tradisional yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Melalui narasi deskriptif dengan bumbu-bumbu berbagai istilah-istilah teoretis, dan kadang-kadang statistik, mereka seolah menemukan pola dari deskripsi hidup tradisional yang terkompres masa pengamatan mereka itu. Dengan teori-teori tentang bagaimana manusia-manusia primitif itu hidup dan bertahan hingga kekinian, mereka menyandang sederetan gelar panjang-panjang dan orang-orang menyebut mereka profesor-profesor di institut studi lanjut antropologi, sosiologi, dan dibayar mahal dan kemudian dikenang sebagai tokoh-tokoh ilmu pengetahuan yang merepresentasi modernitas manusia.

Kita sering tergoda bahwa semua praktikalitas teknologi yang kita nikmati hari ini merupakan implementasi dari teori-teori yang dikembangkan dalam akademia secara profesional. Bahkan para kaum intelektuil yang menyusun entri kamus-kamus modern, termasuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyatakan “teknologi” sebagai bentuk penerapan dari sains untuk tujuan-tujuan praktis. Kalangan para teknokrat pun sudah berpandangan umum, bahwa pengembangan teknologi pada dasarnya mengikuti alur linier:

… teori-teori sains (akademia) teknologi (penerapan teori sains) praktika kehidupan

Sebuah alur pikir linier yang diterima umum, namun hari ini kita coba tilik lagi kebenarannya. Mungkin demikian juga dengan cara pandang para pembesar-pembesar akademia dalam perkembangan ilmu sosial sebagaimana dikisahkan di awal tadi,

… teori sosial rumusan pranata sosial masyarakat lokal praktika hidup masyarakat lokal

Pranata sosial yang diwarisi dari zaman dahulu kala hingga perikehidupan sosial yang diwarnai berbagai adat dan tradisi dan tercemin dalam etnografi kita, “dideskripsikan” dengan teori-teori sosial modern oleh kaum akademia, yang “seolah” menjelaskan bagaimana kita hidup dalam karakteristik sosio-antropologis hingga etnografia. Kita seolah menjadi manusia-manusia yang perlu “berterimakasih” pada “akademia-akademia pelancong” tersebut atas sustainabilitas pranata sosial kita saat ini (dan sebagai konsekuensinya, juga di masa depan). Masyarakat yang hidup di belahan bumi lain, yang jauh dari tempat sekelompok masyarakat manusia melahirkan modernitas, seolah harus “belajar” untuk hidup dengan pranata sosial yang mereka hidupi. Bagaikan “mengajarkan” kucing untuk mengeong, “menjelaskan” harimau cara mengaum, dan “memberi kuliah” burung teknik untuk terbang [9].

Penelitian telah menunjukkan bagaimana peradaban nusantara, misalnya, telah berkembang dan memiliki pranata sosial kompleks yang organis dengan sistem ketatanegaraan yang tak mudah untuk mengkategorikannya sebagai bentuk monarki absolut dan feodal [4]. Etnografi yang tersebar di seluruh kelompok etnik merupakan lanskap etnografi yang kaya. Jika kita mau ber-matematika untuk memahami pola lukis batik, misalnya, maka pendekatan numerik komputasional mutakhir berlandaskan geometri fraktal [7], memberikan apresiasi mutakhirnya. Hal serupa juga dijumpai pada ukir-ukiran arsitektur etnis Batak di Sumatera [6], juga berbagai bangunan candi [5]. Peradaban yang tersebar di lanskap bangsa-bangsa nusantara sejak ratusan (bahkan ribuan) tahun ini berkembang sebagai bagian dari variasi atas diversitas budaya manusia penghuni planet bumi. Yang terlabelkan “tak modern” bukanlah sub-ordinasi dari yang modern, justru peluang inspirasi banyak tersimpan melalui interaksi dengannya.

Alur perkembangan teknologi seperti siklus yang digambarkan dia atas sepertinya hanyalah ilusi akademia yang merasa dirinya pusat pengetahuan. Sebuah contoh konkrit adalah kemajuan teknologi informasi hari ini, yang lahir bukan dari para akademia. Perkembangan teknologi informasi – yang telah memberikan signifikansi aplikasi yang luar biasa hari ini – dibangun oleh anak-anak muda yang mendirikan Microsoft, Apple, hingga Facebook: anak-anak muda yang malah “memberontak” pada akademia. Mereka bukanlah “saintis” dalam pengertian yang baku dan konvensional. Mereka adalah anak-anak muda yang justru gemar meng-oprek piranti-piranti sains, mecoba menerapkannya, dan sekarang mengubah cara pandang dunia atas dirinya sendiri!.

Anak-anak muda ini merupakan mereka yang nafasnya berbau ilmiah, namun tak hidup di taman akademia modern warisan abad pencerahan. Alur teknologi yang mereka persembahkan bagi masyarakat tak seperti alur linier di atas [8],

… meng-oprek teknologi (pengujian secara heuristik) praktika kehidupan

Suatu fenomena yang menunjukkan setidaknya dua hal kepada kita. Pertama, dengan atau tanpa persekolahan, adalah hakikat manusia untuk belajar dan mengakuisisi pengetahuan. Proses belajar masyarakat tak bisa dikungkung oleh formalisme pendidikan. Inovasi dan kreativitas manusia senantiasa berkembang tanpa perlu “diajari” atau “dikuliahi”. Tentu saja bukan berarti kita mengatakan bahwa dunia persekolahan dan akademia tak memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi. Jelas sekali dunia pendidikan memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi, namun menganggap bahwa hanya akademia-lah satu-satunya tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan sebuah ilusi modernisme. Sebuah ilusi yang malah mengecilkan kemanusiaan itu sendiri. Proses meng-oprek, menguji coba-coba secara heuristik, trial and error, adalah keniscayaan dalam proses belajar. Jika akademia menghempang potensi dari cara belajar meng-oprek ini, maka ia takkan menjadi pusat pengembangan teknologi.

Hal kedua yang bisa kita pelajari dari siklus pengembangan teknologi di atas adalah bahwa memang demikianlah cara kerja sains & teknologi. Sebuah hasil yang berusaha mengitung perkembangan sejauh mana jumlah penemuan inovatif per tahun per jumlah penduduk dunia menunjukkan bahwa kehidupan modern kita saat ini berada dalam The Great Stagnation [2]. Jumlah inovasi dan perkembangan teknologi makin ke sini makin sedikit per jumlah penduduk. Seolah-olah ada “kejenuhan” dalam inovasi ilmu pengetahuan teknologi, padahal jelas sekali statistik jumlah manusia yang mendapatkan pendidikan setinggi mungkin senantiasa naik. Ini merupakan kenyataan faktual modern yang menarik sekaligus membikin bergidik untuk semakin kritis terhadap tata kehidupan modern global kita.

tevhne

Metodologi sains itu penting karena dengan kerangka yang disediakannya rekayasa menjadi lebih mudah dilakukan. Akademia yang justru menekan peluang meng-oprek dan membuka mata pada berbagai alternatif pola coba-coba, heuristik, yang terinternalisasi dalam budaya manusia, justru telah mengkhianati proses budaya yang melahirkan sains dan teknologi tersebut. Menumbuhkan sains dan teknologi dalam substrat budaya dan tradisi merupakan tantangan besar bagi masyarakat dunia ketiga yang tak memiliki tradisi modernisme yang berkembang di belahan utara planet kita ini. Inilah yang lalu kita sebut sebagai tantangan untuk merintis “TeknoBudaya” di kepulauan nusantara.

Manusia yang makhluk sosial berkolaborasi dan ber-evolusi. Bagaikan gen-gen yang “mencari” dan “belajar” memberikan bentuk-bentuk karakteristik biologis makhluk hidup yang fit di alam hidupnya [3], demikian pula unit-unit terkecil informasi dari budaya, “meme” ber-evolusi mencipta karakteristik kecerdasan kolektif yang kita sebut sebagai kebudayaan [1]. Baik yang biologis maupun yang budaya berproses secara heuristik, coba-coba, dengan pahlawan-pahlawannya adalah mereka yang gemar meng-oprek, bongkar sana-sini, coba ini-itu, demi praktika yang ciptakan kemudahan dan keindahan dalam kehidupan. Strategi TeknoBudaya adalah sinkronisasi heuristik antara apa yang kita sebut sebagai modern, dan apa yang kita sebut sebagai tradisional.

Begitu banyak inspirasi jika strategi ini dilakukan. Teknobudaya merupakan langkah sains untuk membaca dan mengeksplorasi detail aspek dan elemen kebudayaan. Penelitian aspek geometris dari permotifan batik, misalnya, melahirkan “batik fisika” yang memungkinkan akuisisi perangkat lunak “batik fraktal komputasional” di kalangan para industriwan kreatif [3]. Penelitian aspek antropo-arsitektural candi, memperkaya khazanah komputasional dalam “ilmu arsitek eksperimental”. Studi karakteristik statistika lagu tradisional memungkinkan perangkat lunak musik generatif yang memiliki fundamen dalam studi kreatif “musik generatif”. Tradisi berfikir yang terwujud dalam berbagai elemen-elemen rekayasa arsitektural, pengobatan tradisional, tata dan norma sosial, hingga produksi estetis kreatif di satu kelompok budaya pun bisa “berbenturan”. Tata kelola hutan dan ladang masyarakat baduy, di Jawa Barat, kini terasa lebih ramah terhadap ekosistem daripada tradisi kapitalisme modern yang cenderung menomorduakan ikhwal lingkungan hidup. Tata arsitektur tradisional Nias, Toraja, dan sebagainya, mulai diperhatikan kembali dengan strukturnya yang terlihat lebih “akrab bencana gempa”, misalnya. Adalah tugas teknobudaya mengubah elemen tradisi budaya ratusan hingga ribuan tahun menjadi karya hi-tech mutakhir…

Namun sebagaimana semua hal hanya bisa di-oprek jika dan hanya jika kita tahu apa yang mau di-oprek. Inilah yang lalu mendorong kita untuk mengkampanyekan pencatatatan data dan dokumentasi budaya sebagai budaya bagi kita. Sebagian besar etnografi kita tak tercatat, luluh dalam tradisi lisan dan pengalaman. Mencatat dan mendokumentasikannya dalam web 2.0 partisipatif di http://www.budaya-indonesia.org adalah langkah awal strategi TeknoBudaya kita. Di web tersebut, budaya dipajang dan dicatatkan oleh, dari, dan dimanfaatkan oleh publik luas. Di http://www.budaya-indonesia.org kita me-restorasi berbagai kekayaan budaya kita sebagai data, arsip, dan dokumentasi.

TeknoBudaya adalah strategi restorasi kehidupan sosial kita untuk bangkit dan tegak menginspirasi dunia. Mari kita mulai dengan ikut berpartisipasi sebagai kontributor di http://www.budaya-indonesia.org sekarang!

 Kepustakaan

  1. Brown, P. & Hugh, L. (2000). “Collective intelligence”. dalam Baron, S., Field, J., & Schuller, T. Social Capital: Critical Perspectives. Oxford UP.
  2. Cowen, T. (2011). The Great Stagnation: How America Ate All the Low-Hanging Fruit of Modern History, Got Sick, and Will (Eventually) Feel Better. Penguin.
  3. Hall, W. (2005). “Biological Nature of Knowledge in the Learning Organizations”. The Learning Organization 12 (2): 169-88.
  4. Maulana, A & Situngkir, H  .(2009). “Study to Ancient Royal Bureaucracies in Indonesian Archipelago”. BFI Working Paper Series WP-4-2009. Bandung Fe Institute.
  5. Situngkir, H. (2010). “Borobudur was Built Algorithmically”. BFI Working Paper Series WP-8-2010. Bandung Fe Institute.
  6. Situngkir, H. (2012). “Deconstructing Bataknese Gorga”. BFI Working Paper Series WP-7-2012. Bandung Fe Institute.
  7. Situngkir, H. & Dahlan, R. (2007). Fisika Batik. GramediaPustaka Utama.
  8. Taleb, N. N. (2012). Antifragile: Things that Gain from Disorder. Random House.
  9. Triana, P. (2011). Lecturing Birds on Flying: Can Mathematical Theories Destroy the Financial Markets?. John Wiley & Sons.
Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

One Comment on “Merintis TeknoBudaya Nusantara”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: