Sains yang tumbuh dari, mengapresiasi, lalu memperkuat Budaya Bangsa

BGruBjNCcAAd3IY.jpg large

Disampaikan di Talk Show Ambassador of Science 2013, Badan Eksekutif Mahasiswa FMIPA ITS, Surabaya, 31 Maret 2013.

Suatu ketika, misalnya kita menemukan sebuah tabung dari logam yang di dalamnya terdapat bentuk tabung dan kaca yang sudah retak di dalamnya di antara puing-puing reruntuhan sebuah benteng yang besar. Dari tulisan-tulisan yang berhasil kita kumpulkan, kita tahu bahwa reruntuhan adalah peninggalan seorang bangsawan yang sangat dihormati pada zaman dahulu kala. Apakah hari ini kita akan menziarahi “situs peninggalan” tersebut dengan membakar kemenyan, menaruh sesajen, dan berdo’a semedi di tempat tersebut? Apakah penghargaan terbaik kita ditunjukkan dengan, misalnya mengusap-usap dan mencium tabung logam tersebut dengan  harapan agar cita-cita dan harapan kita terkabul? Jawabannya tentu tidak dengan perasaan geli karena kita tahu, sangat mungkin tabung logam tersebut adalah sebuah “teropong”, dan penghargaan terbaik yang bisa kita berikan pada yang “mewariskan” peninggalan bersejarah tersebut adalah dengan mempelajari dengan seksama semua peninggalan di tempat tersebut dan mengambil hikmah sehingga suatu saat kelak kehidupan masa depan umat manusia menjadi cerah dengan inspirasi yang bisa kita ambil dari upaya mempelajarinya.

Demikianlah pula dengan kenyataan kita sebagai kumpulan bangsa-bangsa besar di kepulauan nusantara ini. Indonesia merupakan sebuah entitas politik di mana bentangan sejarah dan evolusi budaya menyertai perkembangan kebumian dan evolusi hayati di sudut-sudut kepulauan yang luas ini [5]. Berbagai warisan kita temukan tak hanya di museum dan situs-situs kuno bersejarah, tapi juga “tercorak” di cara kita berpakaian, memandang dan menyelesaikan persoalan, hingga berbagai siklus budaya yang tercermin dalam peringatan hari-hari besar. Dan kesemua itu tidak seragam. Tiap sudut di kepulauan nusantara punya evolusi sendiri-sendiri. Indonesia punya keunikan sejarah yang tercermin dalam keberagaman etnografis yang luar biasa besarnya. Keberagaman itu tak hanya terlihat dari berbagai peninggalan budaya kuno di berbagai tempat di seluruh kepulauan Indonesia, tapi juga tata cara kita memandang dan menyelesaikan masalah yang dihadapi sehari-hari, hingga corak pakaian dan warna musik yang kita sukai!

Di sisi lain, hari ini dunia menyaksikan sains yang berkembang sangat pesat semenjak abad pencerahan. Kita sekarang mengenal begitu banyak jurusan dan sub-jurusan di lembaga-lembaga pendidikan yang berupaya menyiapkan manusia-manusia spesialis yang akan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan masalah, mempermudah rutinitas kehidupan, memperpendek jarak komunikasi, hingga mempercantik diri. Dan hari ini pula, kita memperoleh kesadaran bahwa kehidupan sosial bermasyarakat itu sifatnya kompleks. Kompleks dalam artian taka da cara gampang untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif secara keseluruhan. Ilmu-ilmu warisan abad pencerahan mulai menyadari pentingnya kolaborasi antara mereka-mereka yang terlatih dalam sains yang terkotak-kotak dalam detail-detail tatanan ilmu yang terspesialisasi itu. Ini adalah masa ketika kita benar-benar harus menyadari bahwa sains itu harus interdisiplin. Pelan-pelan berbagai ilmu-ilmu hibrida pun hadir. Hari ini kita mengenal “ekonofisika”, “fisika biologi”, “sosiometri”, “fisika kedokteran”, “biologi informatika”, “geo-komputasi”, “arkeo-astronomi”, dan sebagainya.  Pemahaman ilmiah akan menjadi dangkal jika ia tak melibatkan cabang ilmu lain dalam melihat sebuah persoalan dan rekayasa penyelesaian masalah.

Adalah sebuah tantangan bagaimana meng-ekstrak apa yang kita ketahui melalui sains menjadi apresiasi yang berguna bagi kehidupan kita sehari-hari bermasyarakat. Sains bukanlah sesuatu yang berguna hanya agar kita lulus ujian-ujian di dunia persekolahan belaka. Sains yang baik adalah sains yang berguna, yang bisa memberikan alternatif bagaimana hidup kita menjadi lebih menyenangkan demi upaya kita menjadi lebih bahagia, makmur, dan sentosa [6].

Melalui sains kita menggunakan metode ilmiah dalam membaca apapun. Metode ilmiah menyediakan tahapan-tahapan dan perangkat analitik untuk membaca, mengusulkan upaya menyelesaikan,  dan bagaimana menampilkan alternatif solusi bagi persoalan-persoalan yang kita alami sehari-hari. Sains memungkinkan kita menyusun sebuah narasi akan keindahan kehidupan umat manusia dengan segala peradabannya. Bersama dengan seni, sains merupakan jiwa yang memungkinkan peradaban spesies kita di planet bumi mencapai titik kulminasinya. Sains itu sendiri sejatinya merupakan sebuah state of the art.

Berbagai pendekatan telah dilakukan untuk mencoba menumbuhkan sains dalam substrat ke-Indonesia-an. Pendekatan geometri fraktal pada estetika lukis yang tercermin pada batik [3], merupakan salah satunya. Ada jejak-jejak cara “bermatematika” dalam pola lukis batik yang mungkin sudah terlupa oleh kita – yang oleh sains modern baru bisa di-apresiasi sebagai geometri dengan pendalaman akan geometri yang menyertakan pendekatan-pendekatan komputasional di penghujung abad ke-20. Penelaahan arkeo-astronomis yang menyertai berbagai bentuk arsitektural candi, mulai dari candi Borobudur [1, 2] hingga situs megalitikum di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat [4], menunjukkan bagaimana masyarakat zaman dahulu kala dapat bersinergi dengan kosmos alam. Ini semua diperoleh melalui kemajuan sains dan teknologi.

its1

Kita dikenalkan pada sebuah istilah “tekno-budaya”. Sebuah terminologi yang menyiratkan bagaimana sains ter-implementasi dan tumbuh dalam lanskap budaya (baik yang modern maupun budaya tradisi). Rekam jejak budaya modern belakangan telah “terdokumentasi” melalui media sosial di internet, entah berupa foto di facebook, perasaan hati di twitter, kisah sehari-hari di web-blog, dan sebagainya. Beberapa waktu belakangan kita juga mengajak partisipasi teman-teman muda setanah air untuk membuat rekam jejak digital dari budaya tradisional di web www.budaya-indonesia.org. Rekam jejak sosial adalah data, dan cara terbaik memperlakukan data adalah melalui analisis. Selanjutnya, cara terbaik melakukan analisis adalah dengan metode ilmiah. Ini merupakan sebuah strategi untuk menumbuhkan sains dalam lanskap  budaya kita. Sehingga seiring dengan perkembangans sains, pengolahan data-data sosial dan budaya kita memperdalam lagi apresiasi kita akan jati diri kita sebagai orang Indonesia.

Apa yang kita kenal sebagai “yang tradisional” pelan-pelan dapat terkuak kedalaman dan “kecanggihan”-nya melalui pendalaman kita akan berbagai perangkat analitik yang kita pelajari melalui sains. Bisa dibayangkan bagaimana kelak kemajuan peradaban kita ketika duta-duta (ambassador) sains hadir dan berkolaborasi dengan tak hanya bidang sains yang berbeda, tapi juga dengan berbagai bidang lain,mulai dari seni dan budaya hingga kebijakan strategis pembangunan negeri. Hal-hal inilah yang dapat memberikan kontribusi aktif, bagaimana sains memberikan perikehidupan bangsa yang spektakuler!

its2

Kerja Yang Disebut:

  1. Hariawang, I. I., Simatupang, F. M., Radiman, I., Mumpuni, E. S. (2011). “Orientation of Borobudur’s East Gate Measured Against the Sunrise Position during The Vernal Equinox”. Dalam Nakamura, T., Orchiston, W., Sôma, M., & Strom, R. (eds.) Mapping the Oriental Sky. Proceedings of the Seventh International Conference on Oriental Astronomy. Tokyo, National Astronomical Observatory of Japan.
  2. Situngkir, H. (2010). “Borobudur was Built Algorithmically”. BFI Working Paper Series WP-8-2010. Bandung Fe Institute.
  3. Situngkir, H., Dahlan, R. M. (2008). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama
  4. Situngkir, H. (2012). Situs Megalitikum Gunung Padang: Perspektif untuk Studi Arkeo-musikologi, Arkeo-Geografi, dan Arkeo-astronomi. Disampaikan pada Diskusi Menguak Tabir Peradaban & Bencana Katastropik Purba di Nusantara untuk Memperkuat Karakter dan Ketahanan Nasional. 7 Februari 2012. Sekretaris Kabinet Republik Indonesia.
  5. Sjahrir, St. (1949). Transl. Wolf, C. Out of Exile. Greenwood Press.
  6. Tuzi, F. (2005). “Useful science is good science: empirical evidence from the Italian National Research Council”. Technovation 25 (5).
Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: