Dari “Fisika Batik” ke “Fisika” Anyam Nusantara

Capture

disampaikan pada Workshop Riset & Teknologi untuk Pengrajin Anyam, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 6-8 November 2013 dan Nu Substance Festival Bandung, 12 Desember 2013

Kajian “Fisika Batik” [1] menguak jejak-jejak geometri lukis nusantara dalam tradisi batik. Dari kajian itu kita merayakan keindahan filosofis batik, sekaligus bagaimana orang-orang di kepulauan nusantara menuangkan filsafat dan imajinasinya ke dalam ruang dua dimensi. Ketika penuangan bentuk-bentuk seni visual tersebut bergabung dengan “konstruksi”, sejak dulu orang-orang nusantara juga memiliki keunikan serupa. Kesederhanaan perangkat dan paralatan telah pula melahirkan kemegahan yang kompleks di Candi Borobudur sejak berabad-abad yang lalu [3]. Jika candi adalah bangunan tiga dimensional yang menggabungkan keindahan “fraktal” dengan kekokohan konstruksi, mungkin anyam (dan juga tenun) adalah hal serupa untuk bangun dua dimensional…

Persoalan desain anyaman pada dasarnya merupakan persoalan (matematis) untuk mendapatkan konstruksi yang baik yang selaras dengan keindahan motif anyam yang ingin ditampilkan dalam kriya anyaman. Baris-baris “lusi” atau bahan anyam yang sejajar vertikal diisi dengan “pakan” yang berselang-seling melintang horizontal. Selang-seling pakan dapat melintasi satu sampai tiga (bisa pula lebih) jejeran lusi, di mana bentuk pola anyam akan muncul (membrojol) setelah anyaman jadi. Dalam hal ini, ada “aturan-aturan” mikro dalam mengayam tertentu yang menghasilkan bentuk-bentuk motif anyaman yang dihasilkan.

Capture

Persoalan ini secara umum mirip dengan persoalan dalam model matematika komputasional “otomata selular” [4, 5]. Dalam otomata selular elementer 1 dimensi, lanskap dua dimensional diisi dengan baris-baris dan kisi-kisi yang terdiri dari 2 warna (atau bisa pula lebih untuk yang non-elementer). Tiap baris horizontal di-update dalam arah vertikal sesuai dengan warna-warna dalam baris horizontal sebelumnya. Hasilnya adalah, “aturan-aturan” mikro menghasilkan (membrojolkan) bentuk-bentuk serupa motif otomata selular.

Pola kerja anyam (tenun) memiliki kemiripan struktural dengan model komputasi otomata selular. Dalam model otomata selular, “pakan” disilangkan pada “lusi” berdasarkan aturan-aturan sederhana. Jika diawali dengan satu “pakan” yang menyilang di bagian tengah jejeran “lusi”, dan kita memiliki dua warna alternatif (“pakan” dan “lusi” berbeda warna), maka terdapat 256 pola yang mungkin untuk variasi selang-seling tiga anyaman.

Pengayaan kognitif pengrajin tradisional kita diperoleh melalui proses pembelajaran dari generasi ke generasi. Motif-motif dari generasi terdahulu menjadi sumber bagi motif-motif generasi kemudian dengan berbagai modifikasi dan perubahan di sana-sini satu sama lain. Jadi, sangat mungkin permotifan anyaman bagi pengrajin tradisional tertentu stuck pada satu motif tertentu saja. Eksplorasi motif, secara relatif, tak mudah terjadi.

Di sisi lain, “motif” yang dihasilkan dari otomata selular lahir dari proses komputasional yang tersusun atas berbagai proposisi matematis yang definitif. Ketika sebuah aturan otomata selular menghasilkan satu “motif”, maka secara sederhana dapat disimulasikan berbagai permotifan yang mungkin dengan berbagai perubahan-perubahan dan modifikasi dari aturan-aturan yang sederhana itu.

“Komunikasi” antara proses komputasi di otomata selular dengan proses pengayaan motif anyaman di kerajinan tradisional tak pelak berpotensi saling melengkapi satu sama lain. Motif-motif anyaman dapat diperkaya dengan eksplorasi motif-motif yang dihasilkan dengan simulasi-simulasi atas motif yang mungkin. Di sinilah letak pentingnya computer aided design bagi pengrajin tradisinal dan bagaimana teknologi dapat memperluas wawasan dan khazanah budaya tradisional indonesia.

Kepulauan Indonesia adalah sebuah lanskap budaya tradisi yang luar biasa luasnya. Sebagaimana halnya, batik, motif-motif anyaman dari satu tempat ke tempat lain tak seragam. Warna-warni Indonesia yang luar biasa banyaknya tersebut dapat saling meng-inspirasi satu sama lain. Kemajuan teknologi informasi telah memungkinkan hal tersebut melalui berbagai aplikasi media sosial dan juga Perpustakaan Digital Budaya Indonesia (www.budaya-indonesia.org). Tapi di sisi lain, teknologi komputasi juga dapat menjadi perangkat pengayaan warna-warni keberagaman Indonesia yang indah tersebut. Aplikasi komputasional yang meng-implementasikan adaptasi modul-modul otomata selular dalam proses penganyaman menjanjikan inspirasi atas eksplorasi berbagai motif-motif baru yang memperkaya kita semua. Memperkaya orang Indonesia dengan diversitas kreatif atas barang-barang produksi dan memperkaya khazanah budaya tradisional Indonesia [2] saat bersentuhan dengan teknologi modern…


Kerja Yang Disebutkan: 

  1. Situngkir, H. & Dahlan, R. M. (2008). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia.
  2. Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17.
  3. Situngkir, H. (2010). “Exploring Ancient Architectural Designs with Cellular Automata”. BFI Working Paper Series WP-9-2010. URL: http://www.bandungfe.net/?go=xpi&&crp=4cd3d78e
  4. Situngkir, H. (2013). Otomata Selular: Simulasi dan Komputasi dalam Sosiofisika. inpress.
  5. Wolfram, S. (2002). A New Kind of Science. Wolfram Media Inc.
Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: