Berpakaian Trendi, Ilmiah, Canggih, Filosofis pula?!

Capture

Disampaikan pada Diskusi HKI, “Generasi Muda dalam Mengembangkan Industri Fashion bernilai HKI”, Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI), 1 Desember 2013.

Ada dua lukisan. Keduanya dilukis dalam kurun waktu yang berdekatan di abad ke-15, tapi yang satu ada di Eropa dan yang satu ada di pulau Bali. Keduanya dilukis dengan “pesan” filosofis terkait budaya setempat yang menghiasi bangunan yang erat kaitannya dengan spiritualitas, tapi yang satu dilukis oleh seorang maestro yang kemudian dikenal sebagai salah seorang yang berperan “mendirikan” peradaban modern, seniman, yang juga dikenal sebagai pembuat anatomi modern manusia pertama, arsitek, musisi, pun matematikawan, sementara peradaban hari ini tak begitu mengenal siapa pelukis yang kedua. Yang satu adalah lukisan berjudul “The Last Supper” dan yang satunya berjudul “Smaradhana”. Keduanya berbeda,  tapi memiliki kesetaraan.

Lukisan The Last Supper, sebagaimana karya-karya besar warisan masa Renesans Eropah lainnya, dilukis penuh dengan kode-kode geometri modern. Elemen-elemen modern yang membangun karya adi luhung Eropa itu menghiasinya, bentuk segi tiga, persegi, lingkaran, lengkap dengan metanarasi perspektif yang berusaha mengikuti keadaan asli seandainya tiga belas orang duduk di meja makan, dengan satu tokoh sentral di tengah, dan 12 lainnya di sekelilingnya. Kisah makan malam terakhir sebelum tokoh yang duduk di sentral tersebut akan menemui ajalnya sesuai dengan teologi nasrani. Dikisahkan bahwa sang maestro, Leonardo da Vinci, menghabiskan waktu yang lama sekali untuk menggambarkan tokoh-tokoh penting dalam lukisan itu. Puluhan sketsa masih tersimpan hingga kini. Sang pelukis merasa harus menemukan sosok yang bisa menggambarkan karakteristik mereka-mereka yang ada dalam kisah yang ingin dilukiskan. Detail gurat-gurat dan keriput di kulit, sorot mata, proporsi tubuh, dan sebagainya digambarkan dengan kepatuhan metrik yang secara formal kemudian menjadi kebakuan geometris. Hapusan cat lukis di dinding mematuhi kepatutan nilai estetika yang bahkan lebih dari lima abad kemudian masih terasa misterius. Lukisan itu masih terasa “kekuatan”-nya bahkan ketika geometri yang diterapkan secara ketat dalam lukisan tersebut telah beranak-pinak menjadi ilmu-ilmu warisan abad pencerahan, dan kini dirayakan oleh modernisme sebagai teknologi mutakhir yang modern dan menjawab banyak mimpi-mimpi mereka yang hidup pada masa lukisan tersebut dibuat.

Capture

Lukisan kedua dilukis seolah-olah “acak”. Ada beberapa adegan digambarkan dalam lukisan itu, sesuai kitab Hindu Smaradhana, kisah yang panjang dan dikompresi dalam satu lukisan utuh. Lukisan itu tak mematuhi aturan-aturan metrik yang mendasari geometri. Orang-orang yang tergambar dalam lukisan itu pun seolah tak berusaha realistik. Dilukis dalam kurun waktu yang sama, tapi cara penggambaran yang sangat berbeda. Sebuah cara penggambaran seperti yang kita bisa lihat kini dalam corak-corak penggambaran “batik”.

Batik itu menggambar. Keutuhannya sebagai corak merupakan kepatutan estetika lukis, tapi ia tak memiliki kepatutan geometri modern konvensional. Intelektual nusantara memang bukanlah cendekia yang melahirkan modernisme, tapi rupanya geometri di akhir millennium yang lalu telah “menemukan” lagi “geometri” yang lain, yang rupanya telah digunakan oleh banyak bangsa-bangsa yang disebut “peradaban timur”, termasuk nusantara, Indonesia. Geometri itu disebut “fraktal”.

Benoit Mandelbrot almarhum [2], matematikawan yang kemudian merintis fairy tale modernisme. Gunung bukanlah kerucut, awan bukanlah lingkaran, asal bukanlah garis, tapi berbentuk geometris lain. Di alam jarang kita temukan obyek berdimensi 1, 2, 3, tapi justru yang ada dimensi bernilai pecahan (fraction). Ada kemiripan pada diri sendiri di semesta alam yang realistik. Bagian memiliki kemiripan geometris dengan keseluruhan, demikian pula sebaliknya. Realitas rupanya jauh lebih kompleks dari mimpi-mimpi ilmu-ilmu warisan abad pencerahan. Yang menarik adalah bahwa pola pikir serupa ini telah diadaptasi oleh peradaban tradisional yang disebut-sebut kuno, old fashioned, ditemukan di benua Afrika [1] hingga Nusantara Indonesia yang ada di Asia [3].

Film-film animasi yang kita tonton hari ini sungguh-sungguh realistik. Kita berterima kasih pada teknologi komputasi yang me-render film-film tersebut. Tapi sesungguhnya, di balik semua itu, komputasi berhutang pada kajian geometri fraktal, karena apa yang di-render dalam animasi-animasi tersebut sesungguhnya adalah komputasi dari geometri fraktal. Sebuah geometri yang digambarkan untuk menggambarkan awan-awanan dalam desain batik Mega Mendung, sayap-sayapan burung dalam desain batik bermotif Sawat, dan sebagainya.

Apakah “yang Barat” lebih maju daripada “yang Timur”? Rupanya jawabannya adalah “tidak”! Cara bergeometri pembangunan candi-candi memang bukanlah arsitektur modern [6], demikian pula dengan anyam-anyaman tradisional Indonesia [8] tak memiliki hitung-hitungan modern, pun dengan ukir-ukiran yang menghiasi arsitektur nusantara nusantara [7] tak memiliki kepatutan geometris. Jika geometri adalah salah satu “ibu” dari ilmu pengetahuan modern, maka bisa dikatakan cara bergeometri tradisional nusantara itu pun semestinya adalah “’ibu” dari “ilmu pengetahuan” peradaban yang disebut “timur” itu?! Jika berbagai kemajuan teknologis yang ada saat ini sering memberi dampak yang menyebabkan begitu banyak krisis sosio-ekologis [5], bisa jadi pola hidup peradaban “yang timur” itu lebih ramah dan bisa memberi jawaban berbagai kesulitan hidup di tengah dunia yang modern, terasa makin individual, makin materialistik dan tak ramah ekologis?!

Narasi faktual yang menyetarakan The Last Supper dan Smaradhana tadi memberi keinsyafan bagi kita bahwa baik sains dan teknologi modern maupun apa-apa yang kita warisi hari ini pada dasarnya tak lebih dominan satu sama lain. Keduanya memiliki kesetaraan dan adalah tantangan masa depan untuk bisa saling meng-inspirasi untuk menjawab tantangan kompleksitas kehidupan di planet bumi.

Demikianlah pula halnya dengan “Fisika Batik”. “Fisika Komputasi” dengan berbagai formalismenya merayakan sains modern, dan “Batik” dengan berbagai tangkapan dinamika estetikanya merayakan seni tradisi yang adi luhung. Disebut adi luhung karena hampir seluruh karya batik tradisional memiliki kisah, cerita, dan narasi filosofis yang mendalaminya. Adalah sesuatu yang disayangkan jika itu malah terlupakan!

Penelitian Fisika Batik merupakan latar belakang dari perangkat lunak yang kini dapat digunakan oleh pengrajin dan pekerja batik (tradisional) yang hidup di era informasi, era yang serba terkomputerisasi. Melalui penelitian ini, berbagai filosofi motif-motif dasar batik ingin diparalelkan dengan filosofi yang ingin dipancarkannya dalam desainnya. Batik, sebagaimana halnya teknologi modern, merupakan refleksi kecerdasan kolektif peradaban manusia. Ia lahir dalam evolusi yang gradual, diwariskan turun-temurun berpuluh dan berates tahun, berkembang dalam proses “belajar kolektif” masyarakat yang tinggal di kepulauan nusantara.

Penelitian Fisika Batik memper-anak-kan perangkat-perangkat lunak dan apps terkait kreasi geometris motif-motif dasar batik, sehingga yang adiluhung dalam “diciptakan” bentuk-bentuk per-motif-an generiknya. Motif-motif batik dipertemukan dengan teknologi modern [4], dan lebih jauh fashion modern. Lukisan-lukisan bernilai filosofis tersebut dapat bertata rapi dan indah dalam kepatutan seni tata busana yang dirayakan hari ini oleh tak hanya penziarah tradisi, tapi juga industry fashion modern di negara-negara maju. Batik hadir di banyak tempat, tak hanya kain panjang, tapi juga dress yang apik, dan tak hanya kemeja tapi juga hoodie, jaket, skin handphone, dan banyak lagi.

Fisika Batik telah bercerita pada kita bahwa berbatik itu tak hanya punya narasi “kondangan”, seremoni atau perayaan tradisional yang kaku, tapi justru bisa trendi, ilmiah, canggih, tapi bernuansa filosofis. Mari menziarahi Batik Indonesia. Mencintai Indonesia dan merayakan inspirasi kemanusiaan di dunia…

Kerja Yang Disebut
[1.] Eglash, R. (1999). African Fractals: Modern Computing and Indigenous Design. Rutgers UP.
[2.] Mandelbrot, B. (1982). Fractal Geometry of Nature. W. H. Freeman and Co.
[3.] Situngkir, H. & Dahlan, R. M. (2008). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia.
[4.] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17.
[5.] Situngkir, H. (2009). Memperbaharui Pendidikan Sains Dasar untuk Pembalikan Krisis Sosial Ekologis(?). Makalah disampaikan pada Seminar Pemaparan “Imperatif Pembalikan Krisis Sosial Ekologis dan Pengurusan Publik”, Institut Teknologi Bandung, 11 Februari 2009. https://qact.wordpress.com/2010/02/12/sains_dasar/
[6.] Situngkir, H. (2010). “Exploring Ancient Architectural Designs with Cellular Automata”. BFI Working Paper Series WP-9-2010. URL: http://www.bandungfe.net/?go=xpi&&crp=4cd3d78e
[7.] Situngkir, H. (2012). “Deconstructing Bataknese Gorga”. BFI Working Paper Series WP-7-2012.. http://www.bandungfe.net/?go=xpk&&crp=50c8250e
[8.] Situngkir, H. (2013). “Cellular-Automata and Innovation within Indonesian Traditional Weaving Crafts”. BFI Working Paper Series WP-3-2013. http://www.bandungfe.net/?go=xpl&&crp=528c9575

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: