Kedaulatan di Era Informasi (?)

photo_2015-10-31_13-17-48

disampaikan pada di Seminar Nasional “Cultural Heritage, Intellectual Property, and Community Rights”, di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, 27 Oktober 2015

Ada sebuah “ruang” baru lahir ketika informasi menjadi sesuatu yang penting di era sekarang ini. “Ruang” baru itu merupakan tempat ekspresi inovasi yang ditentukan oleh kreativitas yang berasal dari abstraksi gagasan yang terdaftar sebagai relasi-relasi konsep dalam pikiran manusia. Kemajuan teknologi informasi telah menjadikan “ruang” baru tersebut memiliki nilai komparatif yang sedemikian kompleks, sehingga proses dan transaksi ekonomi dapat berlangsung di dalamnya. Register-register kognitif itu bahkan telah menjadi modal penting dalam ruang “industri baru” bertajuk ekonomi kreatif. Seperti halnya tanah dan sumber daya ekonomi lainnya, penguasaan atas hal yang ter-ekspresi dalam “ruang” tersebut menjadi tak hanya ekonomis, tapi juga dapat menjadi politis, dan bukan tak mungkin berkaitan pula dengan pertahanan dan keamanan. Kedaulatan tak hanya atas ruang geografis dengan segala sumberdaya di dalamnya, tapi juga atas bit-bit informasi yang menjadi penentu dasar ekspresi yang ada di dalamnya. Perubahan dalam cara kita memperlakukan  informasi rupanya telah memaksa kita untuk mengubah bagaimana kita memperlakukan ekspresi atas informasi, bahkan bukan tak mungkin, ekspresi atas apapun…

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi untuk web mesin pencari di internet tak hanya berurusan dengan kode-kode pemrograman yang saat dijalankan membantu pengguna internet. Perusahaan tersebut belakangan harus pula berurusan dengan Departemen Pertahanan dan Keamanan  (Departement of Defense), mengingat perusahaan tersebut, dalam rangka optimisasi algoritmanya rupanya melakukan indeksasi atas semua hal yang ada di internet, termasuk perilaku pengguna internet dalam mencari tahu apa-apa yang ada di dunia maya tersebut [1]. Lebih jauh, perusahaan lain yang memasarkan produk perangkat lunaknya yang dapat membantu warga dalam memperoleh layanan ojek, pada akhirnya harus berurusan dengan Departemen Perhubungan dan Dinas Transportasi [2]. Semua perilaku kita, entah ekonomi, politik, dan secara umum budaya, merupakan ekspresi yang berasal dari kecamuk informasi yang ada di pikiran kita masing-masing. Tak pelak, ketika teknologi telah sedemikian berkembang dan mengubah cara kita memperlakukan informasi, maka cara kita memperlakukan apapun seolah seperti perlu untuk ditinjau lagi. Demikian pula halnya dengan aspek budaya.

Register-register informasi yang ada di dalam pikiran kita merupakan interaksi unit-unit informasi kecil (dalam perspektif evolusioner sering disebut “mim” [3]) yang berkembang mulai dari kita lahir, kemudian dibesarkan, dan tumbuh sebagai manusia dewasa. Seorang manusia dewasa tak mungkin bisa dilepaskan dari apa dan bagaimana ia lahir dan bertumbuh. Persoalan latar belakang kognitif tak hanya sekadar persoalan identitas belaka, namun juga membentuk ekspresi kita dalam memberikan apresiasi pada dunia. Semua itu tersirat dalam ekspresi budaya. Ekspresi budaya suatu kelompok sosial merupakan pencerminan bagaimana secara kolektif dan turun-temurun manusia menghadapi alam. Dalam perspektif evolusioner, ekspresi dan cara hidup tersebut, entah terkait sebagai “seni budaya” yang menampilkan keindahan estetis, maupun sebagai “tekno-budaya” [4] yang menjadi bentuk rekayasa lingkungan demi menghadapi tantangan alam dan lingkungan sekitarnya. Mulai dari keindahan batik, lenggak-lenggok tarian, ornamen dan perhiasan, hingga rekayasa sipil arsitektural dan kitab-kitab yang sarat petuah, merupakan ekspresi budaya. Ekspresi budaya ini pulalah yang menjadi media yang secara kolektif justru menjadi penentu dalam era ekonomi kreatif saat ini [5]. Ekspresi tekstual, visual, audio, maupun kombinasi di antaranya merupakan aspek primer dalam dunia digital sekarang ini. Rekayasa tekstual, visual, audio, maupun kombinasi di antaranya merupakan inti dari ekonomi kreatif. Satu dekade ke belakang telah menyaksikan bagaimana hal tersebut. Mulai dari sambal dan jamu, motif dan corak, teks naratif, hingga pola arsitektural merupakan modal penting dalam “dunia” informasi yang baru ini, sekarang dan di masa yang akan datang [6]. Kekayaan keragaman budaya bukanlah sesuatu yang semata-mata narasi, namun memang memiliki potensi ekonomi yang justru mesti diperhitungkan, melalui produk-produk musikal, art performance, fashion, kuliner, dan sebagainya. Sesuatu yang telah bertahan sekian ratus tahun merupakan hal baik yang “dipelajari” oleh manusia lintas generasi, dan senantiasa dapat hidup terus hingga ratusan tahun lintas generasi ke masa depan, setidaknya sebagai inspirasi perilaku [7].

Hal-hal yang ekonomis mesti memiliki protokol-protokol sosial politik yang diatur sebagai aturan, norma, dan hukum. Bukan hanya sumber daya alam dan manusia, era informasi telah menunut pula protokol-protokol serupa untuk “sumber daya ekspresi manusia”. Konsep kekayaan intelektual dan ekspresi budaya merupakan hal penting yang urgent bagi kelompok masyarakat, dalam hal ini negara, untuk menghadapi tren teknologi informasi ke depan ini.

Namun bagaimana mungkin berfikir tentang kedaulatan sesuatu hal tanpa tahu secara definitif tentang hal tersebut? Perjuangan kedaulatan geografis mesti menyertakan pengukuran definitif atas klaim geo-lokasi. Demikian pula halnya dengan kedaulatan ekspresi informasi. Percuma berpikir tentang kekayaan budaya jika ikhwal tradisi budaya hanya dilihat sebagai budaya tradisi semata-mata. Pendataan budaya merupakan langkah awal paling penting dalam perjuangan kepribadian berbudaya suatu bangsa yang berkedaulatan di era informasi ini. Kedaulatan tak hanya soal rekayasa geografis, tapi juga rekayasa informasi. Uniknya adalah bahwa rekayasa informasi seringkali tak mesti berkaitan dengan ikhwal geografis, karena di era globalisasi ini, etnografi tak ketat melekat semata-mata dengan geografi saja.

Teknologi informasi memiliki cara peng-alamat-an yang agak berbeda dengan cara pandang geografis. Rekayasa ekspresi intelektual dan informasi pun memiliki cara penumpukan dan komodifikasi yang agak berbeda dengan cara pandang rekayasa konvensional. Basis data merupakan reservoir penting teknologi informasi yang menyediakan ruang definitif atas dinamika ekspresi informasi. Hal inilah yang menjadi motivasi dibangunnya portal web http://www.budaya-indonesia.org yang di-inisiasi sewindu silam. Kini telah terkumpul ribuan data ekspresi budaya di sana. Bahkan fungsinya pun tak lagi menjadi sekadar loker-loker data, tapi juga dapat menjadi sumber rujukan bagi yang membutuhkan informasi terkait budaya tradisional Indonesia.

Basis data ini bahkan kini ditopang oleh aktivitas Komunitas Sobat Budaya yang juga tumbuh di berbagai tempat di Kepulauan Indonesia. Tak kurang 40 Sobat Budaya daerah menjadi penopang pendataan budaya di web tersebut. Kebanyakan dari Sobat Budaya adalah kaum muda, mungkin karena memang merekalah yang sudah terbiasa dengan berbagai gawai elektronis yang berbagai aplikasinya justru kini malah membentuk forma budaya yang “baru”, melalui berbagai aplikasi seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Line Messenger, dan sebagainya. Sobat Budaya sendiri tumbuh di ruang informasi tersebut. Pelestarian budaya tradisional Indonesia seyogianya juga perlu dilakukan dengan cara-cara di lingkungan digital tersebut. Mayoritas Sobat Budaya daerah berpartisipasi di pendataan budaya di web http://www.budaya-indonesia.org secara online, melalui pernak-pernik perangkat lunak tersebut. Kaum muda hari ini merupakan “bahan baku” masyarakat di masa mendatang ketika rekayasa informasi akan makin menyentuh ruang-ruang fisis kehidupan modern. Kaum muda hari inilah yang paling diharapkan memiliki kesadaran untuk tak hanya melihat budaya sebagai tradisi belaka, tidak tradisional. Era informasi ini telah mensyaratkan bahwa konservasi budaya tradisional dimulai dengan dokumentasi yang melibatkan aspek digital hidup manusia modern. Dari basis data, protokol hukum dan sosial dapat coba untuk dirancang. Dari basis data pula, kedaulatan kehidupan berbangsa dan bernegara dapat diperjuangkan. Jargon bahwa “negara melindungi setiap jengkal tanah di wilayah kedaulatan Indonesia”, barangkali mesti ditambah dan dilengkapi dengan frasa “melindungi setiap bit-bit ekspresi informasi budaya”.

Catatan Kaki:

  1. Artikel “Apple, Google Would Gain From Defense Measure Passed by House” oleh Erik Wasson. Bloomberg Business October 2nd, 2015. URL: http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-10-01/apple-google-would-gain-from-defense-measure-passed-by-house
  2. Artikel “Dishub DKI Pindahkan Go-Jek yang Mangkal di Trotoar ke Jalan Lingkungan” oleh Yulida Medistiara. URL: http://news.detik.com/berita/3037457/dishub-dki-pindahkan-go-jek-yang-mangkal-di-trotoar-ke-jalan-lingkungan
  3. Situngkir, H. (2004). On Selfish Memes: Culture as Complex Adaptive System. Journal of Social Complexity 2(1). URL: http://arxiv.org/pdf/nlin/0404035
  4. Situngkir, H. .(2012). “Merintis TeknoBudaya Nusantara”. Artikel disampaikan di Diskusi di Liga Budaya NasDem – Gayantara, Jakarta, 13 Desember 2012.
  5. Situngkir, H.. (2011). “Inovasi adalah Revolusi via Daur Ulang Gagasan Tradisional”. Artikel disampaikan pada Forum Diskusi Nasional “Membangun Habitus Baru Pendidikan”, Prasetya Mulya Business School, Jakarta, 3 November 2011. URL: https://qact.wordpress.com/2011/11/02/daur-ulang-tradisional/
  6. Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17.
  7. Taleb, N. N. (2012). Antifragile: Things that Gain from Disorder. Random House.
Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: