Melihat Indonesia di Kaca Mata Sains Evolusioner: Banyak tapi Satu!

diskusi disampaikan di Epikurian: Unbreakable Discussion Series, Kafe Unbreakable Coffee, 20 Februari 2016

Lihatlah Indonesia. Sepuluh persen bahasa manusia di planet bumi ada di kepulauan nusantara ini [1]. Dari kumpulan berkas yang dikumpulkan Perpustakan Digital Terbuka Budaya Indonesia http://www.budaya-indonesia .org [4], tercatat 33.045 berkas data budaya tradisionnal yang di dalamnya terkuak 5.849 motif kain tradisional, 1.070 nyanyian dan dendang tradisi turun-temurun, 1.458 resep hidangan khas tradisi. Kebanyakan dari itu semua telah menghidupi sekitar 961.831 unit usaha kriya rakyat kecil menengah se-antero negeri. Semua itu terkumpulkan secara gotong-royong oleh lebih dari 2000 anak-anak muda yang tergabung dalam Sobat Budaya Indonesia yang hingga hari ini terus melestarikan budaya tradisional Indonesia dengan cara yang tidak tradisional: interaksi online!

epi1

Lihatlah Indonesia dari warna-warna dan corak geometris pada apa yang mereka kenakan sebagai pakaian tradisional. Andai masing-masing orang yang lahir di Indonesia tersebut mengenakan pakaian yang terbuat dari motif kain tradisi yang mereka wariskan masing-masing dari berbagai daerah, tiada satupun dari mereka yang mengenakan corak dan warna yang sama. Dari pola motif kain tradisional yang mereka wariskan tercitra teknik lukis tradisional yang mereka wariskan turun-temurun, sebagai motif batik, motif sasirangan, motif tenun, dan sebagainya. Apresiasi visual kedaerahan mereka telah terpatri sebagai keberagaman mental yang sangat tinggi [7]. Sebuah keberagaman yang unik karena warna merah dan putih pada bendera yang mempersatukan mereka rupanya hanyalah dua warna kesepakatan politik yang di baliknya adalah puluhan ribu warna sebagaimana tergambar dalam panji-panji yang kini disebut sebagai kain tradisional.

https://itunes.apple.com/us/app/map-of-batik/id1040359216?mt=8

Lihatlah Indonesia, ketika mereka masing-masing mendendangkan lagu-lagu yang tak lagi merka ketahui siapa penggubahnya, dan dipelajari sebagai dolanan, nyanyian, nina-bobo, bahkan mantra-mantra. Ketika itu semua dipetakan sebagai sekuen-sekuen melodis dalam kacamata musikalitas modern, maka dunia menyaksikan keberagaman kumpulan sekuen nada-nada yang menggambarkan apresiasi auditori orang-orang di kepulauan nusantara itu [9]. Apresiasi ketika satu nada dibunyikan, disuarakan, dinyanyikan berurutan dengan nada lain tertentu terwariskan sedemikian sehingga kita berbeda antara satu dengan yang lain. Lahir dan dibesarkan di tempat yang berbeda di pulau yang berbeda, rupanya tak hanya mensiratkan keragaman genetis, tapi juga keragaman mental dan apresiasi atas bagaimana melodi itu berbeda ketika dinyanyikan.

https://itunes.apple.com/us/app/indomuse/id1041778332?mt=8

Lihatlah Indonesia, singgah dari satu tempat ke tempat lain dari barat hingga ke timur, dan dari utara hingga ke selatan, maka rasa makanan dan minuman yang dihidangkan juga menjadi spektrum yang mensiratkan perbedaan-perbedaan cita rasa nikmatnya makanan. Dan orang-orang Indonesia itu hidup di lanskap ekologis yang menyediakan berbagai tumbuhan rempah yang ramuan itu semua menyediakan keragaman kuliner [10]. Persatuan Indonesia menjadikannya pemilik koleksi makanan dan minuman yang berbeda-beda, yang dipelajari cara menghidangkannya secara turun-temurun.

epi4

Lihatlah Indonesia. Keragaman bio-ekologis tempat lahir dan hidup secara kolektif juga secara budaya telah menghasilkan keragaman bagaimana bertahan hidup dari tantangan alam. Rumah yang mereka bangun sekian ribu tahun dari generasi ke generasi, yang sekarang disebut sebagai “rumah adat tradisional” seolah tercipta sebagai bagian dari bagaimana alam menempa manusia-manusia tersebut di sepanjang kepulauan nusantara [5]. Ada yang rumah panggung tinggi untuk menjaga keluarga mereka dari binatang buas, ada yang rumah panggung sedang untuk beradaptasi dengan pasang surut sungai atau laut, ada yang rumah panggung rendah yang menjaga dari kerobohan karena gempa, dan sebagainya. Teknologi sipil itu semua lahir sebagai jawaban kolektif manusia-manusia yang belajar dari lingkungan tempat ia lahir dan dititipkan alam semesta.

epi5

Melihat Indonesia di kacamata evolusi biologis, ketakjuban tak terhindarkan oleh keragaman spesies-spesies burung, tumbuh-tumbuhan, dan seterusnya. Keberagamannya dimunculkan oleh seleksi mikro dalam kode-kode genetika dari sekuen-sekuen asam inti. Namun melihat Indoneia di kacamata evolusi kultural manusianya, menyediakan ketakjuban lain lagi. Keberagaman ekspresinya mulai dari tata hidup, nilai, norma, hidangan makanan, hingga corak pakaian dan nyanyiannya dimunculkan dari proses belajar kolektif dari generasi ke generasi, dalam seleksi mikro kode-kode memetika [1] dari sekuen-sekuen informasi dalam struktur mental kognitif manusia itu.

epi6

Namun yang lebih menakjubkan lagi adalah bahwa keberagaman itu sejak awal seolah mengisyaratkan persatuan. Keberagaman bio-ekologis, diikuti keberagaman budaya dan tradisi, kemudian diikuti keberagaman dalam memandang konsep-konsep abstrak seperti kekuasaan politik dan akumulasi ekonomi. Dan secara unik, keberagaman-keberagaman itu semua berkumpul dalam sebuah kesepakatan mental politik dalam satu payung administratif bernama Indonesia. Kebersamaan yang tak muncul dari kesamaan, tapi justru dari keberagaman!

Faktualitas Indonesia itu, secara evolusioner banyak tapi satu, seolah-olah kajian yang bertumpu dari eksplorasi ilmu pengetahuan menyediakan narasi alternatif atas semboyan yang disepakati bersama sebagai semboyan negara, “bhinneka tunggal ika”?

Entahlah, bisa jadi…

 

 Kerja yang Disebut

[1] Dawkins R. (1976, 1982). The selfish gene. Oxford UP.

[2] Lewis, M. Paul (eds.). 2009. Ethnologue: Languages of the World, 16th edition. SIL International.

[3] Situngkir, H. (2004). “On Selfish Memes: Culture as Complex Adaptive System”. Journal of Social Complexity 2(1).

[4] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. BFI Working Paper Series WP-XII-2008. Bandung Fe Institute

[5] Situngkir, H. (2008). “Constructing the Phylomemetic Tree: Indonesian Tradition-Inspired Buildings”. BFI Working Paper Series WP-III-2008. Bandung Fe Institute.

[6] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17.

[7] Situngkir, H. (2009). The Phylomemetics of Batik. BFI Working Pape Series WP-8-2009.

[8] Situngkir, H. & Dahlan, R. M. (2009). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

[9] Situngkir, H. (2010). “Exploitation of Memetics for Melodic Sequences Generation”. BFI Working Paper Series WP-2-2010. Bandung Fe Institute.

[10] Situngkir, H., Maulana, A., & Dahlan, R. M. (2016). “A Portrait of Diversity in Indonesian Cuisine”. BFI Working Paper Series WP-1-2016.

[11] Sjahrir, S. (1969). Out of Exile. Transl. C. Wolf. Greenwood Press.

 

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: