Warisan Budaya itu Harta Kekayaan

Disampaikan pada Diskusi “Dinamika Sosial Budaya” di Sekolah Tinggi Teknik Perusahaan Listrik Negara (STT PLN), Jakarta, 31 Mei 2016.

Awalnya adalah hamparan bumi yang luas dan kosong, terbagi atas perairan lautan yang ber-air asin dan sungai-sungai yang berair tawar, lalu daratan yang ber-tanah, pasir, debu. Oleh berbagai peristiwa kosmik dari level sub-atomik hingga selular berjuta-juta tahun, maka hari ini dunia ilmu pengetahuan modern pun kerap berdecak kekaguman atas kompleksitas yang luar biasa di semesta planet bumi. Pola-pola kompleks dan rumit tercipta di alam raya, seolah ia dibangun oleh seorang matematikawan (atau programmer) yang luar biasa. Decak kagum akan kenyataan kompleks selalu tak terelakkan, apalagi dengan melihat kesederhanaan dari yang mendasari pola-pola kompleks tersebut. Pigmentasi cangkang kerang, perilaku mengerumun burung-burung yang beterbangan, ilusi optik yang melindungi sekawanan zebra dari predator, adalah sebagian kecil fenomena-fenomena yang luar biasa itu. Decak kagum semakin tak tertahankan, ketika melihat negeri seperti Indonesia, dengan keanekaragaman budaya yang luar biasa. Warisan budaya yang diteruskan turun-temurun dari generasi ke generasi, yang oleh perspektif modern di-insyaf-i kompleksitas dan “kecerdasan” pewarisnya. Kompleksitas budaya yang lahir kesederhanaan cara berfikir masa lampau masih memiliki relevansi hingga hari ini. Bukan hanya itu, bahkan bisa menginspirasi dunia modern…

ragam1

Lihatlah bagaimana penelitian modern membaca “aturan-aturan” sederhana yang melahirkan struktur pigmentasi cangkang kerang yang kompleks. Hanya ada 8 ketentuan di sana. Jika tiga pigmen hitam bertemu maka bagian bawahnya juga akan berpigmen putih. Jika 2 pigmen hitam diikuti oleh 1 pigmen putih maka bagian bawahnya akan berpigmen putih. Demikian seterusnya. Aturan sederhana yang diproses berulang secara komputasional tersebut pada akhir akan melahirkan struktur yang menyerupai pigmentasi kerang. Pola yang kompleks lahir dari aturan yang sederhana [1].
Kerang-kerang ber-adaptasi bergenerasi-generasi semenjak 500 juta tahun silam membentuk pola-pola yang serupa pada spesies kerang yang sama, tapi tidak satu pun yang sama satu sama lain. Hal serupa juga ditemui pada satu spesies kuda di Afrika yang tak seperti kuda-kuda yang kita biasa temui di Indonesia, misalnya, memiliki loreng-loreng [8]. Loreng-loreng itu membantu kerumuman mereka dari sergapan hewan-hewan buas. Loreng-loreng tersebut memberi ilusi optik yang membuat predator enggan mendekat. Dan seperti halnya kulit kerang, tak ada dua zebra yang memiliki pola loreng yang sama. Serupa tapi tak sama. Mereka mengikuti aturan yang sama, tapi berbeda keadaan awalnya, sehingga berbeda pula bentuk utuh masing-masing bagi setiap zebra.

ragam2

Penelitian telah menunjukkan bahwa tidak ada desain yang rumit dari corak kulit zebra, loreng harimau atau pola pigmentasi cangkang kerang dalam sekuen DNA-nya. Yang ada hanyalah aturan-aturan yang simpel. Aturan sederhana ini kemudian diproses secara berulang, sehingga melahirkan struktur yang kompleks. Kita dapat menyebutnya sebagai proses “dari simpel ke kompleks”.

Hal yang sederhana, secara kolektif telah menghasilkan pola yang kompleks! Kompleksitas inilah yang lalu menentukan apakah satu individu hewan bertahan hidup atau mati tergerus seleksi sistem ekologis.

Sekarang bayangkanlah Candi Borobudur, yang merupakan satu bangunan megastruktur kuno terbesar di dunia. Bangunan pejal yang dibangun antara abad 8 dan 9 ini diperkirakan memiliki volume 55.000 meter kubik, yang terdiri dari sekitar 2 juta balok batu. Proses pembangunannya diperkirakan selama puluhan tahun dan melibatkan ribuan tenaga kerja.

Jelas sekali, pada masa itu teknologi konstruksi masih relatif sederhana, dibandingkan teknik rekayasa yang digunakan oleh para insinyur dan arsitek hari ini. Hingga saat ini, tidak ada bukti bahwa peradaban tersebut telah mengenal maket dan sistem pengukuran (metrik) standar, yang memungkinkan untuk membuat bangunan megastruktur. Lalu bagaimana cara mereka dapat membangun Borobudur?

Borobudur [6] rak seperti bangunan struktur modern yang kita kenal hari ini. Pada sistem konstruksi modern, desainer membuat desain dalam gambar yang rinci dan rumit. Setelah itu struktur dibuat berdasarkan desain yang tersusun secara detail tersebut. Proses ini berlaku dalam hampir semua proses konstruksi modern, mulai dari pembuatan bangunan, mobil, pesawat terbang, kapal laut, peralatan elektronik dan lain sebagainya. Kita dapat menyebutnya sebagai proses “dari rumit ke rumit”, karena struktur yang rumit dilahirkan dari desain yang juga rumit.

Nenek moyang kita, seolah seperti alam “melukis” cangkang kerang dan pigmen rambut kuda zebra, sepertinya telah mengakuisisi konsep konstruksi natural dalam proses pembangunan Candi Borobudur. Megastruktur kuno ini dibangun dengan mengakuisisi prinsip “dari simpel ke kompleks”. Penelitian menunjukkan bagaimana otomata selular 2D aturan 816 dapat memunculkan pola mirip simplifikasi bangunan candi Borobudur. Aturan penempatan batu ditentukan berdasarkan pola balok batu yang terletak di bawahnya.

ragam3

Jika motif cangkang kerang, rambut kuda zebra, dan berbagai sumber ketakjuban atas diversitas di semesta alam lainnya, adalah adikarya alamiah, maka Borobudur adalah adikarya budaya nusantara 3-dimensi. Lebih jauh, lagi-lagi bangunan-bangunan candi yang ada di Nusantara pun sama seperti di cangkang kerang atau rambut zebra: tidak ada yang identik satu sama lain! Mereka serupa, tapi tiada yang sama. Tiap candi memiliki “sidik jari” sendiri!

Keragaman adalah bahasa budaya bangsa-bangsa yang ada di Nusantara. Terdapat 719 bahasa yang tercatat pernah atau sedang dipercakapkan di kepulauan ini, dari total 7.097 bahasa di seluruh planet bumi [4]. Di Indonesia sendiri, lebih dari 10% dari bahasa-bahasa tersebut terancam atau bahkan sudah punah, sudah tidak ada lagi penuturnya. Dunia makin mengglobal, bahasa-bahasa daerah malah seringkali dianggap kolot, kuno, tak penting. Benarkah demikian?

ragam4

Mengapa ada ketakutan umat manusia modern jika ada bahasa yang punah? Bukankah jika bahasa yang dipercakapkan oleh seluruh umat manusia sama, maka komunikasi antar bangsa-bangsa akan lebih mudah? Bahasa merupakan entitas fundamental dari budaya. Tiap budaya, seperti halnya ragam-ragam spesies makhluk hidup, merupakan caranya masing-masing populasi manusia di daerah bersangkutan merespon tantangan alam yang ada di sekitarnya. Kepunahan bahasa adalah ancaman akan kepunahan budaya.

Seberapa-pentingkah perbedaan budaya dipertahankan? Spesies makhluk hidup di planet bumi bertahan melalui proses adaptasi lintas generasi, di mana alam menyeleksi ciri-ciri tertentu dari makhluk hidup yang bisa bertahan hingga seterusnya, mulai dari ancaman predator, bencana alam, hingga penyakit-penyakit. Evolusi makhluk hidup terus berlangsung hingga saat ini. Terdapat spesies yang punah, karena ia tak mampu bertahan, dan yang ada sekarang adalah jawara-jawara dari “ujian ekologis”. Diversitas adalah kunci kebertahanan makhluk hidup.

Demikian pula halnya dengan budaya. Sementara peradaban modern sudah berjalan lebih dari 500 tahun, baru pada abad ke-21 ini kita bisa membangun sebuah proposal teoretis sederhana untuk menjawab kekaguman kita akan bangunan candi-candi raksasa yang ada di Kepulauan Nusantara. Aturan-aturan sederhana yang mereka terapkan, mungkin merupakan hal yang memunculkan kondisi makro yang luar biasa kompleks dan mengagumkan. Tanpa meter standar, sistem maket, dan berbagai piranti modern, bangunan megastruktur terbangun megah yang berdiri hingga saat ini.

Budaya dapat dilihat sebagai bentuk kecerdasan kolektif [2] hasil proses mental kognitif dan abstraksi kelompok manusia akan semesta yang ada di sekitarnya. Budaya di satu tempat memiliki perbedaan dengan budaya di tempat lain karena memang tantangan yang dihadapi oleh masing-masing juga berbeda. Seringkali tantangan ekologis di satu tempat telah berhasil diatasi oleh budaya di suatu tempat tapi belum berhasil dijawab oleh budaya di tempat lain. Pertukaran budaya menjadi penting di sini.

Bayangkan dua orang yang masing-masing cerdas melakukan pemrograman komputer dan yang satu lagi cerdas dalam desain-desain bentuk. Kolaborasi keduanya, misalnya, adalah sebuah permainan komputer yang menyenangkan, seru, dan adiktif bagi penggunanya karena keindahan desainnya. Demikian pula halnya dengan budaya. Sebuah tantangan alam yang tak tergambarkan karena memang belum pernah dialami oleh suatu kelompok masyarakat budaya tertentu, dapat mengambil pelajaran dari kelompok masyarakat budaya lain yang sudah sukses mengatasi tantangan alam tersebut. Di samping “kecanggihan” Candi Borobudur, kita juga tentu pernah mendengar bagaimana rekayasa sipil modern mengambil pelajaran dari pembangunan rumah adat tradisi Nias, misalnya [3]. Ada banyak sekali obat-obatan modern yang justru berasal dari penelaahan budaya jamu/herbal tradisional [9]. Motif-motif batik dan songket telah kerap memberikan corak fashion modern yang luar biasa dan menjadi karya adiluhung tata busana modern [5].

Lantas bisa kita bayangkan bagaimana jika ada budaya tradisional yang hilang. Kita hidup di tengah tantangan sosial ekologis yang penuh ketakpastian dan ketidaktahuan [7]. Penyakit-penyakit “baru” bermunculan, baik penyakit medis, maupun “penyakit” sosial dan psikologis. Keragaman budaya Indonesia raya bagaikan “perpustakaan” yang sewaktu-waktu bisa kita rujuk tatkala ada satu dua tantangan sosial ekologis baru menerpa.

Di era informasi modern ini, pengetahuan merupakan modal, sebuah bentuk kapital karena memiliki nilai-nilai ekonomi. Di era informasi, kekayaan ekonomis suatu bangsa atau negara berkaitan erat dengan akumulasi pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masingnya. Transfer pengetahuan merupakan bentuk transaksi ekonomis melalui konsep “kekayaan intelektual”.

Dari sini kita insyaf, kekaguman-kekaguman kita akan berbagai detail masing-masing ragam budaya merupakan cermin potensial nilai ekonomis dari berbagai kecerdasan kolektif yang kita warisi. Kemarin kita mendengar peribahasa “knowledge is power”, dan di masa mendatang yang dekat ini “intelligence is money” tampaknya akan semakin deras gaungnya!

Kerja-kerja yang Disebutkan:

[1] Boettiger, A. N. & Oster, G. (2009). “Emergent complexity in simple neural systems“. Communicative & Integrative Biology 2 (6): 467-70. Landes Bioscience.
[2] Brown, P. & Hugh, L. (2000). “Collective intelligence”. dalam Baron, S., Field, J., & Schuller, T. Social Capital: Critical Perspectives. Oxford UP.
[3] Gruber, P., and U. Herbig. (2005). Research of Environmental Adaptation of Traditional Building Constructions and Techniques in Nias. Institut für vergleichende Architektur Forschung IVA Institutefor Comparative Research ICRA (IVA-ICRA.
[4] Lewis, M. Paul (eds.). 2009. Ethnologue: Languages of the World, 16th edition. SIL International.
[5] Situngkir, H. (2009). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia.
[6] Situngkir, H. (2010). “Exploring Ancient Architectural Designs with Cellular Automata“. BFI Working Paper Series WP-9-2010. Bandung Fe Institute.
[7] Situngkir, H. (2015). “Indonesia embraces the Data Science”. Paper presented in South East Asian Mathematical Society (SEAMS) 7th Conference. Gadjah Mada University. URL: http://arxiv.org/abs/1508.02387
[8] Witkin, A. & Kass, M. (1991). “Reaction-diffusion textures”. Proceeding SIGGRAPH ’91 Proceedings of the 18th annual conference on Computer graphics and interactive techniques. pp. 299-308.
[9] Woerdenbag, Herman J., and Oliver Kayser. “Jamu: Indonesian traditional herbal medicine towards rational phytopharmacological use.” Journal of Herbal Medicine 4.2 (2014): 51-73.

Cjv94JYVAAAFDca

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: