Ekonofisika di Era Informasi ini

33Pengantar dalam Diskusi pada Seminar Nasional “Kontribusi Ilmu Fisika dalam Dunia Ekonomi” di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Fisika, FKIP, Universitas  Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta, 15 April 2017

Sejak akhir abad ke-20 silam, ilmu Ekonomi dan Fisika itu adalah dua domain tatanan pengetahuan modern yang terkesan terpisah sungguh jauh. Ilmu ekonomi telah berubah menjadi “kaisar” dalam ilmu-ilmu sosial, sarat variabel matematika di tengah kompleksitas kenyataan ekonomis modern hari ini yang sangat tinggi dan mengglobal [1]. Tak banyak diperbincangkan bahwa ilmu ekonomi modern saat ini sarat sumbangsih dari berbagai domain ilmu lain, khususnya ilmu fisika. Karena ekonomi terlalu penting untuk menjadi ilmu yang mono-disipliner, kompleksitas sosial mensyaratkan, ilmu ekonomi adalah ilimu yang seyogianya interdisipliner! 

Albert Einstein, mungkin adalah fisikawan yang paling merasuki dunia populer modern yang pernah hidup. Dirinya adalah simbol genius fisika. Ia menorehkan teori relativitas yang sangat terkenal itu. Einstein memang fenomenal, di samping teori relativitas khusus dan umum, ia juga memberikan sumbangsih terkait fotoelektrik. Namun yang tak banyak dibicarakan, adalah kontribusinya terkait formalisasi Gerak Acak Brown. Bahkan Einstein sendiri konon pernah berujar, mungkin inilah kontribusinya yang paling sedikit dampaknya secara umum [10].

Bahkan seorang Albert Einstein mungkin bisa keliru. Justru, karya tentang “gerak acak”-nya tersebut termasuk karya fenomenal dasar yang meletakkan skema formal matematika tentang apapun yang dilihat sebagai bentuk gerak acak. Dan Ilmu Ekonomi modern merupakan sebuah ruangan raksasa yang berpijak pada sifat keacakan, ke-random-an, oleh rumitnya aspek sistem sosial tentang ekonomi. Ekonomi modern mengenal berbagai pengembangan dari formalisasi gerak acak, dengan penguatan-penguatan matematika proses Wiener, hingga formalisasi matematika penyusunan portofolio investasi Markowitz, bahkan Persamaan Black-Scholes  yang menjadi dasar kalkulus proses investasi di pasar modal yang sangat terkenal [4]. Hampir semua matematika yang menjadi bahasa Ilmu Ekonomi modern berada dalam payung distribusi normal, baik sebagai proses acak, maupun sebagai bentuk pola-pola korelasi dan kovariansi. Sebagian besar ilmu ekonomi modern hari ini masih bersandar pada cara berfikir matematis itu [8].

Namun yang lebih tak banyak diperbincangkan adalah ketika seorang matematikawan Paul Lévy yang mencoba menggeneralisasi formalitas gerak acak tersebut ke dalam bentuk distribusi yang tidak normal. Formalitas matematika Paul Lévy ditemukan sebagai bentuk pola statistik dari sistem kompleks. Sistem kompleks jarang sekali berperilaku di bawah payung kenormalan distribusi data-data [5]. Distribusi dari berbagai aspek sistem sosial seringkali berperilaku tak sensitif pada nilai rata-rata, jarang  sekali ada variabel yang independen antara satu dengan yang lain, dan sangat bervariasi, sedemikian sehingga outlier, kejadian-kejadian janggal yang semestinya jarang terjadi dalam sifat “acak”, jsutru lebih banyak terjadi. Dan ekonomi itu adalah sistem kompleks [6]!

Ilmu fisika itu adalah ilmu yang seringkali sangat sulit mendapatkan data-data fisis. Seringkali formalisasi matematika dalam ilmu fisika mendahului apa-apa yang dapat diuji dalam proses eksperimen. Berbeda dengan ilmu ekonomi, apalagi pasar global dan investasi dewasa ini, dimana dalam satu detik pun, ratusan data tercatat. Tiap hari di Bursa Efek Indonesia saja, terjadi sekitar 25 juta transaksi terjadi, belum lagi di pasar mata uang, pasar komoditas berjangka, dan seterusnya. Dunia pasar dan ekonomi merupakan “surga data” dibandingkan dengan ilmu fisika. Inilah yang memotivasi H. Eugene Stanley [2], mengusulkan penggunaan kata “ekonofisika” sebagai sebuah tatanan interdisiplin dimana mereka yang terbiasa bergelut dengan berbagai kompleksitas alam fisis, mengarahkan mikroskopnya ke alam sosial dan ekonom.

Capture

2

Namun dalam sistem sosial, bukan hanya proses ekonomi semata-mata yang kompleks. Hari ini kita menyaksikan bagaimana teknologi informasi telah sangat mempercepat dinamika perdagangan di pasar global, baik pasar modal, pasar keuangan, hingga pasar ritel dengan berbagai situs-situs web e-commerce. Namun teknologi informasi tak hanya mencatatkan data-data perdagangan yang berukuran raksasa, tapi juga data-data curahan hati, foto- foto hingga video yang diambil dengan handphone orang-orang di media sosial. Hingga beberapa bulan lalu 2.172.895 akun instagram, 4.345.790 akun Facebook, 3.414.550 akun twitter orang Indonesia. Bahkan secara digital tercatat pula sekitar 691.200 pesanan ojek online setiap harinya. Dinamika sosial dan ekonomi yang terekam sebagai data-data raksasa ini telah “membingungkan” sains tatkala hendak mengelola informasi-informasi di dalamnya. Beberapa dekade lalu, “kebingungan” itu melahirkan “ekonofisika”, sebagai disiplin ilmu yang menerapkan berbagai kemajuan model fisis ke dalam “pesta data” pasar dan ekonomi. Kini tantangan mereka yang menggeluti ilmu-ilmu sains seperti fisika itu telah bergabung dengan ilmu dan teknologi informasi. “Kebingungan” itu kini disebut-sebut sebagai “Data Science”, karena bukan hanya proses ekonomi yang didekati dengan sains, namun begitu banyak hal lain dalam kehidupan sosial [7].

Di akhir abad ke-20 yang lalu, dunia ilmu pengetahuan telah menyaksikan bagaimana fisika memberi kontribusi dalam kajian ekonomi sebagai ekonofisika. DI awal abad ke-21 ini, dunia ilmu pengetahuan menyaksikan kontribusi yang sama untuk domain kajian sosial yang lebih luas, sebagai “data science”.

Kerja-kerja Yang Disebutkan:

[1] Keen, S. (2001). Debunking Economics: The Naked Emperor of the Social Sciences. Pluto Press Australia.
[2] Mantegna, R., Stanley, H. E. (1999). An Introduction to Econophysics: Correlations and Complexity in Finance. Cambridge UP.
[3] Mirowski, P., More Heat than Light: Economics as Social Physics, Physics as Nature’s Economics. Cambridge University Press, 1989.
[4] Roehner, B. (2002). Patterns of Speculations: a study in observational econophysics. Cambridge UP.
[5] Situngkir, H. Surya, Y. (2004). Aplikasi Fisika dalam Analisis Keuangan. SD MIPA.
[6] Situngkir, H., Surya, Y. (2008). Solusi Untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisik/Kompleksitas. Kandel.
[7] Situngkir, H. (2015). Indonesia embraces the Data Sciences. Paper presented in South East Asian Mathematical Society (SEAMS) 7th Conference. URL: https://arxiv.org/abs/1508.02387
[8] Taleb, N. (2001). Fooled by Randomness: The Hidden Role of Chance in Life and in the Markets. Randoom House.
[9] Taleb, N. (2012). Antifragile: Things That Gains from Disorder. Penguin Books.
[10] Sachel, J. -eds. (2005). Einstein’s Miraculous Year: Five Papers That Changed the Face of Physics. Princeton UP.

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: