Archive for November 2017

Meniti Landasan Keadilan Peradaban Manusia Indonesia

November 15, 2017

gmki

Disampaikan dalam Seminar GMKI  bertema “Pemuda sebagai Penjaga Pancasila & Pembangunan Peradaban”, Jakarta, 30 Oktober 2017.

Betapa tak jarangnya pernikahan yang diawali dengan romantisme cinta, hangatnya rasa sayang yang penuh perhatian di masa pacaran dan awal pernikahan, justru berakhir di meja pengadilan perceraian. Tak jarang seorang pasangan mengatakan betapa ia seolah tak lagi mengenali pasangan yang dulu sangat dirasakan penuh cinta .Biduan populer Indonesia bahkan menyanyikan “…manisnya hanya di awal saja!”.  Benarkah cinta itu bisa memudar? Atau, apakah benar bahwa perasaan cinta itu murni hanya rasa emosional yang tak pernah bertahan lama? Sejati cinta bermanifestasi pada rasa ingin terus mengenali, mengetahui, memahami, agar selalu dapat menjadi dan memberi yang terbaik bagi sosok yang dicintai. Cinta itu bukanlah rasa senang atau sedih. Sebaik-baik cinta adalah upaya untuk mengetahui dan mengenali. “Tak kenal maka tak sayang,” katanya. Demikian pula halnya dengan mencintai negeri, ia bukan berasal dari rasa senang yang emosional, tapi adalah kristalisasi pengetahuan akan negeri itu. Lantas adakah kita sudah benar-benar mengenali Indonesia kita? (more…)

Advertisements

Kita, ketika sains mengubah, dan lalu berubah hari ini

November 12, 2017

qure

Disampaikan pada Workshop “Sains dan Pemikiran Kritis” Qureta, Bandung, 22 Setember 2017

Di seluruh Planet Bumi, hanya ada satu spesies yang memiliki keunikan yang sangat sederhana, namun menjadi sedemikian luar biasa, karena dapat menjadi “penguasa” atas berbagai spesies lainnya. “Kekuasaan” itu tak berasal dari kekuatan fisiknya atau kekebalannya dari penyakit. Bahkan spesies itu cenderung “lemah” dan cukup sering, justru takluk jika berhadap-hadapan head to head dengan sosok spesies lainnya di planit Bumi. Ia  bisa kalah jika berhadap-hadapan dengan banyak hewan, mulai dari yang besar tubuhnya lebih besar dari dirinya hingga yang jauh lebih kecil, ber-sel satu dan tak mampu dilihatnya. “Kekuasaan” itu berasal justru bukan dari kemampuan fisis dan biologisnya, namun dari kemampuannya mengabstraksikan dunia yang dipandangnya sebagai bahasa. Kemampuan ini menjadikannya mampu memproses hingga mengkomunikasikan informasi. Kemampuan inilah yang menyebabkannya mengambil berbagai keputusan secara kolektif demi keuntungan dan kelestarian spesiesnya, melawan predator dan apa atau siapapun yang mengganggu keberlangsungan hidup sesamanya. Kemampuan memproses dan mengkomunikasikan ini pula yang memberikan corak unik perannya di Planet Bumi, yang memungkinnya kemudian mempertanyakan apapun termasuk asal-muasal dirinya. Kemampuan yang membuatnya melahirkan sains, seni, dan teknologi, yang lalu menobatkannya menjadi khalifah dan membuatnya merasa sanat spesial atas makhluk-makhluk se-planet lain. (more…)