Kita, ketika sains mengubah, dan lalu berubah hari ini

qure

Disampaikan pada Workshop “Sains dan Pemikiran Kritis” Qureta, Bandung, 22 Setember 2017

Di seluruh Planet Bumi, hanya ada satu spesies yang memiliki keunikan yang sangat sederhana, namun menjadi sedemikian luar biasa, karena dapat menjadi “penguasa” atas berbagai spesies lainnya. “Kekuasaan” itu tak berasal dari kekuatan fisiknya atau kekebalannya dari penyakit. Bahkan spesies itu cenderung “lemah” dan cukup sering, justru takluk jika berhadap-hadapan head to head dengan sosok spesies lainnya di planit Bumi. Ia  bisa kalah jika berhadap-hadapan dengan banyak hewan, mulai dari yang besar tubuhnya lebih besar dari dirinya hingga yang jauh lebih kecil, ber-sel satu dan tak mampu dilihatnya. “Kekuasaan” itu berasal justru bukan dari kemampuan fisis dan biologisnya, namun dari kemampuannya mengabstraksikan dunia yang dipandangnya sebagai bahasa. Kemampuan ini menjadikannya mampu memproses hingga mengkomunikasikan informasi. Kemampuan inilah yang menyebabkannya mengambil berbagai keputusan secara kolektif demi keuntungan dan kelestarian spesiesnya, melawan predator dan apa atau siapapun yang mengganggu keberlangsungan hidup sesamanya. Kemampuan memproses dan mengkomunikasikan ini pula yang memberikan corak unik perannya di Planet Bumi, yang memungkinnya kemudian mempertanyakan apapun termasuk asal-muasal dirinya. Kemampuan yang membuatnya melahirkan sains, seni, dan teknologi, yang lalu menobatkannya menjadi khalifah dan membuatnya merasa sanat spesial atas makhluk-makhluk se-planet lain.

Seiring berjalannya arah evolusioner planet, kemampuan memproses dan mengkomunikasikan informasi itu telah membentuk berbagai milestones dalam perkembangan umat manusia, dalam bentuk kebudayaan, peradaban, dalam berbagai manifestasi, seperti sains, seni, teknologi, ideologi, politik, ekonomi, sosial, pertahanan keamanan, dan sebagainya. Sadar atau tidak sadar, informasi rupanya memegang peranan yang luar biasa dalam peri-kehidupan semesta. Fisika, Biologi, Kimia, hingga ilmu-ilmu sosial mengisi ruang-ruang pembelajaran dalam regenerasi umat manusia, mulai dari hal yang tak terlembagakan, seperti pola pendidikan dalam keluarga, hingga pola formal persekolahan. Dalam sejarah peradaban manusia, perubahan-perubahan besar seperti perubahan pola hidup food-gathering menjadi food producing, perubahan sistem ekonomi barter menjadi mata uang, hingga Renaissance, Revolusi Industri terjadi. Sadar atau tidak sadar, sebenarnya perubahan-perubahan itu terjadi, pada dasarnya berkenaan erat dengan  ikhwal informasi.

Namun apa yang terjadi ketika justru perubahan besar terdapat pada cara umat manusia memproses dan memindahkan informasi itu sendiri? Ada sebuah revolusi besar yang senyap di penghujung abad ke-20 yang lalu, dan perlahan masih juga terjadi hingga awal abad ke-21 ini. Revolusi ini senyap karena ia ter-isolasi di kampus, perpustakaan, hingga laboratorium dan ruang-ruang kerja penelitian yang sempit. Revolusi ini tak riuh ramai dan gegap gempita sebagaimana yang revolusi politik, misalnya, yang biasa dikisahkan oleh para sejarawan. Ia senyap karena pelan-pelan membongkar terlalu dalam apa-apa yang dianggap manusia ratusan abad terakhir ini sebagai “dasar modernisme”. Revolusi menjadikan dua hal bergabung menjadi satu paduan yang utuh: komputasi dan komunikasi. Beberapa orang hari ini menyebut salah satu gejalanya sebagai “era informasi”.

quret2

Era informasi merupakan era ketika percepatan pemrosesan informasi umat manusia menjadi luar biasa dengan perkembangan teknologi komputasi. Berbagai pemrosesan abstraksi atas dunia menjadi sangat cepat ketika apa yang mesti dituliskan pada kertas dan pensil diabstraksikan ke dalam bit-bit digital untuk kemudian diproses secara elektronis. Perkembangan teknologi elektronika telah sedemikian memperkecil volume piranti pemroses sementara volume data yang diproses justru semakin besar dengan berbagai inovasi semikonduktor. Semakin banyak jumlah transistor mikro dapat tertampung dalam skala yang, dan ekonomisasi serta industrialisasi yang memasifkan delegasi abstraksi pemikiran ke dalam pemrosesan aljabar boolean[i].

Di sisi lain, era informasi juga ditandai dengan portabilitas informasi umat manusia yang menjadi luar biasa dengan teknologi telekomunikasi. Berbagai bentuk pertukaran informasi menjadi sangat cepat, dalam berbagai bentuk indriawi, mulai teks, suara, hingga gambar bergerak. Tingginya kecepatan komunikasi yang dimungkinkan memberikan situasi dimana pemrosesan informasi menjadi makin cepat pula. Relasi manusia menjadi tak lagi dibatasi ruang geografis. Kekosongan-kekosongan di ruang-ruang geopolitik hingga geo-ekonomi telah diisi oleh ruang-ruang digital. Sains dan teknologi telah mengubah cara pandang dunia, dan sadar atau tak sadar, mengubah pula cara bagaimana sains dan teknologi tersebut bekerja[ii].

Era informasi hari ini jelas lahir sebagai akumulasi perkembangan dinamika sains dan teknologi. Namun karena sains dan teknologi itu pun lahir dari  kemampuan kolektif manusia dalam mengelola informasi, maka sains pun mengalami perubahan-perubahan besar. Dunia yang sermakin komputasional dan semakin komunikatif belakangan tak hanya memberi percepatan bagaimana sains berproses, namun juga menyertai tak sedikit hal yang bahkan fundamental bagi perkembangan sains dan teknologi itu sendiri.

Beberapa di antara perubahan yang terasa dalam dunia ilmu pengetahuan, antara lain,

  1. Runtuhnya keangkuhan sains yang monodisiplin warisan abad pencerahan.

Sejak masa pencerahan, ilmu pengetahuan modern mengelola informasi dalam kamar-kamar tertutup yang tersekat dalam bidang studi, domain yang tertutup. Hal fisis dikerjakan fisika, biologi dikerjakan biolog dan seterusnya. Sains terkotak-kotak dengan kedalaman yang makin tinggi di masing-masing disiplin. Komputasi dan komunikasi yang sedemikian cepat agaknya membongkar sekat-sekat sains tersebut perlahan-lahan. Hampir tak ada pemrosesan sains hari ini yang dapat dilakukan tanpa meng-eksploitasi pemrosesan melalui komputasi[iii]. Secara intrinsik, dorongan ini sudah terasa sejak lama, namun perkembangan komputasi dan teknologi telekomunikasi telah mempercepatnya. Hari ini, pendekatan sains semakin ditekan untuk memperhatikan aspek-aspek interdisiplin[iv]. Data dari sebuah kelompok ilmiah mono-disiplin dengan mudah dapat diakses oleh kelompok peneliti lain di disiplin lain. Kajian ekonofisika[v], misalnya, merupakan pendekatan ekonomi dan keuangan yang justru dimotori oleh mereka yang memiliki latar belakang fisika, yang memberikan begitu banyak kontribusi dalam kajian ekonomi belakangan ini.

  1. Ketakpastian yang semakin terasa dalam semua pendekatan sains.

Dahulu, dikenal istilah “ilmu pasti” untuk ilmu-ilmu alam. Suatu hal yang semakin tak relevan untuk menggambarkan dinamika sains hari ini. Kajian komputasional telah memungkinkan untuk melakukan berbagai hal sangat sukar untuk dilakukan di era pra-komputasi[vi]. Penemuan geometri fraktal mungkin adalah salah satunya, dimana sains yang bersandar pada pola pengukuran (eksak, akurat) justru mempertanyakan arti penting dari pengukuran itu sendiri[vii]. Namun ke-tidak-akurat-an perhitungan model matematika sains tidak hanya berasal dari tak lengkapnya data atau tak akuratnya pengukuran yang dilakukan oleh peneliti, namun justru berasal dari sifat endogen dari struktur dan model alam semesta itu sendiri. Dengan menggunakan komputasi jutaan eksperimen iteratif telah dapat dilakukan dengan cepat demi menunjukkan bahwa justru sistem yang deterministik dapat menghasilkan periaku yang seolah random, chaotik[viii]. Kompleksitas obyek sains menjadi semakin terasa dalam penelaahan ilmu pengetahuan. Seolah-olah semakin banyak informasi yang diketahui dari sebuah sistem, maka semakin banyak pula informasi yang tak diketahui sekaligus. Sains yang tadinya sangat kokoh berdiri dengan berbagai abstraksi tentang alam semesta semakin sering dihadapkan pada berbagai paradoks yang justru memang adalah sifat intrinsik dari semesta alam[ix].

  1. Internet of Things[x].

Industrialisasi dan produk massal berbagai piranti komputasi, mulai dari sensor, motor, dan berbagai elemen sistem kendali yang didukung dengan teknologi telekomunikasi semakin hari semakin tinggi. Mengendalikan berbagai perangkat elektronika kini telah pula dapat dilakukan dengan memberikan koneksi perangkat elektronika tersebut ke internet. Istilah smart city, smart home, dan berbagai aplikasi informatika lain kini telah  menjadi sedemikian populer. Sensor elektronis menyebar tak hanya di  rumah, namun telah menempel dan menjadi bagian hidup dari manusia era informasi. Telepon selular menjadi semakin smart dengan berbagai tambahan-tambahan smartwatch, misalnya, dimana tiap piranti elektronika yang smart tersebut mengandung belasan sensor yang mencatat hampir apapun dari aktivitas manusia saat ini. Dari sudut pandang ilmu pengetahuan[xi], hal ini berarti bahwa sumber data telah menjadi sangat banyak, dimanapun, dan dapat dikendalikan, diobservasi, hingga dianalisis dimanapun dan kapanpun. Ini mungkin adalah masa dimana hidup sangat tak bisa dilepaskan dari tangan-tangan sains tanpa perlu menyadari bahwa apapun yang dilakukan berada di bawah mikroskop subyek ilmu pengetahuan itu sendiri.

  1. Lahirnya Data Science

Satu dekade belakangan ini dunia ilmu pengetahuan diramaikan dengan istilah yang sungguh aneh dan paradoks, data science  Terminologi ini paradoks karena semestinya sains tak mungkin dapat dilepaskan dari data, dan bahwa data adalah satu elemen yang sangat penting dalam melakukan sains. Kompleksitas dunia yang kemudian terekam dalam piranti digital rupanya menghasilkan data-data dengan karakteristik kompleks pula[xii]. Belakangan dikenal istilah “big data”, dimana data-data digital mengalir sangat cepat dengan volume yang tak dapat dibayangkan oleh masyarakat ilmu pengetahuan beberapa dekade silam. Disebutkan bahwa 90% data yang pernah dihasilkan dalam sejarah peradaban manusia hanya berasal dari 2-3 tahun terakhir[xiii]. Derasnya aplikasi media sosial hingga jutaan sensor elektronis yang terkoneksi dengan internet telah memberikan kompleksitas tersendiri dalam menanganinya[xiv]. Lahirlah data science untuk menjawab tantangan tersebut. Era informasi ini rupanya tak hanya mendekatkan dunia ilmu kepada begitu banyak aspek paradoksikal di semesta alam, namun rupanya menjadikannya terkadang perlu berperilaku paradoks(?).

  1. Apresiasi-apresasi unik atas sains.

Dunia yang semakin terekam secara digital dengan implementasi sains yang tinggi telah memberi pula akses komunikasi yang cepat antara mereka yang hidup di dunia sains dan yang hidup dgital yang awam. Terdapat setidaknya 3 sikap awam terhadap sains secara umum dengan risiko masing-masing bagi perkembangan sains tersebut, yakni:

  1. Sikap yang kontra pada berbagai temuan sains seringkali berkenaan dengan gagalnya memahami sains sebagai ikhwal yang terpisah (non-overlap magister) dengan aspek-aspek religius, dogma spiritual, atau keyakinan dari kebanyakan masyarakat. Temuan sains seringkali memang menantang apa yang secara konvensional dipikirkan oleh masyarakat luas. Namun jarang orang memahami bahwa cara berfikir sains pada dasarnya sangat berbeda dengan cara berfikir non-sains. Cara berfikir sains dimulai dari skeptisisme pada semua hal, khususnya obyek dari sains itu sendiri. Hal ini tentu sangat berbeda dengan berbagai cara berfikir konvensional yang justru diawali dengan keyakinan dan sikap akan sesuatu, baru kemudian memberikan justifikasi atas sesuatu tersebut. Polemik terkait kreasionisme yang dipertentangkan dengan evolusi hayati makhluk hidup mungkin merupakan salah satu dari hal ini[xv]. Di era informasi, hal ini justru dapat ter-aksentuasi di era informasi dimana tiap pihak dapat menyuarakan sikap dan justifikasinya atas apapun. Politik advokasi atas temuan-temuan sains membuka banyak medan perang polemik dengan kontra-sains yang juga menggunakan berbagai perangkat komunikasi yang canggih sehingga sikap anti-sains justru dapat menyebar[xvi]. Tentu saja ini juga merupakan paradoks yang lain lagi, dimana anak kandung dari sains, yaitu teknologi informasi, justru menyediakan media yang berupaya membunuh tendensi dan semangat sains itu sendiri.
  2. Namun di sisi lain, sikap pro pada temuan-temuan dan pengembagan sains juga semakin mudah ter-akses ke publik. Komunikasi antar peneliti menjadi semakin tinggi. Sudah semakin banyak terjadi konferensi-konferensi lintas negara (dan lintas bidang dengan semangat interdisiplin) yang dilakukan secara online (webinar) yang memungkinkan penlaahan atas obyek sains terjadi tanpa batasan waktu dan tempat yang sangat berjauhan. Namun aspek ini pun tak luput dari risiko perusakan atas sains itu sendiri. Informasi yang membanjiri dunia digital telah menyebabkan manusia cenderung alpa mendalami satu informasi tertentu. Akibatnya, sikap pro yang keliru paham terhadap suatu temuan dalam disiplin ilmu sendiri dapat pula menyebar, menjadi semacam hoax yang tentu berisiko bagi pengembangan sains itu sendiri. Hal ini ditemukan, misalnya dalam hal “teori evolusi”, dengan perspektif yang berbeda dengan di aspek sebelumnya[xvii]. Kegagalan kepahaman akan teori evolusi misalnya, dapat membonceng mereka yang berpolitik untuk kontra atas agama tertentu. Lebih jauh, diketahui muncul pula semacam “saintisme”, yang memperlakukan sains bagaikan dogma agama. Hal paradoks yang juga dapat ter-aksentuasi dengan kuat dengan banjir informasi yang dikonsumsi secara instan oleh awam. Seringkali hal ini diatasi secara instan oleh publik dengan memberikan “otoritas” tertentu pada pihak-pihak akademia untuk menginterpretasi temuan sains. Semangat yang terakhir ini juga tentu bersifat paradoks dengan semangat sains itu sendiri, mengingat sains bukanlah hal terkait subyek, namun lebih menyoalkan obyek dari sains itu sendiri[xviii].
  3. Sikap tak peduli pada sains dapat pula ter-aksentuasi di era informasi ini. Proses sains itu sendiri bukanlah proses instan yang sederhana di era industrial pra-komputasi. Sikap cuek bahkan apatis pada perkembangan sains dan teknologi dapat berasal dari kepraktisan yang dituntut oeh kehidupan di era digital yang terasa sangat cepat. Saat pola ini ter-aksentuasi di era informasi, risiko terhadap perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri pun muncul.

Bagaimanakah kiprah Indonesia di tengah hiruk-pikuk penelaahan sains era informasi ini? Indonesia sebagai negara yang dikenal selama ini memiliki kawasan geografis yang unik, potensi ekologis yang kaya, hingga sosio-budaya dengan keragaman yang sangat tinggi, semestinya dapat memberikan arti penting yang unik di tengah ramainya penziarahan ilmu pengetahuan era digital. Ragam budaya yang selama ini sukar untuk diakses oleh ilmu pengetahuan modern kini dapat diunggah ke ranah digital[xix]. Di ranah digital, kebhinekaan khazanah sosio-budaya yang luar biasa tersebut menjadi “data baru” bagi kajian humaniora, antropologis, arkeologis, arsitektur, farmakologi, astronomi, dan berbagai domain disiplin ilmu lain yang di belahan utara Indonesia mulai merayakan pula interaksi mereka dengan pemrosesan komputasi dan komunikasi informasi yang serba cepat itu. Keragaman elemen budaya tersebut menjadi semacam “artefak digital” yang kini dapat diolah dan dianalisis untuk mencari dan menemukan pola geometri dan sistem pengetahuan etno-matematika nusantara yang mungkin telah lama terlupa[xx].

Tantangan-tantangan pengembangan sains dan teknologi di negara dunia ketiga seperti Indonesia, bagaimanapun, memang juga mendapatkan aksentuasi ketika masyarakat Indonesia ikut pula merayakan era informasi. Mereka yang anti-kritikal, dogmatis, doktrinal, dan berfikiran sempit serta tidak memiliki pemahaman yang komprehensif sebagaimana penalaran dan metode ilmiah tentu juga diperkuat dengan adanya media digital sosial yang marak. Berbagai macam hoax terkait penelaahan ilmu pengetahuan, baik dari yang bersikap kontra terhadap sains, maupun dari yang bersentimen positif terhadap ilmu pengetahuan namun berpemahaman yang masih serba sedikit, juga ter-aksentuasi di Indonesia belakangan ini. Bahkan kekayaan budaya tradisi nusantara yang dikenal juga dikenal sarat esoterisme dan mistisisme medapat pula ruang di era informasi.

Karena itulah upaya untuk peningkatan kemampuan nalar, literasi, dan diseminasi metode ilmiah, dan bukan semata-mata gegap-gempita penemuan sains mesti lebih didorong lagi dalam menghadapi tantangan era teknologi informasi ini. Ketika sains dan teknologi modern kemudian mengalami perubahan-perubahan besar di era informasi, bukan tak mungkin percepatan unggah-digital berabgai potensi yang terhampar di Kepulauan Indonesia dapat menjawab banyak pertanyaan dan tantangan ilmu pengetahuan terkait kemanusiaan kita. Semacam memecah kode-kode dalam kemanusiaan kita[xxi] yang masih perlu dijawab dengan keragaman evolusioner yang memang secara natural adalah karakteristik masyarakat Indonesia.

Rujukan:

[i] Whitesitt, J. E. (2010). Boolean Algebra and Its Applications. Dover Publications.

[ii] Shannon, C.. E.; Weaver, W. (1963). The Mathematical Theory of Communication. University of Illinois Press.

[iii] Mitchell, M. (2011). Complexity: A Guided Tour. Oxford University Press.

[iv] Miller, J. H. & Page, S. (2007). Complex Adaptive System: An Introduction to Computational of Social Life. Princeton UP.

[v] Situngkir, H. Surya, Y. (2004). Aplikasi Fisika dalam Analisis Keuangan. SD MIPA.

[vi] Wolfram, Stephen (2002), A New Kind of Science, Wolfram Media.

[vii] Mandelbrot, B. (2014). The Fractalist: Memoir of a Scientific Maverick. Vintage.

[viii] Gleick, J. (1987), Chaos: Making A New Science, Viking, New York.

[ix] Bak, P. (1996). How Nature Works. Copernicus.

[x] Greengard, S. (2015). The Internet of Things. MIT Press.

[xi] Johnson, S. (2001). Emergence: The connected lives of ants, brains, cities, and software. Scribner.

[xii] Situngkir, H., Surya, Y. (2008). Solusi Untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisik/Kompleksitas. Kandel.v

[xiii] Mayer-Schönberger, V. (2014). Big Data: A Revolution That Will Transform How We Live, Work, and Think. Eamon Dolan/Mariner Books.

[xiv] Situngkir, H. (2015). Indonesia embraces the Data Sciences. Paper presented in South East Asian Mathematical Society (SEAMS) 7th Conference. URL: https://arxiv.org/abs/1508.02387

[xv] National Academy of Sciences. (2008). Science, Evolution, and Creationism. National Academies Press.

[xvi] Situngkir, H. (2011). “Spread of hoax in Social Media”. BFI Working Paper Series WP-5-2011.

[xvii] Kampourakis, K. (2014). Understanding Evolution. Cambridge University Press.

[xviii] Wheeler, M. (1976). Lies, Damned Lies, and Statistics: The Manipulation of Public Opinion in America. W.W. Norton & Co.

[xix] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. BFI Working Paper Series WP-XII-2008.

[xx] Situngkir, H., Dahlan, R. M. (2008). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

[xxi] Situngkir, H. (2017). Kode-kode Nusantara: Telaah Sains Mutakhir atas Jejak-jejak Tradisi di Kepulauan Indonesia. Mizan-Expose.

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: