Meniti Landasan Keadilan Peradaban Manusia Indonesia

gmki

Disampaikan dalam Seminar GMKI  bertema “Pemuda sebagai Penjaga Pancasila & Pembangunan Peradaban”, Jakarta, 30 Oktober 2017.

Betapa tak jarangnya pernikahan yang diawali dengan romantisme cinta, hangatnya rasa sayang yang penuh perhatian di masa pacaran dan awal pernikahan, justru berakhir di meja pengadilan perceraian. Tak jarang seorang pasangan mengatakan betapa ia seolah tak lagi mengenali pasangan yang dulu sangat dirasakan penuh cinta .Biduan populer Indonesia bahkan menyanyikan “…manisnya hanya di awal saja!”.  Benarkah cinta itu bisa memudar? Atau, apakah benar bahwa perasaan cinta itu murni hanya rasa emosional yang tak pernah bertahan lama? Sejati cinta bermanifestasi pada rasa ingin terus mengenali, mengetahui, memahami, agar selalu dapat menjadi dan memberi yang terbaik bagi sosok yang dicintai. Cinta itu bukanlah rasa senang atau sedih. Sebaik-baik cinta adalah upaya untuk mengetahui dan mengenali. “Tak kenal maka tak sayang,” katanya. Demikian pula halnya dengan mencintai negeri, ia bukan berasal dari rasa senang yang emosional, tapi adalah kristalisasi pengetahuan akan negeri itu. Lantas adakah kita sudah benar-benar mengenali Indonesia kita?

Hari ini adalah masa yang disebut-sebut sebagai Era Informasi. Era informasi ditandai dengan sekonyong -konyongnya di sekeliling kita tiba-tiba begitu banyak informasi. Produsen informasi tak lagi berada di kalangan kekuatan otoritas politik, sentra feodalisme, atau akumulasi modal ekonomis. Tiap orang tak lagi menjadi obyek, namun juga berperan sebagai subyek penghasil informasi [1]. Celoteh dan keluh kesah umat manusia sekonyong-konyong dicatat di dalam layanan penyimpanan internet, bahkan hingga sampai jam tidur hingga denyut nadinya pun dicatat oleh berbagai benda-benda yang diperlengkapi Indera digital yang disebut dengan embel-embel “smart”.

Informasi membludak, cara ilmu dalam mengelola pengetahuan pun berubah. Demikian pula semestinya dengan pengelolaan pengetahuan tentang Indonesia. Perangkat-perangkat pengetahuan yang dapat kita akuisisi dalam mengenali ke-Indonesia-an kita hari ini sudah sedemikian berbeda ketika para pendahulu kita, founding fathers, meletakkan batu-batu pertama negara bangsa bersatu Republik Indonesia.

Ketika informasi masih terkonsentrasi pada otoritas pengetahuan, tak banyak data yang dapat digunakan dalam memahami ke-Indonesia-an. Cendekia dan sarjana di awal masa berdirinya Indonesia bertumpu pada ideologi-ideologi yang sebelumnya telah bertumbuh dan berkembang ratusan tahun di belahan bumi utara planet Bumi. Sejarah perjalanan bangsa mengisahkan betapa sejak dahulu, bangsa kita sering tertatih jatuh oleh ideologi yang menjadi jubah-jubah pergulatan politik anak-anak bangsa. Nilai keadilan dan kemanusiaan ideal kita seolah didefinisikan oleh sejarah warisan abad pencerahan yang jauh sangkut-pautnya dengan dinamika dan perikehidupan bangsa-bangsa ber-peradaban tinggi yang kemudian berikrar dalam payung kesatuan Indonesia.

Sebuah survey online dilakukan oleh Bandung Fe Inssttiute [3] atas kurang dari 10.000 responden menerjemahkan bagaimana orang Indonesia melihat tiang-tiang sosial kemasyarakatan. Survey ini tidak bersandar pada bagaimana ideologi-ideologi yang kerap dikenal, melainkan aspek-aspek moral politik yang justru di-ekstrak dari Pancasila yang di-cross dengan sisten nilai dan norma orang Indonesia [2]. Hasilnya menunjukan betapa uniknya orang Indonesia dalam perspektif idealnya atas tatanan sosial dan kemasarakatan secara umum, sebagaimana digambarkan berikut:

gmki2

Moral politik kolektif: bagaimana orang Indonesia memberi penilaian atas isu sosial (dan politik)

Dalam ruang-ruang kognitif mentalnya, pertahanan dan keamanan berada dalam cluster nilai tradisi, yang dekat dengan konsepsi atas keadilan dan moralitas. Hal ini menjelaskan betapa berbedanya cara pandang orang Indonesia terhadap pertahanan dan keamanan negara. Cara orang Indonesia memandang “militer”, misalnya sangat unik, berbeda dengan cara-cara bangsa-bangsa negara lain memandang konsep “militer” yang ber-oposisi dengan “sipil”. Tak heran, mengingat bahkan ketahanan nasional Indonesia justru dinamai Sistem Pertahanan Rakyat Semesta.

Konsepsi “hukum” ditunjukkan ber-cluster dengan konsepsinya dengan koonsepsi kepemimpinan, narasi mistisisme. Kesetaraan sosial ber-cluster dengan spiritualitas. Konsepsi “pernikahan dan kehidupan berkeluarga” bertalian erat dengan budaya dan konsepsi tentang gender. Hal ini merefleksikan betapa berbedanya cara orang Indonesia dalam melihat seorang pribadi warganya. Cara orang Indonesia memandang “privasi” memiliki noktah-noktah yang membuatnya menjadi unik dan berbeda dengan cara bangsa-bangsa lain dalam memandang individu. Orang Indonesia tidak mengkontraskan “privat” dan “publik” sekental bangsa-bangsa lain, misalnya.

Elaborasi-elaborasi terkait hal ini [8] memberikan refleksi bahwa sosialisme, kapitalisme, liberalisme, dan berbagai -isme-isme lain akan membikin bangsa ini tertatih-tatih mewujudkan kehidupan sosialnya jika dipaksakan mendefinisikan konsepsinya tentang keadilan dan kemanusiaan peradabannya.

Namun bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat beruntung. Berbagai keberagaman yang secara kolektif memberikan pola imajinasi sosial yang unik tersebut sebenarnya tak lagi perlu berpegang pada ideologi-ideologi yang di-impor dari keber-adab-an bangsa-bangsa lain. Orang Indonesia hari ini mewarisi sebuah tatanan nilai yang justru dapat memberikan inspirasi bagi bangsa-bangsa lain, yang mengalami berbagai “benturan-benturan peradaban” saat membangun tatanan modern kebangsaannya. Tatanan tersebut adalah Pancasila, yang sejak awal menjadi sumber nilai kehidupan sosial orang Indonesia. Tatanan ini disepakati sebagai tatanan kebersamaan yang menyelimuti eksistensi keberagaman Indonesia dalam bentangan geografis Merauke hingga ke Sabang.

Jika sumber dari nilai politik dan ekonomi adalah relasi mental antara manusia dengan lingkungan di mana ia hidup ,maka tatanan politik dan ekonomi seyogianya berada di atas substrat budaya [4]. Budaya menjadi narasi fundamental yang mengkristal menjadi corak keber-adab-an, dan seyogianya dari situlah konsepsi keadilan sosial dan menjadi cermin kemanusiaan orang Indonesia. Kepribadian berbudaya adalah landasan yang seyogianya menjadi dasar kemandirian ekonomi dan kedaulatan politik.

Catatan ini meninggalkan tatanan perspektif yang menyiratkan pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia tatkala memandang keadilan sosial dan peradaban kemanusiaannya di era informasi ini. Tak sepantasnya keadilan sosial, politik, dan ekonomi bangsa kita menyangkal peradaban bangsa-bangsa budaya yang telah hidup bahkan sebelum ikrar persatuan Indonesia ini sejak berabad-abad silam. Menggunakan ideologi-ideologi warisan abad pencerahan dalam menyusun titik tolak konsepsi keadilan  dan kemanusiaan bangsa Indonesia sungguh dapat menjadikan langkah yang tertatih-tatih karena menutup mata atas eksistensi normatif ke-Indonesia-an. Memaklumi Pancasila sebagai pandangan hidup dan rumah bagi bangsa Indonesia mengarahkan bahwa keadilan sosial, politik, dan ekonomi mesti bersumber dari wawasan nusantara, yakni cara pandang Indonesia terhadap dirinya sendiri. Dan hari ini, era sains dan teknologi informasi telah memperlengkapi manusia Indonesia untuk lebih definitif dan komprehensif mengenali ke-Indonesia-an yang unik itu [5].

Pancasila membimbing manusia Indonesia meniti data-data digital tentang ke-Indonesia-an, meng-ekstrak berbagai informasi yang terkodekan sebagai warisan budaya [6, 7], sistem nilai, yang dahulu kala memberi kejayaan nusantara, dan hari ini menjanjikan kejayaan Indonesia…

Kerja-kerja yang dapat dirujuk:

[1] Cleveland, W. S. (2001). “Data science: an action plan for expanding the technical areas of the field of statistics”. International Statistical Review / Revue Internationale de Statistique, 21-26

[2] (1997). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Gramedia.

[3] Maulana, A. & Situngkir, H. (2012). “Pancasila Interaktf”: the political map a survey on ideologies. BFI Working Paper Series WP-6-2012. Bandung Fe Institute.

[4] Situngkir, H. (2004). “On Selfish Meme: Culture as Complex Adaptive System”. Journal of Social Complexity 2 (1): 20-32.

[5] Situngkir, H. (2015). Indonesia embraces the Data Sciences. Paper presented in South East Asian Mathematical Society (SEAMS) 7th Conference. URL: https://arxiv.org/abs/1508.02387

[6] Situngkir, H. (2017). Kode-kode Nusantara: Telaah Sains Mutakhir atas Jejak-jejak Tradisi di Kepulauan Indonesia. expose: Mizan.

[7] Situngkir, H. (2009). Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

[8] Surya, Y. & Situngkir, H. (2008). Solusi untuk Indonesia: Prediksi Ekonofisik dan Kompleksitas. Kandel.

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: