Pengantar untuk Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan

Gantangan: Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan

Pengantar dalam buku  Prasetyo, Y. E. (2017). Gantangan: Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan. Penerbit Tigamaha. ISBN: 978-602-61131-0-8

Dulu semasa kecil, di pelosok Tapanuli, Sumatera Utara, hati sungguh senang menantikan ibu yang pulang dari kondangan. Bukan karena apa-apa, tapi karena menantikan lezatnya lampet[1], makanan tradisional Batak dari olahan beras dan gula merah dalam kemasan daun pisang, yang selalu ada di dalam tandok[2] ibu sepulang dari kondangan. Di kampung, ibu-ibu membawa tandok, tempat membawa beras tradisional Batak dari anyaman daun pandan, yang diisi dengan beras untuk diserahkan sebagai buah tangan bagi yang mengadakan hajatan kondangan. Setelah beras dikumpulkan oleh petugas yang ditunjuk oleh pelaksana hajatan, tandok dikembalikan dan di dalamnya biasanya diisi dengan lampet sebagai snack acara kondangan. Sekali acara hajatan, ratusan kilogram beras biasanya terkumpul, dan hati anak-anak kampung yang menantikan ibunda mereka di rumah merasa gembira mengunyah lampet.

Kegembiraan acara kondangan telah menberikan semacam raupan rezeki, karena nilai beras (dan juga uang) yang dikumpulkan tak jarang sangat besar, lebih besar dari dana yang telah dikeluarkan untuk mengadakan hajatan. Namun lebih lanjut, kegembiraan acara kondangan juga terbawa hingga ke rumah mereka yang hadir dalam acara hajatan tersebut. Hal ini merupakan salah satu mekanisme ruang sosial masyarakat kampung di Tanah Batak, yang juga terjadi di berbagai kawasan lain di Nusantara, termasuk di Subang, Jawa Barat, yang diinvestigasi oleh buku ini, “gantangan”.

Gantangan merupakan pola serupa yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sunda, khususnya masyarakat di kawasan Subang, Jawa Barat. Partisipasi kegembiraan yang tercermin dalam hajatan pernikahan, sunatan, lahiran, ,dan sebagainya, termanifestasi dengan saling memberi sumbangan (nyumbang) . Hal yang menarik adalah bahwa zoom in terhadap dinamika sosial masyarakat Subang dalam satu atau dua dekade belakangan ini, menunjukkan bahwa refleksi budaya yang sangat sosial, telah tak lagi semata-mata berdimensi sosial, tapi juga berdimensi ekonomi. Besarnya nilai nyumbang dan pola resiprokal hajatan di kalangan masyarakat desa telah menjadi potret terbenturnya dimensi sosial dan dimensi ekonomis dari gantangan.

Pembedaan antara apa yang menjadi dimensi sosial dan dimensi ekonomi merupakan pola berfikir modernisme. Hajatan rupanya telah (juga) menjadi medan the clash of civilization, dimana tradisi saling berbagi yang sangat kultural, terkupas menjadi dimensi sosial dan dimensi ekonomi, yang lalu mempengaruhi motif dari individu sosial dalam ber-hajat, hingga kemudian menimbulkan polemik baru dalam memandang tradisi nyumbang dalam hajatan masyarakat kita.

“Gantangan” telah ber-evolusi. Evolusi ini berjalan sangat pelan, gradual, hingga luput dari perhatian, tenggelam dalam hiruk-pikuk hajatan, tuntutan budaya, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat. Setelah sekian dasawarsa, rupanya kejelian mata seorang sosiolog membikin evolusi ini tak luput dari perhatian, bahkan menjadi fokus penelitian yang kemudian melaporkannya dalam buku ini, Yanu Endar Prasetyo. Dalam kacamata sosiologisnya, terjabarkan dengan sangat detail bagaimana tradisi nyumbang yang tadinya bersifat ikhlas-sukarela sekonyong-konyong menjadi bersifat pamrih-simpanan. Gantangan yang tadinya terlihat kolektif-idealistik, di bawah mikroskop sosiologis telah menjadi bercorak individualis-materialistik.

Pemeriksaan deskriptif dan observasi dengan paradigma sosiologi modern, tentu tak terelakkan menyentuh batin moral warisan abad pencerahan, yang “menyayangkan” evolusi dari gantangan tersebut. Adalah kenyataan sosial bahwa tradisi nyumbang yang tadinya bernuansa budaya, kemudian menunjukkan wajah motif ekonominya yang tak ramah dari kacamata sosial. Gantangan terlihat sebagai bentuk “deposit kapital”, investasi, ditambah dengan ekspresi-ekspresi “pamer” status sosial dan ekonomi di kalangan masyarakat. Dimensi sosial dan dimensi ekonomi seperti saling berpacu satu sama lain, berkecamuk dalam acara hajatan yang ditunggangi pula oleh eksploitasi keramaian sebagai “pasar kaget”, namun sekaligus menjadi “panggung baru” bagi kesenian tradisional Sunda di era modern. Seni tradisional Sunda yang sarat filosofis mendapat panggung di dunia modern sebagai subyek entertainment, mengisi kekosongan hiruk-pikuk modern yang lebih fokus pada eksploitasi performance, namun agak kurang bertenaga dalam melakukan eksplorasi kreativitas di atas landasan filosofis.

Namun semua kemirisan tersebut sebenarnya menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi kita yang jeli dalam memberikan apresiasi pada evolusi yang dipotret dalam manuskrip ini. Potret evolusi dari gantangan dijabarkan dengan kedetailan yang menggoda pikiran untuk menelisik lebih jauh kompleksitas sosial yang terdapat dalam dinamika gantangan, pola keterlaksanaan hajatan, dan tradisi nyumbang yang menyertainya. Deskripsi yang rapi atas siapa yang menjadi “aktor” dan “faktor” sosial hingga pola struktural relasi sosial di dalam proses gantangan telah menambah hutang intelektual para pengkaji lintas ilmu. Hutang untuk terus mencari celah-celah kosong dan terbebas dari cara berpikir konvensional yang terkungkung modernisme. Pemaparan yang sangat terstruktur dari buku ini telah menuntut untuk lebih jauh lagi menjawab tantangan teoretis atas bagaimana dan mengapa evolusi gantangan menjadi sedemikian rupa.

Eksplorasi teoretis tersebutlah yang nantinya akan mengisi mosaik ke-nusantara-an di tengah keinsyafan ilmu-ilmu sosial modern.  Dari sana, penelitian sosial ditantang untuk menjawab berbagai pertanyaan terkait “struktur tersembunyi” (the underlying structure) dari relasi aktor dan kausalitas faktor-faktor sosial yang ternarasi dalam buku ini. Ada semacam “kode-kode” yang terbersit di balik dinamika sosial gantangan. Sebagai bagian dari sinekdoke kehidupan di Kepulauan Indonesia ini, hal tersebut tentulah juga merupakan bagian dari “kode-kode nusantara”.

Mendalami proses gantangan dalam buku ini bisa jadi juga memberi pula tantangan yang juga bersifat praksis yang tak melulu teoretis. Jika sejarah praktik sistem keuangan modern di tanah air telah menggambarkan perjuangan demi keadilan dengan berbagai kebijakan yang mengurangi dampak negatif “sistem ijon” di tengah kehidupan agraris di negeri kita, bukan tak mungkin eksplorasi yang berhati-hati dari buku ini dapat pula memberikan pencerahan dunia keuangan/perbankan modern dalam melihat perilaku “bandar” dalam evolusi proses gantangan, sebagaimana dipotret oleh buku ini. Terdapat peluang lahirnya produk keuangan baru yang mengawinkan sistem “sekuritas keuangan keluarga” pada tradisi nyumbang, dengan kalkulus analisis risiko sistem keuangan modern.

Namun membaca manuskrip ini menunjukkan pula bahwa narasi dan uraian buku ini tak hanya menjanjikan pemikiran mendalam yang berat, namun juga bisa terkesan ringan sebagai bentuk edutainment. Gantangan khas masyarakat Subang dengan segala transformasi serta evolusinya dinarasikan sebagai bentuk perjalanan, semacam tour guide pariwisata, yang dapat memberikan nuansa realm kehidupan Sunda di era modern. Bagaimanapun potret gantangan merupakan drama sosial yang hidup, sarat nilai dan kesejarahan pergumulan kolektif masyarakat Sunda di kawasan Subang, jawa Barat, di era modern sekarang ini.

Bandung, 16 Agustus 2017

[1] Perpustakaan Digital Budaya Indonesia: http://budaya-indonesia.org/Lampet/

[2]   Perpustakaan Digital Budaya Indonesia:  http://budaya-indonesia.org/Tandok/

 

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: