Membaca Mikro-makro Konflik Sosial: Menuju Mitigasi Informatika “Risiko” Kekayaan Kebhinekaan Indonesia

20181129-poster-unair-simposium-1

Ditulis sebagai pengantar dalam diskusi di Simposium Regional Decoding The Labyrinth of Conflict: Menggali Pembelajaran Resolusi Konflik Pasca Reformasi dari Gerakan Maiyah Nusantara, Kampus UNAIR Surabaya, 29 November 2018.

Kekayaan keberagaman Indonesia sungguh adalah diaspora hasil evolusi budaya manusia khatulistiwa yang menyimpan memori yang sangat besar tentang bagaimana umat manusia menyikapi tantangan alam dan semesta sosial ribuan tahun dalam pojokan-pojokan ribuan pulau di Nusantara. Memori itu mewujud menjadi keberagaman budaya,yang dikenal sebagai kelompok etnik. Dalam memori itu pula tersimpan kode-kode akulturasi dan asimilasi atas interpretasi spiritualitas yang lalu memperkaya keberagaman etnik tersebut dengan keberagaman umat beragama Indonesia. Memori-memori evolusioner tersebut menjadi sumber pengetahuan tak terkira, sistem etis, pengetahuan, dan tekno-budaya yang inspiratif, juga estetika yang menakjubkan [11]. Namun di sisi lain, memori kolektif tersebut telah pula mengkristal sebagai keberagaman identitas sosial. Di titik ini, kompleksitas sosial Indonesia menyeruak sebagai potensi ketegangan sosial, dan bukan tak mungkin konflik sosial yang mengancam keutuhan memori besar evolusioner itu…

Kompleksitas sosial berawal dari kesekonyong-konyongan yang muncul di level makro sebagai hasil dari interaksi elemen-elemen yang menyusun sistem sosial tersebut di level mikro [9]. Kesekonyong-konyongan ini bersifat pegari (emergence), yang menjadikan kehidupan sosial bagaikan labirin dinamika yang tidak linier antara faktor yang menjadi “sebab” (mikro) dan “akibat”  (makro) pada level deskripsi dan skala yang berbeda [7]. Di sisi  lain, hal-hal yang menjadi “akibat” (level makro) juga dapat memberikan efek umpan balik positif yang kausal atas dinamika “sebab” (level mikro) [5]. Di sinilah pentingnya memahami dinamika sosial sebagai sistem kompleks yang adaptif.

Karena dua individu (level mikro) yang berselisih paham di sebuah warung kecil, maka ketegangan sosial antara dua kelompok sosial dapat memuncak sebagai konflik yang bersifat masif (level makro) yang melanda sebuah kota. Di sisi lain, berbagai perbedaan-perbedaan (baik etis maupun estetis) antara dua kelompok identitas sosial (level makro) justru dapat dilihat sebagai latar belakang yang menyebabkan sulit-akur-nya dua individu sosial (level mikro). Di sinilah kompleksnya dinamika sosial terkait konflik dan ketegangan sosial [1]. Apapun dapat menjadi sumber persoalan, pemicu konflik, sehingga diperlukan komprehensi atas perilaku sistem yang mesti lintas disiplin. Kompleksitas dari konflik sosial  mesti dipantau tak hanya sebagai fenomena sosiologis, namun juga ekonomis, hingga antropologis dan budaya [5]. Hal inilah yang menjadikan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara manusia-manusia nusantara menjadi penting bagi kajian kemanusiaan atas konflik sosial. Pengalaman keberagaman Indonesia yang meliputi ribuan etnis, yang ter-ekspresi pada jutaan elemen budaya, menjanjikan banyak hal dalam pendalaman ilmiah atas konflik sosial demi upaya-upaya pencegahan, mitigasi, hingga resolusi konflik sosial.

1

Keberagaman regional Indonesia atas kelompok etnis (kiri) dan agama (kanan) sebagai indeks polarisasi [6]

Di samping berbagai potensi keuntungan sosial, ekonomis, dan budaya atas keberagamannya, Indonesia juga menjadi lanskap risiko konflik yang juga besar. Kenyataan ini makin kompleks dengan kenyataan bahwa polarisasi atas perbedaan etnik dan agama di Indonesia yang tak pula seragam.

Hal ini tercermin dari Indeks Polarisasi [2] berbagai kawasan regional di Indonesia yang dikalkulasi atas fraksionalisasi demografis kelompok-kelompok identitas sosial di suatu kawasan dengan memperhitungkan “jarak” antara kelompok sosial atau etnik. Jarak tersebut merupakan suatu besaran tertentu yang bisa mengukur sejauh mana perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Tentu ini penting mengingat pembedaan individu berdasarkan etnik melibatkan banyak dimensi, tidak hanya berdasarkan warna kulit tetapi juga aspek‐aspek kultural, agama dan bahasa, dan aspek alamiah lainnya.

Kajian sosiologi komputasional atas dinamika konflik sosial menunjukkan simulasi terkait faktor-faktor mikro yang secara kolektif dapat muncul sebagai mobilisasi yang berkaitan denga konfliksosial di level makro. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Kekuatan pengaruh individu di jejaring sosialnya
  • Sejauh mana individu tersebut terkait dengan kumpulan identitas sosialnya
  • Persepsi individu atas legitimasi (sosial politik) lingkungan sosialnya
  • Kesulitan (sosial ekonomi) yang dirasakan oleh individu
  • Ukuran jejaring sosial (sumber dan saluran informasi sosial) yang dimiliki oleh individu tersebut.

Penting untuk memperhatikan bahwa elemen-elemen tersebut tidaklah setara satu sama lain. Faktor persepsi legitimasi yang dirasakan oleh individu misalnya, merupakan hal yang sangat kuat. Faktor mikro ini dalam batasan tertentu dapat menegasikan ikhwal kesulitan ekonomi yang dirasakannya, misalnya. Artinya, di level mikro, faktor ekonomi tidak serta-merta dapat direlasikan sebagai sumber semata-mata konflik atau ketegangan antar identitas sosial. Meskipun ekonomi terasa sulit, kepercayaan (psikologis) atas struktur sosial di mana ia berada (legitimasi dan kepercayaan pada penguasaa, misalnya), kecenderungan untuk meng-eksplorasi perbedaan antar identitas sosial di level individu sukar untuk terjadi. Hal-hal mikro serupa ini  tak bisa diterapkan di level makro. Membedakan antara mana elemen aktor, struktur sosial, hingga elemen faktor-faktor kolektif di level makrososial merupakan paling penting dalam menelaah potensi konflik sosial yang mungkin timbul. Hal ini pulalah yang juga menjadi langkah paling penting dalam menyusun strategi-strategi yang dapat diambil sebagai resolusi konflik.

2

Aspek-aspek sosial mikro-meso-makro dalam konflik sosial [10].

Elemen-elemen mikrososial tersebut kemudian diterjemahkan sebagai relasi-relasi geometri aljabar yang pada gilirannya memberi kesempatan bagi kita untuk membangun simulasi atas berbagai skenario yang menjadi lingkungan virtual atas berbagai skenario sosial yang dapat di-observasi demi mendekode berbagai fenomena unik konflik sosial, mulai dari dinamika, dampak, hingga pola-pola mitigasi demi resolusi konflik sosial tersebut [10]. Pada akhirnya, berbagai pemetaan dan aspek-aspek statistika atas dinamika mobilisasi massa dalam konflik sosial, lebih lanjut menunjukkan betapa sulutan api konflik sosial merupakan ikhwal kompleks yang tak dapat terperi dengan pendekatan linier [12].

Penelaahan atas faktor-faktor mikro dalam relasinya dengan aspek kolektif makrososial inilah yang kemudian membawa kita pada berbagai analisis terkait kepemimpinan sosial, dinamika besaran-besaran ekonomi, hingga dampak bagaimana terjadinya mobilisasi terkait ketegangan antar identitas sosial yang menjadi bahasan dalam resolusi konflik. Perkembangan ilmu data belakangan ini telah memungkinkan berbagai akuisisi hingga pemrosesan data yang dapat memperkaya kita dalam menangani peluang-peluang konflik yang terjadi, hingga bagaimana menciptakan ruang-ruang alternatif solusi bagi resolusi yang mungkin dicapai.

3

Zona dingin dan panas peluang konflik sosial akibat ketegangan kontestasi Pemilu di Indonesia (resolusi Kabupaten/Kota).

Berbagai pendekatan lintas disiplin yang bertitik-berat pada pengelolaan informasi, mulai dari data-data demografis hingga data-data dinamis berkecepatan dan bervolume besar seperti data-data media sosial, merupakan bentuk terintegrasi termutakhir dalam menera, meng-observasi, hingga resolusi ketegangan antar idetntitas sosial yang berpotensi menjadi konflik sosial [13]. Pendekatan-pendekatan ini memberikan peluang besar dalam rangka menyusun strategi informatika sosial, yang menjadi lanskap interdisiplin kajian terkait konflik sosial. Lebih jauh, bentuk-bentuk early detection/warning system menjadi bagian integratif dalam strategi resolusi konflik sosial [8].

Sebagai contoh aktual adalah kajian terkait konflik sosial yang sering mengintip tiap kali adanya “pesta demokrasi” di Indonesia. Dinamika keberagaman sosial yang tinggi di Indonesia bagaikan jerami kering yang rentan dengan percikan api oleh berbagai mobilisasi sosial terkait kampanye hingga pemungutan suara dalam Pemilihan Umum. Analisis yang mendalami dinamika mikro-sosial hingga akuisisi informasi yang sebanyak mungkin, baik pola demografis maupun percakapan-percakapan yang terekam dalam media daring internet secara realtime semakin terasa urgensinya. Dengan demikianlah manusia modern Indonesia dimungkinkan untuk meniti mitigasi “risiko” keberagaman yang sudah menjadi karakteristik dasar Indonesia itu sendiri.

photo_2018-11-30_11-27-33

Kerja-kerja yang disebut:

[1] Epstein, J.M., Steinbruner, J.D., & Parker, M.T. (2001). Modeling Civil Violence: An Agent Based Computational Approach. Working Paper 20. Center on Social and Economic Dynamics. The Brookings Institution.

[2] Reynal‐Querol, M. (2002). “Ethnicity, Political Systems, and Civil Wars”. Journal of Conflict Resolution 46: 29‐54

[3] Scheling, T.C. (1978). Micromotives and Macrobehavior. Norton & Company.

[4] Srbljinovic, A., Penzar, D., Rodik, P., & Kardov, K. (2003). “An Agent Based Model of Ethnic Mobilization”. Journal of Artificial Societies and Social Simulations 6(1). URL: http://jasss.soc.surrey.ac.uk/6/1/1.html

[5] Woods, E.J. (2003). “Modeling Robust Settlements to Civil War” Indivisible Stakes and Distributional Compromises”. Working Paper 03-10-056. Santa Fe Institute.

[6] Khanafiah, D. & Situngkir, H. (2007). “Etnik dan Konflik Sosial di Indonesia”. BFI Working Paper Series WPW2007. Bandung Fe Institute.

[7] Macy, M.W., & Willer, R. (2002). “From Factors to Actors: Computational Sociology and Agent Based Modeling. Annual Reviews Sociology 28:143-166. Annual Reviews.

[8] Maulana, A. & Situngkir, H. (2015). “Korelasi Bebas-skala dalam Studi Geo-politik Pemilihan”. BFI Working Paper Series WP-3-2015. Bandung Fe Institute.

[9] Miller, J. H., Page, S. E. (2007). Complex Adaptive Systems: An Introduction to Computational Models of Social Life. Princeton UP.

[10] SItungkir, H. (2004). “On Massive Conflict: Macro-micro Link”. Journal of Social Complexity 1(4):3-13.

[11] Situngkir, H. (2017). Kode-kode Nusantara. Expose: Mizan.

[12] Situngkir, H. & Khanafiah, D. (2007). “Bird’s Eye View to Indonesian Mass Conflict: Revisiting the Fact of Self-Organized Criticality”. BFI Working Paper Series WPG2007. Bandung Fe Institute.

[13] Situngkir, H. (2015). Indonesia Embraces the Data Science. Paper presented in SEAMS 7th Conference, University Gadjah Mada, Jogjakarta, Indonesia.

 

 

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: