Kaum Milenial untuk Warisan Tradisi Budaya

DtYI0NNU4AAijbO.jpg large

Pengantar dalam diskusi di Seminar Peran Milenial dalam Mengembangkan Sains dan Teknologi, Univeritas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim,  Malang, 2 Desember  2018.

 

…pencapaian masa depan kita berbanding lurus dengan seberapa jauh kita menarik busur ke sejarah masa silam…

-Emha Ainun Najib

Benarkah generasi milenial yang dikenal sebagai geeky, high-tech, dan konsumen dunia digital era informasi itu tidak peduli pada warisan budaya tradisi? Bagaimana status budaya Indonesia di era teknologi informasi pada milenium ini dan di masa depan? Bagaimana tren sains dan teknologi masa depan terkait budaya tradisi Indonesia? Bagaimana nasib kekayaan warisan budaya tradisi Indonesia kelak di tangan kaum milenial hari ini?

Kita mem-post foto di Instagram, atau memasang status di Facebook, Twitter, bercakap-cakap di Whatsapp, Telegram, chat di Line, dan apapun yang kita lakukan dengan gadget digital kita adalah memproduksi sekaligus mengkonsumsi informasi. Lantas bagaimana dengan masa ketika belum ada internet dulu? Sebelum teknologi digital seperti sekarang, produksi informasi dilakukan secara analog. Lebih jauh lagi, produksi informasi dilakukan secara mekanik, melalui pahatan pada batu, cap-cap tangan berpewarna di dinding-dinding gua purba, goresan pada kain batik, ukiran pada rumah adat tradisi, anyam-anyaman, hingga goresan di dedaunan lontar kering, hingga kertas.

Kalau dulu yang bisa memproduksi informasi hanyalah mereka yang dekat dengan pusat-pusat kekuasaan, para raja, kaum feodal, hingga kaum cerdik cendekia, kini informasi dihasilkan siapapun yang dapat menyentuh layar gadget digital. Gadget digital merupakan perangkat yang meng-emanisipasi bukan hanya kelas sosial-politik-ekonomi, tapi juga kelas usia secara demografis. Semua orang kini tak hanya menjadi konsumen informasi, tapi juga adalah produsen informasi. Sembilan puluh persen informasi yang diproduksi oleh umat manusia di sepanjang peradabannya, diproduksi dalam dua tahun belakangan ini [4].

Lantas apakah 90% informasi itu menghilangkan kurang lebih 10% yang dihasilkan di masa lalu itu? Kajian sains dan teknologi mutakhir menunjukkan bahwa 10% persen informasi masa lalu tersebut justru menjadi makin penting, mahal, dan makin ia tua dan masih bertahan lama, makin ia tak ternilai harganya [2]. Zaman dahulu kala, ketika informasi sulit untuk diproduksi, maka produksi informasi harus sangat hati-hati dilakukan; dan ketika informasi itu kini diproduksi semudah sentuhan pada sebidang layar digital, maka banyak informasi yang justru menjadi sangat tidak penting, dan tiada berharga.

Demikianlah halnya dengan warisan budaya tradisi di Kepulauan Indonesia ini. Indonesia kita merupakan lanskap informasi akan kehidupan sosial masa lalu yang begitu besar oleh keberagaman etnik, suku, dan bangsa-bangsa yang tersebar dari Merauke hingga Sabang. Tantangan terbesar generasi milenial hari ini adalah bagaimana mengakuisisi informasi warisan budaya tradisi tersebut. Bagi generasi milenial, warisan budaya tradisi tak lagi semata-mata persoalan identitas kultural dimana ia dilahirkan, melainkan energi potensial dalam kehidupan sosial ekonomi masa depan yang lebih mengutamakan kreativitas daripada sekadar keterampilan.

1.png

 

 

Di hadapan generasi milenial, terpapar penggalian kode-kode yang tersimpan dalam tradisi batik Indonesia [5]. Ornamen-ornamen batik yang kita kenal dulu diproduksi sangat terbatas, dipahat pada batu dan menjadi hiasan candi-candi peninggalan masa Sriwijaya, Majapahit, dan sebagainya. Ornamen-ornamen tersebut sempat “membisu” sebagai bagian dari keseharian zaman kolonial, hingga kemudian disebut-sebut sebagai suatu kriya tradisi di buku karya Gubernur Jenderal T. S. Raffles, History of Java (1817). Kemudian setelah masa kemerdekaan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin mengunggah motif batik sebagai seragam resmi pria pada tahun 1972. Saat itu, batik mulai menjadi bagian dari fashion.

Sains modern akhirnya “bertemu” dengan tradisi batik oleh rujukan karya fenomenal matematikawan Amerika Serikat kelahiran Perancis, Benoit Mandelbrot, melalui penelaahan motif-motif batik seperti tertuang dalam buku Fisika Batik: Impelementasi Kreatif Melalui Sifat Fraktal pada Batik Secara Komputasional (2007), yang bab pertamanya ditulis langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. Penelitian ini sendiri dimungkinkan oleh adanya teknologi komputasi yang mulai naik daun bersamaan dengan memasyarakatnya internet dengan pembangunan Perpustakaan Digital Budaya-Indonesia.org [1].

Apa yang bisa dimaknai oleh generasi milenial dalam menyongsong masa depannya yang sarat dengan makin cepatnya internet serta kemampuan pemrosesan data-data bervolume besar (big data)? Jawaban pertanyaan inilah yang memberikan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di awal tulisan ini.

Generasi sebelum generasi milenial merupakan generasi di mana proses digitalisasi baru mulai diwarnai dengan memasyarakatnya komputasi. Generasi milenial mengalami lanjutan dari perkembangan itu, yaitu komunikasi. Komputasi dan komunikasi telah mengubah tren teknologi yang dialami secara drastis. Pertukaran dan produksi informasi mendadak melonjak tinggi dengan ramainya media sosial dan berbagai aplikasi informatika yang memungkinkan konsumen memiliki peran sebagai produsen informasi.

2

Sains dan teknologi yang disaksikan generasi milenial: inovasi antara komputasi dan komunikasi

Semua dampak teknologi informasi yang disaksikan generasi milenial tersebut adalah perayaan antara pesatnya kemajuan “komputasi” dan “komunikasi”. Canggihnya komputasi merupakan teknologi yang mempercepat dan mempertinggi volume berbagai kreasi informatika yang tadinya mesti dilakukan secara manual (baca: analog) oleh mereka yang berketerampilan tinggi. Aspek-aspek teknologi komputasi yang dinikmati generasi milenial ini telah menyediakan pemrosesan dan teknologi penyimpan data yang telah sangat maju. Namun generasi milenial tak hanya mengalami itu, tapi juga pesat dan makin baiknya teknologi komunikasi digital. Komunitas-komunitas digital yang terbentuk melalui media sosial, pengumuman lapangan pekerjaan, hingga antar layanan cepat dengan ojek untuk makanan dan barang, adalah corak transformasi proses sosial, ekonomi, (dan politik?) yang menjadi bagian kehidupan generasi muda milenial.

Aspek “pemrosesan (basis) data” telah memungkinkan adanya Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Aspek “komunitas digital” telah memungkinkan interkoneksi semua orang yang kemudian mendukung Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Komunitas Sobat Budaya [1]. Hasil puluhan ribu data yang terkumpul itulah yang lalu memungkinkan berbagai penerapan kajian ilmu pengetahuan dan matematika modern atas budaya Indonesia [5]. Ini memungkinkan “perkawinan” antara tata laksana sains dan teknologi informasi modern dengan budaya tradisi. Pemetaan hingga pembuatan motif batik, anyam, dan berbagai ornamen “modern rasa tradisional”  dengan menggunakan teknologi komputasi, rekayasa musikal dengan berbagai moda instrumen musik tradisi, struktur arsitektur tahan gempa, makanan cepat saji berbumbu khas tradisional, dan sebagainya adalah warna dan corak warisan budaya tradisi sebagai bagian dari kekayaan budaya milenial di era globalisasi digital ini.

Partisipasi generasi milenial atas Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, merpukan salah satu peran penting generasi milenial dalam berkontribusi untuk sains dan teknologi! Melestarikan budaya tradisional denga cara-cara yang tidak tradisional!

 

Kerja-kerja yang Disebut:

  • [1] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”. BFI Working Paper Series WP-XII-2008.
  • [2] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”. The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17.
  • [3] Situngkir, H. (2010). “Exploring Ancient Architectural Designs with Cellular Automata“. BFI Working Paper Series WP-9-2010. Bandung Fe Institute.
  • [4] Situngkir, H. (2015). “Indonesia embraces the Data Science”. Paper presented in South East Asian Mathematical Society (SEAMS) 7th Conference. Gadjah Mada University. URL: http://arxiv.org/abs/1508.02387
  • [5] Situngkir, H. (2017). Kode-kode Nusantara. Expose: Mizan. URL: http://bit.ly/kodeNusantara

 

Advertisements
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: